
Entah kenapa hari ini suasana hati Argha begitu buruk. Sepanjang hari dia hanya uring-uringan saja. Para karyawan kantor tak luput dari sasaran kemarahan Argha. Semenjak perceraiannya dengan Gintani, Argha berubah menjadi orang yang dingin dan sangat emosional
Di rumah pun, hubungan dia dengan ayahnya semakin memburuk. Jarak yang tercipta di antara mereka semakin melebar. Hanya kepada Nadhifa dan Ilona saja, Argha bisa bersikap lembut.
"Kakak, apa hari ini Kakak jadi mengantarkan aku ke tempat praktek dokter Rudiawan?" tanya Ilona yang sedang mengunjungi Argha di kantornya.
'Maafkan Kakak, sepertinya hari ini Kakak tidak bisa menemani kamu terapi," jawab Argha sambil membereskan berkas-berkas yang ada di hadapannya.
"Tapi, Kakak sudah berjanji akan mengantar aku." Ilona mulai merengut kesal. Ini ketiga kalinya Argha menolak untuk menemani.
"Ayolah Ilona, apa kamu tidak lihat jika aku...."
Argha menjeda kalimatnya. Entah kenapa, tiba-tiba perutnya bergejolak hebat. Argha segera pergi ke kamar mandi yang berada di ruang kerjanya.
Hooeekk.... Hoeekkk....
Tiba di kamar mandi Argha memuntahkan isi perutnya. Cukup lama Argha muntah-muntah hingga tubuhnya terasa lemas.
"Kak! Kak Argha! Apa Kakak baik-baik saja!" Ilona berteriak-teriak seraya mengetuk pintu kamar mandi.
Klek!
Pintu terbuka, Argha keluar dengan wajah yang terlihat pucat.
"Apa Kakak sakit?" tanya Ilona.
Argha hanya mengangkat dan menggerakkan tangan kanannya untuk menjawab pertanyaan Ilona. Tubuhnya benar-benar terasa lemas hingga tak sanggup untuk bicara.
"Ayo kita ke rumah sakit, Kakak!" ajak Ilona.
Argha menggeleng lemah. Tak lama berselang, Bram mengetuk pintu dan memasuki ruang kerja Argha.
"Permisi, Tuan Ini file kerja sama dengan perusahaan Sanjaya Group yang Tuan minta kemarin," ucap Bram sambil menyerahkan beberapa dokumen di atas meja kerja Argha.
Bram sangat terkejut begitu melihat wajah Argha yang terlihat pucat pasi.
"Maaf, Tuan ... apa Anda sakit?" tanya Bram.
"Aku tidak tahu, Bram. Tiba-tiba tubuhku terasa lemas," jawab Argha.
"Mau aku panggilkan dokter?" tanya Bram lagi.
Argha menggelengkan kepalanya, "Antarkan pulang saja," pinta Argha.
Bram mengangguk, dia kemudian membantu Argha bangun dan memapahnya keluar ruangan.
"Aku ikut!" teriak Ilona, menyusul mereka.
__ADS_1
Argha menghentikan langkahnya. "Kakak sudah menyuruh pak Munir untuk mengantarkan kamu ke tempat dokter Rudiawan. Pergilah!" ucap Argha dengan nada lirih.
"Tapi, kak!"
"Tolong jangan membantah, Nona. Tuan Argha sedang tidak enak badan, dan beliau butuh istirahat," jawab Bram penuh ketegasan.
"Saya calon istrinya, dan kamu tidak berhak mengatur saya!" Ilona mberikan peringatan kepada Bram.
"Status Anda baru sekedar calon istri, bukan istrinya. Jadi tolong jaga batasan Anda! Dan saya ingatkan sekali lagi kepada Anda. Saya adalah asisten pribadinya Tuan Argha. Jadi apa pun itu, saya berhak untuk memutuskan yang terbaik untuk atasan saya, apa Anda mengerti?!" ucap Bram penuh penekanan.
Selepas memberikan peringatan kepada Ilona, Bram membawa Argha pergi dan mengantarkannya pulang ke apartemen.
🍀🍀🍀
"Jadi gimana, Gin? Kapan acara 4 bulanannya dilaksanakan?" tanya Jessica melalui teleponnya.
"Nanti sore, Mbak. Oh iya, Mbak jangan lupa datang, ya. Ajak Umi juga sekalian," jawab Gintani.
"Pastinya dong. Eh, kalau aku pakai gamis yang kemarin aku beli, cocok nggak ya?" tanya Jessica lagi.
"Pasti cocok. Mbak, 'kan, mantan foto model. Pakaian apa pun akan terlihat pas di badan Mbak," jawab Gintani.
"Ah, kamu bisa saja. Ya sudah, aku tutup teleponnya, ya. Aku mau kasih tahu umi tentang acara 4 bulanan kamu," ucap Jessica.
