
"Ayolah, Al ... ini pernikahan sohib kita. Masa iya lo nggak mau datang?"
"Sorry kev, aku punya pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan."
"Al, pernikahan Bram hanya sekali dalam seumur hidupnya. Dan pekerjaan lo? Lo bahkan punya ribuan waktu untuk mengurusi kerjaan lo. Ayolah, Al. Kapan lagi kita bisa berkumpul seperti dulu lagi?"
"Kev, aku sudah tidak punya waktu untuk bisa berkumpul seperti dulu."
"Meski cuma sehari? Al, gue tahu lo sempat salah paham sama Argha. Tapi, yang merried itu sahabat kita. Setidaknya, lo kesampingkan dulu urusan lo sama Argha. Lagi pula, semua itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Masa iya, lo masih menyimpan dendam sama si Argha."
"Ini tak ada hubungannya dengan Argha. Aku memang nggak punya waktu untuk menghadiri pernikahan Bram. Sorry!"
"Ah, nggak asyik lo, Al!"
Sambungan terputus. Alex kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Terkesan jahat? Mungkin ... Alex sendiri tidak akan memungkiri, Bram pasti akan merasa sakit hati jika dia tidak datang dalam acara yang sangat berarti dalam kehidupannya.
Tapi bertemu Argha? Alex takut tidak bisa menguasai emosi saat harus bertemu dengannya. Terlebih lagi, Gintani pernah bilang jika Argha hendak menikahi gadis itu. Dan, mungkin saja saat ini mereka sudah menikah, pikir Alex. Karenanya, Alex lebih baik menghindar daripada harus berselisih paham lagi dengan sahabatnya yang begitu arogan itu.
Sore harinya, Alex memutuskan untuk mengunjungi Gintani.
"Apa kamu sudah tahu jika esok hari Bram dan Nadhifa akan menikah?" tanya Alex begitu dia bertemu Gintani.
"Gintan tidak tahu, dan Gintan tidak mau tahu, Bang," jawab Gintani.
"Kamu tidak ingin menghadirinya?" tanya Alex lagi.
"Tentu saja tidak, Bang. Sudahlah, jangan bahas apa pun lagi tentang keluarga itu. Sungguh, Bang ... Gintan tidak ingin tahu apa pun lagi tentang mereka. Kalau Abang memang ingin menghadiri pernikahan teman Abang itu, pergilah! Tapi Gintan mohon, jangan beri tahu siapa pun tentang keberadaan Gintan dan Putri di sini," ucap Gintani.
"Abang pun berpikir untuk tidak menghadirinya, Tan," kata Alex.
"Tapi kenapa?" tanya Gintani.
"Abang malas, Tan," jawab Alex.
"Jangan begitu, Bang. Kak Bram itu sahabat Abang. Kalau sampai Abang tidak datang, Kak Bram pasti akan sangat kecewa. Saran Gintan, Abang datanglah, walaupun hanya sebentar," ucap Gintani.
"Nanti Abang pikirkan lagi. Oh iya, Tan. Abang lihat, sepertinya Heru sangat menyukai kamu, tuh," ucap Alex.
"Udah deh Bang, nggak usah ngelantur ya, omongannya?" tukas Gintani.
"Abang serius, Tan. Setiap kali dia membicarakan kamu, Abang lihat, matanya selalu berbinar-binar," kata Alex.
"Abang, mas Heru itu orang baik. Dia akan bersikap baik kepada siapa pun juga. Dan baik itu, bukan berarti cinta," pungkas Gintani.
__ADS_1
"Yeayy, cinta juga nggak pa-pa kali, Tan," goda Alex.
"Nggak Bang, jangan sampai itu terjadi," tukas Gintani.
"Kenapa, Tan?" tanya Alex, heran.
"Sudahlah, Gintan tidak mau membahasnya," ucap Gintani terkesan malas ketika membicarakan urusan perasaan.
Heru terhenyak ketika tanpa sengaja telah menguping pembicaraan Gintani dan Alex. Seketika dia pun mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu rumah Gintani. Dia mengayunkan langkahnya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah. Heru pun kembali melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Gintani.
🍀🍀🍀
Ballroom hotel Crown hari ini kembali dihias begitu indah. Pernikahan putri bungsu Disastra Amijaya menjadi alasan kenapa ballroom itu dihias begitu megah. Mungkin ini pernikahan terakhir dalam keluarga Amijaya, mengingat tuan Jaya hanya memiliki dua orang anak.
