
Bram sangat terkejut mendengar perintah dari sang bos. Argha langsung menutup telepon tanpa memberikan kesempatan kepada Bram untuk menolak. Hmm, jangankan menolak, bernegosiasi pun tidak bisa. Akhirnya, selepas solat subuh, Bram melajukan kendaraannya menuju alamat yang telah diberikan oleh Argha.
Lokasi hotel ternyata cukup sulit untuk ditemukan. Akses jalanan pun terlihat sangat tidak layak untuk sebuah penginapan. "Ish, kenapa si Argha memilih tempat seperti ini untuk menginap. Sudah bangkrutkah CEO arrogant itu, sampai harus mencari penginapan yang begitu terpencil seperti ini hanya untuk menenangkan diri?" gerutu Bram sangat kesal.
Kekacauan akses jalan yang harus dia tempuh menyebabkan keterlambatannya tiba di hotel tersebut. Tiba di tempat, Bram melihat bosnya tengah berkacak pinggang di depan lobi hotel. Namun, yang membuat dia sangat terkejut, adalah keberadaan Ilona yang sedang berdiri di samping Argha. Ish, sedang apa Argha bersama Ilona di tempat seperti ini? batin Bram.
Bram buru-buru memarkirkan mobilnya. Dia kemudian turun dan menghampiri Argha.
"Sorry telat, Bos. Jalanan rusak, jadi saya harus pelan-pelan menjalankan kendaraannya," ucap Bram begitu berhadapan dengan Argha.
Argha terlihat masa bodoh dan tidak mau menanggapi ucapan sang asisten.
"Mana kunci mobilnya?" tanya Argha sambil menadahkan tangan kanannya.
"Ish, mau apa, Bos?" Bram malah balik bertanya
Keningnya sedikit berkerut karena merasa heran dengan sikap Argha.
"Nggak usah sok kepo, deh! Mana kuncinya?" pinta Argha.
Bram menyerahkan kunci mobil yang sedang dipegangnya.
"Kamu antarkan Ilona pulang!" Perintah Argha kepada asistennya.
"Tapi Bos!" protes Bram.
"Jalanan masih terlihat sepi, setidaknya kasihanilah dia," jawab Argha.
"Tapi Kakak ... kenapa bukan Kakak saja yang mengantarkan aku pulang? Aku maunya pulang bareng Kakak," rengek Ilona, sambil memegang pergelangan tangan Argha.
"Kakak capek! Kakak mau istirahat. Nanti Kakak hubungi kamu lagi." Argha menjawab sambil menurunkan tangan Ilona dari pergelangan tangannya. Setelah itu, Argha berlalu pergi menuju tempat parkir.
Ilona hanya bisa mendengus kesal melihat sikap Argha yang seenaknya saja. Dari dulu, Argha memang seperti itu. Dia selalu memberikan perintah tanpa persetujuan orang lain. Namun, Ilona tidak mampu berbuat apa-apa. Seorang Argha, tetaplah argha. Lelaki yang tidak suka ditekan dan diperintah.
__ADS_1
Sedangkan Bram, dia hanya menatap sinis kepada Ilona. Ada perasaan tidak suka saat Ilona kembali mendekati Argha. Bram yakin jika Ilona memiliki maksud tertentu terhadap Argha.
"Ayo, saya antar!" ucapap Bram kepada Ilona. Raut wajahnya terlihat datar begitu bosnya telah pergi.
Meski merasa kesal, tetapi Ilona tidak bisa menolak tawaran Bram. Diantar pulang oleh Bram, itu jauh lebih baik daripada pulang sendiri. Terlebih lagi, Ilona mulai merasakan sakit lagi di area bawah perutnya. Tanpa banyak bicara, Ilona pun segera memberikan kunci mobilnya kepada Bram.
Tak ingin membuang waktu, Bram menekan remote control mobil Ilona.
Klik!
Bunyi kunci yang terbuka disertai nyala lampu, membuat Bram langsung mengenali mobil Ilona. Bram pun menghampiri mobil itu dan menaikinya. Sejurus kemudian dia menjalankan mobil tersebut dan berhenti tepat di depan lobi tempat Ilona menunggu. Ilona segera membuka pintu depan mobil dan memasukinya. Keheningan terjadi untuk beberapa waktu. Hingga....
"Terima kasih," ucap Ilona memecah keheningan.
