Takdir Gintani

Takdir Gintani
Menemui Pengacara


__ADS_3

Gintani mengangkat tubuh Putri yang lemah tak berdaya. Dia dan Mina kemudian membawa Putri ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit, Gintani membawa Putri ke bagian UGD agar segera ditangani.


Tiba di ruang UGD, seorang dokter muda segera memeriksa Putri. Gintani pun diminta untuk menunggunya di luar. Sementara itu, Mina pergi ke tempat pendaftaran untuk mendaftarkan Putri.


"Bagaimana, Dok?" tanya Gintani begitu melihat dokter muda itu keluar dari ruang UGD.


"Putri mengalami dehidrasi, sebaiknya dia dirawat dulu di sini untuk beberapa waktu," ucap dokter itu.


Gintani mengangguk. "Lakukan yang terbaik untuk putri saya, Dok," jawab Gintani.


"Baiklah. Saya akan memerintahkan beberapa orang perawat untuk membawa putri Anda ke bangsal anak," ucap dokter itu lagi.


Gintani kembali mengangguk. Tak lama kemudian, dua orang perawat keluar dari ruang UGD. Mereka dengan mendorong Putri di atas brankar dengan mata yang masih terpejam. Gintani merasa khawatir, dia pun berjalan mengikuti kedua perawat itu hingga sampai di bangsal anak.


"Untuk hari ini, putri Anda kami tempatkan di ruang ini dulu, karena ruangan VIP sudah penuh," ucap perawat itu.


"Di mana saja tidak masalah, Sus. Yang penting anak saya mendapatkan perawatan," jawab Gintani.


Perawat itu tersenyum. "Baiklah, jika sudah kosong, kami akan segera mengabari Ibu," ucapnya lagi.


Gintani mengangguk. Setelah kedua perawat itu pergi, Gintani menghampiri Putri dan duduk di kursi di samping ranjang Putri. Dia meraih tangan lemah itu kemudian menciumnya.


"Cepat sembuh, Nak. Mama enggak tahu harus menjalani hidup ini seperti apa jika kamu terbaring seperti ini," gumam Gintani.


Putri menggumam pelan, rupanya dia sedang mengigau memanggil nama Heru.


Gintani semakin sakit mendengar igauan Putri. Mungkin selama ini dia merindukan figur seorang ayah, batin Gintani.


🍀🍀🍀


Sementara itu, Argha seakan mendapatkan angin segar saat berbicara dengan seorang pengacara di telepon. Karena ingin mendapatkan kepastian, akhirnya Argha memutuskan pulang ke Jakarta untuk berkonsultasi dengan pengacara Edwin.


Tak ingin membuang waktu, Argha segera menemui pengacara Edwin begitu tiba di Jakarta.


"Selamat sore, Pak Argha. Mari silakan duduk!" ucap pengacara Edwin menyambut kedatangan Argha.

__ADS_1


"Ah, ya. Terima kasih, Pak Edwin," jawab Argha.


Mereka pun saling berjabat tangan. Edwin mempersilakan Argha duduk.


"Baiklah Pak Argha, apa yang bisa saya bantu untuk Anda?" tanya pengacara Edwin begitu mereka duduk saling berhadapan.


"Seperti yang sudah saya ceritakan semalam melalui telepon, Pak. Jadi, bagaimana? Apa semuanya sudah sah?" tanya Argha.


"Begini Pak Argha. Apa Anda pernah melakukan sidang perceraian dengan istri Anda?" tanya pengacara Edwin.


"Belum," jawab Argha.


"Lalu, kenapa Anda begitu yakin jika Anda dan istri Anda telah bercerai?" tanya pengacara Edwin lagi.


"Itu karena saya pernah melayangkan surat gugatan cerai terhadap istri saya. Dan, istri saya pun menandatanganinya," jawab Argha.


"Apa sudah ada putusan hakim?" Pengacara Edwin kembali bertanya.


"Maksud Anda?" Argha bertanya sambil mengernyitkan keningnya.


Argha menggelengkan kepalanya. "Selama ini, baik saya dan istri saya, tidak pernah mengikuti sidang apa pun, Pak," jawab Argha.


"Berarti, belum ada putusan dari persidangan," ucap pengacara Edwin.


"Artinya?" tanya Argha, penasaran.


