
"Anggap saja aku percaya padamu, Mbak!" jawab Gintani, meskipun dalam hati dia masih tergamam oleh semua ucapan Jessica. Namun satu yang pasti, apa pun bentuknya, Gintani tidak pernah ingin tahu dan tidak tertarik untuk mencari tahu.
"Aku yakin jika Ilona kembali dengan niat buruknya, berhati-hatilah Gin!" Jessica memperingatkan Gintani.
Gintani tersenyum. "Terima kasih atas perhatiannya, Mbak. Aku sendiri tidak pernah mengenal Ilona. Namun, apa pun yang pernah terjadi di antara dia dan mas Argha, itu hanyalah sebuah masa lalu. Dan kami sepakat untuk tidak pernah membahas masa lalu. Bagi kami, menyongsong masa depan, jauh lebih penting daripada harus terbuai oleh masa lalu." Gintani mencoba untuk bersikap bijak dalam menanggapi kedatangan Ilona.
Senyum sinis Jessica mengembang di kedua sudut bibirnya. "Kamu tidak tahu seperti apa Ilona, Gin. Tapi, ya sudahlah ! Aku hanya berharap, kalian bisa saling menjaga satu sama lain." Jessica kembali menghela napasnya. "Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku permisi!" ucap Jessica, hendak beranjak dari kursi yang tengah didudukinya.
"Mbak!" Gintani menahan tangan Jessica. "Terima kasih atas waktunya."
Jessica tersenyum, "Sama-sama, Gin."
🍀🍀🍀
APA Architecture
Sepanjang malam, Bram tidak bisa memejamkan matanya karena teringat terus akan Ilona. Bukan! Sebenarnya, bukan bayangan Ilona yang menjadi alasan dia tak bisa tidur. Tapi perkataan Ilona yang ingin merebut Argha dari istrinya.
Meskipun Bram merasa kasihan kepada Ilona, tapi Bram tidak bisa membenarkan perbuatan Ilona yang ingin mendapatkan Argha dengan cara apa pun. Mungkin, dulu Bram bisa mentolerir perbuatan itu, karena bagaimana pun juga, Argha pria single. Tapi tidak untuk sekarang.
Bram terus mondar-mandir di ruangannya. Dia masih memikirkan bagaimana cara yang bijak untuk menyampaikan niat Ilona kembali ke kota ini. "Apa Argha akan percaya padaku, jika aku mengatakan niat Ilona yang sebenarnya?" gumam Bram. Dengan penuh tekad, Bram pun keluar untuk pergi ke ruangan bosnya.
Di luar, dia tampak mengernyitkan keningnya saat melihat orang lain duduk di meja sekretaris. "Loh, Nadhifa ke mana, Ris?" tanya Bram kepada Riska sang wakil sekretaris.
"Mbak Nadhifa izin cuti selama beberapa hari, Pak. Katanya, beliau ada urusan dulu," jawab Riska.
Bram tertegun mendengar jawaban Riska. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan ucapan ku semalam, batin Bram seraya menghela napasnya.
Sudahlah, pulang dari kantor, aku akan menemuinya. Sekarang, ada hal yang lebih penting yang harus aku urus. Bram pun kembali mengayunkan langkahnya menuju ruangan Argha.
Tok... Tok... Tok... !
Bram mengetuk pintu ruangan Argha, namun tak terdengar jawaban dari dalam.
Tok... Tok... Tok.... !
Sekali lagi Bram mengetuk, namun keadaan masih tetap sama. Setelah ketukan ketiga tak jua mendapat jawaban, akhirnya Bram membuka pintu ruang kerja Argha.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu terbuka, Bram menyembulkan kepalanya di balik pintu. Mencoba mencari keberadaan bosnya. Namun kursi kebesaran Argha terlihat kosong. Apa mungkin dia sedang berada di kamar pribadinya?
Akhirnya, Bram memberanikan diri untuk membuka lebar daun pintu ruangan itu. Bram melihat Argha tengah berdiri di depan kaca jendela yang sangat besar. Kebiasaan yang selalu dia lakukan di kala hatinya sedang gundah.
"Hhh...." Bram menghela napasnya, dia kemudian berjalan mendekati Argha dan berdiri di samping kanan bosnya.
Argha melirik saat merasa seseorang berdiri di sampingnya. Sejurus kemudian, dia kembali mengalihkan pandangannya lurus menatap jalanan ibukota yang semakin padat
"Sudah hampir jam 12 siang, apa kamu tidak ingin aku pesankan makan siang?" tanya Bram, seraya menatap lurus ke jalan raya yang berada di bawahnya.
