
Nando membolak-balikan amplop yang dulu diberikan oleh Ilona kepadanya. Nando masih merasa ragu untuk menggunakan isi dari amplop tersebut.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi, aku tidak ingin berbuat sesuatu yang akan merugikan orang lain lagi. Tapi di sisi lain, aku benar-benar membutuhkan uang ini," gumam Nando masih terus memandangi amplop tebal berwarna coklat itu.
Nando teringat akan kebaikan dan ketulusan hati Gintani. Rasanya dia tidak tega harus kembali memberikan luka pada wanita itu. Tidak! Bagaimana mungkin aku bisa menyakiti dia lagi, batin Nando. Nando kembali menyimpan amplop itu di dalam laci meja kerjanya.
Nando menyulut sebatang rokok dan mengisapnya. Untuk saat ini, hanya merokoklah yang bisa menenangkan hati dan pikirannya.
🍀🍀🍀
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Argha begitu melihat dokter yang memeriksa Ilona keluar dari ruang UGD.
"Tidak usah khawatir, dia baik-baik saja. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan," jawab dokter cantik itu.
"Syukurlah. Terima kasih, Dok," ucap Argha.
"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit dokter cantik itu.
Tak lama kemudian, Argha melihat beberapa orang perawat mendorong sebuah brankar yang di atasnya tampak Ilona tengah terbaring lemah. Argha pun segera mengikuti mereka. Tiba di ruang rawat, para perawat itu segera memindahkan Ilona ke atas ranjang.
"Terima kasih, Sus," ucap Argha pada kedua perawat itu.
"Sama-sama, Pak," jawab salah satu perawat. "Ini obat untuk pasien. Tolong Anda berikan setelah dua jam dari sekarang."
Argha menerima obat-obatan tersebut.
"Baiklah, Pak. Kalau begitu, kami pamit dulu. Permisi!" ucap kedua perawat tersebut.
Argha menganggukkan kepalanya. Setelah kedua perawat itu keluar, dia kembali mendekati Ilona yang sedang berbaring.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Argha.
"Sepertinya, semua tulang Ilona terasa remuk. Lemas sekali, Kak," jawab Ilona.
"Sabarlah!" ucap Argha seraya mengusap pucuk kepala Ilona.
"Kakak, sepertinya ajalku sudah semakin dekat," ucap Ilona menatap Argha.
__ADS_1
"Huss! Jangan bicara seperti itu! Kakak yakin kamu pasti bisa sembuh. Kakak akan carikan dokter yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit kamu." Argha mencoba menyemangati Ilona yang sepertinya mulai menyerah pada keadaan.
"Kakak, aku takut sekali." Ilona bangun dan memeluk Argha. Dia kemudian menangis dalam pelukan Argha. Tanpa mereka sadari, dokter Richard dan Gintani telah berdiri di ambang pintu kamar rawat Ilona.
"Ehm...!" Dokter Richard berdeham.
Argha membalikkan badannya. Dia sangat terkejut melihat Gintani berdiri di samping dokter Richard dengan tatapan yang penuh kekecewaan.
"Gin, a-aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Argha menatap sang istri.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Mas. Syukurlah dia sudah baik-baik saja. Kalau begitu, Gintan pulang dulu," jawab Gintani seraya berlalu pergi dari kamar tempat Ilona dirawat.
"Gin, tunggu!" teriak Argha.
"Kakak!"
Argha hendak berdiri untuk mengejar Gintani. Namun Ilona memegang tangan Argha dengan kuat.
"Jangan tinggalkan aku sendiri, aku mohon!" ucap Ilona, memelas.
🍀🍀🍀
Tap-tap-tap
Gintani terus berlari tanpa menghiraukan siapa pun di sekitarnya. Sepatu kets yang beradu dengan lantai mengiringi langkah Gintani. Tiba di depan rumah sakit, Gintani segera menghentikan sebuah taksi.
"Danau Nirmala, Pak!" ujar Gintani kepada sopir taksi.
Sang sopir mengangguk. Sejurus kemudian, dia pun melajukan mobil menuju tempat yang dikatakan oleh penumpangnya.
