Takdir Gintani

Takdir Gintani
Sandiwara Ilona


__ADS_3

Setelah menuntaskan hasratnya, Ilona kembali ke kamar. Dia menyelimuti tubuh Argha yang polos, lalu ikut menyusup ke dalam selimut itu tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya sendiri. Senyum penuh kelicikan tersungging di bibirnya. Aku memang tidak berhasil menikmati surga dunia malam ini. Namun, bisa aku pastikan, setelah malam ini, kau pasti akan menikahiku, batin Ilona menyeringai.


Ilona mengambil ponselnya di atas nakas. Dia mulai mengetik sesuatu di atas layar ponsel itu. Beberapa menit kemudian, dia kembali menyimpan ponselnya. Ilona merebahkan tubuhnya di samping Argha, sejurus kemudian dia mulai menyusupkan wajahnya di dada bidang sang lelaki pujaan. Dengan perasaan senang yang tak terkira, Ilona pun mulai memejamkan matanya untuk merangkai mimpi.


🍀🍀🍀


Gintani terus menyusuri bibir pantai itu. Perasaannya benar-benar tenang melihat hamparan air laut yang berwarna biru. Sesekali, ombak kecil menggulung kakinya sampai betis. Entah kenapa hatinya begitu damai melihat pemandangan di hadapannya.


Gintani mengedarkan pandangannya. Matanya menangkap silhout tubuh yang sudah tidak asing lagi. Mas Argha, gumam Gintani dalam hatinya. Perlahan, bayangan laki-laki bertubuh tegap itu menghampirinya. Hingga dalam jarak 2 meter, tiba-tiba ombak besar menghantam, menggulung dan menyeret laki-laki itu ke tengah lautan. 'Gintan!' Hanya itu teriakan yang dia dengar sebelum akhirnya hilang di antara kerasnya suara deburan ombak.


"MAS ARGHAAA!"


"Gin, bangun Gin!" Jessica yang terkejut mendengar teriakan Gintani di malam hari, sontak membangunkan Gintani.


Gintani mengerjapkan matanya. Sedetik kemudian, dia mengedarkan pandangannya. "Astaghfirullah hal adzim," gumam Gintani seraya bangkit dari tidurnya.


"Apa kamu bermimpi buruk?" tanya Jessica seraya mengambil segelas air yang berada di atas nakas.


Gintani mengangguk.


"Minumlah!" ucap Jessica menyodorkan gelas tersebut.


Gintani menerimanya, kemudian mereguk air minum itu hingga habis tak bersisa.


"Ceritakanlah! Apa yang kamu alami dalam mimpimu?" tanya Jessica.


"Gintan melihat mas Argha di hadapan Gintan. Dia memanggil Gintan dan berlari ke arah Gintan. Namun, belum sempat dia mendekati Gintan, tiba-tiba ombak besar menggulung mas Argha dan menyeretnya ke tengah lautan. Setelah itu mas Argha hilang," papar Gintani.


Jessica mengusap punggung tangan Gintani.

__ADS_1


"Sudahlah, Gin. Itu hanya bunga tidur saja. Mungkin hari ini kamu terlalu lelah memikirkan perseteruan kamu dengan Argha, hingga sampai terbawa mimpi." Jessica mencoba menenangkan Gintani.


"Tapi, Gintan takut, Mbak. Gintan takut sesuatu yang buruk terjadi pada mas Argha," ucap Gintani.


"Hei... Tenanglah! Tidak usah terlalu dipikirkan. Lagi pula, Argha bukan siapa-siapa kamu lagi. Jadi jangan terlalu memikirkan hal yang bukan urusanmu. Lebih baik sekarang kamu fokus kepada diri kamu sendiri dan anak kamu. Ingat Gin, ada nyawa yang harus kamu jaga dalam rahim kamu. Aku tidak mau, ya, sesuatu terjadi kepada keponakanku kalau ibunya terus stress karena memikirkan hal yang tidak-tidak," gurau Jessica.


Gintani tersenyum, "Iya Mbak, kamu benar. Baik mas Argha ataupun keluarganya, itu bukan urusanku lagi," tegas Gintani.


"Setuju! Sekarang tidurlah! Besok pagi kita akan mengunjungi makam Richard dulu sebelum pulang," ucap Jessica.


Gintani mengangguk. Dia kembali merebahkan tubuhnya.


🍀🍀🍀


Perlahan Argha membuka matanya saat sayup-sayup mendengar isak tangis seorang wanita. Argha tersenyum tipis. Aku pasti akan mengampuni kamu seandainya kamu menyesal dan meminta maaf. Kenapa Gin, kenapa harus menunggu amarahku dulu jika pada akhirnya kamu akan menyesal dan kembali padaku, batin Argha.


