Takdir Gintani

Takdir Gintani
Cooking with My Dad


__ADS_3

Perlahan, Gintani mengguncang bahu Alex. "Bang," ucap Gintani.


Alex mengerjapkan matanya. Untuk sejenak mereka saling beradu pandang. "Eh, Tan, kenapa?" tanya Alex.


"Sudah dzuhur," jawab Gintani.


Alex melirik jam dinding di kamar Putri. Waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat. Perlahan, Alex membenarkan posisi tidur Putri. Setelah itu dia bangun.


"Maaf, Abang ketiduran, Tan," ucap Alex menutup mulutnya karena menguap.


"Tidak apa-apa, Gintan tahu Abang pasti lelah. Tapi, sebaiknya Abang solat dulu, setelah itu makan siang," kata Gintani.


Alex tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


Gintani mendekati anaknya. Dia mengusap pelan rambut panjang milik Putri. Gintani kemudian menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh Putri. Melihat putrinya tertidur nyenyak, Gintani kembali ke ruang makan.


Tiba di ruang makan, Gintani menyiapkan makan siang untuk Alex. Sejak pagi, Gintani belum melihat Alex menyentuh makanan, karena itu dia meminta Mina untuk memasak lebih banyak dari biasanya.


"Makan, Bang!" tawar Gintani begitu melihat Alex keluar dari mushola yang berada tak jauh dari ruang makan.


Alex tersenyum. "Boleh," jawabnya.


Alex menghampiri Gintani dan duduk di samping Gintani yang sedang berdiri. Gintani mengambil piring. Dia mulai menyendok nasi dan lauknya untuk diberikan kepada Alex. Lepas itu, Gintani mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka kemudian mulai menikmati makanannya masing-masing.


.


.


.


Waktu terus berjalan, Gintani kembali ke ruang jahit, sedangkan Alex duduk di ruang keluarga sambil menonton acara bola.


Menjelang asar, Putri terbangun. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alex. Hhh, rupanya om Alex sama saja seperti papa Heru. Dia meninggalkan Putri juga, keluh Putri dalam hatinya.


Putri mengucek matanya sebentar. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Saat Putri melintas di ruang keluarga, sejenak dia tertegun melihat laki-laki berjambang tipis itu sedang menonton televisi dengan seriusnya. Putri pun menghambur dan memeluk laki-laki itu dari arah belakang. Kedua tangannya melingkar erat pada leher laki-laki itu seolah tak ingin melepasnya.


Alex terkejut merasakan hentakan yang begitu kuat dari arah belakang. Sedetik kemudian dia pun menoleh.


"Putri?" kata Alex yang merasa heran melihat Putri berlinang air mata. "Kamu kenapa, Nak?" tanya Alex lagi.


"Putri kira, Om pergi sama seperti papa Heru. Tapi ternyata, Om sedang nonton bola. Putri senang karena Om masih di sini," jawab Putri.


"Kemarilah!" kata Alex seraya menarik Putri untuk duduk di pangkuannya. "Putri tidak usah khawatir, Om akan selalu ada buat jagain Putri," ucap Alex.


"Janji?" tanya Putri mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji," jawab Alex, menautkan jari kelingking miliknya di jari kelingking kecil itu.


Putri tersenyum. "Oh iya, Om. Besok di sekolah Putri akan diadakan lomba memasak bersama para ayah. Apa besok Om bisa ikut untuk menemani Putri?" tanya Putri.

__ADS_1


"Besok, ya?" Alex mengulang pertanyaan Putri.


Putri menundukkan kepalanya. Dia sudah menduga jika Alex mungkin saja tidak bisa memenuhi permintaannya.


Sebenarnya, besok Alex ada pertemuan penting dengan beberapa agen yang akan dia pasok barang. Tapi melihat raut wajah Putri, dia menjadi tak enak hati.


"Baiklah putri Om yang cantik. Besok kita pergi ke acara itu," ucap Alex.


Putri pun bersorak gembira.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya. Argha telah rapi mengenakan setelan jas kebanggaannya. Hari ini dia hendak berkunjung ke rumah Gintani. Argha akan berusaha untuk meyakinkan Gintani tentang perceraian mereka yang tidak sah. Dengan langkah ringan, Argha pun keluar rumah dan menuju mobilnya.


Mobil terus meluncur melalui jalur persawahan. Udara pagi hari di pedesaan begitu sejuk. Sesekali Argha menepi hanya untuk sekedar menghirup udara segar yang menenangkan pikirannya. Dalam setiap persinggahan itu, Argha mencoba merangkai kata untuk dia ucapkan kepada Gintani nanti.


Tanpa terasa, Argha sudah tiba di rumah sederhana yang begitu luas pekaranganya. Argha segera memarkirkan mobilnya dan turun. Dengan langkah tegap, Argha melangkahkan kakinya menuju pintu bercat hijau itu. Deru jantungnya mulai memburu saat Argha mengetuk pintu tersebut.


"Sebentar!" teriak seseorang dari dalam rumah.


Pintu terbuka. Pengasuhnya Putri tampak berdiri di ambang pintu.


"Anda, orang yang pernah mengantarkan non Putri kemari, 'kan?" tanya Mina begitu melihat Argha berdiri di hadapannya.


