
Argha tersedak begitu mendengar nama Gintani disebutkan oleh kakek Wira. Belum hilang rasa kagetnya, Argha dibuat semakin terkejut mendengar suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Seketika Argha menoleh ke arah pintu. Tampak gadis yang mengenakan hijab biru laut sedang membungkuk untuk membuka sepatu kets nya.
"Wa'alaikumsalam !" jawab serempak kakek Wira dan tuan Jaya.
"Kok jam segini sudah pulang, nak ?" tanya kakek Wira yang merasa heran Gintani sudah berada di rumah sebelum tiba waktu ashar.
"Hari ini Gintan tidak ngajar, kek. Kebetulan sekolahnya libur karena dipakai pengajian." jawab Gintani masih sibuk membuka sepatunya.
Argha seketika memalingkan wajahnya saat Gintani mendongak dan mulai berjalan menghampiri kakek Wira.
"Kemarilah, nak ! Kakek ingin mengenalkan seseorang padamu !" ujar kakek Wira.
Jantung Argha berdegup kencang saat mendengar langkah kaki yang kian mendekat.
"Sayang, kenalkan, dia adalah nak Argha, putra dari om Jaya, teman almarhum ayahmu." ucap kakek Wira.
Gintani terkejut mendapati laki-laki yang telah membelinya, kini duduk bersila di hadapan kakeknya.
Jadi, laki-laki ini putranya om Jaya ? Dan kemungkinan, dia juga yang akan dijodohkan denganku ? Ya Tuhan..., takdir apalagi ini....? Batin Gintani yang tubuhnya terasa lemas menghadapi kenyataan yang ada.
Sekilas, Gintani melihat senyum penuh misteri tersungging di kedua sudut bibir laki-laki itu. Tak ingin menimbulkan kecurigaan kakeknya, Gintani pun segera mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda salam terhadap lelaki yang bukan muhrimnya. Setelah itu dia berpamitan untuk pergi ke kamar.
Tiba di kamarnya, Gintani mulai merebahkan dirinya di atas ranjang. Dadanya kembali terasa sesak setelah bertemu kembali dengan laki-laki itu. Apalagi mendapati kenyataan jika laki-laki itu adalah orang yang telah dijodohkan kedua orang tuanya sedari kecil. "Sungguh dunia ini sempit sekali." gumam Gintani seraya tersenyum sinis.
🍀🍀🍀
Selepas ashar, tuan Jaya dan anaknya kembali ke hotel.
"Bagaimana Ar ? Apa kau bersedia papah jodohkan dengan gadis itu ?" tanya tuan Argha.
__ADS_1
"Apa papah tidak salah pilih ?" Argha balik bertanya.
"Apa maksudmu, Ar ? Bukankah kamu sendiri sudah lihat jika dia gadis yang sangat baik. Dia berhijab dan juga seorang guru ngaji. Apa masih ada yang kurang dari dirinya, nak ?"
"Jangan pernah melihat luarnya saja, pah ! Kita juga harus melihat dari sifat dan kepribadiannya." jawab Argha santai.
"Apa menurutmu, gadis itu tidak berkepribadian baik ? Apa kamu sangat mengenalnya sehingga kamu bisa berpendapat seperti itu ?"
"Sudahlah, pah ! Aku capek ! Aku malas berdebat dengan papah. Sebaiknya aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diriku." ujar Argha seraya bangkit dari duduknya.
"Tunggu Ar ! Papah ingin keputusanmu sekarang, dan papah harap keputusanmu tidak akan mengecewakan papah."
"Aku tidak akan menikah dengan gadis itu, apa papah puas ?"
"Tapi kenapa ? Apa alasannya, Ar ?"
"Papah, dia bukan gadis baik-baik ! Aku pernah....!" Argha menggantungkan kalimatnya
"Hhhh..."
Argha menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia hampir saja keceplosan menceritakan tentang hubungan yang pernah terjadi antara dirinya dengan gadis itu.
"Pah, Argha pernah melihat gadis itu bekerja di tempat Alex. Papah sendiri tahu, wanita seperti apa yang sampai bekerja di sebuah pub." ujar Argha mencoba memberikan jawaban yang masuk akal.
"Dengar nak, tidak semua orang yang bekerja di tempat seperti itu adalah orang yang tidak baik. Mungkin saja mereka bekerja di sana karena mereka kesulitan mendapatkan sebuah pekerjaan yang mereka harapkan. Ayolah, nak ! Jangan terlalu berburuk sangka !" tuan Jaya masih mencoba membujuk anaknya.
