
Assalamu'alaikum readers kuh...! Setelah sekian lama jeda, akhirnya othor bisa kembali lagi membawa kisah Gintani ke hadapan readers tercinta.
Othor haturkan beribu kata maaf jika telah membuat readers setia menunggu terlalu lama.
Tak lupa othor ucapkan Terima kasih banyak untuk para readers yang telah menantikan kelanjutan karya recehan othor ini.
Selamat membaca kembali yaaaa...!!
🍀🍀🍀
"Uhuk... Uhuk...!"
Nyonya Rosma yang tengah menyesap teh nya, seketika tersedak mendengar ucapan suaminya.
"Apa aku tidak salah dengar, pah? Bagaimana mungkin papah bisa menjodohkan Argha seperti itu ? Apa papah pikir ini zaman Siti Nurbaya ?" gerutu nyonya Rosma yang tidak bisa menerima keputusan suaminya.
"Argha sudah dewasa, mah ! Usianya sudah cukup matang untuk membina sebuah rumah tangga." jawab tuan Jaya, tenang.
"Ya, tapi bukan berarti harus dijodohkan, pah ! Apa papah nggak kasihan sama Argha ? Lagipula, ini zaman modern pah ! Biarkan Argha menentukan pilihannya sendiri !" kembali nyonya Rosma memberikan pendapatnya.
"Jika kita menunggu dia menentukan pilihannya, mau sampai kapan mah ? Usia kita sudah tidak muda lagi ! Papah ingin segera menimang cucu seperti teman-teman papah yang lainnya. Memangnya, mamah mau jika kita menikahkan Nadhifa terlebih dulu sebelum Argha ?" tanya tuan Jaya.
"Eh, kok jadi Dhifa sih pah ! Nggak... Nggak...! Dhifa nggak mau nikah muda ! Dhifa mau berkarir dulu. Dhifa mau memanfaatkan ilmu Dhifa dulu sebelum menikah dan membina rumah tangga." jawab Nadhifa.
"Tuh, mamah dengar kan...! Harapan kita ya cuma Argha, mah !"
"Tapi bukan berarti dia harus dijodohkan dengan orang yang tidak kita ketahui asal usulnya kan, pah ? Kalau memang papah keukeuh mau menjodohkan Argha, biar mamah saja yang mencarikan calonnya !"
"Tidak usah mah, papah sudah ketemu calon buat Argha. Dan papah yakin dia adalah yang terbaik bagi masa depan Argha."
"Calon apa, pah ?"
Tiba-tiba suara bariton seseorang menghentikan percakapan mereka.
Apa Argha dengar semua percakapan kami ? batin tuan Jaya.
"Calon apa pah ? Dan apa yang terbaik buat masa depan Argha ?" tanya Argha lagi seraya menyalami kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Itu, calon is... Huummppp...!!"
Nadhifa hendak bercerita, namun sejurus kemudian, tuan Jaya membekap mulut putrinya.
Melihat tingkah laku suami dan putri kesayangannya, nyonya Rosma hanya bisa memutar bola matanya, kesal.
"Kamu sudah datang, nak ! Ayo, sebaiknya kita makan dulu, setelah itu baru kita bicara !" ajak tuan Jaya seraya menarik tangan putrinya.
"Papah, ih...! Emangnya Dhifa kambing, diseret-seret kek gini, huh !" Nadhifa mengerucutkan bibirnya seraya menepiskan tangannya dari cengkraman ayahnya.
"Makanya, mandi dek ! Biar nggak disangkain kambing. He... He... He... " gurau Argha, meledek adiknya sambil terkekeh.
"Ih kak Argha, awas ya..!" Nadhifa berlari mengejar kakaknya.
Melihat gelagat kedua anaknya yang akan menimbulkan kehebohan, tuan Jaya pun segera menengahinya.
"Sudah... Sudah...! Jangan seperti anak kecil ! Ayo ke ruang makan sekarang !" perintahnya penuh ketegasan.
Akhirnya kedua anaknya pun berlarian menuju ruang makan, diikuti oleh istrinya yang masih memasang muka cemberut.
