
"Apa lukanya parah, Dok?" tanya Tuan Jaya saat sedang mengurus administrasi kepulangan jenazah dokter Richard.
"Dia mendapat luka dalam yang cukup serius. Hantaman mobil itu telah membuat beberapa tulang rusuknya patah dan tengkorak kepala bagian belakang hancur. Di samping itu, dia juga cukup banyak kehilangan darah," jawab dokter yang menangani dokter Richard.
Tuan Jaya bergidig ngeri. Bisa dibayangkan secepat apa mobil itu melaju. Ya Tuhan, nak. Semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik untukmu. Aamiin.
🍀🍀🍀
Bram tampak membawa beberapa orang pekerja kasar untuk membereskan rumah Tuan Hanzel. Sudah bisa dipastikan bahwa jumlah pelayat pasti akan sangat membludak. Almarhum dokter Richard adalah seorang dokter yang sangat bersahaja, baik di negara ini ataupun di negaranya sendiri. Dan Tuan Hanzel, dia merupakan seorang pebisnis yang sudah sangat terkenal di beberapa negara bagian Eropa dan Amerika. Sudah tentu koleganya pun tersebar di mana-mana.
"Tolong rapikan kursi yang di ruang paviliun juga, ya, Pak?" pinta Bram kepada salah seorang pekerja itu.
"Mohon maaf, Tuan. Sepertinya dua ruangan ini cukup besar. Apa tidak cukup untuk para pelayat nanti?" jawab pekerja itu.
"Benar, Pak. Kedua ruangan ini tidak akan cukup. Diperkirakan, para pelayat yang akan datang bukan berasal dari negara kita saja. Bahkan dari beberapa negara yang ada di dunia," jawab Bram.
"Oh, begitu toh," ucap pekerja kasar itu memainkan kumisnya yang tebal. "Ya sudah, kawan-kawan, ayo kita bereskan di ruangan paviliun juga!" ajak dia pada rekan satu profesinya.
Mereka pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Beberapa ruangan mereka kosongkan supaya para pelayat bisa masuk dan melakukan solat jenazah di sana. Itu mereka lakukan, karena masjid di komplek perumahan elit sangatlah jauh. Ditambah lagi hari sudah malam.
🍀🍀🍀
Setelah satu jam menyelesaikan prosedur pengambilan jenazah. Tuan Jaya kembali ke ruang operasi.
"Bagaimana, Pa?" tanya Argha begitu melihat ayahnya memasuki ruangan.
"Semuanya sudah beres, Ar. Mungkin sebentar lagi jenazah kakakmu bisa kita bawa," jawab Tuan Jaya. "Han, apa kita akan memakamkan almarhum malam ini juga?" tanya Tuan Jaya kepada sahabatnya.
"Mungkin besok saja, Jay. Menunggu kerabat yang dari Amerika," jawab Tuan Hanzel.
"Baiklah kalau begitu. Oh ya, Ar. Bagaimana keadaan Gintani?" tanya Tuan Jaya kepada anaknya.
"Tadi waktu Argha tinggalkan, dia masih belum sadar juga, Pa," jawab Argha
"Ya sudah, pergilah! Jaga di–"
__ADS_1
Brak!
Pintu terbuka lebar. Dengan langkah terseok-seok, Gintani yang ternyata sudah sadar menghampiri jasad yang telah diselimuti kain putih itu.
"Gintan!" seru Argha seraya menghampiri istrinya. Argha khawatir sekali melihat wajah istrinya yang pucat pasi. "Ayo kita istirahat, sayang!" ajaknya pada Gintani.
"Tidak! Gintan mau lihat kak Richard, Mas?" Gintani menolak ajakan suaminya.
"Tapi, sayang...!"
"Gintan mohon, Mas. Ini kesempatan terakhir Gintan untuk melihat wajah kak Richard. Please!" ucap Gintani sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Baiklah, ayo Mas bantu!" ajak Argha sambil memapah istrinya mendekati meja operasi.
Tangan Gintani terulur untuk membuka kain putih yang menutupi sekujur tubuh dokter Richard. Tangisnya seketika pecah melihat wajah tampan yang kini telah memucat.
"Astaghfirullah hal adzim! Kakak...! Huhuhu,...."
