Takdir Gintani

Takdir Gintani
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Jessica mengajak Ustadz Hasan dan Umi Kulsum untuk pergi berziarah ke makam orang tuanya.


"Sebentar ya, Tan, Jessi ambil mobilnya dulu di garasi," ucap Jessica.


"Tidak usah, Nak. Kita pergi naik mobil Om saja," cegah Ustadz Hasan.


Jessica tampak berpikir sejenak, terbersit keraguan di hatinya. Namun Jessica segera menepis keraguan tersebut. Jika dilihat dari penampilannya, aku yakin mereka orang baik, batin Jessica.


"Oh, baiklah." Akhirnya Jessica pun menyetujui ajakan kedua tamunya.


"Kamu duduk di depan saja, ya. Biar jadi penunjuk jalan buat Mang Engkos," perintah Ustadz Hasan.


"Baik, om," jawab Jessica.


"Nak, boleh tidak Om meminta sesuatu?" tanya Ustadz Hasan, menghentikan langkah Jessica.


Jessica berbalik. "Ada apa, Om?"


"Om minta, tolong kamu jangan panggil Om dengan sebutan 'om', panggil saja Abi," pinta Ustadz Hasan seraya menatap lembut kedua bola mata Jessica.


"Ma-maksud, Om?" tanya Jessica, gugup.


"Tolong jangan salah sangka dulu. Om tidak punya anak perempuan, dan kamu adalah anak kerabat Om. Jadi, tidak ada salahnya kalau kami menganggap kamu seperti anak kami sendiri. Apa kamu mau?" tanya Ustadz Hasan mencoba meyakinkan Jessica.


Kedua bola mata Jessica berkaca-kaca mendengar penjelasan Ustadz Hasan. Tanpa berpikir panjang, dia mengangguk menyetujui permintaan Ustadz Hasan.


"I-iya Om, Jessi mau," jawab Jessica.


"Alhamdulillah ... lagipula kata 'om' sepertinya tidak cocok dengan penampilan Abi yang tidak pernah berdasi," gurau Ustadz Hasan.


"Ah Om, eh, Abi bisa saja," jawab Jessica.


"Ya sudah, ayo kita berangkat! Nanti keburu siang," ajak Ustadz Hasan.

__ADS_1


Jessica mengangguk, dia kemudian membuka pintu mobil milik Ustadz Hasan. Sedangkan Umi Kulsum menatap penuh cinta kepada suaminya.


"Terima kasih, Abi," bisik Umi Kulsum di telinga suaminya.


Ustadz Hasan tersenyum sambil mengusap lembut pipi sang istri.


🍀🍀🍀


Setelah mengantarkan Nadhifa pulang, Gintani pergi ke tempat Alya. Hatinya benar-benar kacau. Saat ini, Gintani hanya butuh teman untuk bercerita. Meskipun dia bukan type wanita yang suka mengumbar masalahnya, tapi hanya dengan mengobrol, bisa membuat Gintani sedikit lupa akan semua permasalahan yang dia hadapi.


"Sebentar ya, Tan, tanggung!" ucap Alya yang sedang melayani para pengunjung.


Gintani hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia pun mulai menyesap sedikit demi sedikit kopi yang telah disuguhkan untuknya. Tanpa sengaja, mata Gintani terkunci pada sosok berambut gondrong yang tak lain adalah Nando. Kecemasan terlihat dengan jelas di mata Nando. Gintani pun berpikir, mungkin terjadi sesuatu pada Sarah, adiknya Nando.


Gintani bangkit dan mulai mengayunkan langkahnya menuju meja Nando. Namun saat dia hendak menyapa Nando, tampak seorang wanita berhijab yang datang tergopoh-gopoh menghampiri Nando. Tiba-tiba, wanita itu memeluk Nando dan mulai menangis. Nando hanya bisa mengusap-usap punggung wanita itu tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.


Tak lama kemudian, wanita itu menguraikan pelukannya. Dia kemudian duduk berhadapan dengan Nando. Entah apa yang mereka bicarakan, Gintani tak bisa menangkap jelas obrolan mereka. Namun satu yang pasti, Nando terlihat kebingungan setelah wanita itu selesai berbicara.


Gintani pun mengurungkan niatnya untuk menyapa Nando. Dia berbalik arah dan kembali ke mejanya. Namun rasa penasaran menggelitiki pikirannya. Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa dia menangis di hadapan Nando? Dan kenapa Nando terlihat begitu khawatir? Apa dia salah satu korban ke-brengsekan Nando? Astaghfirullah hal adzim, kenapa aku jadi berprasangka buruk seperti ini? batin Gintani seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh, nggak pa-pa, kok. Hmm ... sudah jadi orang sibuk sekarang," goda Gintani pada Alya.


