
"Ada apa, Gin? Kenapa suara kamu terdengar cemas?" tanya Heru di ujung telepon.
"Gintan mencemaskan Putri, Mas," jawab Gintani
"Kali ini, apalagi yang gadis pintar itu lakukan?" gurau Heru.
"Mas, Gintan tidak sedang bercanda. Ini serius, Mas!" ucap Gintani dengan nada yang sedikit kesal.
"Iya, baiklah. Coba ceritakan pelan-pelan, apa yang terjadi pada Putri?" tanya Heru
"Tadi Putri merajuk. Dia bertanya kenapa kamu tidak pernah tidur di sini," jawab Gintani.
"Bhuahahaha...." Heru malah tertawa mendengar ucapan Gintani.
"Mas!" Tegur gintani.
"Iya-iya, maafkan Mas, Gin. Ayo, ceritakanlah!" perintah Heru.
Gintani pun mulai menceritakan sama persis dengan apa yang telah dia dengar dari Putri. Tanpa dikurangi ataupun dilebih-lebihkan. Heru pun mendengarkannya dengan seksama. Asyik bercerita, Gintani lupa dengan tujuannya yang ingin mengejar Putri.
Sementara itu, Putri terus berlari hingga dia tiba di sebuah taman tempat dia bermain skateboard. Untuk melepaskan kekesalannya, Putri mulai bermain skateboard bersama anak laki-laki yang memang tengah bermain di sana.
"Hai Put, ayo main!" ajak Dino, teman bermain skateboard Putri yang usianya tiga tahun lebih tua dari usia Putri.
Putri mengangguk. Dia pun mulai berselancar di atas skateboard miliknya. Berkumpul bersama teman-temannya membuat Putri lupa akan permasalahan yang sedang dia alami. Gelak canda tawa pun mengiringi permainan mereka. Putri merasa senang berada di tengah-tengah mereka yang selalu mendukung hobi putri. Bahkan ada seorang kakak-kakak SMA yang mau mengajari Putri beberapa teknik permainan skateboard.
"Jangan kencang-kencang dulu ya, Dek! Yang penting, kamu harus mengenali medan yang akan kamu lalui," teriak kakak itu.
"Oke," jawab Putri yang tengah bersiap di ujung skatepark.
Rupanya apa yang anak-anak itu lakukan tak luput dari pandangan seseorang yang hendak memarkirkan mobilnya di parkiran taman. Orang itu adalah Argha yang tengah di suruh neneknya untuk berbelanja di sebuah minimarket dekat taman.
Argha terkejut mendengar suara yang dikenalinya. Dia mendongak melihat ke tempat bermain skateboard. Tampak seorang gadis kecil tengah berdiri di tepi skatepark.
"Ya Tuhan, Putri!" pekik Argha
Argha segera melompati pembatas taman dan menyambar salah satu skateboard yang sedang dipegang seorang anak laki-laki. Dia kemudian mulai menggunakan skateboard itu. Jika Argha tidak salah perhitungan, putri akan berada di bawah dalam hitungan ke-10 detik. Dia masih kecil dan dia belum mampu menguasai keseimbangan untuk medan seperti ini, Argha masih harus bisa tiba di tepi skatepark satunya lagi sebelum putri meluncur, dan ... hup!
Berhasil, gadis kecil pemberani itu pun berhasil dia tangkap sebelum jatuh mencium tanah.
"Kamu ini apa-apaan, Putri? Apa kamu tidak sadar jika sudah membahayakan nyawa kamu sendiri? Kamu itu belum cukup umur untuk melakukan permainan di medan seperti ini," bentak Argha.
"Wow... Om...! Om hebat sekali!"
Bukannya bersedih, gadis kecil itu malah memuji aksi Argha. Tak lama kemudian, riuh tepuk tangan pun terdengar memenuhi taman itu. Mereka semua memuji kelincahan Argha dalam memainkan skateboard.
Argha yang awalnya marah, hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat tingkat bocah-bocah itu.
"Sedang apa Om di sini?" tanya Putri.
__ADS_1
"Om mau ke minimarket di sana. Ada sesuatu yang harus Om beli," jawab Argha sambil menunjuk minimarket yang berada di sebelah taman. "Kamu sendiri, sedang apa kamu di sini? Argha balik bertanya kepada Putri.
"Putri marah sama mama, karena itu Putri main ke taman ini," jawab Putri mengerucutkan bibirnya.
Melihat Putri mengerucutkan bibirnya seperti itu, mengingatkan Argha pada sosok Gintani. Argha pun tersenyum tipis mengenangnya.
"Ya sudah, daripada kamu melampiaskan kemarahan kamu dengan membahayakan diri kamu sendiri, lebih baik kamu ikut Om belanja yuk! Apa kamu tidak ingin membeli es krim?" tanya Argha.
"Mau-mau...!" teriak Putri melompat-lompat Kegirangan.
Argha menyerahkan kembali skateboard yang tadi ia pinjam. Setelah itu menggandeng tangan Putri menuju minimarket.
"Ayo, beli apa saja yang Putri mau!" perintah Argha kepada Putri.