Gintani menangis di depan jasad orang yang beberapa jam lalu baru dia akui sebagai kakaknya. Takdir kembali menempatkan dia pada sebuah kepahitan. Baru saja dia merasakan bagaimana bahagianya memiliki seorang kakak di dalam hidupnya. Namun sepertinya, Tuhan masih memiliki rencana lain untuk dirinya.
"Tapi Om, kak Richard seperti ini gara-gara Gintan." Gintani menyalahkan dirinya di sela-sela isak tangisnya.
"Bukan, Nak. Ini hanya sama sekali bukan karena kamu. Ini hanyalah sebuah garis takdir yang tak akan mungkin bisa kita lawan. Jangan selalu menyalahkan dirimu kamu sendiri. Om yakin, Richi tidak akan menyukai hal itu!" tegas Tuan Hanzel.
"Maafkan Gintan, Om! Maafkan Gintan!" ucap Gintani berulang kali.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Tidak ada!" jawab Tuan Hanzel.
Tiba-tiba.
"Permisi, Pak. Ambulance sudah siap!" ujar salah seorang perawat rumah sakit.
"Baiklah," jawab Tuan Hanzel. "Mari kita pergi Sayang! Biarkan mereka mengurus jenazah Richard," ajak Tuan Hanzel kepada Gintani.
"Ayo, Gin!" Argha merangkul pundak istrinya dan memapahnya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Butuh waktu setengah jam hingga akhirnya ambulance yang membawa jenazah dokter Richard meluncur membelah jalanan di kesunyian malam.
Pukul 23. 14, mobil ambulance tiba di rumah duka. Tak lama berselang, mobil Tuan Jaya pun tiba bersamaan dengan mobil yang dikendarai oleh Argha. Tampak para pelayat telah berkumpul untuk menyambut kedatangan jenazah dokter Richard.
Jenazah segera diturunkan dari mobil ambulance dan dibawa ke halaman belakang untuk dimandikan. Sedangkan para pelayat menunggunya di ruangan yang telah disediakan. Setengah jam kemudian, jenazah mulai dikafani dan dibawa ke ruangan khusus untuk disolatkan.
Satu per satu para pelayat mulai memenuhi ruangan itu. Mereka tak ingin ketinggalan untuk melakukan solat jenazah secara berjamaah. Mungkin dokter Richard masih baru tinggal di kota ini. Namun tak ada orang yang tak mengenal dokter yang tampan dan baik hati ini. Kedermawanan Tuan Hanzel dan anaknya sudah cukup terkenal di komplek perumahan yang mereka tempati. Hingga para penghuni komplek berbondong-bondong untuk memberikan penghormatan terakhir pada dokter dermawan itu.
Semua orang berduka atas kepergian dokter Richard. Semua orang menangis dan bersedih saat melihat jenazah itu terbujur kaku. Dan semua orang mengucap do'a yang sama untuk almarhum. Semoga khusnul khotimah.
Hari sudah semakin larut, namun para pelayat masih terus berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah kolega dari Tuan Hanzel dan Tuan Jaya yang datang dari berbagai wilayah. Tuan Hanzel tampak tegar menyambut kedatangan mereka. Sesekali dia juga bercerita tentang tumbuh kembang anaknya yang kini telah terbujur kaku.
"Ar, sebaiknya kamu ajak istri kamu pulang," ucap Tuan Hanzel kepada Argha.
"Tapi Dad, kami sudah memutuskan untuk menginap di sini menemani Daddy," jawab Argha yang dibarengi anggukan Gintani.
"Tidak perlu, Nak. Ayahmu yang akan menemani Daddy di sini," jawab Tuan Hanzel.
"Tapi...!"
"Pulanglah, Nak! Biar Papa saja yang akan menemani Daddy kamu di sini," timpal Tuan Jaya.
"Iya, Nak. Lagi pula kasihan Gintani. Dia pasti sudah sangat lelah. Pulang dan beristirahatlah!" ucap Tuan Hanzel.
"Jam berapa almarhum dimakamkan besok, Dad?" tanya Argha.
"Lebih pagi lebih baik. Kita hanya tinggal menunggu keluarga yang dari Amerika saja."
"Baiklah. Besok pagi Argha sama Gintani ke sini lagi, Dad. Kalau begitu, Argha pamit dulu."
"Ya, hati-hati di jalan, Nak!"
Setelah berpamitan kepada ayah dan Tuan Hanzel, Argha pun mengajak Gintani pulang.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