"Artinya, hubungan Anda dengan istri Anda masih sah sebagai suami istri secara hukum. Tapi kembali lagi seperti apa yang pernah saya bilang. Bahwa dalam ikatan pernikahan itu, tidak hanya legal secara hukum, namun juga harus sah secara agama. Jika memang Anda telah berbuat dzolim terhadap istri Anda dengan apa yang pernah Anda katakan semalam, saya berpendapat Anda sudah menjatuhkan talak untuk istri Anda. Meskipun hubungan Anda masih sah di mata hukum, tapi Anda harus memperbaiki kembali di mata agama. Artinya, Anda harus melakukan ijab qabul lagi dengan istri Anda sebelum Anda bercampur," ucap pengacara Edwin.


"Apa harus menikah lagi?" tanya Argha, terkejut.


"Mohon maaf Pak Argha, saya sendiri bukan ahli agama. Tapi setahu saya, Anda bisa rujuk dengan istri Anda dengan melafalkan ijab kabul dan niat kembali dengan disaksikan oleh dua orang saksi yang adil. Disarankan, pihak orang tua istri Anda dan orang-orang yang amanah. Bisa ustadz, bisa sesepuh, pokoknya orang-orang yang memiliki sifat adil. Tapi untuk lebih jelasnya, Anda bisa menanyakan hal itu kepada ahlinya, Ustadz atau Kyai," ucap pengacara Edwin.


"Saya mengerti. Terima kasih atas pencerahannya. Kalau begitu, saya permisi dulu," sahut Argha.


"Sama-sama, Pak. Tidak perlu sungkan jika memang Anda butuh bantuan. Insya Allah, selama saya mampu, saya pasti akan membantu Anda," ujar pengacara Edwin.

__ADS_1


Argha tersenyum. "Pastinya. Akan saya hubungi kembali jika suatu hari nanti saya membutuhkan bantuan Anda," ucap Argha.


"Siap, Pak. Saya tunggu kabar baiknya. Semoga saja istri Anda berlapang dada dan mau membicarakan ini dengan kepala dingin, sehingga mencapai kesepakatan yang tidak merugikan banyak pihak. Terutama putri Anda," kata pengacara Edwin.


"Ya, semoga saja. Baiklah Pak Edwin, saya permisi dulu!" Argha berpamitan kepada pengacara Edwin. Setelah berjabat tangan, dia pun keluar dari kantor hukum itu.


Di sepanjang jalan, Argha terlihat gembira setelah mendapatkan pencerahan dari pengacara Edwin. Itu artinya, perceraianku selama ini cacat hukum. Dan Gintani, dia masih menjadi istriku yang sah. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Akan aku gunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk membuat Gintani kembali percaya kepadaku. Kali ini, aku tidak akan pernah mengecewakan istri dan anakku lagi, tekad Argha dalam hati.


Argha kembali melajukan mobilnya menuju kediaman sang nenek. Dia sengaja tidak pulang ke Jakarta. Tekadnya sudah bulat. Dia hanya akan kembali ke Jakarta bersama dengan istri dan anaknya.


🍀🍀🍀


Sementara itu, di rumah sakit. Putri terus saja menggumamkan nama heru. Hingga akhirnya, Gintani pun meminta bantuan Alex untuk datang ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Alex begitu tiba di kamar Putri.


"Alhamdulillah, demamnya sudah turun. Tapi sepertinya, dia enggan bangun. Dari tadi, dia hanya menggumamkan nama Heru saja," jawab Gintani.


"Apa dia merindukan Heru?" tanya Alex lagi.


"Mungkin," jawab Gintani.


"Apa tidak sebaiknya kita menghubungi Heru?" tanya Alex lagi.


"Tidak usah, Bang. Gintan tidak ingin merepotkan mas Heru. Lagi pula, Putri harus terbiasa hidup tanpa mas Heru. Semakin dia jauh dari mas Heru, itu semakin baik untuk Putri," ucap Gintani.


"Tapi kenapa, Tan?" tanya Alex.


"Gintan hanya takut kalau suatu hari nanti, Putri akan terluka setelah mengetahui jika mas Heru bukan papa kandungnya. Semakin mas Heru menjauh dari sekarang, maka itu semakin baik bagi Putri. Dengan begitu, Putri akan semakin mudah melupakan mas Heru dalam hidupnya," jawab Gintani.


Lidah putri terasa kelu mendengar percakapan antara ibunya dan Alex.


Lalu, siapa papa Putri?


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2