Takdir Gintani

Takdir Gintani
Pertengkaran Termanis


__ADS_3

"Ceraikan aku sekarang juga!" teriak Gintani penuh emosi.


Kaki Argha seketika limbung mendengar ucapan Gintani. Tidak...! Aku tidak akan pernah menceraikan dia. Apa yang sudah aku miliki, tidak akan pernah aku lepaskan lagi, batin Argha.


"Jangan pernah menguji kesabaranku, Gintan!" bentak Argha.


"Aku tidak sedang menguji kesabaran kamu, Mas! Ini faktanya, aku lelah hidup bersamamu. Aku bukan istri yang sabar, yang harus menunggu selama itu untuk melihat kamu memperlakukan aku sebagaimana mestinya. Aku mau kita pisah, Mas! Aku tidak sudi hidup bersama seorang lelaki yang hanya membutuhkan tubuhku untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja! Menjijikkan...!" jawab Gintani meluapkan kekesalan di hatinya.


"Gintaniii...!! Jaga ucapanmu!" Argha mulai mengangkat tangannya.


"Apa? Kenapa? Kau ingin menamparku lagi, hah? Lakukan, Mas! Aku tidak takut. Hatiku sudah sangat tertampar oleh semua sikapmu, dan bekasnya tidak akan pernah hilang dalam waktu sekejap. Silakan tampar lagi, Mas! Tampar aku sampai kamu puas! Aku tidak akan pernah peduli lagi dengan luka di pipiku! Karena sejatinya, aku pun tidak pernah bisa menyembuhkan luka di hatiku atas semua sikapmu. Ayo tampar aku! Tapi setelah itu, ceraikan aku! Aku tidak su_"


Humpphhh....


Argha membungkam mulut Gintani dengan bibirnya. Dia menahan tengkuk Gintani dengan kuat, hingga Gintani tidak mampu melepaskan diri.


Gintani hanya bisa memukul-mukul dada bidang suaminya. Gintani terus meronta untuk melepaskan diri dari dekapan Argha, namun percuma. Tenaga Gintani telah terkuras habis oleh emosinya. Semakin lama, ciuman Argha semakin menuntut lebih.


Argha mendorong tubuh Gintani hingga terjerembab di atas ranjang. Bola matanya menatap nyalang. Tangannya mulai aktif bergerilya melucuti semua kain yang melekat ditubuh bagian atas istrinya. Argha mulai menyusupkan wajahnya di bagian dada yang sudah sangat polos itu. Dia mulai melakukan permainan-permainan yang membuat tubuh Gintani menggelinjang manjah.


"Jangan lakukan ini Mas, aku mohon jangan lakukan!" pinta Gintani yang mulai terhanyut oleh serangan-serangan kecil Argha.


Namun Argha tak menggubris permohonan Gintani. Dia masih asyik menyesap benda kecil di puncak bukit kembar istrinya. Sesekali dia menggigit benda itu hingga membuat pemiliknya menjerit perlahan.


Tubuh Gintani semakin menggelinjang saat tangan Argha mulai menyusup di bawah rok plisketnya. Sentuhan demi sentuhan jari telunjuk di sekitar ngarainya justru malah membuat Gintani memejamkan mata. Sungguh kenikmatan yang tidak bisa mungkin dia tolak. Gintani tidak munafik, jika selama seminggu ini, dia pun merindukan ulah jail si lengan kekar suaminya.


Sejenak, Argha menghentikan aksinya. Dia menarik diri dari atas tubuh Gintani untuk melepaskan pakaian atasnya. Setelah itu, dia kembali menarik tangan Gintani untuk berdiri. Dia membalikkan tubuh setengah polos milik istrinya. Sentuhan punggung Gintani di dadanya, semakin membuat napas Argha memburu tak karuan.


Indera perasa Argha menari-nari di belakang telinga Gintani. Sesekali, bibirnya mengapit daun telinga milik istrinya. Kabut gairah sudah mengembun di kedua bola matanya.


Argha menghempaskan tubuh Gintani ke atas ranjang. Sedetik kemudian, Argha menarik rok plisket berwarna maroon itu lengkap dengan segitiga berenda hitam. Dengan cekatan, dia juga melepaskan celananya hingga sang Perkutut berdiri begitu perkasanya. Argha pun mulai melakukan penyerangan.

__ADS_1


"Mas...! Henti_"


Gintani hendak memprotes sikap Argha. Namun permainan indera perasa sang suami di ngarai miliknya, membuat Gintani menggigit bibir bawahnya.


Indera perasa itu terus menari dengan lincahnya. Dia mulai memasuki goa kecil yang menyimpan sejuta kenikmatan. Lenguhan kecil yang mulai lolos dari bibir mungil istrinya, membuat Argha semakin bersemangat untuk melakukan hal yang lebih.


