Takdir Gintani

Takdir Gintani
Temperamental


__ADS_3

"Mas, tunggu!" Gintani terus berteriak memanggil suaminya, namun Argha sama sekali tak menghiraukan panggilan istrinya.


Pikiran laki-laki itu telah dipenuhi oleh amarah. Wajahnya semakin memerah, kedua rahangnya terlihat mengeras. Argha semakin mempercepat langkahnya menuju tempat parkir.


Tiba di tempat parkir, Argha segera menaiki mobil dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia sama sekali tidak melirik ke arah Gintani yang tengah terjatuh akibat berlari menggunakan heels.


Gintani meringis saat merasakan nyeri di pergelangan kaki kanannya. Dia segera bangun dan mencoba berjalan kembali untuk menyusul suaminya. Dengan langkah tertatih, Gintani pergi ke tepi jalan untuk menghentikan taksi yang tengah melintas di halaman depan hotel.


"Tolong ikuti mobil itu ya, Pak!" pinta Gintani saat sudah memasuki kursi penumpang. Gintani menunjukkan mobil sport berwarna hitam yang baru saja keluar dari pelataran parkir hotel Crown.


"Baik, Nona!" jawab sang sopir. Dia pun mulai melajukan kendaraannya dengan cepat, karena melihat kecepatan dari mobil yang tengah diikutinya. Gila, apa pengendaranya seorang pembalap? Cepat sekali dia melajukan mobilnya, batin sopir taksi itu.


Gintani terus menatap cemas pada mobil sport berwarna hitam yang melaju dengan sangat cepat. Bibirnya basah oleh untaian do'a keselamatan bagi suaminya. Meski ada sedikit nyeri di hati saat melihat kemarahan sang suami atas kecelakaan yang menimpa wanita itu, namun Gintani mencoba menahannya.


Hubungan mereka terjadi jauh sebelum aku mengenal Mas Argha. Aku harus bisa berbesar hati jika Mas Argha ingin memberikan keadilan untuk wanita itu. Ya Allah, beri aku kesabaran yang tanpa batas..., batin Gintani. Buliran air mata mulai menggenang di kedua sudut Gintani


Lamunan Gintani terhenti saat melihat mobil Argha tengah berbelok menuju halaman mansion mertuanya. Gintani pun meminta sang sopir untuk menghentikan laju mobilnya. Setelah membayar ongkos taksi, Gintani segera menyusul Argha yang sudah terlebih dahulu memasuki mansion.


"Jessi! Jessi! Keluarlah!"


Suara Argha menggelegar di ruangan yang sangat luas. Argha mulai menaiki tangga rumahnya dengan terburu-buru. Dia mencari keberadaan Jessica di kamar atas.


Braakk!


Argha menendang pintu kamar yang ditempati Jessica, namun kamar itu terlihat rapi dan kosong. Argha membuka lemari pakaian, hasilnya tetap sama. Tak ada satu pun barang-barang milik Jessica di kamar itu. Sepertinya, tidak pernah ada tanda-tanda kehidupan di sana. Apa mungkin Jessica telah keluar dari rumah ini? batin Argha.


"Damn!"


Bugh!


Prakk!


Argha mengumpat seraya menendang kursi rias hingga terjungkal. Sejurus kemudian, dia kembali menuruni tangga.


Tap... Tap... Tap...

__ADS_1


Langkah tegap Argha terdengar menuruni anak tangga satu persatu. Dengan napas yang masih memburu, Argha kembali ke ruang keluarga.


"Jessi! Di mana kamu? Keluarlah!"


Argha kemudian berputar mengelilingi setiap ruangan di mansion itu seraya terus berteriak-teriak memanggil Jessica. Tingkahnya sudah seperti orang yang kerasukan setan. Membuat Gintani bergeming, menatap tak percaya kepada suaminya.


Baru kali ini Gintani melihat Argha begitu sangat marah. Dia meremas dadanya yang mulai terasa sesak. Dia pasti sangat mencintai wanita itu, karena itu dia terlihat sangat marah ketika mengetahui kebenarannya. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kembali Gintani bermonolog dalam hatinya.


Kaki Gintani seketika limbung mendengar umpatan dan hujatan yang keluar dari mulut suaminya. Kalimat pedas yang meluncur halus, seakan mengingatkan Gintani pada sosok Argha dulu. Dia...dia seperti bukan suamiku? Apa karena luka di hatinya terlalu dalam?


Kepala Gintani seakan dipenuhi burung gereja yang sedang berputar mengelilinginya. Gintani segera memegang sandaran sofa agar tidak terjatuh akibat rasa pusing di kepalanya.


