
Keesokan harinya. Persiapan untuk acara pernikahan Gintani dimulai. Mang Rakib tampak sibuk mengundang beberapa tokoh masyarakat dan juga membuat janji dengan penghulu yang akan menikahkan anak majikannya. Tak Lupa, Mang Rakib juga meminta Ustadz Hasan untuk menjadi wali pernikahan Gintani.
Sebenarnya, ada yang lebih berhak untuk menjadi wali Gintani, yaitu paman Arman. Hanya saja, keberadaan paman Arman pun sudah tidak diketahui. Akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencarinya. Karena itu, setelah memikirkan secara matang manfaat dan mudharatnya, akhirnya Mang Rakib memutuskan untuk meminta Ustadz Hasan sebagai wali Gintani.
Bik Susan sendiri tampak sibuk untuk menyiapkan jamuan yang akan pihak pengantin hidangkan. Karena ini bukan pernikahan Gintani yang pertama, jadi tidak banyak tamu undangan yang mereka undang. Bahkan Argha pun berencana untuk datang sendirian. Tentunya semua itu tidak terlepas dari permintaan Gintani.
Argha menyanggupi permintaan Gintani. Selain ingin menghargai keputusan istrinya, Argha juga melihat jika sang ayah tidak akan memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Argha memutuskan untuk merahasiakan pernikahan ini. Rencananya, setelah menikah, dia akan membawa Gintani dan putrinya sebagai kejutan untuk sang ayah. Argha berharap, kesehatan ayahnya akan membaik dengan kejutan itu.
🍀🍀🍀
"Serius kamu mau rujuk lagi sama Argha, Gin?" Tanya Jessica.
Setelah mengetahui Gintani pulang, Jessica segera memutuskan untuk menemui Gintani. Hampir 6 tahun Jessica tak mengetahui kabar Gintani. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan kepada Gintani. Terutama tentang semua kebusukan Ilona.
"Iya, Mbak. Semua ini Gintan lakukan demi Putri," jawab Gintani.
"Tapi, keputusan kamu memang tidak salah, Gin. Apa yang terjadi pada kalian, tidak sepenuhnya salah Argha. Ya, meskipun aku akui, Argha memang bersalah karena terlalu lemah menjadi seorang laki-laki. Tapi, sekuat apa pun laki-laki, jika dia dihadapkan pada isak tangis seorang wanita. Hatinya seketika akan luluh, Gin," ucap Jessica.
"Maksud Mbak?" tanya Gintani heran.
"Intinya, semua masalah yang kalian hadapi berakar dari seorang wanita ular yang bernama Ilona," ucap Jessica dengan tegas.
Jessica pun menceritakan semua tentang kejahatan Ilona. Jujur, Gintani cukup terkejut mendengar semua cerita Jessica. Selama ini Gintani tak ingin bertanya kepada Argha, karena dia tak sanggup mendengar kenyataan jika Argha telah menikah dengan Ilona. Gintani berpikir, Argha memang telah menikah lagi. Karena itu dia meminta untuk tidak melibatkan keluarga Argha dalam pernikahannya.
Namun, meskipun demikian, tidak dipungkiri jika Gintani merasa senang. Pada akhirnya, semua kebenaran itu terungkap.
"Pantas saja mas Argha begitu ingin memperbaiki semuanya. Tapi, kenapa dia tidak pernah bercerita padaku?" tanya gintani.
"Itu karena kamu tidak pernah memberikan kesempatan kepada dia untuk menceritakan kisah dia selama berpisah denganmu," ucap Alex, yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Gintani dan Jessica.
"Loh, kamu di sini, Lex?" tanya Jessica yang terkejut melihat Alex berada di rumah Gintani.
"Apa kabar, Jes?" sapa Alex sambil mengulurkan tangannya.
"Aku baik, Lex," jawab Jessica menangkupkan kedua telapak tangannya.
Alex tersenyum melihat Jessica yang telah berubah. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa kagum melihat Jessica yang terlihat anggun dengan pakaian syar'i-nya.
"Kalian, ngobrol dulu, Gintan mau ke belakang sebentar," pamit Gintani, meninggalkan Alex dan Jessica di ruang tamu.
__ADS_1
Alex tersenyum tipis, sedangkan Jessica tampak kikuk di hadapan Alex. Untuk sejenak, kecanggungan terjadi di antara mereka.
🍀🍀🍀
Akhirnya, hari yang dinantikan tiba juga. Argha tengah bersiap-siap untuk melangsungkan pernikahannya.
Dini hari dia berangkat dari rumah neneknya. Acara akad akan berlangsung pukul 10 pagi. Argha sudah memperhitungkan dengan matang, jika dia berangkat pukul 3 dini hari, maka sekitar pukul 8 pagi, dia akan tiba di kampung halaman Gintani.
