
Gintani masih memikirkan ucapan Umi Kulsum dan Jessica. Ditambah lagi dengan perkataan ustadz Hasan yang bilang jika beliau belum bertemu dengan kakek Wira sejak sebulan terakhir. Lalu kenapa Bik Susan mengatakan jika kemarin kakek Wira pergi ke rumah ustadz Hasan? Siapa sebenarnya yang telah berbohong di antara mereka? Apa kakek Wira yang sengaja berbohong pada Bik Susan, atau justru Bik Susan yang telah membohongi Gintan. Tapi, untuk motif apa hingga mereka harus berbohong? batin Gintani.
Gintani bangkit dari tempat tidurnya. Dia keluar lalu pergi ke kamar kakek Wira. Rasa rindu kembali menyergapnya saat dia melihat barang-barang milik sang kakek. Gintani membuka lemari pakaian milik kakek Wira. Dia meraih baju koko yang tergantung di sana. Gintani memeluk baju koko tersebut. Tanpa sadar, air mata kembali meleleh di pipi Gintani.
"Kakek, kenapa harus secepat ini kakek pergi? Padahal Gintan belum mampu membuat kakek bahagia. Jujur Gintan tidak tahu apa yang harus Gintan lakukan tanpa kakek? Bagaimana Gintan menjalani hidup ini tanpa kakek? Kakek adalah sumber kekuatan Gintan, dan sekarang ... sumber kekuatan itu telah pergi, sanggupkah Gintan bertahan hidup?" ucap lirih Gintani sambil mengusap-usap baju koko milik kakek Wira.
Pada saat Gintani sedang meratapi nasib, tiba-tiba matanya terkunci pada sebuah tas kerja milik kakek Wira yang tergeletak di atas meja. Gintani mendekati meja itu. Dia meraih tasnya dan duduk di atas ranjang. Gintani ingat jika tas ini adalah barang terakhir yang dipegang oleh kakek Wira. Gintani pun duduk bersila di atas ranjang, dia mulai membuka tas kerja kakek Wira.
Gintani mengeluarkan satu per satu barang yang ada di dalam tas kakeknya. Tak ada yang aneh dari barang-barang tersebut. Hingga di barang terakhir yang Gintani keluarkan, kening Gintani sedikit berkerut saat meraba benda bertekstur halus. Gintani mengeluarkan benda itu yang ternyata sebuah amplop besar. Dia mulai membuka amplop tersebut untuk melihat isinya.
Deg!
Jantung Gintani seolah berhenti berdetak saat melihat isi dari amplop coklat itu. "Surat gugatan cerai," gumamnya. Gintani segera membuka lembar demi lembar berkas-berkas itu.
Di sana tertera jelas surat gugatan cerai yang sudah ditandatangani oleh suaminya. Ish, bagaimana mungkin surat ini bisa berada di dalam tas kakek Wira? batin Gintani.
Gintani ingat betul jika selama ini tidak ada tukang pos ataupun kurir yang mengantarkan paket ke rumahnya. Lalu dari mana surat ini datang? Apa mungkin paketnya datang saat Gintani tidak ada di rumah dan kakek yang menerimanya? Atau Apa mungkin kakek...? Berbagai spekulasi berseliweran dalam benak Gintani.
"Aku harus tanya Bik Susan soal ini," gumam Gintani. Dia kemudian beranjak dari ranjang. Gintani keluar untuk menemui Bik Susan, tapi ruang keluarga terlihat sepi. Hmm ... mungkin Bik Susan dan Mang Rakib sudah tidur. Sebaiknya, besok saja aku tanyakan perihal amplop ini, batin Gintani. Dia pun akhirnya kembali ke kamarnya dengan membawa dokumen perceraian itu.
🍀🍀🍀
Di mansion utama.
Ponsel Argha terus berdering. Awalnya Argha tak mempedulikannya, tapi lama-lama dia pun meraih ponsel tersebut untuk mengangkat telepon.
"Ilona," gumam Argha.
__ADS_1
"Hallo!" sapa Argha.
"Kakak, apa besok Kakak bisa menemani aku ke rumah sakit?" tanya Ilona di ujung telepon.
