
Pov Gintani
Sebenarnya aku tidak pernah ingin bertemu dengan ustadz Husni lagi. Tapi Raisya menyarankan jika kali ini aku harus menemui ustadz Husni. Mungkin ini pertemuan terakhirku dengan beliau. Raisya bilang, beliau akan melanjutkan study-nya ke luar negeri. Mau tidak mau, aku pun mengikuti saran Raisya.
Aku memutuskan untuk berangkat sebelum waktu yang telah ditentukan. Jujur aku tidak tahu, kata apa yang harus ku ucapkan jika nanti kami bertemu. Tapi untuk saat ini, aku tak ingin memikirkan hal itu.
Seperti biasanya, aku berdiri di bawah air terjun itu untuk menikmati suasana alam. Semilir angin dan percikan air yang menerpa wajahku, selalu menjadi sensasi tersendiri bagi kedamaian hatiku. Aku sangat menikmati suasana ini. Alam memberiku kenyamanan hingga aku merasa tidak pernah memiliki beban hidup.
Aku tersenyum saat riak air kecil berlarian menyentuh kakiku. Dinginnya air membuat hatiku semakin sejuk. Meski dadaku berdebar karena membayangkan pertemuan yang akan terjadi, namun aku berusaha untuk tetap tenang dan teguh pada pendirian ku. Sekali lagi aku katakana pada hatiku. Aku menolak, entah itu ustadz Husni atau pun lelaki lainnya.
Aku menghela napas ku, hingga akhirnya aku mendengar suara laki-laki yang menyapaku. Aku membalikkan badanku. Seketika aku terkejut melihat laki-laki itu tengah berdiri di hadapanku. Tanpa sadar aku pun berteriak. “Kau….!!”
Laki-laki itu mulai menghampiriku. Dia menatapku dengan tatapan yang masih sama seperti malam itu. Aku mundur perlahan untuk menghindarinya. Namun sialnya, kakiku terpeleset batu yang licin.
🍀🍀🍀
Gintani tidak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya akibat menginjak batu yang licin. Melihat hal itu, Argha segera menarik tangan Gintani. Namun karena terlambat, akhirnya Argha pun ikut tertarik.
Byurrrrr……
Mereka akhirnya jatuh terjerembab ke dalam kolam. Gintani berusaha untuk berdiri, namun beban tangan Argha yang melingkar di pinggangnya membuat dia merasa kesulitan. Pada akhirnya tubuh Gintani kembali tenggelam.
Menyadari hal itu, Argha segera melepaskan tangannya dan menarik tubuh Gintani ke dalam dekapannya.
Gintani memberontak dia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan laki-laki yang dibencinya sepenuh hatinya. Gintani kemudian membalikan badannya untuk menepi. Namun secepat kilat tangan Argha kembali meraih tangannya.
“Tunggu !” teriak Argha.
Gintani menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Entah kenapa hatinya terasa hangat mendapati genggaman tangan laki-laki itu. Dadanya mulai berdebar tak karuan.
“Kenapa kau mengembalikan sisa uang itu, padaku ? Apa kau sengaja ingin menghukum ku dan selalu mengingatkanku pada kejadian malam itu ?” tanya Argha, datar.
Jleb….
Hati Gintani terasa di tusuk sebilah pisau yang sangat tajam. Apa maksud semua perkataannya ? Apa dia akan kembali merendahkan aku ? batin Gintani.
Gintani menarik kasar tangannya dari cengkraman kuat tangan Argha. Namun tentu saja, seorang pria arogan seperti Argha, tidak akan pernah merasa puas jika tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Dia kembali meraih tangan Gintani dan menariknya lebih kuat.
Gintani pun membalikkan badannya. "Apa maumu ?" tanya Gintani menatap Argha penuh kebencian.
“Aku tanya, kenapa kau mengembalikan sisa pembayaran atas tubuhmu? “ tanya Argha kembali.
Gintani diam. Hatinya terasa perih saat Argha mengatakan uang sisa pembayaran atas tubuhnya. Ya tuhan, serendah itukah aku di hadapannya ? Batin Gintani. Ingin rasanya menampar kembali pria yang memiliki mulut yang seakan tidak pernah merasakan bangku sekolah itu. Namun kebenaran tentang hal itu, membuat Gintani merasa tak berdaya.