"Baiklah, Mbak. Sampai ketemu nanti sore Assalamu'alaikum," ucap Gintani di seberang telepon.
"Wa'alaikunsalam."
Jessica mengetuk pintu.
"Masuk!" jawab Umi Kulsum dari dalam kamarnya.
"Assalamu'alaikum Umi, apa Jessi boleh masuk?" Jessica meminta izin kepada ibunya.
"Masuk saja, Nak!" jawab Umi Kulsum.
Jessica melangkahkan kakinya mendekati Umi Kulsum yang sedang melipat baju di atas kasurnya.
"Ada apa, Nak?" tanya Umi Kulsum begitu melihat Jessica duduk di hadapannya.
"Umi, Gintani mengundang kita untuk menghadiri acara 4 bulanan calon bayinya," ucap Jessica sambil membantu Umi Kulsum melipat baju.
"Benarkah? Kapan?" tanya Umi Kulsum terlihat senang.
"Sore ini Umi. Apa Umi bisa datang?" tanya Jessica lagi.
"Tentu saja, Umi pasti akan datang. Nanti, Umi minta izin abimu dulu, Nak. Kalau diizinkan, kita pasti akan berangkat untuk menghadiri acara 4 bulanannya Gintani," jawab Umi Kulsum.
__ADS_1
"Iya, Umi. Semoga abi mengizinkan, ya?" Jessica berharap.
"Insya Allah, abi kamu orang baik. Dia pasti mengizinkan kita pergi," jawab Umi Kulsum membelai rambut putrinya.
🍀🍀🍀
Sore harinya. Acara pengajian untuk tasyakur 4 bulan kehamilan Gintani pun digelar. Satu per satu tamu yang diundang untuk mengaji mulai berdatangan. Tak terkecuali dengan Jessica dan Umi Kulsum. Mereka sengaja datang lebih awal untuk membantu Gintani dan Bik Susan dalam mempersiapkan acara ini.
Setelah ibu ustadzah datang, acara pun dimulai. Ibu Aisyah selaku pembawa acara, membuka acara ini dengan singkat, padat, dan jelas. Beliau memimpin tahlilan untuk mengawali acara 4 bulanan kehamilan Gintani. Setelah bacaan tahlil selesai, acara dilanjutkan dengan pengajian khatam Qur'an yang dipimpin oleh ibu ustadzah. 30 orang perempuan melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran sebanyak satu juz. Setelah pengajian selesai, acara dilanjutkan dengan tausyiah.
Acara 4 bulanan itu berjalan dengan sangat lancar dan penuh khidmat. Tanpa sadar, bulir air mata menggenang di kedua sudut mata Gintani. Dia terbayang akan almarhum kakeknya.
Seandainya kakek berada di sini, acara ini pasti akan lebih istimewa, batin Gintani.
Sesaat Gintani mengingat calon anaknya yang harus menjalani tradisi ini tanpa sang ayah. Gintani mengelus perutnya yang mulai sedikit terlihat gendut. Jangan khawatir Dek, kita pasti baik-baik saja, meskipun hidup berdua.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di waktu yang sama tapi di tempat yang berbeda. Laki-laki itu terus memuntahkan cairan bening yang semakin terasa pahit. Karena sudah tidak sanggup lagi, dia akhirnya menelepon sang asisten.
"Antarkan saya ke rumah sakit!" perintah Argha.
Tak lama berselang, Bram tiba di apartemen Argha. Tak ingin membuang waktu, dia segera memapah Argha keluar dan membawanya pergi ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Vram langsung menuju ruang pemeriksaan karena sebelumnya telah membuat janji.
"Selamat sore Tuan Argha, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter paruh baya itu.
"Begini Dok, entah kenapa akhir-akhir ini badan saya teras lemas," jawab Argha.
"Bisa lebih diperjelas keluhannya, Tuan?" tanya dokter itu lagi.
"Seminggu ke belakang ini, kepala saya rasanya pusing sekali. Badan terasa lemas. Perut saya mual, terasa diaduk-aduk. Bahkan setiap pagi dan sore hari, saya sering muntah-muntah. Namun, yang keluar hanya berupa cairan saja. Selera makan saya pun berkurang, Dok. Rasanya perut saya langsung mual jika mencium aroma masakan yang terlalu menyengat," ucap argha menyebutkan gejala-gejala yang terjadi padanya akhir-akhir ini.
"Silakan Anda berbaring Tuan, biar saya periksa dulu," ucap dokter itu sambil tersenyum.
Argha berbaring di atas ranjang pemeriksaan. Setelah diperiksa cukup lama, Argha dipersilakan duduk kembali.
"Apa istri Anda sedang mengandung?"
Argha dan Bram saling pandang.
"Maksud dokter?" tanya Bram penasaran.
"Begini Tuan. Melihat dari gejala yang disebutkan tadi, saya menduga jika tuan argha mengalami sindrom couvade."
"Sindrom couvade?!"
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya 🤗🙏