"Ah, kamu bisa saja, Tan," jawab Alya tersipu malu. "Hmm, kenapa lagi dia?" gumam Alya seraya menatap ke arah meja 25, meja yang diduduki Nando dan wanita berhijab itu.


"Kamu kenal mereka, Al?" tanya Gintani sedikit terkejut saat mendengar gumaman sahabatnya.


"Mereka itu pasangan suami istri. Istrinya hampir tiap hari datang ke sini untuk sekedar istirahat. Sedangkan suaminya hanya sesekali datang jika istrinya menghubungi dia," jawab Alya.


Gintani semakin mengerutkan keningnya. Jadi, Nando sudah menikah? batinnya.


"Sepertinya, terjadi sesuatu lagi sama anaknya," ucap Alya tanpa mengalihkan pandangan dari meja itu.


"Ma-maksud kamu? Mereka sudah punya anak?" tanya Gintani menatap Alya.

__ADS_1


"Hem-eh, usia anaknya sekitar satu tahun. Sekarang sedang di rawat di rumah sakit depan." Dagu Alya mengarah ke sebuah klinik yang berada di depan coffee shop-nya.


Gintani mengikuti arah mata Alya. "Klinik Mahardika Heart Centre. Bukankah itu klinik spesialis jantung?" tanya Gintani.


"Ya, anaknya mengalami kebocoran jantung sejak lahir," jawab Alya.


"Astaghfirullah! Dari mana kamu tahu, Al?" tanya Gintani, terkejut.


"Mela sendiri yang cerita," jawab Alya.


"Mela?" tanya Gintani, mengerutkan keningnya.


"Ya, Mela ... Istrinya Pak Nando," jawab Alya.


"Oh," jawab singkat Gintani. Kasihan sekali Nando. Ternyata cobaannya selama ini jauh lebih berat, gumam Gintani.


🍀🍀🍀


"Siang, mom. How are you? Richi harap, mommy selalu bahagia di sisi Tuhan," ujar Dokter Richard, bermonolog di depan makan ibunya. "Apa mom tahu?" lanjut Dokter Richard, "mungkin Ilona sudah mendapatkan karmanya. Tuhan sudah menghukumnya, mom. Tapi entah kenapa Richi merasa kasihan padanya. Meskipun Richi benci akan perbuatan Ilona dengan daddy. Tapi, melihat dia kesakitan seperti itu, Richi tidak tega." Dokter Richard mengusap pusara ibunya.


Sejenak, Dokter Richard menghela napasnya. "Mom, apa Richi salah, jika mengasihani orang yang sudah memanfaatkan daddy?" tanya Dokter Richard lagi. "Richi tidak tahu apa yang Richi rasakan pada Ilona. Entah kenapa, Richi sangat berharap Ilona bisa berubah. Andai dia mau, Richi rela menjaga Ilona hingga akhir hayatnya. Yang penting, dia bisa berubah menjadi orang baik," ucap Dokter Richard lagi.


Sementara, tak jauh dari tempat Dokter Richard berada, Jessica, Ustadz Hasan dan Umi Kulsum pun telah tiba di makam kedua orang tua Jessica. Setelah Ustadz Hasan selesai memimpin do'a, tiba-tiba Umi Kulsum menangis sambil mengusap-usap pusara ibunya Jessica.


"Maafkan aku, mbak. Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi pada kalian. Maafkan aku yang baru bisa berziarah ke makam kalian. Terima kasih atas semua kebaikan dan ketulusan mbak selama ini. Aku sangat berhutang budi sama, mbak. Maafkan semua sikap burukku di masa lalu. Aku akan selalu berdo'a, semoga mbak dan mas Iskandar mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhan," ucap Umi Kulsum dengan bibir bergetar.


Sementara di pusara depan, seorang pemuda tampak tertegun mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia kemudian membalikkan badan untuk memastikan si pemilik suara.


Deg-deg-deg


Seketika jantung pemuda itu berdegup dengan sangat kencang saat melihat Umi Kulsum. Dia benar-benar tidak menyangka jika kedatangan dia ke TPU kali ini, menghasilkan sebuah pertemuan tak terduga dengan seseorang yang puluhan tahun tidak pernah ditemuinya.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaaa... 🤗🙏


__ADS_2