Takdir Gintani

Takdir Gintani
Terbangun


__ADS_3

Waktu pun terus berlalu. Argha masih senantiasa melakukan pencarian terhadap Gintani di sela-sela kesibukannya. Beberapa kali dia menemui Bik Susan untuk menanyakan keberadaan Gintani. Namun, Bik Susan pun tak mampu memberikan jawaban. Bik Susan sendiri tidak tahu ke mana Gintani pergi. Akhirnya Argha kembali dengan rasa kecewa yang semakin dalam.


Kenapa sulit sekali menemukan keberadaan kamu, Gin? Apa ini hukuman bagiku? batin Argha.


🍀🍀🍀


Sementara itu, Ilona mendekam di balik jeruji untuk waktu yang cukup lama. Banyaknya kasus kejahatan yang dia lakukan semakin memberatkan hukumannya.


Sedangkan Hendra, meskipun dia berkuasa, tapi dia harus berpikir ribuan kali untuk membantu Ilona. Bagaimana jika polisi mengendus semua aktivitas gelapku? Hmm, sebaiknya aku tidak membantu anak itu lagi. Meskipun dia darah dagingku sendiri, tapi aku tidak bisa mempertaruhkan pencapaianku selama ini, batin Hendra.


Hendra memejamkan matanya, masih teringat jelas dalam benaknya tentang perselingkuhannya dengan kakak angkatnya sendiri. Sejak lama Hendra sudah menarun hati pada wanita pendiam itu. Wanita yang dia ketahui sebagai kakak perempuannya. Namun, di saat orang tua Hendra meninggal, dia pun mengetahui jika Reina bukanlah kakak kandungnya. Dia hanyalah seorang anak yang diadopsi dari panti asuhan.


Peluang Hendra semakin besar saat Seno Prasetya yang tak lain adalah suaminya Reina berselingkuh. Karena merasa kesepian, akhirnya Reina semakin dekat dengan sang adik. Hingga akhirnya, hubungan yang dirasa nyaman pun menghasilkan seorang anak yaitu Ilona. Hubungan gelap itu begitu rapi, sampai Seno tidak menyadari jika anak yang diasuhnya bukanlah darah dagingnya sendiri. Hingga suatu hari...


Seno mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. "Tidak, aku tidak boleh melakukan semua ini. Bagaimanapun juga, Reina adalah istriku. Aku harus mengakhiri hubunganku dengan Rosma dan kembali kepada Reina," gumam Seno.


Tetapi di saat Seno beritikad baik untuk memperbaiki hubungannya dengan sang istri. Saat itu pula perselingkuhan Reina dan adik iparnya terbongkar.


Tanpa sengaja, Seno mendengar Reina menceritakan kegelisahannya tentang golongan darah sang anak yang berbeda dengan dirinya dan juga suami. Seno marah, sejak saat itu dia pun pergi meninggalkan Reina untuk selamanya.


Perasaan bersalah menghantui hidup Reina hingga dia mengalami depresi. Rasa cintanya kepada Seno Prasetya begitu dalam. Kehadiran Hendra pun tak bisa menjadi pelipur laranya. Laki-laki itu ibarat sebuah persimpangan bagi Reina. Karena merasa sakit hati atas sikap Reina. Hendra pun pergi setelah menghancurkan perusahaan Prasetya.


"Pesawatnya sudah siap bos." Ucapan sang asisten seketika membuyarkan lamunan Hendra.


Hendra menyeka air bening di kedua sudut matanya. Setelah itu dia beranjak menuju pesawat pribadinya.


"Maafkan Papa Tika, tapi ini yang terbaik untuk kita," gumam Hendra sambil memandang lepas hamparan awan yang berada di balik jendela pesawatnya.


🍀🍀🍀


Waktu terus berlalu. Bayi prematur itu kini tumbuh menjadi seorang anak yang lucu dan menggemaskan. Pipinya yang chubby dan berwarna kemerahan membuat gemas setiap orang yang memandangnya.


"Ayo Putri, hari ini kita akan menjenguk mama kamu di rumah sakit," ucap Heru setelah dia beristirahat sejenak selepas pulang dari kantor.


"Ya...ya...ya..ya," celoteh Putri kecil.


"Waah ... sepertinya kamu sangat senang sekali ya, mau ketemu mama hari ini," ucap Heru sambil menggendong Putri.

__ADS_1


"Na...na...ya...ya." Putri kembali mengeluarkan bahasa yang hanya dia sendiri yang mengerti.


"Sudah siap, Sus?" tanya Heru kepada pengasuh Putri.


"Iya, Tuan," jawab pengasuh Putri yang bernama Mina.


"Putri sama Uteng dulu, ya? Papa mau nyetir," kata Heru sambil menyerahkan Putri kepada pengasuhnya.


Bocah kecil itu merentangkan tangannya sambil terus berceloteh. Wanita muda yang dipanggil Uteng pun segera mengambil alih Putri dari gendongan tuannya. Sejurus kemudian, mereka memasuki mobil.


