
"Maafkan aku, Nona!" ucap Bram lirih. Dia benar-benar menyesal dengan semua perbuatannya di masa lalu.
Untuk sejenak, semuanya diam dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba, Alex menggulungkan lengan bajunya. Dia pun berdiri, hendak meninggalkan ruangan itu. Namun, sebelum dia pergi, dia menghampiri Argha yang tengah duduk mematung.
"Lepaskan dia, Ar! Jangan buat dia lebih menderita lagi dengan cinta yang tidak pernah bisa kamu berikan!" ucap Alex seraya menepuk bahu sahabatnya.
Setelah kepergian Alex. Bram kembali menatap Argha dengan sinisnya. Tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. Hingga akhirnya Bram pergi meninggalkan Argha.
Argha berpindah ke sofa panjang. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa itu. Kedua tangannya terlipat di bawah kepala. Matanya menatap kosong langit-langit ruangan. Bayangan seorang gadis kecil yang tengah mengejarnya mengitari pohon Akasia, kembali melintas dalam benak Argha. Banyak tawa yang mereka lalui saat bersama. Gadis itulah yang lambat laun menyembuhkan luka di hati Argha. Senyum yang pernah hilang, kembali terbit hanya karena mendengar celotehannya. Dia gadis yang sangat aktif dan ceria. Tawanya yang renyah, menandakan jika dia tidak pernah mengalami kesulitan. Argha merindukannya. Teramat merindukannya.
Sedetik kemudian, bayangan gadis itu menghilang saat Argha kembali mencerna omongan Alex. "Gintan...," gumamnya lirih.
Satu persatu kenangan tentang Gintani bermunculan dalam ingatan Argha. Tentang pertemuan pertama yang berujung dosa. Entah perasaan apa yang menimpanya saat itu. Yang dia tahu, dia hanya ingin memilikinya. Sosoknya yang pemberani dalam membela teman, mengingatkan Argha pada Na kecilnya. Na yang selalu membela temannya yang tertindas. Na yang selalu berapi-api saat membicarakan anak-anak Palestina yang terluka. Na yang selalu berorasi di bawah pohon Akasia, bahwa suatu hari nanti dia akan menjadi seorang pelindung bagi setiap anak yang tidak memiliki ibu. Lagi-lagi...semuanya tentang Na. Karena itulah Argha ingin memiliki Gintani, meskipun dia memilih jalan yang salah.
Argha memejamkan matanya. Bayangan indah di bawah kucuran air hujan kembali menari-nari di pelupuk matanya. Rona merah dan senyum ketulusan yang terpancar di wajah sang istri, membuat hati Argha dipenuhi kehangatan. Erangan kenikmatan saat melakukan pelepasan, terus menggema di gendang telinga Argha. Hati kecil Argha menolak untuk kehilangan Gintani. Namun janji Argha di masa kecil, membuat Argha terlalu egois untuk mengakui perasaannya. Dan kini, kenapa bayangan Na harus kembali di saat dia mulai ingin memiliki Gintani seutuhnya. Maafkan aku Gin...maafkan aku! batin Argha.
🍀🍀🍀
"Kamu benar, Mbak! Aku pun tidak bisa meruntuhkan dinding pembatas itu," ucap Gintani.
Jessica meraih bahu Gintani dan merebahkan kepala Gintani di pundaknya.
"Bersabarlah, Gin!" ucap Jessica seraya mengelus punggung Gintani. Seringai sinis tersungging di bibirnya.
Saat itu, tanpa sengaja Jessica melihat Gintani yang tengah duduk sendirian di taman kota. Dia pun menghampiri dan mulai menemani Gintani yang tengah melamun di keramaian suasana taman. Tanpa sadar, Gintani menceritakan kegundahannya kepada Jessica. Baginya, Jessica adalah guardian angel-nya.
Tiba-tiba, ponsel Jessica berbunyi. Sebuah notifikasi pesan whatsapp masuk. Sejenak, Jessica membacanya.
"Maaf, Gin! Aku harus pamit dulu. Mamah Rosma sudah menungguku di cafe. Rencananya, hari ini kami ingin mengunjungi oma Leli, ibunya mamah Rosma. Kamu nggak pa-pa,kan...aku tinggal sendirian?" ujar Jessica.
Gintani menarik kepalanya, dia tersenyum ke arah Jessica. "Iya, Mbak... nggak apa-apa. Salam buat mamah Rosma," jawab Gintani.
Jessica pun mengangguk. Dia segera pamit dari hadapan Gintani.
Waktu terus berlalu, namun Gintani masih asyik dengan kesendiriannya. Tatapan mata Gintani terarah pada sekumpulan anak kecil yang tengah bermain. Anak itu berusia sekitar 5 hingga 6 tahunan. Mereka tertawa bersama sambil memainkan gelembung air sabun.