Saat mobilnya keluar dari tol, tiba-tiba ponsel Argha berdering. Awalnya, Argha mengabaikan dering telepon tersebut. Namun, benda pipih itu tak mau berhenti bersuara. Dengan terpaksa, Argha menepikan mobilnya di bahu jalan.
Argha mendengus kesal. "Untung saja sudah keluar dari tol," gerutunya.
Argha kemudian mengangkat telepon dari adiknya.
"Halo!"
"Kakak, aku mohon pulanglah sekarang juga!" teriak Nadhifa di ujung telepon.
Suara Nadhifa terdengar begitu panik. Membuat Argha seketika mengernyitkan keningnya.
"Kakak sedang dalam perjalanan ke luar kota, Fa. Ada urusan penting," jawab Argha.
"Tapi urusan di sini lebih penting, Kak."
"Ini bukan tentang perusahaan, tapi ini tentang Miki, Kak," ucap Nadhifa. Nada suaranya terdengar bergetar.
"Kali ini, kenakalan apa lagi yang dia perbuat?" tanya Argha.
"Miki dibawa ke kantor polisi, Kak. Dia dituntut karena kasus penganiayaan yang menghilangkan nyawa temannya sendiri."
"Apa?!"
🍀🍀🍀
Waktu terus berlalu. Gintani tampak cantik dalam balutan kebaya sederhana berwarna putih. Sesekali dia melirik jam di dinding kamar. Penunjuk waktu telah berhenti di angka 09.15 menit. Gintani mengalihkan pandangannya ke benda pipih yang terletak di atas nakas. Namun, benda itu sama sekali tak pernah berbunyi.
"Di mana kamu, mas? Kenapa belum datang juga?" gumam Gintani.
Untuk menenangkan hatinya, Gintani kemudian meraih ponsel itu dan mulai menghubungi Argha.
__ADS_1
Telepon terhubung, tapi tidak diangkat. Berulang kali Gintani menekan nama 'Mas' di ponselnya. Namun, masih tetap tak mendapatkan jawaban. Hmm, mungkin dia sedang menyetir, batin Gintani mencoba menghibur diri.
Sementara itu di ruang tengah, tampak tamu undangan mulai berdatangan. Ustadz Hasan sudah siap duduk di tempat yang disediakan sebagai walinya Gintani. Begitu juga Kyai Solihin dan Alex telah duduk di tempat saksi. Tak berapa lama, bapak penghulu yang akan menikahkan Gintani, datang.
"Mari, Pak. Silakan duduk!" ucap Mang Rakib, menyambut kedatangan penghulu yang usianya telah melewati setengah abad.
Penghulu itu tersenyum dan langsung duduk di tempat yang telah disediakan. Sejurus kemudian, dia melihat jam tangannya. Tinggal 10 menit waktu tersisa.
"Apa pengantinnya sudah siap?" tanya bapak penghulu itu.
Bik Susan dan Mang Rakib hanya bisa saling pandang mendengar pertanyaan bapak penghulu. Bukan tanpa alasan mereka bersikap demikian. Pengantin pria belum datang juga.
"Bukankah akad nikahnya jam 10, Pak?" Mang Rakib balik bertanya.
"Jika memang pengantinnya sudah siap, bisa kita laksanakan sekarang. Kebetulan, satu jam lagi saya harus menikahkan pasangan di kampung tetangga," ucap bapak penghulu.
Alex melirik jam tangannya, tersisa waktu 6 menit. Namun, Argha belum datang juga.
"Sebentar, Pak! Saya izin keluar dulu!" Alex minta izin untuk meninggalkan ruangan itu. Dia kemudian pergi menuju tempat yang sepi. Alex mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Argha.
Pukul 10.30. Sang pengantin pria belum datang juga. Bik Susan diperintahkan suaminya untuk menemui Gintani.
"Bagaimana ini, Neng? Pak penghulu menanyakan kapan acaranya akan dimulai. Sementara den Argha belum datang juga," ucap Bik Susan menatap cemas kepada Gintani.
Gintani hanya menundukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Bik Susan.
"Neng?" tanya Bik Susan lagi.
"Apa tidak bisa menunggu sebentar lagi, Bik?" Gintani balik bertanya.
"Baiklah. Bibik coba tanyakan dulu kepada bapak penghulunya," ucap Bik Susan sambil pergi dari kamar Gintani.
Gintani hanya bisa menghela napasnya. Dia kembali melirik jam dinding itu. Sudah jam 10 lewat. Sekali lagi dia mencoba menghubungi Argha. Namun, jawabannya masih tetap sama. Gintani mencoba lagi, tapi kini ponsel Argha malah tidak aktif.
"Mama!"
Panggilan Putri mengalihkan pandangan Gintani. Seketika, air matanya luruh melihat gadis kecil tak berdosa itu. Gintani menghambur ke arah Putri dan memeluknya. Rasa kecewanya terhadap laki-laki itu telah sampai pada puncaknya.
Cukup, mas! Sudah cukup kamu mengecewakan kami lagi!
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