Namun, mata Argha seketika membulat sempurna. Isak tangis itu ternyata bukan milik wanita yang dirindukannya, tapi....


Argha memegang kepalanya yang terasa berat. Belum hilang keterkejutannya karena melihat ilona duduk bergelung selimut di sandaran ranjang, perutnya pun bergejolak hebat. Tanpa berpikir panjang, Argha bangkit hendak berlari ke kamar mandi. Argha sangat terkejut mendapati dirinya tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Namun, Argha tak menghiraukan keterkejutannya, rasa mual di perutnya memaksa dia untuk berlari begitu saja menuju kamar mandi.


Argha memuntahkan seluruh isi perutnya. Bau alkohol yang keluar dari mulutnya, begitu sangat menyengat dalam indera penciuman Argha. Setelah memuntahkan isi perutnya, Argha berkumur-kumur untuk menghilangkan rasa pahit di lidahnya.


Astaghfirullah hal adzim! Apa yang terjadi padaku, batin Argha menatap dirinya yang tampak polos di depan cermin wastafel. Mungkinkah aku dan Ilona...?


"Aargh!" Argha menjambak rambutnya dengan kasar. Kenapa aku bisa seceroboh ini? Dan kenapa aku bisa sampai di sini bersama Ilona? Bodoh! Kamu memang laki-laki bodoh, Ar! rutuk Argha dalam hati.


Argha tak bisa berlama-lama di kamar mandi, tangisan Ilona kembali terdengar. Dia pun segera membasuh mukanya agar merasa segar.


Argha meraih bathrobe yang tersimpan rapi di dalam lemari. Sejurus kemudian, dia menghampiri ilona.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Ilona? Kenapa kita bisa berada di sini?" tanya Argha.


Ilona semakin terisak, hatinya merasa sakit mendengar pertanyaan Argha.


"Apa Kakak tidak ingat, apa yang telah Kakak lakukan padaku semalam?" tanya Ilona dalam isak tangisnya.


Argha diam.


"Kakak, jadi Kakak benar-benar tidak mengingatnya?" desak Ilona.


Argha menggelengkan kepalanya.


"Huhuhu.... Aku sudah menduganya. Kakak pasti tidak akan mengingatnya. Padahal aku sudah berusaha keras untuk menolak, tapi Kakak memaksaku. Aku tahu, ini pasti terjadi.... Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku-aku bukan hanya kehilangan kesucianku, tapi aku juga kehilangan harga diriku karena Kakak tidak mampu mengingat apa pun. Kakak tega padaku, aku sudah bilang aku bukan Gintani, tapi kenapa Kakak terus memaksaku, huhuhu...." Tangisan Ilona pecah seketika saat Argha tak mampu mengingat sesuatu.


"Memangnya apa yang telah aku lakukan? Tolong katakan yang sebenarnya? Kenapa kamu sebut nama Gintani? Apa hubungannya orang itu dengan kejadian malam ini?" tanya Argha semakin tak mengerti.


"Kakak mabuk berat dan meminta aku untuk tidak membawa Kakak pulang ke rumah. Akhirnya, aku membawa Kakak ke tempat ini. Awalnya aku hanya ingin menjaga Kakak, tapi alkohol telah mempengaruhi pikiran Kakak. Dalam pengaruh alkohol, Kakak terus menciumi aku sambil mengatakan jika Kakak sangat mencintai aku. Dalam bayangan Kakak, aku adalah wanita itu, Gintani! Aku sudah berusaha menyadarkan Kakak, tapi kakak ... huhuhu.... Kakak malah memaksa aku untuk melayani Kakak, huhuhu ... Kakak jahat! Kakak jahat pada Ilona!" Ilona menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat. Tangis pun kembali menggema di kamar kedap suara itu.


"Ta-Tapi, itu tidak mungkin?" gumam Argha.


"Apa Kakak ingin mengelak? Kakak lihat ini!" Ilona meraih baju yang tergeletak di sampingnya. "Ini buktinya!" ucap Ilona membentangkan sebuah kemeja wanita yang telah robek di bagian depannya. "Ini bukti jika Kakak telah memaksaku, Kakak jahat!" teriak Ilona, kembali menangis.


Argha tampak ragu. Mustahil aku melakukan itu bersama Ilona, tapi apa yang dikatakan Ilona mungkin saja terjadi. Bukankah orang bisa berbuat nekat jika sedang berada dalam pengaruh alkohol? pikir Argha.


"Sudahlah, Ilona. Jangan menangis lagi," ucap Argha meraih tubuh Ilona ke dalam pelukannya.


Senyum penuh kemenangan terpancar jelas dari wajah Ilona. Sepertinya, sandiwara Ilona berhasil. Ilona pun membalas pelukan Argha dengan erat.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗


__ADS_2