
Argha terdiam mendengar pertanyaan Ilona. Jujur, dia tidak pernah memiliki perasaan apa pun terhadap Ilona. Tapi dia tidak bisa lari begitu saja dari tanggung jawabnya.
"Kakak?" panggil lirih Ilona.
Argha menatap Ilona. "Kakak harap kamu bisa lebih bersabar. Kamu sendiri tahu jika Kakak baru saja bercerai dari wanita itu. Tidak mungkin Kakak bisa langsung menikah lagi begitu saja. Kamu tidak usah khawatir, Kakak pasti akan menikahi kamu. Tapi tidak dalam waktu dekat ini," jawab Argha.
Meskipun merasa kecewa, tapi Ilona berusaha untuk tetap tersenyum. "Iya, tidak apa-apa Kakak, Ilona ngerti ini pasti berat untuk Kakak. Sebenarnya, bagi aku sendiri, tidak masalah jika Kakak memang tidak pernah ingin menikahi aku. Tapi pamanku telah mengetahui permasalahan ini, dan dia...."
"Dia kenapa?" tanya Argha penasaran.
"Dia:... mm ... dia menuntut Kakak untuk bertanggung jawab dan menikahi aku," jawab Ilona.
Argha menghela napasnya. Entah kenapa, tubuhnya seketika merasa lemas. Jadi, paman Ilona sudah mengetahui skandal ini, batin Argha.
"Ya sudah, kita pikirkan nanti saja. Sekarang, Kakak antar kamu pulang. Bukankah dokter bilang kamu harus banyak istirahat?" tanya Argha.
Ilona mengangguk. Sabar Ilona ... akan ada waktu, di mana semua impian kamu pasti akan segera terwujud. Yang terpenting sekarang, Argha sudah berada dalam genggamanmu, batin Ilona.
🍀🍀🍀
Tak ingin mengetahui apa pun lagi, Gintani menutup semua akses yang berhubungan dengan Argha. Bagaimanapun juga, seorang Argha Putra Adisastra adalah seorang pengusaha yang sangat terkenal di ibu kota. Terlebih lagi semenjak hadirnya skandal itu, semua berita baik di televisi, media massa ataupun media sosial, menayangkan berita-berita miring tersebut. Berita yang mau tidak mau membawa nama Gintani sebagai mantan istri Argha. Beruntungnya, tak ada satu pun wartawan yang memburunya ke desa ini.
Untuk menghindari stress, Gintani akhirnya menutup semua akun media sosialnya. Bahkan chanel yang pernah dia buat dengan partner kerjanya, dia hapus begitu saja. Tentunya atas persetujuan dari Kevin. Gintani bahkan memutuskan untuk mengganti nomor ponselnya agar teman-temannya yang berada di kota, tidak selalu menghubungi dia. Termasuk Kevin.
.
.
.
"Selamat pagi, Neng!" sapa Bik Susan saat melihat Gintani keluar dari kamarnya
"Pagi, Bik Susan ... hmm, harum sekali, Bibik masak apa?" tanya Gintani saat dia melihat Bik Susan tengah sibuk mengaduk sesuatu di dalam panci.
"Ini soto ayam kesukaan Neng," jawab Bik Susan.
__ADS_1
"Waah ... sepertinya enak sekali, Bik," ucap Gintani. Seulas senyum tergambar di wajahnya.
"Pastinya atuh, Neng. Ini Bibik bikin spesial buat Neng," jawab Bik Susan.
"Aduh, jadi merepotkan. Terima kasih banyak ya, Bik," ucap Gintani, memeluk Bik Susan dari arah belakang.
"Iya, sama-sama. Sudah sana, bersih-bersih dulu ... nanti kita sarapan bersama," kata Bik Susan.
Gintani mengangguk. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tanpa terasa, sebulan telah berlalu sejak pemberitaan tentang skandal CEO. Perlahan, Gintani pun mulai bisa menguasai emosinya. Gurat senyum dan kecerian sekalu tampak di wajahnya. Terlebih lagi saat dia merasakan getaran-getaran halus di perutnya. Ya, menurut hasil USG seminggu yang lalu, usia kehamilan Gintani sudah memasuki bulan keempat. Karena itulah Gintani mulai merasakan sesuatu bergerak dalam perutnya.
"Alhamdulillah, Neng. Mamang senang melihat Neng segeran seperti ini," ucap Mang Rakib saat mereka sedang sarapan bersama.