"Waah, terima kasih, Om," ucap Putri. Sejurus kemudian, dia pun mulai berburu makanan yang dia suka.
Karena keasyikan membeli barang-barang, tanpa terasa tiba saatnya waktu asar. Argha segera menyudahi belanjanya. Dia kemudian mengajak Putri untuk pergi ke kasir. Setelah semua belanjaannya dihitung, Argha mengajak putri untuk makan es krim.
"Coklat strawberry satu, Pak!" ucap Argha dan Putri berbarengan.
Argha menatap Putri. "Kamu suka es krim coklat strawberry juga?" tanya Argha.
"Om juga?" Putri balik bertanya.
Argha mengangguk.
Argha hanya tersenyum melihat Putri. Meski hatinya sedikit terkejut karena Putri memiliki gaya tertawa yang elegan seperti Gintani.
"Apa setelah ini, Putri boleh ikut ke rumah Om?" tanya Putri.
Argha menatap Putri. "Apa ibumu tidak akan marah?" Argha balik bertanya.
"Tidak, mama tidak akan marah asalkan Putri sudah harus pulang sebelum jam lima sore," jawab Putri.
"Baiklah, boleh saja."
Mereka pun kembali menikmati es krimnya.
🍀🍀🍀
"Tolong Miki, jangan berulah lagi. Tante sedang hamil. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana lelahnya Tante harus bolak-balik ke sekolah kamu?" tegur Nadhifa sesaat setelah menghadiri undangan guru konseling Miki di sekolahnya.
"Aku tidak meminta kamu untuk datang," jawab Miki dengan dinginnya.
Miki terlibat perkelahian di sekolahnya, karena itu pihak sekolah memanggil walinya untuk menyelesaikan pertikaian dia dengan kawannya. Awalnya, pihak sekolah ingin mengeluarkan Miki. Tapi karena Miki sudah duduk di kelas 6 dan akan menjalani ujian beberapa bulan lagi, akhirnya pihak sekolah memilih mempertahankan Miki tentunya dengan sebuah surat perjanjian jika Miki akan bersikap baik.
"Kamu memang tidak menyuruh Tante datang, tapi kelakuanmu yang menaksa Tante datang," gerutu Nadhifa.
"Jika kamu tidak mau datang, ya tidak usah datang." Miki menjawab tak kalah sewotnya.
__ADS_1
Nadhifa mendengus kesal. "Dengar miki, selama papa kamu pergi, kamu adalah tanggung jawab Tante dan om Bram. Jadi, bersikaplah sedikit sopan kepada kami," pinta Nadhifa.
Miki hanya mengibaskan tangannya menanggapi ucapan Nadhifa. Setelah itu, dia pergi ke kamar dan mengurung diri di sana.
🍀🍀🍀
Gintani terlihat cemas menunggu Heru di rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Tapi Putri belum juga pulang. Gintani dan Mina sudah mencarinya di sekitar rumah tapi tak menemukan keberadaan Putri. Gintani juga sudah mencarinya ke rumah Eca, tapi tetap Putri tidak ditemukan.
"Bagaimana, Gin?" tanya Heru yang baru saja datang.
"Belum ketemu, Mas," jawab Gintani semakin cemas.
"Biasanya Putri main ke mana, Min?" tanya Heru.
"Dia suka main ke bukit sama ke taman depan, Tuan. Saya sudah mencarinya, tapi non Putri tidak ada di sana," jawab Mina.
"Ya sudah, kita cari sekali lagi, ayo, Gin!" ajak Heru.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di rumah Argha, gadis kecil itu baru saja bangun dari tidurnya.
"Sudah bangun, Nak?" tanya nin Ifah begitu melihat Putri keluar dari kamar Argha.
"Sudah, Nek," jawab Putri.
"Ya sudah, ayo makan dulu!" ajak nin Ifah.
"Tidak, terima kasih Nek. Putri harus pulang, ini sudah malam, Mama pasti mencemaskan Putri," jawab Putri.
"Nenek mengerti, tapi tadi kamu datang dalam keadaan tidur. Ayo, makanlah sedikit saja," bujuk nin Ifah yang begitu senang dengan kehadiran Putri di rumahnya.
Akhirnya Putri mengalah, dia pun menerima suapan dari tangan yang sudah keriput itu.
"Oh iya, siapa nama kamu, Nak?" tanya nin Ifah.
"Putri. Adina Putri Disastra," jawab Putri, lugas.
Argha yang baru saja keluar dari kamar mandi, tertegun mendengar Putri menyebutkan nama lengkapnya. Bahkan kamu menyematkan nama kita kepada anakmu, Na. Apa kamu masih mengingat aku? batin Argha.
"Eh, Om ... bisa antar Putri pulang?" tanya Putri begitu melihat Argha berdiri di belakang nin Ifah.
"Oke. Sebentar ya, Om ganti baju dulu," kata Argha.
Putri pun mengangguk. Setelah beberapa menit berlalu, Argha kembali dan dia pun mengantarkan Putri pulang.
Bersambung
Jangan lupa, like, vote n komennya yaa 🤗 🙏
__ADS_1