Selepas makan, tuan Jaya segera mengajak putranya ke ruang kerja.
"Alhamdulillah baik, pah !" jawab Argha seraya membolak-balikan katalog apartemen yang sedang dibangun perusahaan ayahnya.
"Papah sudah meninjau ulang lokasi untuk proyek air terjun itu, Ar !"
"Benarkah ?"
Sepertinya Argha mulai tertarik dan segera menutup katalog tersebut.
"Bagaimana menurut papah ?" tanya Argha lagi.
"Ya, papah rasa, itu sebuah investasi yang cukup menguntungkan. Apalagi saat ini, banyak orang-orang yang mencari tempat wisata ke daerah-daerah terpencil. Selain udaranya masih bersih, alamnya juga menyajikan keindahan yang luar biasa." jawab tuan Jaya.
"Aku setuju pah. Sepertinya, saat ini pesona pedesaan sudah sangat menghipnotis masyarakat. Sehingga mereka memilih berlibur di pegunungan atau pun perkebunan untuk merilekskan kepenatan mereka." tambah Argha.
"Lalu, apa keputusan mu tentang pengajuan mereka ?" tanya tuan Jaya lagi.
__ADS_1
"Ya, jika mereka bisa membujuk masyarakat untuk melepaskan lahan yang tergusur proyek, Argha sih siap membangunnya kapan saja. Sayangnya, pihak pemda setempat belum berhasil membujuk salah seorang veteran untuk melepaskan lahannya." jawab Argha.
"Ya, papah tahu itu. Papah juga sudah bertemu dengan beliau ?"
"Benarkah, apa papah berhasil membujuknya ?"
"Jujur, papah tidak berhasil membujuknya Ar. Tapi.... "
Tuan Jaya menggantungkan kalimat nya.
"Tapi apa, pah ?" tanya Argha penasaran.
"Tapi jika kamu bersedia dijodohkan dengan cucunya, papah yakin jika kakek itu akan memberikan lahannya."
"Apa maksud papah ? Jangan gila pah ! Aku tidak akan mengorbankan kehidupanku hanya demi mewujudkan proyek itu !" nada suara Argha mulai meninggi.
"Dengar dulu penjelasan papah, nak ! Kamu masih ingat tentang cerita papah dan mamah mu yang telah menjodohkan kamu dengan anak teman papah ?"
Argha mengernyitkan keningnya. Ya, dulu, saat dia berusia 20 tahun, papahnya pernah menceritakan perjodohan itu. Namun saat itu, statusnya masih berpacaran dengan Jessica. Argha menolak halus keinginan papahnya dengan alasan dia masih mencari gadis masa kecilnya. Argha tahu jika ayahnya tidak menyukai Jessica.
"Tapi pah ?"
"Ayolah Argha ! Apa susahnya kamu mewujudkan impian papah dan almarhumah mamamu. Lagipula, mau sampai kapan kamu mencari gadis masa kecilmu ? Kamu sendiri tidak tahu di mana keberadaan dia."
"Argha mohon pah, kami sudah berjanji jika dia genap berusia 23 tahun, kami akan bertemu di tempat itu. Argha masih yakin dia mengingatnya. Tolong beri Argha waktu satu setengah tahun lagi, pah ! Setelah itu, papah berhak melakukan apapun terhadap kehidupan Argha."
"Tapi Ar, papah sudah tua. Papah ingin seperti teman-teman papah yang sudah menimang cucu di usia senjanya. Tolong beri papah kesempatan, nak ! Anggap aja ini permintaan pertama dan terakhir papahmu ini!"
Argha diam. Meskipun dia sering berbeda pendapat dengan ayahnya, namun jauh di lubuk hatinya, dia sangat menyayangi ayahnya.
"Pah, bisakah aku bertemu dengan gadis itu sebelum aku mengambil keputusan ?"
Tuan Jaya tersenyum seraya menepuk bahu anaknya.
Bersambung....
Semoga masih menyukai ceritanya yaaa....
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya teman-teman. Krisan yang membangun akan menjadi vitamin bagi othor dalam terus memberikan karya yang terbaik untuk readers semua.... 🙏😊