"Untuk?" tanya Bram yang masih terus fokus menatap jalanan ibu kota.
"Karena telah mengantarkan aku pulang," jawab Ilona.
"Sudah kewajiban saya untuk mematuhi perintah atasan," jawab Bram.
"Itu bukan urusan saya," jawab Bram, singkat.
"Ayolah, Kak Bram ... tidak usah sewot seperti itu. Aku tahu kamu masih menyimpan rasa untukku. Jika kamu mau, kita bisa berhenti sejenak untuk merasakan satu sama lain," ucap Ilona sambil mengelus-elus paha milik Bram.
Ciiittt!
Seketika Bram menginjak rem.
"Hentikan kegilaan kamu, Ilona!" tukas Bram meraih dan menepiskam tangan Ilona dari pangkal pahanya. Perlahan Bram menepikan mobil Ilona. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah pukul 6 lebih, saya pikir jalanan sudah cukup ramai sekarang. Silakan kamu kemudikan mobilmu sendiri. Satu lagi, jika kamu menganggap saya masih mencintai kamu, hmm ... kamu salah besar Ilona. Hubungan saya dan Nadhifa sangat serius, jadi bagi saya, kamu sudah tidak berarti apa pun lagi, ingat itu!" tegas Bram.
Setelah cukup puas mengatakan apa yang hendak dikatakannya sedari dulu, Bram membuka pintu mobil dan meninggalkan Ilona begitu saja. Baginya, menaiki kendaraan umum jauh lebih baik daripada harus satu kendaraan bersama wanita munafik seperti Ilona.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Setelah selesai sarapan, Jessica dan Gintani berpamitan kepada Bik Sumi. Hari ini mereka hendak pulang ke kota Tasikmalaya. Namun, sebelumnya mereka akan mengunjungi makam Richard terlebih dahulu.
Jessica singgah di sebuah toko bunga. Dia kemudian membeli seikat bunga mawar putih. Setelah membayarnya, Jessica kembali lagi mengemudikan mobilnya.
"Apa yang kamu beli, Mbak? tanya Gintani kepada Jessica.
"Seikat mawar putih untuk Richard," jawab Jessica seraya memperlihatkan bunga itu.
"Hmm, sepertinya Mbak sangat mengenal baik almarhum dokter Richard, ya?" tanya Gintani.
"Hehehe, mungkin karena satu turunan juga, jadi kesukaan kami pun sama. Aku baru tahu hal itu waktu bertemu dia di TPU yang sama. Saat itu aku sedang mengantar abi Hasan dan umi mengunjungi makam ayah dan ibu angkatku. Tanpa sengaja kami bertemu dengan Richard. Saat itu dia sedang mengunjungi makam ibunya," jawab Jessica.
Gintani tersenyum. "Makam kak Richard juga berdampingan dengan makan ibunya, Mbak," tutur Gintani.
"Benarkah?" tanya Jessica.
Gintani mengangguk. "Oh, iya. Apa Mbak sudah memberi tahu umi Kulsum jika kak Richard sudah meninggal?" Gintani bertanya saat teringat akan umi Kulsum yg tak lain adalah tantenya dokter Richard.
"Belum, Gin. Aku takut umi shock. Mungkin aku akan memberitahukan umi, nanti setelah aku tiba di rumah," sahut Jessica.
"Hmm, Mbak benar. Umi pasti akan sangat terkejut mendengar kabar kematian kak Richard," jawab Gintani.
Satu jam kemudian, mereka tiba di tempat pemakaman umum. Setelah meminta izin kepada penjaga TPU, mereka pun memasuki pemakaman itu untuk berziarah.
"Hai, Richi ... apa kabar?" sapa Jessica begitu tiba di depan makam dokter Richard. Jessica berjongkok, sejurus kemudian dia meletakkan mawar-mawar putih yang dibawanya di atas makam dokter Richard.
Gintani ikut berjongkok di tepi satunya lagi. Mereka kemudian mulai membacakan surat yasin. setelah selesai, mereka pun berdo'a semoga segala kebaikan almarhum diterima di sisi Tuhan, dan semua kesalahannya diampuni Tuhan.
Berhubung Jessica berada di tempat itu, dia tak lupa singgah di makam ayah dan ibu angkatnya. Puas melepaskan rindu, Jessica dan Gintani pun melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa, like, vote n komennya yaa 🤗🙏