
Kedua tangan Gintani menutup mulutnya yang terbuka lebar saat mendengar ucapan Argha. Ya Tuhan, tega sekali Mas Argha menghina istrinya sendiri, batin Gintani. Apa itu berarti, selama ini aku tidak pernah cukup berharga di mata Mas Argha? Gintani kembali meratapi nasibnya dalam hati.
"Kenapa diam?" tanya Argha. "Baiklah, aku anggap diam kamu adalah sebuah kebenaran. Dasar wanita murahan!" Argha kembali menghina Gintani.
Tok-tok-tok!
Tiba-tiba ketukan pintu di ruang kerja Tuan Jaya, memecah keheningan di antara mereka.
"Masuk!" perintah Tuan Jaya.
Pintu terbuka, tampak Bik Siti menundukkan kepalanya di ambang pintu.
"Ada apa, Sit?" tanya Tuan Jaya.
"Itu, anu Tuan ... mm ... Siti cuma mau bilang sama Den Argha, kalau koper-kopernya sudah siap," jawab Bik Siti.
"Koper?" tanya Tuan Jaya, mengerutkan dahinya.
Bik Siti mengangguk.
"Huh, baguslah!" ucap Argha, sinis. Sejurus kemudian, Argha mendekati Gintani. "Ayo bangun!" teriak Argha sambil menyambar pergelangan lengan Gintani dan menariknya.
"Tunggu, Mas! Kita mau kemana?" tanya Gintani, mengikuti langkah lebar Argha dengan terseok-seok.
Argha tak menggubris pertanyaan Gintani. Dia terus saja menyeret Gintani.
Brugh!
Argha menghempaskan tubuh Gintani hingga wanita malang itu jatuh tersungkur di antara koper-koper yang tergeletak di lantai.
"Enyah kau dari sini, wanita hina! Aku tidak akan pernah sudi menganggap kamu sebagai istriku lagi!" teriak Argha.
Tuan Jaya cukup terkejut melihat sikap Argha. Namun dia tak mampu berbuat apa-apa. Dia juga tidak bisa menyalahkan sikap putranya. Seandainya saja dia tidak melihat kejadian itu secara langsung, mungkin dia masih bisa membela Gintani. Namun sayangnya, Tuan Jaya pun masih mengingat jelas peristiwa malam itu.
Nyonya Rosma menyeringai melihat pemandangan di hadapannya. Jika boleh jujur, Ini adalah waktu yang sangat dia nantikan dalam hidupnya. Melihat Gintani keluar dari rumah untuk selamanya.
"Mas, Gintan mohon ... jangan usir Gintan! Pa, tolong jangan usir Gintan, Pa. Gintan nggak bersalah! Gintan mohon, tolong Gintan!" Gintani mengiba meminta bantuan sang ayah mertua. Namun Tuan Jaya tetap diam.
"Aargh!"
Gintani berteriak saat Nyonya Rosma menjambak hijabnya. "Dengar wanita kotor, sekarang sudah tidak ada yang peduli lagi padamu. Pergilah dari sini!" teriak Nyonya Rosma.
Gintani tidak peduli akan rasa sakit di kepalanya. Jambakan keras sang ibu mertua, membuat rambutnya seakan terlepas dari kulit kepala. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Nyonya Rosma. Setelah bebas, Gintani kembali berlutut di hadapan suaminya.
"Gintan mohon, Mas. Jangan usir Gintan! Kita bisa bicarakan masalah ini secara baik-baik, tapi jangan pernah usir Gintan. Tolong beri Gintan kesempatan untuk membuktikan jika Gintan tidak bersalah," pinta Gintani.
Bukannya merasa kasihan, Argha malah menendang Gintani hingga tubuh Gintani terjengkang ke belakang.
__ADS_1
"Pergi dari sini wanita laknat! Aku tidak akan pernah memberikan kesempatan padamu. Pergi!" teriak Argha seraya menunjuk ke arah pintu yang sudah terbuka.
Sakit! Tentu saja ada banyak kesakitan yang Gintani rasakan dari setiap kata kasar yang keluar dari mulut suaminya. Gintani hanya mampu menangis. Tak ada seorang pun yang membelanya di keluarga ini. Bahkan Nadhifa, dia hanya bisa diam menonton pertunjukan di pagi hari.
Gintani menyerah. Tatapan kebencian terpancar jelas di kedua bola mata suaminya. Akhirnya, dia bangkit dan mulai mengangkat koper-koper yang cukup besar.
"Tunggu!" teriak Tuan Jaya saat melihat Gintani hampir keluar dari pintu utama.
"Ish, Papa! Mau apa lagi?" rengut Nyonya Rosma.
Tuan Jaya menghampiri putranya. "Kita akan mengantarkan dia pergi, Nak," kata Tuan Jaya.