__ADS_1
Gintani tersenyum tipis, dia mulai mengingat kembali masa kecilnya. Namun tak ada satu pun yang membawa kebahagiaan dalam hidupnya. Seperti apa masa kecilku? Apa aku pernah tertawa lepas seperti mereka? Apa aku pernah bermain gelembung air sabun seperti mereka? Apa aku pernah memiliki banyak teman bermain seperti mereka?
Ada banyak pertanyaan dalam benak Gintani. Namun tak ada satu pun jawaban atas setiap pertanyaannya.
"Jadi, kamu di sini?"
Gintani tersentak kaget mendengar suara baritone seseorang.
"Abang...!" ucapnya lirih.
Alex mendaratkan bokongnya di bangku yang tengah diduduki Gintani.
"Aku sudah tahu apa permasalahan mu, Gin.... Maafkan aku yang tanpa sengaja menguping pembicaraan kamu dengan Alya. Jika kamu mau, kamu bisa bekerja di cafe," ucap Alex tanpa mengalihkan tatapannya.
"Terima kasih, Bang! Tapi..., Gintan tidak mau memancing kemarahan mas Argha lagi. Gintan tahu jika mas Argha tidak suka melihat Gintan dekat sama Abang. Lagipula, Gintan tidak mau menjadi penyebab retaknya hubungan persahabatan Abang sama mas Argha," tolak halus Gintani.
Ya Tuhan, Gin... Argha saja tidak pernah memikirkan perasaan mu, tapi kenapa kamu masih menjaga hatinya sampai sejauh itu... batin author, kesal.
Alex tersenyum, sejurus kemudian, dia mengalihkan pandangannya kepada gintani. "Apa kamu mencintainya?" tanya Alex.
Gintani menggantungkan kalimatnya. Dia menengadahkan wajahnya seraya memejamkan mata. "Itu bukan cinta.... "
Bening air mata pun mulai lolos melewati kedua pipi Gintani yang putih bersih.
Alex menatap Gintani penuh iba. Ingin rasanya dia menarik Gintani dan membawanya ke dalam pelukannya. Namun dia sadar, dia tidak pernah punya hak untuk melakukan itu.
"Menangislah Gin! Jika itu bisa sedikit mengurangi rasa sakitmu, menangislah!" gumam Alex yang masih bisa di dengar Gintani.
Gintani melebarkan senyumnya. Dadanya mulai berguncang seiring dengan aliran air mata yang semakin deras membanjiri pipinya. Gintani menyesal karena telah menganggap dinding pembatas itu mulai retak dan hancur. Tapi kenyataannya, dinding itu masih kokoh berdiri.
Drrt... Drrt...
Getaran ponsel Alex memecah kesunyian di antara mereka. Alex merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan benda pipih itu dan segera mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo!"
__ADS_1
.......................
"Aku sedang di taman kota sekarang. Datanglah! Kebetulan, aku bersamanya."
........................
Sejurus kemudian Alex mematikan telponnya. Dia kembali menatap Gintani yang masih terisak dalam diamnya.
Setengah jam berlalu. Mereka masih anteng dalam keheningan. Tiba-tiba, datanglah seorang pria berjas hitam menghampiri mereka.
"Gin...!" panggil pria itu dengan suara seraknya.
Gintani membuka mata. Dia menatap kaget pria yang sedang berdiri di hadapannya.
Brugh...!
Seketika, pria itu bersimpuh di kedua kaki Gintani. Dia menundukkan kepalanya, bahunya berguncang hebat, menandakan jika dia sedang menangis.
"Maafkan aku...! Maafkan aku...! Aku benar-benar menyesal." ucap lirih pria tersebut. Nada suaranya terdengar menyayat hati, menandakan jika dia tengah menyesal.
Gintani hanya mampu membekap mulut dengan kedua tangannya. Matanya menatap nanar pada pria yang masih tertunduk di hadapannya. Sejenak, Gintani menatap Alex. Netranya seolah bertanya, apa yang harus aku lakukan?
Alex pun tersenyum. Aku tinggal dulu, ya Tan!" pamit Alex, mencoba memberikan ruang dan waktu agar kedua orang itu bisa saling bicara.
Alex pergi meninggalkan Gintani bersama pria yang tengah tertunduk menyesali perbuatannya.
"Berdirilah...!"
Bersambung ya gaessss....
Mohon maaf, hanya mampu up sehari satu bab... sedang dikejar deadline....
Semoga masih suka ceritanya ya...
Jan lupa, tinggalkan jejak like, vote or komen...
__ADS_1
Makasih.... 🙏🤗