"Iya, benar. Apa saya bisa bertemu dengan Gintani?" tanya Argha.


Mina mengernyitkan keningnya. Siapa orang ini, dan kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu nyonya? batin Mina.


"Maaf, Tuan. Tapi nyonya Gintan sedang tidak ada di rumah," jawab Mina.


"Pergi kemana dia?" Argha balik bertanya.


"Nyonya Gintan sedang pergi ke sekolahnya non Putri. Hari ini ada acara khusus di sekolahnya non," ucap Mina.


"Acara khusus? Acara apa?" tanya Argha lagi.


"Acara yang bertajuk Cooking with My Dad. Itu acara spesial untuk lebih mendekatkan anak dan ayahnya," jawab Mina.


Argha tersenyum, mungkin ini kesempatan emas bagi Argha untuk mengambil hati anak dan istrinya.


"Kalau begitu, saya akan pergi ke sekolah saja. Biar saya menemui Gintani di sana. Permisi!" pamit Argha.


Mina hanya melongo menyaksikan tingkah tamunya yang sangat aneh.


🍀🍀🍀


Di Kelompok Bermain Siti Fatimah.


"Putri, mana papa kamu?" tanya Eca, teman karib Putri.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan sahabatnya, Putri hanya bisa menundukkan kepala. Dia sendiri bingung harus menjawab apa.


"Put, kalau papa kamu tidak ada, kamu bisa dikeluarkan dari lomba ini," kata Eca lagi.


"Benarkah?" Putri terlihat khawatir.


"Iya. Bukankah lomba ini pesertanya harus dua orang. Ayah dan anak. Kalau papa kamu nggak ada, berarti kamu nggak bisa ngikutin lomba ini," kata Eca, menjelaskan.


"Tapi aku masih punya om Alex yang akan menemani aku lomba," bantah Putri.


"Ih, mana bisa. Dia, 'kan om kamu, bukan ayah kamu. Jadi enggak mungkin bisa ikutan," ucap Eca.


"Apa aturannya seperti itu?" tanya Putri lagi.


"Coba saja kamu tanya sama ibu guru," jawab Eca.


Putri melangkahkan kakinya. Tapi, belum sampai dia ke tempat ibu Ika, panitia lomba Memasak Bersama Ayah sudah mengumumkan agar para peserta menempati tempat yang telah disediakan.


Alex maju mendekati Putri. Mereka kemudian mengambil tempat yang telah panitia sediakan untuk nomor undian yang telah diambil Putri.


Pada saat pertandingan akan segera dimulai. Tiba-tiba seorang wanita berbadan gendut berdiri dan berteriak.


"Tunggu! Pesert nomor undian 13 tidak bisa mengikuti perlombaan ini, Bu!" protes wali murid tersebut.


Panitia yang akan memulai lomba pun berhenti bicara.


"Memangnya kenapa Putri tidak bisa mengikuti lomba ini?" tanya bu Ika.


"Bu Guru, tema lomba ini adalah memasak dengan ayah. Sedangkan anak itu, orang yang berdiri di sampingnya bukanlah ayahnya," ucap wanita itu.


"Apa bedanya, Bu? Yang terpenting adalah setiap peserta mendapatkan partner untuk melakukan pekerjaannya," sanggah Gintani.


"Tentu saja itu berbeda, Bu. Acara ini bertujuan untuk mendekatkan putra-putri kita dengan ayahnya. Dan orang yang berdiri di samping Putri, kita semua tahu kalau dia hanya sekedar Om Putri. Jadi ini tidak sah, mereka tidak bisa mengikuti perlombaan ini," ucap wanita itu bersikeras.


"Tapi, Bu. Tolong berikan Putri kesempatan. Dia sangat menantikan hari ini," ucap Gintani, memelas.


"Tidak bisa begitu dong, Bu! Tolong Ibu Putri mengerti. Suami-suami kita sudah meluangkan waktunya untuk menemani anak mereka. Kalau bisa diwakilkan, saya tidak akan meminta suami saya cuti kerja hari ini. Sungguh, ini tidak adil kalau pihak panitia mengizinkan Putri mengikuti lomba," ucapnya lagi.


Alex merasa geram mendengar ucapan wanita itu. Memangnya kamu pikir aku juga tidak punya pekerjaan, gerutu Alex dalam hatinya.


Siapa pun orangnya, saya rasa tidak jadi masalah, Nyonya. Jika ini menyangkut urusan pekerjaan, saya juga seorang pekerja. Tapi bukankah sudah kewajiban seorang ayah untuk meluangkan waktunya agar lebih dekat dengan anak?" Alex berusaha untuk membela Putri dan tentunya membela dirinya sendiri.


"Ya, tapi masalahnya, Anda hanya Om-nya Putri, bukan ayahnya!" ucap wanita itu, menegaskan.


Karena tak ingin ada keributan akibat dirinya, Putri pun melangkah keluar dari barisan.


"Saya mengundurkan diri saja, Bu," ucap Putri kepada bu Ika.


"Tunggu! Saya Papanya Putri, jadi Putri punya hak untuk mengikuti lomba ini!"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2