“Aku rasa itu bukan urusanmu !” jawab Gintani, datar.
Argha berjalan mendekati Gintani. “Tentu saja itu urusanku ! Katakan, apa kau membenciku ?” tanya Argha meraih dagu Gintani.
__ADS_1
Untuk sejenak, netra mereka saling beradu pandang. Entah kenapa kali ini Gintani merasakan sebuah keteduhan dalam tatapan mata lelaki yang selalu hadir dalam kebenciannya.
Gintani tersenyum tipis dan segera memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan mata itu.
“Aku tidak punya alasan untuk membencimu. Aku menjual dan kau membelinya. Hubungan itu hanya sebatas transaksi jual beli.” jawab Gintani, dingin.
“Apa kau menyesalinya ?” tanya Argha lagi.
“Apa aku punya alasan untuk menyesal ?” Gintani kembali menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan.
Argha menarik Gintani ke dalam pelukannya. Dia mendekapnya dengan erat. “Maaf…!” ujarnya lirih.
Gintani tak mampu lagi menahan semua kepedihannya. Air mata mulai kembali mengalir di kedua pipinya. Air mata pertama setelah dia memutuskan untuk melupakan semua kejadian buruk malam itu.
“Kenapa, pak ? Kenapa anda begitu membenciku ?” tanya Gintani dalam isak tangisnya.
"Selamat untuk kemenangan anda. Anda sudah bisa membuktikan jika kekuasaan anda mampu membeli tubuhku. Aku tidak menyesal karena telah menjual harga diriku. Satu-satunya yang aku sesali, aku jatuh ke tangan pria tak berperasaan seperti anda. Aku tahu anda membeli ku hanya karena dendam. Namun, terlepas dari semua itu, aku tidak peduli. Dan aku harap kita tidak akan pernah bertemu kembali.” lanjut Gintani seraya menarik diri dan melepaskan tubuhnya dari dekapan argha.
Argha bisa melihat mata sembab yang penuh luka. Hatinya benar-benar perih mendengar semua ucapan Gintani. Dia hanya mampu diam karena dia sadar jika sikapnya telah begitu banyak menorehkan luka dalam kehidupan gadis itu.
"Gintan !”
Teriakan seorang pemuda, seketika memutus tatapan mereka. Gintani menoleh, tampak ustadz Husni telah berdiri di tepi kolam. Sejurus kemudian, pemuda itu membalikkan badannya dan kembali pergi meninggalkan Gintani.
“Tunggu ustadz !” cegah Gintani.
Argha sedikit terkejut saat mendapati seorang pemuda yang memanggil nama Gintani. Dia lebih terkejut saat Gintani berusaha melepaskan tangannya dan menepi untuk menghampiri lelaki itu. Entah kenapa, ada perasaan tak suka ketika dia melihat Gintani mengejar laki-laki itu. Apa dia kekasihnya ? batin Argha seraya menatap nanar pada wanita yang tengah berteriak-teriak memanggil lelaki itu.
Gintani masih berusaha untuk mengejar ustadz Husni. Dia tidak ingin Ustadz muda itu salah paham terhadap dirinya.
“Ustadz tunggu ! Aku bisa menjelaskan semuanya !” ujar Gintani setengah berteriak.
Merasa kasihan melihat gadis yang dicintainya terengah-engah mengejarnya, akhirnya ustadz Husni menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badannya dan menghampiri gadis itu.
“Maafkan aku !” ucap ustadz Husni.
“Tidak….hosh…hosh…tidak apa-apa…!” jawab Gintani seraya mengatur napasnya.
“Apa dia kekasihmu ?” tanya ustadz Husni.
“Pertanyaan apa itu, ustadz ? Apa ustadz memintaku bertemu hanya untuk membahas semua ini ?” tanya Gintani dengan perasaan kesal.
“Tentu saja tidak. Tapi aku cukup kaget melihat pemandangan di kolam itu.” jawab ustadz Husni.
