Takdir Gintani

Takdir Gintani
Ternyata Hanya Permainan


__ADS_3

Setelah merasa kenyang dan segar kembali. Jessica dan Gintani pun kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan dari Bandung menuju Tasikmalaya ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam. Karena ini masih terlalu siang, Jessica melajukan kendaraannya dengan santai, mengingat Gintani tengah hamil muda. Jessica tidak mau terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu.


Sesekali Jessica melihat ke arah Gintani yang sedang tertidur. Memang benar apa yang dikatakan uminya. Rencana Tuhan pasti selalu baik. Dulu Jessica sangat terobsesi dengan Argha. Dia begitu membenci Gintani dan hampir saja mencelakainya karena menganggap Gintani sebagai wanita yang telah merebut perhatian kekasihnya. Namun sungguh tidak disangka, wanita yang sempat dia benci justru malah menyelamatkan nyawanya. Dan sekarang, Jessica merasa iba dengan nasib wanita itu. Untunglah bukan dia yang menikah dengan Argha. Jika sampai dia menikahi Argha, tidak menutup kemungkinan nyawanya pun terancam bahaya. Jessica yakin jika yang menimpa pada kehidupan Gintani bukan hanya sekedar kebetulan. Namun, seperti ada sebuah rencana yang tersusun rapi.


🍀🍀🍀


Matahari mulai meninggi. Namun, hal itu tak menyurutkan langkah Ilona untuk menemui dokter kenalan pamannya. Dokter Rudiawan, adalah seorang dokter spesialis kanker yang telah berhasil menangani beberapa pasien kanker hingga sembuh.


Hancurnya rumah tangga Argha, membuat Ilona miliki lipatan semangat untuk sembuh dari penyakitnya. Meskipun banyak yang mengatakan itu adalah hal yang mustahil, tetapi Ilona percaya, jika semangat untuk sembuh yang dia miliki, akan memperlambat pertumbuhan kanker.


Tiba di tempat, ternyata Hendra telah berdiri di teras rumah dokter Rudiawan.


"Siang, Om!" Ilona menyapa Hendra.


"Ah, keponakan Om yang sangat cantik. Sepertinya, kamu semangat sekali hari ini," goda Hendra sambil memijit pelan hidung Ilona.


"Pastinya dong, Om. Anak siapa dulu, dong...! Prasetya gitu...." Ilona menjawab dengan tersenyum bangga menyandang nama keluarga Prasetya.


Seketika wajah Hendra berubah tak suka. Namun, Ilona tak menyadari hal itu.


"Bagaimana Om? Apa Om sudah membuat janji dengan dokter, teman Om itu?" tanya Ilona.


"Hmm, tidak usah khawatir ... dia kawan karib Om semenjak kecil. Jadi, dia pasti akan meluangkan waktunya untuk kita," jawab Hendra penuh keyakinan. "Ya sudah, ayo kita masuk!" Ajaknya kepada Ilona.


Ilona mengangguk. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah yang cukup mewah itu.


"Apa kabar Hendra?" sapa dokter Rudiawan menyambut kedatangan mereka.


"Kabar baik, Wan ... bagaimana denganmu?" Hendra balik bertanya.


"Hahaha, tentunya aku selalu baik-baik saja. Oh, jadi ini putrimu yang pernah kamu ceritakan padaku. Hmm, sudah besar ternyata," ucap dokter Rudiawan seraya mengamati Ilona dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


Ilona tampak risih dibuatnya. Dia juga cukup terkejut mendengar pernyataan dokter Rudiawan. Putri? Siapa yang putrinya laki-laki pengeruk harta orang? Huh, menyebalkan! dengus Ilona dalam hatinya.

__ADS_1


Raut wajah Hendra berubah tegang saat mendengar ucapan dokter Rudiawan. Sekilas dia melirik ke arah Ilona. Namun, sepertinya Ilona tidak begitu menghiraukan ucapan dokter tersebut. Akhirnya Hendra bisa bernapas dengan lega melihat reaksi Ilona yang biasa saja.


"Jadi, bagaimana? Apa kamu bisa menangani kasus Ilona?" tanya Hendra.


"Sebentar! Boleh saya minta rekam medis Anda?" pinta dokter Rudiawan kepada Ilona.


Ilona mengangguk. Sejurus kemudian, dia menyerahkan hasil diagnosis dan rekam medis penyakitnya yang sedari tadi dia pegang.