"Tapi...." Argha hendak protes.
"Dengar, dulu kita membawa dia pergi dari rumah kakeknya dengan cara baik-baik. Sekarang pun, kita akan mengembalikan dia ke rumah kakeknya dengan cara baik pula. Tuan Jaya mencoba memberikan pengertian kepada Argha.
Argha diam, tapi apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Martabat manusia, ditentukan oleh sikap manusia itu sendiri.
🍀🍀🍀
"Tolong...! Tolong...!"
Alex begitu terkejut saat mendengar teriakan seseorang yang meminta tolong. Dia pun segera berlari menuju arah sumber suara.
Dug-dug-dug!
Kembali suara itu terdengar, kali ini disertai dengan gedoran pintu yang cukup keras. Alex berhenti di sebuah gudang kosong, gudang yang berada di pinggir sebuah pabrik yang terbengkalai.
"Hallo! Apa ada orang di dalam?" Alex berteriak-teriak mengitari pabrik tua itu.
"Tolong! Seseorang, siapa pun itu, tolong saya!" Kembali orang itu berteriak.
Alex segera berlari mendekati sumber suara. Dia kemudian menggedor pintu gudang.
"Hallo! Hallo! Apa ada orang di dalam?" Sekali lagi Alex berteriak untuk memastikan keberadaan seseorang di dalam gudang kosong itu.
"Iya, tolong saya, Tuan. Saya terkurung di sini," teriak orang itu.
"Baiklah, tolong Anda menjauh dari pintu. Saya akan mendobraknya." Alex berteriak meminta orang itu menjauh.
Brugh!
Brugh!
Alex terus membenturkan tubuhnya pada pintu yang sudah terlihat tua itu. Hingga pada benturan ketiga, pintu gudang kosong itu pun terbuka. Tampak seorang laki-laki muda berwajah oriental, sedang berdiri di balik pintu yang telah hancur.
Laki-laki itu menghampiri Alex. Dia kemudian mengulurkan tangannya. "Terima kasih sudah menolong saya," ucap laki-laki itu.
__ADS_1
Alex menerima uluran tangan laki-laki itu, "Sama-sama, Pak," jawab Alex
"Khairuman Heru Satria! Panggil saya heru!" ucap laki-laki yang tampak asing di mata Alex.
"Alexander Pratama, tapi Anda bisa memanggil saya Alex," jawab Alex.
"Sekali lagi, terima kasih sudah menolong saya," ucap Heru,tulus.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong, sedang apa Anda berada di gudang tua ini?" tanya Alex.
"Jangan terlalu formal. Panggil saja saya Heru. Tadi saya sedang memeriksa gudang ini, apa ada barang yang masih bisa dipakai. Tapi tiba-tiba angin yang cukup kencang membuat pintunya tertutup dan mengunci sendiri. Hingga saya terjebak di sini," jawab Heru menjelaskan kronologi kejadian kenapa dia bisa sampai terjebak di dalam gudang tua.
"Oh, gudang ini memang sudah sangat tua, Her. Sudah bisa dipastikan beberapa bagian di gudang ini mengalami kerusakan." Alex menjelaskan kondisi gudang tersebut.
"Ya, kamu benar, Lex." Heru membenarkan jawaban Alex.
"Ngomong-ngomong, saya tidak pernah melihat kamu di desa ini. Apa kamu warga baru?" tanya Alex.
"Iya. Kebetulan saya baru beberapa hari tinggal di sini," jawab Heru.
"Tunggu-tunggu, apa kamu putra pemilik pabrik tua ini, yang akan mendirikan pabrik baru di sini?" tanya Alex, penasaran.
Heru tersenyum, "Tepat sekali," jawabnya.
"Hahaha,... senang bertemu Anda!" ucap Alex sekali lagi.
"Hehehe, sudahlah, jangan terlalu formal lagi. Geli, saya mendengarnya," gurau Heru.
"Iya-iya, baiklah."
"Oh, iya Lex. Ngomong-ngomong, maukah kamu membantu saya untuk membangun kembali pabrik ini?" tanya Heru.
"Apa? Tapi kenapa kamu minta bantuan saya?" tanya Alex cukup terkejut dengan penawaran Heru.
"Jujur, saya belum kenal warga di sini. Saya yakin ada alasan Tuhan dibalik pertemuan kita. Dan Saya lihat juga, sepertinya kamu memiliki jiwa pebisnis," tutur Heru.
"Hmm, kamu bisa saja, Her."
"Hahaha...." Heru terbahak. "Jadi, gimana?" lanjut Heru.
"Baiklah, dengan senang hati," jawab Alex.
"Ah, baguslah."
Mereka kembali berjabat tangan untuk kesepakatan mereka.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