
Argha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Gintani. Dia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang ramping Gintani. Mereka pun berjalan beriringan memasuki ballroom hotel. Argha membawa Gintani ke meja VVIP. Di sana telah duduk beberapa kolega bisnisnya yang tengah menantikan kehadiran pasangan pengantin baru itu.
"Aah ... ini dia pasangan yang tengah berbahagia. Selamat ya, Pak Argha!" ujar Ajay, seorang pengusaha properti dari kota Bekasi.
"Ah, terima kasih Pak Ajay! Ngomong-ngomong, anda tidak membawa istri anda?" tanya Argha kepada rekan bisnisnya.
"Kebetulan istri saya sedang hamil muda, Pak! Jadi dia tidak bisa datang," jawab Ajay.
"Benarkah? Wah, selamat ya Jay!" ucap Bagas seraya mengulurkan tangannya.
Ajay menjabat tangan sahabatnya. "Thank's, Bro!"
"Oh, jadi ini nyonya Argha, yang telah berhasil meluluhkan pria arrogant itu!" gurau Ajay.
Gintani tersenyum mendengar gurauan rekan kerja suaminya.
"Perkenalkan, ini istri saya. Namanya Gintani."
"Assalamu'alaikum!" ucap Gintani seraya mengatupkan kedua tangannya.
Ajay hendak mengulurkan tangannya, namun Kyara menepuk tangan Ajay. "Huss, kamu nggak lihat cara bersalaman dia seperti apa? Bukan muhrim!" tegur Kyara.
"Ah kakak ipar, aku kan hanya ingin bersalaman dengan adik ipar," rengek Ajay.
Bagas memelototi Ajay, seketika nyali Ajay ciut melihat tatapan tajam dari sahabat yang sudah dianggapnya kakak. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
"Maaf, Bu! Sepertinya, Baby El haus," ujar Bik Lilis.
"Ah, anak Bunda, haus ya, Nak? Mau mimi sayang?" ucap Kyara seraya meraih bayi berpipi chubby dari wanita itu.
"Maaf, Gin! Apa ada ruangan khusus?" tanya Kyara.
Gintani mengangguk, "Mari ikut saya, Mbak!" Ajaknya.
"Kang, aku ikut Gintani dulu, ya!" izin Kyara kepada suaminya.
__ADS_1
Bagas mengangguk. "Mimi yang banyak ya El, ntar malam giliran Abap," ucap Bagas seraya mencubit gemas pipi anaknya.
"Huss...! Jangan mesum, ntar ada yang hareudang!" gurau Kyara menatap Gintani.
Gintani hanya menundukkan kepalanya mendengar omongan tak senonoh dari teman-teman suaminya. Pipinya sudah seperti kepiting rebus saja. Secepatnya Gintani mengajak Kyara untuk segera pergi.
Obrolan para lelaki pun masih terus berlanjut. Bahkan kini, ketiga sahabat Argha ikut bergabung dengan mereka.
Satu jam kemudian.
Argha tersenyum tipis saat melihat istrinya tengah menggendong Baby El. Anak itu terlihat nyaman dalam pangkuan Gintani. Aura keibuan Gintani terpancar begitu indah dari wajahnya. Senyum merekah, dari bibir tipisnya saat mendengar Baby El berceloteh.
"Kenapa? Mau?" tanya Bagas menyenggol lengan Argha.
"Eh, pak Bagas! Bikin kaget saja!" ucap Argha, terkejut dengan ulah rekan kerjanya.
"Gempur aja semalaman, Pak! Siapa tahu tokcer!" timpal Ajay.
Semua orang terbahak mendengar omongan Ajay yang memang selalu asal bunyi.
Bagas mendongakkan kepalanya. Dia menatap Baby El yang matanya memang terlihat sayu meskipun sedang berceloteh dalam pangkuan Gintani.
"Ya sudah, ayo!" jawab Bagas. "Mohon maaf Pak Argha, kami permisi dulu! Sepertinya anak saya sudah sangat kelelahan," ujar Argha.
"Baiklah, Pak!" jawab Argha.
Mereka pun bersalaman, mengakhiri pertemuannya.
🍀🍀🍀
Waktu terus berlalu. Terlihat Gintani berkali-kali menguap karena kantuk menyerangnya.
"Beristirahatlah !" perintah Argha.
"Tapi, acaranya belum selesai," jawab Gintani.
__ADS_1
"Ini hanya jamuan antar kolega saja. Istirahatlah!" lanjut Argha.
Gintani mengangguk. Setelah berpamitan, dia pun pergi ke kamar hotel yang telah disiapkan untuknya.
Tiba di kamarnya, Gintani segera melepaskan pakaiannya yang terasa berat. Waktu telah menunjukkan pukul 23.15. Meskipun sudah sangat malam, namun badan Gintani terasa lengket. Dia pun mulai melakukan ritual mandinya. Sedikit berendam dengan air hangat membuat tubuh Gintani terasa rileks dan menyegarkan.
