Takdir Gintani

Takdir Gintani
Bidadari Surga


__ADS_3

Menjelang ashar, Pasangan pengantin baru itu tiba di mansion utama. Kedatangan mereka disambut gembira oleh tuan Jaya dan putrinya.


"Gintaaan....!" teriak Nadhifa seraya berlari ke arah Gintani dan memeluknya. Ya ! Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah tiga tahun lamanya mereka hilang kontak. Maklumlah, saat akad nikah, Nadhifa tidak sibuk karena harus menjalani sidang skripsinya.


"Aku sangat merindukanmu, Gin! Kamu pergi ke mana saja selama ini? Kenapa ponelmu sama sekali tidak bisa dihubungi? Apa Nando mengganggumu, hingga kamu pergi begitu saja tanpa memberitahuku? Dia memang cowok brengsek, huh!" cerocos Nadhifa berapi-api.


Gintani tersenyum mendengar pertanyaan Nadhifa yang panjang bak lokomotif kereta api. Sekilas dia melirik Argha yang tengah mendengus kesal menatap adiknya. Ada apa dengannya? batin Gintani.


"Sudah, Fa! Kakak iparmu baru saja sampai. Dia pasti sangat lelah. Jangan mengganggunya dulu," tegur tuan Jaya. Dia kemudian menghampiri menantunya. "Apa kabarmu, Nak?" tanya tuan Jaya.


"Alhamdulillah, Gintan baik, om," jawab Gintani.


"Jangan panggil om, panggil saja papah!" ucap tuan Jaya.


Gintani tersenyum, "Iya pah."


"Ya sudah, kalian masuk dulu dan beristirahatlah! Biar koper-kopernya, Munir yang nanti bantu bawakan ke kamar kalian."


"Iya, pah! Makasih!" jawab Argha.


Argha kemudian masuk ke dalam rumahnya dan menaiki tangga seorang diri. Sepertinya dia lupa jika dia telah beristri.


Gintani hanya bisa beristighfar melihat kelakuan suaminya.


"Sabar ya, Nak! Argha memang seperti itu anaknya! Dia agak sedikit egois. Tapi dia anak yang baik, kok!" ucap tuan Jaya.


"Iya, pah! Kalau begitu, Gintan permisi dulu!" pamit Gintani.


" Ayo Gintan, aku antar!" ujar Nadhifa seraya menggandeng tangan Gintani memasuki rumahnya, kemudian menaiki tangga untuk pergi ke kamar suaminya. "Ini kamar kak Argha, masuklah!"


"Ka..., kamu nggak masuk, fa?" tanya Gintani, kikuk.


"Ish, ngapain aku masuk kamar kalian? Memangnya aku mau lihat kak Argha unboxing? By the way ... kalian sudah__"


"Apaan sih Fa?"


Gintani langsung memotong kalimat Nadhifa. Dia sepertinya sudah tahu apa yang ingin Nadhifa tanyakan.


Nadhifa langsung tergelak begitu melihat rona merah di wajah kakak iparnya. "Cie... Cie... yang sudah unboxing..., " ledek Nadhifa.


"Faaa....!!" rengek Gintani.


Tanpa mereka sadari, seorang lelaki di balik pintu tengah mengulum senyum mendengarkan percakapan unfaedah mereka.


Argha setengah berlari memasuki kamar mandinya, saat dia melihat handle pintu mulai bergerak. Dengan napas yang masih tersengal, dia pun mulai melucuti pakaiannya untuk ritual mandi.


.


.


Gintani memasuki kamar suaminya. Dia sedikit tercengang melihat suasana kamar itu. Semerbak wangi aroma mawar, menusuk indera penciumannya. Gintani pun melihat kelopak bunga mawar yang bertaburan di lantai dan juga di atas kasur bersprei putih. Seketika, jantungnya berdegup kencang melihat bayangan saat Argha menyetubuhinya.

__ADS_1


"Tidaaakkk.... ! Jangaaan...!" teriak Gintani ketakutan. Dia melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh pintu.


Argha yang sedang mandi, segera meraih handuknya begitu mendengar teriakan Gintani. Saat dia membuka pintu kamar mandi, dia mendapati Gintani yang berdiri gemetar di depan pintu. Wajahnya terlihat pucat, kedua tangannya menyilang di dadanya


"Aku mohon, lepaskan aku! Jangan lakukan itu, aku mohon!" lirih Gintani.


Argha segera menghampiri istrinya. "Kamu kenapa?"


Gintani menatap tajam ke arah argha, "Singkirkan kelopak bunga itu! Aku mohon, singkirkan itu!" tunjuk Gintani ke arah ranjangnya.


Argha melirik kelopak bunga yang tersebar di atas ranjangnya. Ya Tuhan, kenapa aku tidak sadar dengan keberadaan benda itu di sini? Ini pasti kerjaan Nadhifa, gumam Argha dalam hati


"Tenanglah, aku akan panggil bik Siti untuk menyingkirkannya. Mandilah!" perintah Argha seraya memapah Gintani ke kamar mandi.