Gintani hanya mampu meremas dadanya yang terasa sakit. Cemburu dan kekecewaan telah menyatu menjadi sebuah rasa yang tidak bisa dia ungkapkan. Jantungnya berpacu dengan cepat karena menahan emosi yang tidak mampu ia luapkan. Rasanya ingin menjerit, rasanya ingin menangis. Namun lidah terasa kelu, air mata pun seolah kering. Hingga hanya sebuah ruang kosong yang semakin terasa nyata dia rasakan.
Tiba-tiba, Gintani teringat akan kakeknya. Kakek yang selalu menyemangati dia di saat hatinya dirundung duka.
"Kakek, Gintan rindu kakek," gumamnya pilu.
"Sudah sampai, Non." Suara pak sopir membuyarkan lamunan Gintani.
__ADS_1
"Oh, iya Pak," jawab Gintani.
Gintani merogoh tasnya untuk mengambil dompet. Setelah membayar ongkos taksinya, dia pun keluar dan mengayunkan langkahnya menuju danau Nirmala. Sebuah danau buatan yang berada di pinggir kota metropolitan.
Gintani mendaratkan bokongnya di salah satu kursi panjang yang disediakan untuk para pengunjung. Matanya menatap kosong pada hamparan air yang terlihat begitu biru. Sungguh sangat menyejukkan mata.
Gintani menarik napasnya panjang, kemudian membuangnya dengan perlahan. Dia mencoba mengatur kembali ritme jantungnya. Dia mencoba menguasai emosi yang memburu di hatinya. Perlahan, Gintani mengusap dadanya. Mencoba meredakan gemuruh yang sedang bergejolak di sana.
Gintani mengeluarkan ponselnya dari saku tas. Jari lentiknya mengusap layar ponsel. Dengan lincah jari-jemari itu menggulirkan satu demi satu foto-foto yang terpampang jelas dalam galeri. Ya, foto dirinya bersama sang suami. Foto-foto yang sengaja mereka ambil untuk mengabadikan setiap kenangan yang telah mereka ciptakan. Foto-foto yang akan dengan bangganya mereka ceritakan untuk anak cucunya kelak. Tapi, apa foto-foto ini masih berarti di saat Gintani tahu jika hati Argha telah terbagi?
Gintani menengadahkan wajahnya. Tampak awan hitam mulai bergelayut di hamparan luasnya langit. Gintani segera berdiri. Sudah cukup lama dia merenung dan menjernihkan pikirannya. Perlahan dia pun mulai melangkah menyusuri jalan setapak di tepi danau Nirmala.
Gintani menghentikan langkahnya. Kedua tangannya memegangi pembatas danau yang terbuat dari bambu. Gintani kembali menengadahkan wajahnya seraya memejamkan mata untuk merasakan tetesan air hujan yang mulai turun. Sejuk, hanya itu yang dia rasakan sebagai permulaan air turun ke bumi.
Rintik air dingin menerpa wajah Gintani yang terlihat sangat lelah. Senyum tipis mengembang di bibir mungilnya saat Gintani merasakan semilir angin. Tetesan air hujan mulai berubah menjadi buliran yang cukup besar. Hingga tanpa sadar pakaian yang dikenakan Gintani mulai basah.
Kucuran air hujan semakin bertambah deras. Sederas pikirannya yang tidak pernah bisa mencerna dan memahami sikap sang suami.
"Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang terus mengerti tentang dirinya? Kenapa harus aku yang terus memahami keadaannya? Kenapa harus aku yang terus mengalah? Kenapa Tuhan??"
Gintani berteriak dalam gemuruh air hujan. Hati yang sudah ditatanya tadi, kembali hancur berantakan. Air mata yang sedari tadi tak ingin keluar, kini mengalir deras beriringan dengan terpaan bulir hujan yang semakin lebat.
Brugh!
Gintani menjatuhkan tubuhnya. Duduk di tepi danau seraya mendekap kedua lututnya. Tubuhnya terus berguncang, menumpahkan rasa sesak melalui tangisan. Berharap hal ini bisa sedikit melegakan perasaannya. Berharap tangis ini bisa sedikit mengurangi bebannya. Berharap hujan ini bisa mengambil semua kecewanya.
"Kuatkan aku, Tuhan. Kuatkan aku." Hanya itu yang keluar dari mulut mungil Gintani yang mulai terlihat membiru.
Bersambung....
Semoga masih suka ceritanya, ya...
Jangan lupa like, vote n komennya
Makasih....
__ADS_1