"Tapi gadis itu pernah menjual dirinya pah !" jawab Argha yang sudah tak punya kata-kata lagi untuk menolak keinginan ayahnya.
"Kenapa jika memang dia pernah menjual dirinya ? Bukankah kau yang telah membelinya, nak ?" jawab tuan Jaya.
__ADS_1
Jleb....
Seketika, tubuh Argha terasa lemas mendengar ucapan dingin ayahnya yang seperti sebuah panah yang melesat cepat dan menancap tepat di jantungnya.
Tuan Jaya mendekati anaknya yang sedang berdiri terkesima.
"Jangan kamu pikir papah tidak tahu semua perbuatanmu tiga tahun yang lalu, Ar ! Nikahi dia atau bunuh papa sekalian !"
"Pah...!"
"Apa ? Kenapa? Apa kau pikir papah masih punya muka saat mengetahui kelakuan bejatmu, Ar ? Jangankan papah yang masih hidup, mamah mu yang telah tiada pun akan merasa malu memiliki seorang anak pengecut seperti kamu ! Hanya karena sebuah dendam, bisa-bisanya kamu menghancurkan masa depan gadis itu. Dia menampar pipimu, tapi kamu menampar kehidupannya. Apa itu yang dinamakan pria sejati, hah ?" teriak tuan Jaya meluapkan kemarahannya yang selama tiga tahun ini dia pendam.
Kaki Argha seakan tak bertulang mendengar nama mendiang ibunya yang disebut kembali oleh ayahnya. Argha menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Papah tahu, papah salah karena tidak bisa mendidik mu dengan baik. Tapi papah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menindas seorang gadis tak berdaya. Tega sekali kamu menyebar fitnah sehingga dia tidak pernah bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Apa kamu pikir, dia senang bekerja di tempat itu ? Tidak Ar, dia tidak pernah menyukai pekerjaannya. Tapi dia tetap menjalaninya karena dia memiliki seorang kakek yang harus dihidupinya. Besar kecilnya, kamu memiliki andil kenapa dia sampai harus bekerja di sana. Dan papah sangat kecewa padamu Ar, papah kecewa melihat sikapmu yang sengaja memanfaatkan kelemahan gadis itu. Bukankah kamu yang telah membelinya ? Kamu membelinya karena ingin menunjukkan seberapa besar kekuasaan mu, benar kan ? Kamu membelinya karena ingin membalaskan dendam mu, iya kan ? Jawab papah, Ar ! Apa papah masih punya muka dengan semua kelakuanmu ? Dan yang lebih menyakitkan lagi, gadis itu putri dari sahabat papah sendiri. Sahabat yang telah berjuang menyatukan cinta papah dan mamah kamu. Sahabat yang telah menolong papah, saat papah tidak punya pekerjaan, apa kamu tahu itu, Ar ?"
Tuan Jaya masih meluapkan isi hatinya. Namun kali ini, suaranya sedikit serak karena rasa sesak yang tak mampu di tahannya. Pada akhirnya, deraian air mata pun luruh dari kedua matanya.
"Papah mohon, Ar ! Papah tidak akan sanggup hidup dalam perasaan bersalah seperti ini. Lebih baik kau bunuh saja papah, nak ! Agar papah tidak harus menundukkan kepala di hadapan gadis itu." ucapnya lagi.
Hening....
Argha tak mampu menjawab semua perkataan ayahnya. Memang benar apa yang dikatakan ayahnya. Dia seorang lelaki bajingan yang hanya karena dendam, dia tega memperlakukan Gintani seperti itu. Tapi tidak, dia bukan tidak pernah memiliki rasa bersalah. Dia merasa bersalah, bahkan sangat merasa bersalah. Di satu sisi, dia ingin mencari Gintani, meminta maaf dan mempertanggungjawabkan semua tindakannya. Namun penantiannya terhadap gadis masa kecilnya, membuat dia mengurungkan niatnya.
Rasa cinta dan keyakinan untuk bisa bersatu dengan gadis masa kecilnya, membuat Argha menjadi seorang lelaki pecundang bagi kehidupan Gintani. Argha pun hanya bisa diam tanpa tahu harus berbuat apa.
Na...., apa penantian kak Adi akan berakhir sampai di sini ?
Bersambung....
__ADS_1
Sampai sini dulu yaaaa
Jangan lupa like, vote n Komennya... 🙏🤭