
Semua orang tampak terkejut dengan pengakuan Argha. Terlebih lagi tuan Jaya. Dia tidak menyangka jika dia memiliki cucu seusia anak itu, tapi dari siapa? Bukankah pernikahan Argha dan Gintani hanya berumur dua tahun kurang? Tapi kenapa Argha bisa memiliki anak yang sudah sebesar itu? Apa anak itu merupakan anak Argha di luar nikah? Tapi dari siapa? Siapa ibu dari anak itu yang sudah menjadi kekasih gelap Argha? Atau, apakah anak itu hasil dari hubungan gelap Argha dengan wanita malam? Berbagai pertanyaan timbul dalam benak tuan Jaya.
"Aargh!" tuan Jaya memegang dadanya yang mulai terasa sakit.
"Papa!" teriak nyonya Rosma.
Argha dan Bram mendekati tuan Jaya. Mereka segera memapah tuan Jaya untuk kembali duduk di meja VVIP.
"Argha antar ke rumah sakit ya, Pa?" ucap Argha.
Tuan Jaya menepiskan tangan Argha dari pahanya. "Bram, antar Papa ke kamar!" ucap tuan Jaya pada menantunya. "Dan kamu Argha, kamu masih punya hutang satu penjelasan pada Papa. Ayo Bram!"
Bram mengangguk, dia segera memapah ayah mertuanya menuju kamar hotel.
.
.
.
Argha terduduk lemas di meja VVIP. Dia tahu, kali ini dia telah membuat kesalahan yang sangat fatal. Demi kebahagiaan adiknya dia membuat pengakuan yang akan melunturkan kepercayaan sang ayah kepadanya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Argha tidak mungkin mengatakan kalau anak itu adalah anaknya Bram. Bagaimana nasib adiknya nanti? Dia mungkin akan merasa sakit hati. Dan yang akan lebih menyakitkan lagi, Argha takut jika Nadhifa akan mengalami depresi karena harus menerima rasa malu di hari bahagianya. Tidak ... aku tidak bisa mempertaruhkan kebahagiaan Nadhifa, batin Argha.
Argha menghela napasnya. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Kedua tangannya dia lipat ke belakang dan dia jadikan bantal untuk kepalanya. Pikiran Argha sangat kacau, kepalanya terasa berat. Argha pun hanya mampu memejamkan mata untuk menghilangkan semua kepenatannya.
Apa yang tadi Alex katakan? Dia akan merebut Gintani dariku? Apa dia tidak tahu jika aku dan Gintani telah berpisah? Ya Tuhan ... jangan sampai Alex menemukan Gintani. Aku tidak mau seseorang merebut apa yang pernah menjadi milikku, batin Argha. Tanpa sadar, air mata menetes dari kedua sudut mata Argha.
__ADS_1
Miki menatap sinis ke arah Argha. Senyum menyeringai terukir sempurna di kedua sudut bibirnya. Miki memang tidak mengerti arti kericuhan yang baru saja dia saksikan. Namun, satu yang pasti, Miki sangat bahagia melihat apa yang terjadi pada Argha, orang yang dia anggap sebagai ayahnya.
Sepertinya Anda tidak pernah mengerti bahasa halus Tuan. Saya sudah memberikan Anda kesempatan untuk mengakui saya secara baik-baik. Namun, rupanya Anda harus diberi penekanan agar mau berkata jujur. Ah, Ayah ... seandainya kamu bisa sedikit lebih terbuka, tentu aku tidak akan mempermalukan kamu seperti ini, batin Miki.
Bocah kecil itu segera melompat dari kursinya. Dia keluar ballroom dan segera memesan taksi online. Tak lama kemudian, dia menaiki sebuah taksi online, dan pergi meninggalkan pesta yang mulai semakin kacau.
🍀🍀🍀
Alex melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Berkali-kali dia memukul kemudi dan mengumpat Argha. Alex benar-benar tidak menyangka dengan apa yang telah Argha akui di ballroom hotel tadi. Dia telah memiliki anak yang berusia sekitar kelas satu SD. Itu artinya, Argha telah berhubungan dengan wanita itu jauh sebelum Argha mengenal Gintani.