Dua puluh menit berada di kamar mandi, Gintani segera menyudahi ritualnya. Dia membersihkan busa sabun yang berada di tubuhnya dengan air hangat. Aroma lavender, menyeruak di penciumannya. Gintani memejamkan matanya, merasai ketenangan yang mulai menjalari hatinya.
Puas memanjakan dirinya dalam guyuran air hangat, Gintani segera meraih bathrobenya. Beberapa menit kemudian, dia mulai mengeluarkan isi kopernya untuk menata pakaian tersebut di dalam lemari. Suaminya bilang, mereka akan menginap di sini selama beberapa hari. Sebenarnya, ini adalah kamar yang sama di mana Gintani pernah kehilangan kesuciannya. Namun karena seluruh interior telah diubahnya, Gintani pun tak menyadarinya.
Gintani terkejut saat mendapati pakaian tidurnya telah berubah. Modelnya memang sama. Sedari gadis, Gintani lebih senang mengenakan kimono tidur daripada piyama. Menurutnya, baju yang berbahan silk itu sangatlah nyaman di kenakan di malam hari. Berbeda dengan piyama yang kebanyakan berbahan katun dan kaos. Namun kimono tidurnya yang dia temukan di dalam kopernya, bukanlah kimono tidur yang selalu dipakainya. Kali ini, ukurannya sangat pendek dan bahannya juga terlihat tipis, meskipun terasa sangat lembut di tangannya. Ya Tuhan, ini pasti kerjaan Nadhifa," dengus Gintani, kesal.
Gintani mengobrak-abrik kopernya. Berharap ada satu saja kimono tidurnya yang selalu dia pakai. Namun hasilnya, nihil. Gintani menyerah, dia pun mulai menata pakaiannya di dalam lemari. Dan untuk baju tidurnya, mau tidak mau, Gintani pun mengenakan baju kimono itu. Pilihannya jatuh pada warna maroon.
Setelah semuanya selesai. Gintani segera membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Dia meraih selimut dan mulai membalut tubuhnya menggunakan selimut tebal itu. Tak lama kemudian, Gintani mulai terlelap dalam mimpi indahnya.
🍀🍀🍀
Pukul satu dini hari, Argha tiba di kamarnya. Ruangan yang gelap, memaksa Argha mengendap-endap memasuki kamar mandi. Untuk beberapa menit, Argha membersihkan tubuhnya. Argha segera mengenakan pakaian tidurnya yang telah disiapkan Gintani di atas kasur. Setelah itu, dia meraih remote untuk menyalakan lampu. Niatnya, sebelum tidur, Argha hendak mengecek beberapa email yang masuk di ponselnya.
Klik.....
Lampu menyala. Argha sedikit mengernyit kan keningnya melihat Gintani yang terlelap dalam balutan selimut tebal. AC-nya tidak terlalu dingin, tapi kenapa dia mengenakan selimut hingga ke lehernya? gumam Argha dalam hati.
Peluh tampak bercucuran di pelipis Gintani. Argha segera mendekati istrinya. Dia meraih tisue di atas nakas dan mulai mengusap peluh itu. Argha menyibakkan selimut yang membalut tubuh istrinya. Pikirnya, mungkin sang istri kepanasan dalam balutan selimut tebal.
Namun saat selimut telah tersibak, seketika mulut Argha ternganga melihat tubuh indah Gintani dalam balutan lingerie berwarna maroon. Kakinya yang lenjang, putih mulus, terekspos sempurna hingga pangkal paha. Balutan kain segitiga yang menutupi dua bongkahan padat berisi, tampak jelas di balik kain tipis yang dikenakannya. Untuk sejenak, Argha terpaku menahan salivanya. Sang perkutut mulai berdiri tegak ingin terbang dan hinggap di sarangnya.
Gintani menggeliat, dinginnya udara kamar mengusik tidurnya. Dia mengubah posisinya, menyamping ke arah Argha. Tanpa dia sadari, kimono itu pun luruh, tersibak dengan sendirinya hingga menampakkan dua gundukan kembar di dadanya. Kembali Argha harus menelan salivanya melihat pemandangan indah di hadapannya. Perkutut pun mulai mengeluarkan air liurnya. Argha mendengus kesal. Dia kembali memadamkan lampunya, menggantinya dengan lampu tidur yang berada di atas nakas.
Argha menyenderkan punggungnya di hardboard ranjang. Dia memejamkan matanya. Bayangan tubuh molek istrinya bermain indah di pelupuk matanya. "Sial! Dasar lingerie jahanam!" umpat Argha seraya mengelus-elus perkututnya agar segera terlelap.
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa🙏🤭
__ADS_1