"Tidak usah! Nanti saja kita makan siang di kantin kantor," jawab Argha datar.
Tak ada lagi bahasa lo gua yang keluar dari mulut mereka. Itu artinya, mereka sedang berada dalam mode serius hari ini.
"Apa Gintani bertanya sesuatu tentang kejadian semalam?" tanya Bram hati-hati, takut menyinggung perasaan sahabatnya.
"Dia bukan type orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain," jawab Argha, masih anteng memperhatikan lalu lalang kendaraan di bawah.
"Jadi..., baginya, kamu masih tetap orang lain ya, hehehe...!" canda Bram, mencoba mencairkan suasana.
"Jangan asal ngomong, kamu! Dia tidak bertanya karena kami sudah sepakat untuk tidak membahas masa lalu," jawab Argha, geram.
"Hhh...." Argha menarik napas dan menghembusakannya dengan perlahan. "Aku tidak tahu apa kehadiran Ilona mengusiknya atau tidak? Tapi kemarahanku tadi malam, membuat dia sangat ketakutan. Dan aku merasa bersalah akan hal itu."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau tahu jika Ilona datang hanya un_"
"Bisakah kau tidak membicarakan dia lagi? Bagiku, dia hanyalah sebuah masa lalu. Dan masa depanku adalah Gintani. Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Aku tidak ingin masa depanku hancur hanya karena bagian dari masa laluku datang kembali."
Bram menepuk bahu sahabat nya. "I'm proud of you, man!" ucapnya. "Oh iya, selepas makan siang nanti, kita ada meeting dengan Richard dan Tuan Hanzel. Sebaiknya, lo persiapkan diri lo!" lanjut Bram.
Argha hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sahabatnya.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di taman kota. Gintani mulai meninggalkan taman itu setelah beberapa menit Jessica hilang dari pandangannya. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu menunjukan pukul 12.21, sudah tiba waktu dzuhur. Gintani pun memutuskan untuk pergi ke masjid yang berada di seberang taman.
15 menit berlalu. Setelah melipat kembali mukena dan merapikan hijab, Gintani segera keluar. Sebelum pulang, dia memutuskan untuk membeli bahan makanan. Hari ini, dia akan kembali ke apartemennya, dan tentunya dia tidak memiliki apa pun untuk makan siang.
"Assalamu'alaikum, Mas? Gintan sedang di minimarket, Mas mau dimasakin apa buat makan malam?" tanya Gintani kepada suaminya.
__ADS_1
"Apa aja, Gin! Apa pun masakan kamu, pasti selalu enak," puji Argha di ujung telpon.
"Hmmm...mulai lagi gombalnya keluar. Ya sudah, Gintan tutup ya, Mas! Assalamu'alaikum!"
Gintani menutup teleponnya. Dia kembali menyusuri rak-rak yang menyimpan bahan makanan. Setengah jam kemudian, Gintani keluar dari minimarket. Saat dia sedang menunggu taksi online-nya, tanpa sengaja Gintani melihat dua orang perempuan yang sedang bertengkar di tepi jalan. Gintani mengernyitkan keningnya saat menyadari jika dia mengenal kedua perempuan itu.
"Celine? Mbak jessica?" gumamnya. Gintani segera berlari menghampiri mereka.
"Mbak Jessi, Celine...ada apa ini?"
Bukannya menjawab, Celine malah mendorong Jessica hingga Jessica mundur beberapa langkah.
"Eh, awas....!"
Gintani berlari ke arah Jessica saat melihat sebuah motor melintas dengan begitu kencangnya. Gintani segera mendorong tubuh Jessica, namun dia sendiri tidak mampu mengelak dari hantaman kendaraan beroda dua itu.
Kecelakaan pun tak mampu di hindari. Tas selempang Gintani tersangkut di bagian setang motor hingga dia terseret sejauh beberapa meter. Dalam keadaan setengah sadar, Gintani segera melepaskan tas selempangnya.
Brugh!
Tubuh Gintani terguling-guling hingga akhirnya berhenti menabrak pembatas jalan.
"Gintan!"
Jessica segera berlari ke arah Gintani yang telah berlumuran darah. "Tolong..! Tolong!" teriak Jessica.
Orang-orang segera berkerumun mengelilingi Jessica yang tengah memeluk kepala Gintani. Tangannya mulai basah oleh cairan kental berwarna merah. "Da-darah...." gumam Jessica.
"Tolong panggil ambulans, saya mohon tolong segera panggil ambulans!" pinta Jessica kepada para warga.
Tiba-tiba...
"Kita bawa pakai mobil saya, Mbak!"
Bersambung....
Terima kasih atas dukungannya yaaaa....
Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤗
__ADS_1