Lalu, siapa ibu dari anak tersebut? Setahu Alex, Argha hanya berhubungan dengan dua orang wanita, sebelum dia menikahi Gintani. Yang pertama Jessica dan yang kedua Ilona. Siapa di antara keduanya yang pernah memiliki hubungan serius dengan Argha hingga sejauh itu? pikir Alex.
"Ya Tuhan, Tan ... kenapa takdirmu selalu buruk. Pertama, kamu dinodai laki-laki itu. Setelah dicampakkan, tiba-tiba kamu dinikahinya. Abang pikir, semuanya telah berakhir dan kamu hidup bahagia bersama Argha. Tapi nyatanya ... Hidupmu semakin menderita karena ulah laki-laki sombong itu. Maafkan Abang, Tan. Secara tidak langsung, Abang memiliki andil yang cukup besar dalam pertemuan kamu dengan orang brengsek itu," gumam Alex penuh penyesalan.
Mulai detik ini, abang tidak akan mengalah lagi, Tan. Abang tidak akan pernah membiarkan Argha mengusik hidupmu lagi. Abang berjanji, Abang akan selalu menjaga kalian. Mulai sekarang, kebahagian kamu adalah tanggung jawab Abang, batin Alex.
🍀🍀🍀
Beberapa hari berlalu. Merasa sudah baikan, tuan Jaya memanggil Argha ke rumahnya untuk meminta penjelasan.
"Apa kamu sadar dengan apa yang telah kamu lakukan, Ar?" tanya tuan Jaya menatap dingin putra sulungnya.
Argha hanya bisa diam menanggapi perkataan tuan Jaya.
"Jawab Argha! Apa kamu tidak punya mulut, hah?" teriak tuan Jaya, merasa geram dengan kebisuan Argha.
__ADS_1
"Papa sudah melihat kenyataannya, 'kan? Lalu, apalagi yang bisa Argha jawab? Bukankah Papa sangat menginginkan seorang cucu? Seharusnya, sekarang Papa bahagia karena keinginan Papa sudah terwujud," ucap Argha tak kalah dinginnya.
Tuan Jaya menghela napasnya. "Tapi tidak seperti ini caranya, Ar. Entah berapa kali lagi kamu akan mempermalukan Papa, Ar? Papa ini sudah tua. Papa sudah tak sanggup menerima kejutan demi kejutan dari kamu, Ar. Katakan yang sejujurnya, siapa anak itu? Dan kenapa kamu membawa dia tanpa izin Papa?" tanya tuan Argha.
Maafkan Argha, Pa. Argha tidak mungkin mengatakan kebenaran ini kepada Papa. Argha tidak mau menghancurkan perasaan Nadhifa dan juga kepercayaan Papa terhadap Bram. Biarlah Argha yang berkorban. Karena, hidup Argha pun sudah tidak berarti lagi tanpa Gintani.
"Jawab Papa, Ar!"
Teriakan tuan Jaya membuyarkan lamunan Argha.
"Seperti yang sudah Argha bilang, itulah kenyataan yang sebenarnya. Argha minta maaf jika kenyataan ini membuat Papa kecewa. Tapi Papa tidak bisa mengingkarinya. Maafkan Argha, Pa. Permisi!"
Tuan Jaya benar-benar tidak percaya mendengar jawaban Argha.
"Tunggu! Siapa ibu dari anak itu? Apakah dia Ilona?" tanya tuan Jaya.
Argha diam.
"Jadi benar dia Ilona? Pantas saja bertahun-tahun dia menghilang tanpa kabar, rupanya itu karena perbuatan bejatmu, Argha. Ya Tuhan, Papa tidak menyangka kamu bisa serendah itu memperlakukan wanita. Dan Gintani? Dia akhirnya menjadi korban kebejatan kamu. Menantu Oapa yang malang ...."
Terserah Papa, mau menganggap Argha seperti apa. Namun, yang jelas, cinta Argha pada Gintani itu tulus. Meski Argha akui, Argha sering mengecewakan Gintani. Tapi sampai kapan pun, tidak akan ada orang yang bisa menggantikan posisi Gintani di hati Argha. batin Argha.
Tak ingin berdebat lagi, Argha pun pergi meninggalkan tuan Jaya di ruang kerjanya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