Semenjak kakek Wira meninggal, Gintani meminta Mang Rakib dan keluarganya untuk tinggal bersama dia. Dan mengingat kejadian demi kejadian yang menimpa cucu majikannya, Mang Rakib dan Bik Susan pun memutuskan untuk menerima tawaran Gintani.
"Iya, Mang ... alhamdulillah, sekarang Gintan sudah jarang merasakan morning sickness lagi," jawab Gintani.
"Syukurlah, Mamang ikut senang mendengarnya. Itu tandanya, janin yang ada dalam kandungan Neng sudah mulai mengerti tentang kepayahan seorang ibu dalam mengandung," gurau Mang Rakib.
"Ah, Mamang bisa saja," jawab Gintani.
"Hari ini, Gintan sama mbak Jessica mau pergi ke Asia Plaza. Mau belanja baju-baju baru. Soalnya, baju lama Gintan sudah mulai kesempitan. Boleh, 'kan, Bik?" tanya Gintani.
"Ya boleh atuh, Neng. Bibik malah seneng Neng mau keluar juga untuk mencari suasana baru. Jangan terus di rumah saja, nantu jamuran, hehehe," gurau Bik Susan.
"Ah, Bibik bisa saja." Gintani tersenyum melihat tingkah lucu bik susan.
"Kak Gintan, safa boleh ikut, nggak?" tanya putri bungsu Bik Susan yang masih berusia 6 tahun.
Gintani mengelus pipi chubby bocah itu. Boleh, Sayang," jawab Gintani.
"Ya sudah, nanti biar mamang yang antar," kata Mang Rakib.
"Eh, tidak usah Mang," cegah gintani.
__ADS_1
"Loh, kenapa?" tanya Mang Rakib, heran.
"Gintani perginya sama mbak Jessica, Mang. Nanti, setelah dzuhur, mbak Jessica akan menjemput Gintan kemari," jawab Gintani.
"Oh, ya sudah tapi kamu perginya jangan lama-lama, ya! Ingat kondisi kamu, nak!" Bik susan memperingatkan Gintani agar tidak terlalu kelelahan mengingat Gintani tengah berbadan dua.
"Iya Bik ... Iya," jawab Gintani, merangkul tubuh kecil Bik Susan.
Terima kasih ya Allah ... terima kasih karena engkau mengirimkan orang-orang yang baik untuk menjaga Gintan, batin Gintani.
Selepas dzuhur, Jessica tiba di rumah Gintani. Setelah berpamitan kepada Bik Susan dan Mang Rakib, mereka pun pergi untuk berbelanja.
Perjalanan dari tempat Gintani ke Asia plaza memakan waktu sekitar 45 menit. Gintani terlihat senang mendapati pemandangan yang begitu indah. Ya, di kiri-kanan jalan raya terdapat hamparan sawah yang terlihat hijau. Baru setelah keluar dari desanya, bangunan dan ruko-ruko mulai tampak. Setelah beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah mal Asia plaza.
Safa terlihat senang saat turun dari mobil. Maklum saja, kesibukan orang tuanya yang mengurus kebun pepaya, membuat Safa jarang pergi ke tempat-tempat seperti ini.
"Kakak, apa aku boleh main ke tempat permainan mandi bola?" tanya Safa.
Gintani berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu.
Tentu saja, Sayang. Tapi tunggu Kak Gintani dan Kak Jessica selesai belanja dulu, ya. Setelah itu baru ke arena bermain," jawab Gintani.
Gadis kecil itu tersenyum lebar mendengar jawaban Gintani. Sejurus kemudian, dia menganggukkan kepalanya.
"Ayo Kakak, kita beli baju buat Kakek. Tapi jangan lupa, belikan juga buat Safa, ya!" pinta gadis kecil itu dengan bawelnya.
Gintani tersenyum, "Ok, Bos!"
Layaknya anak kecil Gintani dan Safa berlari kecil memasuki mal besar itu.
Jessica tersenyum senang melihat rona kebahagiaan terpancar di wajah Gintani. Semoga saja kamu bisa melewati hari-hari barumu dengan penuh senyum dan tawa, Gin," doa Jessica dalam hati.
"Mbak! Kok bengong? Ayo!" teriak Gintani sambil melambaikan tangan.
"Oke, Gin!"
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