Plakk!


Belum hilang keterkejutan Gintani akan perubahan sikap Argha, jantungnya kembali dibuat berdetak kencang oleh tamparan yang mendarat di kedua pipi Jessica. Gintani hanya mampu menutup mulut dengan kedua telapak tangannya saat melihat Argha melakukan kekerasan terhadap seorang perempuan. Kemarahan Argha membuat hati Gintani terasa ngilu, menerima kenyataan jika suaminya seorang temperamental.


"Aww...!"


Jessica berteriak kesakitan mendapatkan tamparan bolak-balik di pipinya.


"Ke-kenapa menamparku? A-apa salahku, hah? Apa kamu sudah gila?" teriak Jessica menatap nyalang pada orang yang pernah dicintainya.


"Ish! Sakit, Ar!" Jessica kembali berteriak. Dia meringis kesakitan saat Argha mencengkram kedua bahunya dengan kuat. "Kenapa kamu begitu marah, Ar? Bukankah aku tidak pernah mengusik kehidupan kamu lagi? Apa masalahmu denganku, Argha?" tanya beruntun Jessica yang tidak terima diperlakukan kasar tanpa sebab.


"Lalu apa masalahmu dengan Ilona? Kenapa kamu tega melukai dia?" ucap Argha, geram. Tangan kekarnya beralih, mencengkram kedua rahang Jessica.


Jessica terpaku saat mendengar nama Ilona. Bayangan kecelakaan itu, kembali berkelebat dalam ingatan Jessica.


"Aku tidak pernah mencelakai perempuan itu! Kecelakaan itu bukan salahku! Aku tidak pernah menyentuhnya!" teriak Jessica. Kedua tangan Jessica berusaha melepaskan cengkraman tangan kekar Argha dari rahangnya.


"Dengar, iblis wanita! Selama ini aku sudah cukup bersabar menerima semua perlakuanmu. Tapi hari ini...."


Argha menghela napas. Sejenak, dia menengadahkan wajahnya. Kemudian, "Hari ini aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengirimmu ke neraka!" ucapnya bergetar. Gemeletuk gigi Argha semakin terdengar.


Napas Jessica terasa sesak saat tangan Argha mencekik lehernya dengan kuat. Kedua tangan Jessica berusaha untuk menarik tangan kekar itu.

__ADS_1


"To-tolong...aakh...a-aku ti-dak...bisa na-pas...." ucap Jessica terbata.


Mendengar ucapan lirih Jessica, Gintani segera berlari ke arah mereka. Sekuat tenaga dia mendorong tubuh kekar suaminya. Namun Argha tak bergerak sama sekali.


"Mas, hentikan! Kamu bisa membunuh Mbak Jessica," ucap Gintani seraya meraih tangan suaminya. Gintani berusaha menarik tangan Argha.


"Diamlah!" Argha tak menggubris perkataan istrinya. Dia malah membentak Gintani tanpa melihatnya.


"Mas, aku mohon! Aku tidak mau kamu berurusan dengan polisi. Hentikan, Mas! Kita bisa membicarakan semuanya dengan baik-baik." Sekali lagi Gintani memohon agar suaminya melepaskan Jessica.


"Aku bilang diam, dan jangan ikut campur!" Argha menepiskan tangan Gintani yang berusaha melepaskan tangannya dari leher Jessica. Nahasnya, tepisan kuat Argha membuat Gintani jatuh terdorong ke belakang.


"Aww...!" Gintani menjerit saat tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya akibat dorongan Argha.


Dugh!


Brugh!


"Gintaaaan!"


Argha segera melepaskan tangannya dari leher Jessica. Secepat kilat dia memburu Gintani yang sudah tergeletak di lantai. Dorongan kuat Argha membuat kepala bagian belakang Gintani membentur ujung bufet berbahan kayu jati, hingga akhirnya Gintani jatuh.


Argha segera berjongkok, kedua tangannya meraih kepala Gintani dan menumpukan di pangkuannya.


"Gin!" panggil lirih Argha. "Bangunlah, Gin!" Argha menepuk pipi Gintani perlahan.


Le...paskan di-a, Kak A_"


Seketika, Gintani menutup kedua matanya.


Bersambung....


Minta do'anya yaaa, semoga othor bisa segera merampungkan karya recehan ini....


Apa yang terjadi dengan Gintani? Akankah takdir indah berpihak padanya?

__ADS_1


Jangan lupa, dukung terus karya recehan ini yaaa...


Makasih....


__ADS_2