
Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Usia Putri mulai memasuki Kelompok Bermain. Seperti anak kecil pada umumnya, Putri pun mulai merengek tentang sekolah kepada Gintani.
"Iya Sayang, nanti Mama akan sekolahin kamu, tapi tunggu usia kamu cukup dulu, ya?" ucap Gintani membujuk Putri yang sedang merajuk.
"Assalamu'alaikum!" sapa Heru yang tiba-tiba sudah berdiri di teras rumah.
"Papa!" Putri berteriak, menghambur ke arah Heru.
"Loh, Mas ... kok, kemari. Bukannya Mas bilang hari ini ada pertemuan di luar kota?" tanya Gintani.
"Rencananya memang seperti itu. Tapi tadi Mina telepon katanya Putri rewel hari ini. Makanya Mas meminta Alex untuk menghadiri pertemuan itu," jawab Heru.
"Ya ampun Mas, kenapa harus mengorbankan pekerjaan demi Putri, sih? Putri memang cukup manja hari ini, tapi Gintan bisa kok, mengatasinya sendiri," ucap Gintani.
"Sudah tidak apa-apa, Gin. Lagi pula, dia anakku juga, 'kan? Ayo katakan, sebenarnya Putri mau apa?" tanya Heru kepada anaknya.
"Putri mau sekolah, Pa. Tapi Mama jahat ... Mama nggak ngizinin Putri sekolah," rengek Putri kepada ayah angkatnya.
"Mama bukan tidak mengizinkan, tapi tunggu dulu sampai usia kamu cukup matang untuk bersekolah." Gintani meralat omongan putrinya.
"Tapi semua teman-teman Putri sudah pada sekolah. Tinggal Putri sendirian yang belum sekolah." Putri kembali merajuk.
"Putri, Mama nggak mau kalau niat kamu sekolah itu hanya sekedar ikut-ikutan teman kamu," kata Gintani.
"Sudah-sudah, sekarang ayo kita daftar sekolah! Memangnya Putri mau sekolah di mana?" tanya Heru.
"Mas..!" Gintani hendak protes, tapi Heru malah mengerlingkan sebelah matanya.
"Putri mau sekolah di Kober Siti Fatimah, Pa. Itu ... tempat sekolahnya Eca," rengek Putri.
"Ya sudah, sekarang Putri mandi dulu sama Uteng. Papa tunggu di sini, ya," kata Heru.
"Hore, Putri mau sekolah. Makasih Papa, Putri sayang Papa ... mmuah ..." ucap Putri seraya mencium pipi Heru.
Heru tersenyum. Dia kemudian menurunkan Putri dari gendongannya.
Putri pun berlari ke arah pengasuhnya. "Uteng, ayo bantu Putri mandi!" ajaknya sambil menarik tangan Mina.
"Tentu saja Tuan Putri," ucap Mina mengikuti langkah Putri.
Setelah Putri menghilang dari pandangannya, Gintani segera menarik tangan Heru dan membawanya ke ruang jahit.
"Kenapa Mas menjanjikan hal yang tidak mungkin kepada Putri? Bagaimana jika Putri terus mengingatnya? Nanti Gintan juga yang repot, huh," gerutu Gintani.
"Sudahlah Gin, jangan terlalu banyak mengeluh. Lagi pula, Putri masih kecil, nanti juga lupa sendiri," pungkas Heru.
"Lupa sendiri? Yang benar saja, apa Mas lupa dengan kejadian kelinci di tahun kemarin?" Gintani semakin mengerucutkan bibirnya mendengar Heru selalu menyepelekan setiap permasalahan.
Heru tergelak mengenang kembali bagaimana dia pagi-pagi buta harus mencari kelinci karena berjanji akan memberikan binatang itu sebagai hadiah ulang tahun Putri.
__ADS_1
"Ya sudahlah, Gin. Apa salahnya kita daftarkan Putri sekolah? Lagi pula, usianya, 'kan sudah cukup untuk memasuki prasekolah," kata Heru.
"Gintan hanya takut Putri akan merasa jenuh dan akhirnya tidak fokus belajar. Mas sendiri tahu kalau Putri gampang bosan terhadap sesuatu," tutur Gintani.
"Ya sudah, kalau dia mulai bosan, biarkan saja. Jangan terlalu dipaksakan," jawab Heru.
"Huh, Gintan memang tidak pernah menang kalau adu argumen sana kamu, Mas," ucap Gintani seraya pergi ke dapur hendak mengambil minuman untuk Heru.
🍀🍀🍀
Di kantor APA Architecture.
"Apa? Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Baiklah, saya berangkat sekarang juga."
Argha segera menutup teleponnya. Dia kemudian pergi ke ruangan Bram.
Brak!
Argha membuka pintu ruangan Bram dengan sangat kasar.
"Hei, bisakah lo ketuk pintu dulu sebelum memasuki ruangan orang?" tegur Bram.