Putri terlihat begitu senang berkendaraan. Hal itu terlihat dari celotehan dia sepanjang jalan. Jarak yang ditempuh dari rumah Heru ke rumah sakit memakan waktu satu jam lebih. Namun, tak sedikit pun gadis cilik itu merasa bosan ataupun rewel selama berada di dalam mobil.


Setibanya di rumah sakit, Heru menurunkan Putri dan pengasuhnya di lobi rumah sakit. Sementara dia melajukan mobilnya menuju tempat parkir.


Beberapa menit kemudian, Heru kembali ke lobi rumah sakit dan segera menggendong Putri kecil yang telah menarik hatinya semenjak bayi.


"Ayo, Putri digendong Papa, ya," ucap Heru.


"Ya...ya...ya...na...na," celoteh Putri.


Heru tersenyum sambil mencium gemas pipi gembul gadis cilik itu. Setelah itu, mereka kemudian menaiki lift untuk pergi ke ruang VVIP di lantai 5.


Putri terlihat senang melihat wanita yang wajahnya semakin tirus itu. Dia mulai meronta dalam pangkuan Heru.


"Iya, sebentar Sayang ... Papa tahu kamu sangat merindukan Mama kamu," ucap Heru.


Heru mendekati Gintani, dia kemudian duduk dan mendudukkan putri di pangkuannya.


"Ma...ma...ma..ma...." Lagi-lagi Putri berceloteh seraya mendekatkan wajahnya.


"Putri mau cium Mama? Sini, Papa bantu," ucap Heru mencondongkan wajah Putri agar semakin dekat dengan ibunya.


Cup!


Sedetik kemudian, ciuman bibir mungil nan hangat mendarat di pipi Gintani.


Di alam bawah sadarnya, hati Gintani terenyuh oleh semua sikap putri kecilnya itu. Putri yang selama satu tahun ini dia dambakan untuk dipeluknya. Namun apalah daya, mata Gintani seolah berat untuk dibuka. Hanya bulir air mata yang menggenang di kedua sudut matanya.

__ADS_1


Melihat air mata menetes dari kedua sudut mata Gintani, Heru semakin yakin jika wanita itu mampu mendengar semua perkataannya.


"Genap setahun kamu tertidur seperti ini, Gin. Apa kamu tidak ingin bangun? Apa kamu tidak ingin memeluk anakmu? Apa kamu tidak merindukan Putri? Hari ini adalah hari ulang tahun Putri, dan aku sengaja membawanya kemari agar putri bisa merayakan hari ulang tahunnya bersama mamanya. Apa kamu tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada putrimu sendiri?" ucap Heru.


Hati Gintani semakin menjerit mendengar semua perkataan Heru. Tuhan ... Jika Engkau mengizinkan aku sembuh, maka bangunkanlah aku. Agar aku bisa memeluk putriku. Namun, jika Engkau lebih menyayangi aku. Izinkan aku menghadapMu dengan penuh keikhlasan. Tanpa beban, tanpa penderitaan, jerit Gintani dalam ketidakberdayaannya.


.


.


.


Kumandang azan magrib mulai terdengar. Heru pun memutuskan untuk pergi ke masjid di sekitar rumah sakit. Sedangkan Mina, dia pergi ke mushola rumah sakit untuk menunaikan kewajibannya. Mina pergi ke mushola karena putri tengah tertidur di dalam box baby yang cukup besar.


Beberapa menit telah berlalu. Namun, kedua orang dewasa itu belum juga kembali. Sayup-sayup Gintani mendengar rengekan anak kecil. Dia berjalan mendekati sumber suara. Mata Gintani seketika terbelalak ketika melihat seorang anak kecil yang sedang merangkak di tepi kasur yang cukup tinggi.


"Kembali Sayang, nanti kamu bisa jatuh!" teriak Gintani.


Tapi anak itu tak menghiraukan Gintani. Dia masih terus merangkak sambil menangis mencari ayahnya.


"Papapa...huu.... Pa ... Pa ..." rengek anak kecil itu.


Tiba-tiba....


"Awas!"


Gintani berteriak keras sambil membuka. Matanya. Sedetik kemudian, mata lembutnya menatap bayi mungil yang tergeletak di lantai. Gintani pun segera bangun dan mencabut jarum infus di tangannya. Dia berlari ke arah Putri yang mulai menangis.


Ya Tuhan ... putriku, kamu tidak apa-apa, Nak?" ucap Gintani segera menggendong anaknya dan mendekapnya dengan erat.


Putri yang awalnya menangis cukup keras, perlahan mulai reda saat mendapatkan pelukan hangat dari ibunya. "Mamama...." Putri kembali berceloteh.


Gintani merenggangkan pelukannya. Sejurus kemudian, dia menciumi wajah gadis mungil itu bertubi-tubi, hingga membuat gadis mungil itu tertawa terbahak-bahak.


Mimpi yang memang sebuah kenyataan yang ada, telah membuat Gintani terbangun dari tidur panjangnya selama satu tahun ini.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2