Takdir Gintani

Takdir Gintani
Ini Jawabanku!


__ADS_3

Selepas menunaikan solat isya, Jessica pun mengantar Gintani pergi ke rumah Argha. Jalanan cukup padat, mengingat malam ini adalah malam Minggu. Banyak geng-geng motor yang memarkirkan motornya di tepi jalan. Mereka berkumpul bergerombol, hingga menyebabkan jalanan semakin macet.


Satu jam kemudian, Jessica dan Gintani tiba di rumah Argha. Gintani segera turun begitu Jessica memarkirkan mobilnya. Sejenak dia tampak tertegun melihat Lamborghini berwarna kuning terparkir cantik di halaman depan rumah keluarga Amijaya.


"Gin, are you oke? Jessica menepuk pelan bahu Gintani.


"Eh, iya ... I'm oke!" jawab Gintani cukup terkejut mendengar pertanyaan Jessica.


"Itu mobil siapa, Gin?" tanya Jessica.


Gintani hanya mengedikkan bahunya. "Masuk yuk, Mbak!" ajak Gintani.


Gintani segera menekan bel begitu tiba di pintu utama mansion.


Klek!


Pintu terbuka, Bik Siti begitu terkejut melihat Gintani berdiri di depan pintu.


"Non Gintan," ucap Bik Siti, pelan.


"Selamat malam, Bik! Apa kabar?" Gintani menyapa Bik Siti.


"Ba-Baik, Non. Kabar Bibik baik-baik saja. Non sendiri bagaimana, sehat?" tanya Bik Siti kepada Gintani.


"Siapa yang datang, Bik?" Belum sempat Gintani menjawab, tiba-tiba terdengar suara Nyonya Rosma berteriak dari dalam rumah.


"Si-Silakan masuk, Non!" ucap Bik Siti mempersilakan Gintani masuk.


"Terima kasih, Bik. Tolong panggilkan Argha," pinta Gintani.


"Waduh-Waduh-Waduh ... kamu bukan nyonya di rumah ini lagi, berani-beraninya kamu memberikan perintah kepada Bik Siti, hah?" teriak Nyonya Rosma yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga.


Baik Gintani, Jessica dan Bik Siti sangat terkejut dengan kedatangan Nyonya Rosma.


"Tolong panggilkan tuan Argha, aku tidak punya banyak waktu untuk melayani Anda!" pinta Gintani dengan nada yang cukup ketus.


Nyonya Rosma sangat terkejut mendengar keberanian Gintani berbicara seperti itu. Biasanya tidak seperti ini. Gintani orang yang cukup lemah lembut dan tidak banyak bicara, apalagi memerintah. Tapi sekarang, dia bahkan berani berbicara ketus terhadap dirinya.


"Apa-apaan ini, berani kamu memerintah aku di rumahku sendiri, hah? Benar-benar wanita tidak tahu diri!" dengus Nyonya Rosma dengan geram.


"Jangan lupa Nyonya Rosma yang terhormat, ini juga rumah tuan Argha Putra Adisastra, dan aku ... aku adalah istri sahnya tuan Argha. Jadi aku masih punya hak untuk memberikan perintah di rumah ini, jelas" tegas Gintani kepada Nyonya Rosma.


"Hahaha, jangan mimpi kamu!" Nyonya Rosma tertawa terbahak-bahak. "Apa kakek kamu yang bodoh itu belum menyampaikan surat perceraian kalian? Huh, aku rasa, dia tidak berani memberikannya, 'kan? Dengar wanita kotor, Argha sudah menggugat cerai dirimu, jadi kamu tidak pernah punya hak apa pun lagi di rumah ini!" ucap Nyonya Rosma hendak menarik kerudung Gintani.


Namun sebelum tangan itu sampai, Gintani menepiskan tangan Nyonya Rosma.

__ADS_1


"Dengar Nyonya Rosma, untuk kali ini, aku tidak akan membiarkan kamu menyentuhku lagi!" Gintani melewati Nyonya Rosma begitu saja. Dia kemudian memasuki ruang keluarga.


"Tuan Argha! Tuan Argha! Keluarlah!" Gintani berteriak-teriak di ruangan yang cukup besar itu. Suaranya yang menggema membuat Tuan Jaya dan Nadhifa keluar dari kamar mereka.


"Ada apa ini, Nak Gintan?" tanya Tuan Argha menghampiri Gintani.


"Aku mencari putra Anda, Tuan Argha Putra Adisastra yang terhormat. Tolong panggilkan dia keluar, atau aku akan membuat keributan di sini!" ucap Gintani dengan tegas.


"Tapi...."


"Argha, ayo keluarlah! Dasar pengecut, kamu harus bertanggung jawab atas kematian kakekku! Keluarlah Argha!" Gintani berteriak-teriak seperti orang yang telah kehilangan akalnya.