Pukul 8 pagi, acara akad nikah dimulai. Akad nikah berjalan begitu khidmatnya. Dengan satu tarikan napas, akhirnya Bram bisa mengucapkan ijab qabul secara lantang.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu.
"Sah...!"
"Sah...!"
Ucapan kata sah menggema di ballroom yang sangat luas itu. Semua orang tampak bahagia dengan acara pernikahan tersebut. Terlebih lagi pasangan raja dan ratu sehari itu.
"Selamat ya, Bram," ucap Alex saat menaiki pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin baru.
"Manusia hanya punya rencana, Bram. Tuhanlah yang menentukan," jawab Alex.
"Hahaha, kamu benar, Al. Ayo, silakan dinikmati jamuannya!" ucap bram.
Alex melangkah dan berhenti di depan Nadhifa. "Selamat ya, Fa," ucap Alex.
"Terima kasih, Kak," jawab Nadhifa.
"Semoga langgeng sampai tua," kata Alex lagi
"Aamiin," jawab Nadhifa.
Alex turun dari pelaminan, dia kemudian menuju stand-stand makanan dan mulai mencicipi jamuannya. Tiba-tiba, pandangan Alex terkunci pada seorang anak kecil yang tengah duduk sendirian di meja VVIP. Melihat wajahnya yang berkharisma, menjadi magnet tersendiri bagi Alex untuk mendekati anak laki-laki tersebut.
"Boleh Om duduk di sini?" tanya Alex pada anak kecil itu.
"Hmm," jawab anak itu.
__ADS_1
Alex mengernyitkan keningnya melihat sikap dingin anak tersebut. Biasanya anak seumuran dia akan terlihat senang dengan suasana pesta, tapi dia? Entah kenapa kalau Alex merasa ada yang berbeda dengan anak itu.
"Mama papa kamu di mana?" tanya Alex.
Anak kecil yang ternyata Miki, menatap sinis kepada Alex. Dia benar-benar merasa tidak suka ketika ada orang yang menanyakan kedua orang tuanya. Pertanyaan itu hanya menambah kebencian Miki terhadap kedua orang tuanya.
"Nak, apa kamu mendengar pertanyaan Om, mama papa kamu ada di mana? Kenapa kamu duduk sendirian di sini?" tanya Alex lagi.
Miki menghela napasnya. Karena tidak ingin menanggapi ucapan orang yang tidak dikenalnya, Miki pun menunjuk ke arah Argha yang tengah bercakap-cakap dengan koleganya.
Wajah Alex seketika memerah bak kepiting rebus saat telunjuk Miki mengarah kepada Argha. Ulah apalagi yang dia buat? pikir Alex.
Tak ingin menahan rasa penasaran lebih jauh lagi, Alex kemudian menghampiri Argha dan menyeretnya ke sudut ruangan.
"Sekarang juga katakan padaku kebenarannya, apa dia anakmu, hah?" tanya Alex mencengkeram kerah jas Argha.
Argha yang tak mengerti apa-apa hanya bisa bergeming menanggapi pertanyaan Alex.
"Jawab gue Ar, apa dia anak lo?" teriak Alex.
Karena tak bisa menguasai emosi, Alex berbicara agak keras sehingga menjadi pusat perhatian orang-orang di sana, tak terkecuali keluarga Bram dan Nadhifa yang sedang duduk di meja VVIP.
Mereka semua datang menghampiri Alex dan Argha.
"Gue tanya sekali lagi, apa anak kecil yang sedang duduk di meja VVIP itu adalah anak kamu?" tanya Alex penuh penekanan. Telunjuknya menunjuk ke arah Miki yang sedang duduk tegak melipat kedua tangan di dadanya.
Seketika, semua orang melihat ke arah Miki.
"Dia bu–"
"Ada apa ini?"
Ucapan Argha terhenti saat Nadhifa datang bersama Bram dan bertanya.
"Ya, dia anak gue, puas lo!" teriak Argha.
Bugh!
Satu pukulan, mendarat tepat di rahang kanan Argha.
"Kau?! Dasar bajingan! Ingat Argha Putra Adisastra. Hari ini aku tidak akan main-main dengan ucapanku. Akan aku rebut Gintani dari tanganmu untuk selamanya. Camkan itu!"
Tak ingin mengacau terlalu jauh, Alex pun segera pergi meninggalkan pesta pernikahan sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