Argha mulai mengisi bathub nya dengan air hangat. Dia menyiapkan segala kebutuhan istrinya.


"Ini sabun dan samponya. Bathrobe-nya aku gantungkan di sana. Berendamlah, agar otot-otot mu terasa rileks!" ujarnya.


Gintani diam. Dia sama sekali tidak merespon ucapan suaminya. Tatapannya terlihat kosong.


"Gin?"


Hening


"Gintani?


Sepi


Gintani terhenyak, seketika dia mendorong tubuh suaminya hingga Argha terjerembab ke lantai.


"Arrrhhhh.... "


Gintani kembali berteriak seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.


" Mas, benarkan handukmu!" ucapnya.


Argha melirik ke bawah. Dia terkejut melihat handuknya tersingkap dan Perkutut nya menyembul melihat dunia. Meski merasa malu, namun seorang Argha tak mungkin menampakkan kelemahannya di depan siapa pun.


"Kenapa? Apa kau tak ingin melihatnya? Apa kau tidak merindukan Perkututmu, sayang?" ejek Argha seraya bangun dan menghampiri Gintani.


Kedua tangan nya meraih tangan Gintani dan menurunkannya. Tangan jahil Argha menarik tangan Gintani untuk menyentuh Perkututnya.


Gintani terkesiap. Dengan sigap dia kembali menarik tangannya. "Tolong keluar! Aku sedang tidak ingin bercanda dengan mu! Jangan sampai aku memotong Perkututmu dan melemparkannya menjadi santapan ikan lele!" ancam Gintani.


Argha tercengang, dia pun mundur beberapa langkah. "Ya Tuhan, ternyata istriku seorang psikopat!" gumam Argha yang masih bisa di dengar oleh Gintani.


Gintani mendengus kesal. Dia segera mengunci pintu kamar mandi begitu Argha keluar. Setelah itu, dia mulai melucuti pakaiannya dan berendam di air hangat yang telah disediakan suaminya.


Di luar, Argha segera memerintahkan bik Siti untuk menyingkirkan kelopak mawar itu. Hmm, apa dia merasa trauma sehingga histeris saat melihat kelopak mawar itu? batin Argha.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Akhirnya, acara yang dinantikan oleh tuan Jaya dan kakek Wira, tiba juga.


"Waah, Gin..., kamu cantik sekali!" puji Nadhifa saat melihat kakak iparnya tengah di rias oleh MUA terkenal.


"Semua wanita memang cantik Fa, kalau tampan, itu namanya wanita jadi-jadian," gurau Gintani seraya tergelak.


Bibir Nadhifa seketika mengerucut mendengar balasan dari pujian yang dilontarkan untuk kakak iparnya. "Aku serius kak!" ujarnya.


Gintani mengernyit kan keningnya, "Kakak?"


"Iya, Gin. Meskipun kita seumuran, tapi boleh kan, aku memanggilmu kakak?" pinta Nadhifa.


Gintani merentangkan kedua tangannya. Seketika, Nadhifa pun menghambur ke dalam pelukan sang kakak ipar.


"Tentu saja boleh, Fa! Aku senang memiliki adik secantik kamu," bisik Gintani seraya mengelus punggung Nadhifa.


Nadhifa merenggangkan pelukannya. "Mulai sekarang, kita akan selalu berbagi dalam suka dan duka, kak!"


Gintani mengangguk, jarinya mengusap lembut pipi chubby Nadhifa. "Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai kakakmu," ucap gintani.


Nadhifa tersenyum dan kembali memeluk Gintani.


"Duh, beb! Jangan terus dipeluk dong pengantinnya! Nanti pakaiannya kusut, kan nggak indah di pandang mata, begindang!" ujar wanita bercassing pria itu.


"Ha... ha... ha..., sorry....! Eh kak, ayo berpose, biar aku ambil gambarnya!"


"Apaan sih Fa, nggak usah ah! Aku malu, jelek!"


"Jelek dari Hongkong! Nggak boleh minderan gitu, kamu tuh cantik say! Lady Di aja kalah sama kamu!" ucap si perias itu.


"Iya lah, kan Lady Di sudah meninggal!" sahut Nadhifa, kesal karena kakak iparnya dibandingkan dengan orang yang sudah tiada.


"Ish kamu itu beb, nggak ngerti ibaratnya ya, huh!" Dengus cewek jadi-jadian itu.


"Sudah-sudah, ayo kak, aku foto!" ujar Nadhifa seraya mengarahkan Gintani untuk berpose. "Senyum ya kak! Tiga ... dua ... satu!"


Cekrek...!


"Coba beb, lihat hasilnya!" teriak cewek bercasing cowok itu.


"Nih!" Nadhifa menyerahkan ponselnya.



"Masya Allah, say...!! Kamu macam bidadari surga sajeu...!!" pekik cowok kemayu itu, terkagum-kagum melihat kecantikan Gintani.


"Siapa bidadari sur ..."


Bersambung....


Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2