"Sorry, Bram. Gue buru-buru. Gue harus pergi untuk beberapa hari. Tolong lo jaga Miki!" pinta Argha.
"Ish, apa-apaan ini? Memangnya lo mau pergi ke mana?" tanya Bram.
"Aki Surya meninggal. Gue mohon, tolong jaga dulu Miki sampai gue kembali. Gue nggak mungkin menitipkan Miki di rumah kedua orang tua gue. Kamu sendiri tahu bagaimana sikap papa sama Miki," tutur Argha.
"Cukup Bram! Gue nggak punya waktu lagi untuk mendengarkan pendapat lo. Gue pergi dulu, jangan lupa jemput Miki jam tiga sore," ucap Argha mengingatkan Bram.
"Iya-iya," gerutu Bram
"Thanks ya, Bro!" Argha menepuk bahu adik iparnya. Sejurus kemudian, dia pun pergi.
.
.
.
Argha melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sepanjang jalan, hatinya dibaluti kecemasan. Kabar duka tentang kematian kakeknya membuat Argha semakin mencemaskan sang nenek. Dia pasti sedang bersedih saat ini. Argha pun menambah lagi kecepatan mobilnya agar segera sampai.
"Menjelang asar, Argha tiba di rumah neneknya. Jenazah aki Surya sudah berada di masjid untuk disolatkan. Diantar kerabatnya, Argha pun pergi ke masjid untuk melihat wajah kakeknya yang terakhir kali.
"Apa jenazah aki Surya akan dimakamkan sekarang?" tanya seorang ulama setempat.
"Apa ayahmu tidak ikut, Adi?" tanya kerabat aki Surya.
"Ayah sedang sakit, Kek. Beliau tidak bisa bepergian jauh," jawab Argha.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Karena sudah tidak ada yang ditunggu lagi, sebaiknya kita makamkan sekarang saja," ucap kerabat Argha yang tak lain adalah adik kandung aki Surya.
Akhirnya, keranda itu segera diangkat oleh para petugas. Sebagai seorang cucu yang selalu ingin berbakti, Argha pun mengambil bagian untuk mengangkat keranda tersebut.
Banyak sekali orang yang mengantarkan jenazah aki Surya menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Itu karena aki Surya adalah orang yang sangat baik dan cukup dermawan. Masyarakat juga mengenal aki Surya sebagai sesepuh di kampung ini.
Tempat pemakaman keluarga terletak di belakang bukit kenangan. Dan satu-satunya akses menuju ke sana, melalui bukit kenangan itu. Jalanan terjal dan menanjak mereka lalui. Sesekali Argha menyeka peluhnya yang mulai membasahi dahi. Tiba di sana, jenazah aki Surya pun segera dimakamkan.
Setelah melewati prosesi pemakaman selama hampir satu jam, akhirnya para pelayat kembali pulang.
"Ayo kita pulang, Adi!" ajak kakek Abdul.
"Sebentar lagi, Kek. Adi masih mau di sini," jawab Argha.
"Ya sudah, kalau begitu Kakek pulang duluan," ucap kakek Abdul.
"Iya, Kek," jawab Argha.
"Jangan terlalu lama Adi, sebentar lagi magrib. Kasian nenek kamu sendirian di rumah," kata kakek Abdul.
Argha mengangguk.
Setelah kakek Abdul pergi, Argha kembali berjongkok di depan makam kakeknya. Dia mengusap pusara yang baru saja terpasang. "Aki tidak usah khawatir, Adi akan menjaga enin seperti amanat aki kepada Adi. Selamat tinggal aki, surga menanti orang seperti aki," gumam Argha.
Argha melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah setengah enam lewat, sebaiknya aku pulang, batin Argha.
Argha berdiri dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat pemakaman keluarga.
Saat melewati bukit kenangan, Argha heran melihat seorang gadis kecil yang tengah bermain skateboard di depan pohon akasia. Argha tersenyum melihat tingkah anak itu.
"Ada-ada saja, bagaimana bisa bermain skateboard di tempat seperti ini," gumam Argha.
Semakin dekat, anak itu semakin menarik perhatian Argha. Paras wajahnya seperti tidak asing dalam benak Argha. Dia mirip sekali dengan seseorang yang pernah aku kenal, tapi siapa? batin Argha.
Baru saja Argha hendak mendekati anak itu, tiba-tiba seorang wanita memanggilnya.
"Non Putri! Ayo kita pulang!" ajak Mina.
"Baik Uteng!"
Gadis kecil itu pun berlari menghampiri wanita yang memanggilnya.
Senyum tipis terukir di bibir Argha. Melihat gadis itu berlari melompat-lompat, Argha pun kembali teringat akan sosok cinta masa kecilnya. "Dia benar-benar mirip denganmu, Na," gumam Argha.
Argha segera menuruni bukit saat kumandang azan magrib mulai terdengar.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