Gintani menundukkan wajahnya. "Bisakah kita untuk tidak membahasnya ?” pinta Gintani.
__ADS_1
“Baiklah.” jawab ustadz Husni.
“Sebenarnya, ada apa ustadz ingin menemui ku ?” tanya Gintani.
Bukannya menjawab, ustadz Husni malah melepaskan sorbannya.
“Maaf !” ujar ustadz Husni seraya menyampirkan sorban itu pada pakaian atas Gintani yang basah dan menciptakan lekukan tubuh yang dapat mengundang syahwatnya.
Gintani tersipu malu melihat perlakuan hangat dari ustadz husni.
Sementara, Argha mengepalkan tangannya mendapati perlakuan hangat seorang pria kepada gadis yang telah di klaim sebagai miliknya.
“Terima kasih !” ucap Gintani seraya menarik erat ujung kedua sorban itu untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
“Aku hendak melanjutkan pendidikan ku di Mesir.” ucap ustadz Husni.
Gintani diam. Untuk sejenak, keheningan tercipta di antara mereka.
“Lalu ?” tanya Gintani.
“Bisakah kau izinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh lagi ?” pinta ustadz Husni.
Gintani terhenyak mendengar permintaan itu. sebuah permintaan yang tidak akan mungkin dia kabulkan.
“Ustadz, aku bukan orang yang tepat untuk kau kenali lebih jauh lagi. Aku mohon, jangan membuang-buang waktumu untuk hal yang tidak akan ada manfaatnya. Takdirku adalah milikku ! Aku tidak akan pernah membaginya dengan siapa pun. Aku harap, ustadz bisa mengerti keputusanku." jawab Gintani penuh ketegasan.
“Tapi Tan ? Aku tahu aku tidak memiliki hak untuk bertanya ? Tapi, bisakah kau berikan satu alasan kenapa aku tidak boleh memasuki kehidupanmu ?”
Dengan penuh keberanian, Gintani menatap tajam ke arah ustadz Husni. Dia tidak ingin Ustadz muda yang baik itu terus menerus menaruh harapan padanya. Perlahan dia mulai mendekati ustadz Husni. Dia mendekatkan wajahnya, bibirnya mulai menyentuh bibir lelaki itu. sedetik kemudian Gintani mulai memagut bibir tebal nan kenyal milik lelaki bersorban itu. dalam hitungan detik, dia melepaskan ciumannya dan kembali memundurkan langkahnya.
“Seperti itulah aku ustadz ! Aku tidak sesuci yang ustadz pikirkan ! Masa laluku sangatlah kelam, dan aku yakin anda tidak akan mampu menerima semua masa laluku.” jawab Gintani seraya menahan rasa malu dan sesak di hatinya.
Ustadz Husni hanya mampu terpaku mendapati pergerakan bibir Gintani yang begitu cepat. Dia benar-benar tidak menyangka jika Gintani akan berbuat seagresif itu. hatinya berdebar-debar mendapatkan perlakuan Gintani.
Ustadz Husni berusaha untuk mencerna setiap kalimat yang meluncur dari bibir tipis berwarna pink yang telah menciumnya. Apa yang harus aku lakukan ? Masa lalu yang kelam seperti apa yang telah terjadi pada kehidupannya ? Kenapa dia berani berbuat seperti itu ? Apa Gintani bukanlah seorang wanita baik-baik ?
Kini, ustadz Husni pun meragukan perasaannya sendiri. Tak ingin terjebak lebih lama lagi, dia pun meninggalkan Gintani tanpa pamit.
Gintani menjatuhkan dirinya di atas tanah setelah melihat kepergian ustadz Husni. Air matanya kembali membanjiri pipinya. Penyesalan kembali menyeruak di hatinya. Untuk kedua kalinya dia merutuki sikapnya yang telah menjatuhkan harga dirinya.
“Cih….! Sekali pelacur, tetaplah akan selalu menjadi pelacur !”
Bersambung...
Hai readers..., othor balik lagi yaaa...
Semoga masih suka ma kisah Gintani yaaa..
__ADS_1
Makasih atas dukungannya.... 🙏🙏