Dokter paruh baya itu tampak serius membaca rekam medis Ilona. Sesekali tangannya mengusap-usap jenggotnya yang sudah berwarna putih.


"Jujur, sebenarnya ... dari hasil diagnosis ini, penyakit yang kamu derita sudah cukup berat. Namun, semua kemungkinan pasti akan terjadi jika Tuhan berkehendak. Jika Tuhan menghendaki kamu sembuh, maka kamu pasti akan sembuh.Yang terpenting saat ini adalah, semangat untuk sembuh. Untuk kasus yang sedang kamu hadapi, kuncinya hanya ada tiga, semangat, ikhtiar dan berdoa," ucap dokter Rudiawan.


"Jadi intinya, apa bisa kamu tangani?" tanya Hendra, penasaran.


"Insya Allah bisa, Hen. Sebatas untuk menangani, aku akan berusaha. Tapi untuk sembuh, kembali lagi pada Yang Maha Kuasa. Karena Dia Maha Menyembuhkan," jawab dokter Rudiawan.


Ya, dokter Rudiawan adalah seorang dokter yang sangat berpegang teguh terhadap agamanya. Dia hanya meyakini kalau dirinya hanyalah seorang perantara. Sedangkan kesembuhan yang sebenarnya, itu hanya datang dari Tuhan.


"Jadi, kapan Ilona bisa memulai terapinya?" tanya Hendra lagi.


"Baiklah, kalau begitu. Rabu depan kami akan kembali lagi," ucap Hendra.


"Oke. Akan saya jadwalkan untuk hari Rabu, ya? Semakin sering kamu melakukan terapi, maka hasilnya akan semakin bagus," tutur dokter Rudiawan.


"Kamu atur saja, Wan! Yang terpenting Ilona bisa beraktivitas lagi tanpa kesakitan," jawab Hendra.


"Baiklah, saya tunggu kedatangan kalian minggu depan," jawab dokter Rudiawan.


Hendra mengangguk. setelah itu mereka berpamitan untuk pulang.


Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah Hendra. Anak buah Hendra tampak membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi. Dua buah mobil memasuki pekarangan rumah yang sangat luas itu.


Hendra tampak terkejut melihat beberapa orang yang tak dikenalinya sedang berjalan mondar mandir di teras rumahnya. Pun dengan Ilona yang heran melihat petugas Satpol PP yang sama berada di sana. Ish mau apa mereka? Kenapa mereka berada di sini? Apa hubungan mereka dengan om Hendra? batin Ilona.

__ADS_1


Hendra keluar dari mobilnya, ditemani Jupri sang asisten dan Ilona di samping kiri-kanan Hendra.


"Jupri, apa kamu mengenal mereka?" tanya Hendra pada kaki tangannya.


"I-Iya Tuan, saya mengenal mereka," jawab Jupri terbata-bata.


"Siapa?" tanya Hendra lagi.


"Mereka adalah orang-orang yang diminta Anda untuk mengurusi Nona Ilona tadi malam," jawab Jupri.


"Hmm ... pasti mereka hendak meminta bayaran. Suruh mereka menunggu di ruang kerjaku!" Hendra memberikan perintah kepada sang asisten.


Jupri mengangguk dia segera menghampiri orang-orang itu.


Hendra dan Ilona pergi ke ruang keluarga.


"Om, tunggu!" panggil Ilona saat melihat Hendra hendak masuk ke kamarnya.


"Ada apa, Tik?" tanya Hendra menghentikan langkahnya dan membalikkan badan bertatap muka dengan Ilona.


"Jadi, Satpol PP itu? Wartawan itu? Mereka adalah orang-orang suruhan Om?" tanya Ilona.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Hendra malah balik bertanya.


"Tidak. Aku hanya kaget saja. Aku pikir Om hanya akan menyuruh petugas hotel itu untuk memergoki kami. Aku sempat kaget juga begitu ada petugas Satpol yang memasuki kamar itu, ditambah lagi wartawan yang sepertinya berhasil mendapatkan gambar kami. Aku pikir, mereka Satpol PP dan wartawan beneran. Ternyata semua ini hanyalah sekedar permainan Om saja," jawab Ilona.


"Hahaha, Chantika... Chantika.... Kita harus bermain cantik dalam melakukan sebuah permainan. Dan apa kamu tahu, tempat apa yang kamu singgahi semalam?" tanya Hendra lagi.


Ilona menggelengkan kepalanya.


"Itu hanyalah sebuah rumah bordir milik salah satu anak buah Om, hahaha,...."


"Apa?!"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2