Sementara itu, di dalam kamar Argha.


"Apa kamu mendengar sesuatu?" tanya Argha kepada Ilona.


"Iya, Kak. Seperti ada suara ribut-ribut di bawah," jawab Ilona.


"Ayo kita lihat!" ajak Argha.


Ilona menyimpan piringnya di atas nakas. Dia kemudian mengikuti Argha ke luar kamar.


Deg-deg-deg!


Jantung Argha berdegup tak beraturan saat melihat Gintani di bawah. Argha segera menuruni tangga.


Plak!


Tanpa banyak bicara, Gintani melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras di pipi Argha.


"Hei, berani-beraninya kamu menampar Kak Argha!" teriak Ilona menuruni tangga. "Dasar wanita ti–"


"Cukup! Aku tidak punya urusan denganmu! Pergi dari sini sebelum aku berbuat sesuatu yang buruk terhadapmu!" Kini giliran Gintani yang berteriak kepada Ilona.


Ilona terkejut dengan keberanian Gintani membentaknya. Sebelumnya dia mengenal Gintani sebagai wanita yang lugu.


"Kau! Dasar wanita kotor, pelacur jalanan, wanita ja–"


Plak!


Kini Gintani menampar Ilona dengan sangat keras. "Aku sudah memperingatkan kamu, tapi sayangnya kamu tidak mengindahkan peringatanku. Itu akibat jika kamu terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang!" tegas Gintani.


"Hentikan Gintani! Apa kamu sudah gila, hah! Kamu datang ke rumah orang dengan berteriak-teriak. Bahkan kamu menampar orang yang tidak bersalah. Di mana sopan santunmu sebagai wanita berhijab?" Argha mulai berteriak kepada istrinya.


"Jangan ajari aku tentang sopan santun jika kamu sendiri belum mampu menerapkannya, Tuan Argha! Apa kamu pikir, kamu itu cukup memiliki rasa sopan santun ketika kamu memasukkan seorang wanita ke kamar kita, hah!" Gintani membalas teriakan suaminya.

__ADS_1


"Kita? Apa kamu bilang? Kita? Huh, sepertinya kakekmu belum memberitahukan kebenarannya. Tidak ada lagi kita dalam hubungan ini, jelas!" ucap Argha, geram.


"Jadi benar, kakek datang menemuimu?" tanya Gintani, dingin.


"Aku tidak pernah memintanya datang. Dia sendiri yang berinisiatif untuk datang ke kantorku," jawab Argha dengan pongahnya.


Gintani mengeluarkan amplop yang dia temukan di dalam tas kerja kakeknya.


"Dan kamu memberikan ini padanya?" tanya Gintani lagi.


"Oh, jadi dia sudah memberikan berkas itu padamu. Berarti, kamu sudah tahu kebenarannya, bukan? Sekarang kita bukan siapa-siapa lagi, Gintani!" tegas Argha.


Plak!


Tanpa diduga, Gintani kembali melayangkan sebuah tamparan untuk Argha.


"Ini, untuk sikap memohon kakek yang tidak kamu pedulikan."


Plak!


"Ini, untuk kelancangan kamu memberikan surat ini kepada kakekku."


Plak!


"Ini, untuk setiap kesakitan yang kakek rasakan karena sikapmu."


Plak!


"Dan ini ... ini untuk kematian kakekku karena kesombonganmu, Tuan Argha yang terhormat," ucap Gintani, geram.


"Dan ini!"


Gintani menunjukkan berkas gugatan cerai itu tepat di wajah Argha.


"Kau begitu ingin bercerai denganku, 'kan?" tanya Gintani sambil mengeluarkan balpoin dari dalam tasnya. "Ini! ini jawabanku atas gugatan cerai kamu, Tuan Argha!"


Gintani menandatangani surat cerai itu dan melemparkannya tepat di depan wajah Argha.


"Dan aku ingatkan sekali lagi Tuan Argha yang terhormat. Sejak ditandatangani surat perceraian itu, kamu tidak pernah punya hak lagi atas diriku, dan atas apa yang akan menjadi milikku. Mulai detik ini, bagiku dan milikku, kau telah mati, Camkan itu!"


Puas meluapkan emosinya, Gintani meninggalkan keluarga Amijaya yang masih terlihat shock mendengar kabar kematian kakek Wira.


Tuan Jaya mulai limbung, kedua lututnya terasa lemas. Orang yang telah dianggapnya sebagai orang tua, kini telah pergi untuk selamanya. Dan yang paling menyakitkan, Gintani menyalahkan putranya atas kepergian kakek Wira.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Gintani bisa sampai semarah itu?

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa πŸ™πŸ€—


__ADS_2