"Maaf Ilona, Kakak nggak bisa," jawab Argha, datar.
"Tapi kenapa, Kak Argha? Apa Kakak sudah tidak peduli pada Ilona lagi?" Kembali Ilona bertanya.
"Ish, jangan salah paham dulu. Bukannya Kakak tidak peduli, tapi Kakak memang sedang tidak ingin pergi ke mana pun. Kakak mohon, Ilona bisa mengerti, ya?" pinta Argha.
"Apa ini tentang Gintani lagi?" tanya Ilona.
"Jangan sebut nama dia lagi!" Argha membentak Ilona.
"Jika Kakak tidak ingin aku menyebutkan namanya lagi, Kakak harus bisa melupakannya. Sampai kapan Kakak akan terus terpuruk seperti ini? Ayolah Kakak, move on! Hidup itu hanya sekali, jadi jangan disia-siakan hanya untuk memikirkan wanita yang tidak pernah menghargai Kakak," ucap Ilona panjang lebar.
"Ilona, Kak Argha capek sekali. Kakak mau istirahat dulu. Selamat malam!"
🍀🍀🍀
Keesokan harinya, seperti biasa Gintani berlari ke kamar mandi begitu bangun tidur. Morning sickness pagi ini, dia rasakan begitu hebat. Mungkin karena pengaruh pikiran juga. Sepanjang malam, Gintani terus memikirkan tentang asal-usul surat gugatan cerai yang dia temukan dalam tas kerja milik kakeknya. Karena itu, jam tidurnya pun terganggu.
Setelah memuntahkan seluruh isi perutnya yang kosong, Gintani menyeka mulut. Dia kemudian membasuh mulut dan mukanya. Setelah merasa segar, Gintani pun segera keluar dari kamar mandi.
"Diminum tehnya, Neng!" Tiba-tiba Bik Susan datang menghampiri Gintani yang baru keluar dari kamar mandi.
"Apa ini, Bik?" tanya Gintani yang heran melihat Bik Susan menyodorkan secangkir teh.
__ADS_1
"Ini adalah teh jahe, Neng. Baik untuk ibu hamil. Bisa meredakan mual-mual, perut kembung dan juga membuat tubuh terasa hangat," jawab Bik Susan.
"Oh." Gintani menerima cangkir teh itu. Dia kemudian duduk di kursi, dan mereguk teh jahe yang diberikan Bik Susan. Rasa hangat pun mulai menjalari kerongkongan hingga ke perutnya.
"Neng, untuk tahlilan pak Wira, apa mau diadakan di rumah atau di mushola?" tanya Bik Susan.
"Di mushola saja, Bik. Biar banyak jamaahnya," jawab Gintani.
"Kalau begitu, Bibik suruh mang Rakib untuk menemui kyai Solihin," ucap Bik Susan hendak berlalu pergi.
"Eh sebentar, Bik!" Gintani mencegah Bik Susan yang hendak pergi menemui suaminya di ladang.
"Ada apa, Neng?" tanya Bik Susan.
"Ada yang mau Gintan tanyakan. Bibik duduklah, Gintan ke kamar dulu," ucap Gintani. Setelah itu Gintani pergi ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Gintani kembali ke ruang makan dengan membawa amplop coklat di tangannya. "Apa Bibik tahu kapan kurir atau pos mengantarkan berkas ini?" tanya Gintani.
Bik Susan mengerutkan keningnya. "Seingat Bibik, tidak ada kurir atau tukang pos yang datang kemari. Memangnya itu berkas apa, Neng?" tanya Bik Susan, heran.
"Ini surat gugatan cerai dari mas Argha," jawab Gintani.
"Loh, Neng dapat dari mana surat itu?" Bik Susan cukup terkejut mendengar jawaban Gintani. Dia pun kembali bertanya kepada Gintani tentang surat itu.
"Gintan menemukannya di dalam tas kerja kakek yang dia bawa kemarin sore," jawab Gintani.
"Astaghfirullah hal adzim! Apa mungkin ini alasannya kenapa pak Wira terkena serangan jantung?"
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya ya 🤗🙏