Sang perkutut sudah tak sanggup lagi ingin segera menyusup di goa yang sudah sangat basah oleh lava bening. Argha segera menarik kepalanya, dia menatap Gintani penuh damba. Senyumnya kembali terukir di kedua sudut bibirnya. "Aku merindukanmu, Gin!" ucapnya sambil menghentakan sang Perkutut ke mulut goa yang selalu terasa sempit.


Gintani menjerit tertahan, seketika tubuhnya bergetar. Dia seperti mengalami dejavu. Permainan Argha kali ini terasa kasar. Hentakan demi hentakan yang dipenuhi emosi kemarahan atas permintaan konyol Gintani, membuat Argha meluapkan kemarahannya di atas ranjang. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Gin. Kamu istriku, selamanya hanya akan menjadi istriku.


Argha melenguh menikmati sensasi denyutan dinding goa yang mencengkram kuat sang Perkutut. Gerakan yang mulanya kasar, kini mulai bisa dia atur selembut mungkin. Hatinya begitu damai menatap wajah teduh istrinya yang tengah terpejam. Argha tersenyum melihat ekspresi wajah Gintani yang meringis karena permainan sang Perkutut. Sesekali, Argha mengecup kening istrinya.


Gintani membuka matanya saat merasakan hembusan napas hangat milik Argha. Dia melihat tatapan suaminya yang tak pernah bisa dia tebak apa maunya. Gintani tergamam melihat sinar kerinduan terpancar jelas di kedua bola mata yang tampak kehitaman itu. Apa yang sebenarnya kau rasakan padaku, Mas? Cinta seperti apa yang kamu miliki untukku?


Gintani merutuki tubuhnya yang selalu tak pernah sejalan dengan keinginan hatinya. Hatinya berkata untuk menjauh dari pria itu, namun bahasa tubuhnya seolah tak mampu menghindari setiap sentuhan sang suami.


Argha memacu gerakannya semakin cepat. Tubuh gintani mengejang hebat begitu merasakan sesuatu yang hendak keluar. "Mas...!" gumamnya, lirih.


Argha mengerang hebat saat mengeluarkan jutaan pasukannya di lorong yang penuh kehangatan itu. Seketika, tubuhnya terasa lemas dan mulai ambruk di samping tubuh sang istri. Argha meraih tangan Gintani. Dia mengecupnya penuh kelembutan. "Terima kasih Gin!" ucapnya.


Gintani hanya menatap langit-langit kamar yang untuk pertama kalinya, menjadi saksi kegiatan panas mereka. "Apa ini salam perpisahan kita?" tanya Gintani, datar.


Argha memiringkan tubuhnya, dia menatap intens kepada Gintani.


"Ini bukan salam perpisahan, Gin. Ini adalah salam penutup dari sebuah pertengkaran."


Gintani melirik Argha yang sedang tersenyum manis menatapnya. Dia sedikit mengernyitkan keningnya menanggapi ucapan Argha.


Argha meraih tubuh Gintani ke dalam pelukannya. Dia mendekap istri mungilnya yang sangat dia rindukan.


"Ini pertengkaran termanis, Gin. Pertengkaran yang membuat aku semakin meyakini perasaanku. Aku mohon, jangan pernah meminta hal yang tidak akan mungkin bisa aku lakukan. Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi dari hidupku!" bisik lirih Argha.

__ADS_1


"Mas..., aku hanya ingin membebaskan kamu dari ikatan ini. Aku ikhlas jika kamu ingin mencari gadis masa kecilmu. Karena aku sadar, aku tidak akan mampu bersaing dengannya."


Argha membalikkan tubuh Gintani hingga menghadapnya. "Aku sudah menemukannya, Gin! Aku sudah menemukan cinta sejatiku. Sekarang aku sadar, jika pencarianku selama ini, itu hanya sebuah obsesi saja. Aku tidak akan melakukan hal yang bodoh lagi, Gin. Aku tidak akan menukar kenyataan dengan sebuah ilusi. Aku mohon, jangan pergi dariku!"


Hening untuk beberapa saat. Hingga...


"Ish....!" Gintani meringis.


"Kenapa, Gin?" tanya Argha, cemas.


"Pinggangku sakit, Mas."


Argha tersenyum, "Berbaliklah! Biar aku pijitin."


Gintani membalikkan tubuhnya membelakangi Argha. Dia sedikit memejamkan matanya saat menikmati pijatan suami di pinggang yang terasa pegal.


"Maafkan aku, ya!" bisik Argha.


Gintani hanya mengulurkan tangan dan mengusap lembut pipi Argha. "Apa kita harus bertengkar dulu, baru bisa merasakan sesuatu yang manis?" tanya Gintani.


Argha menyusupkan wajahnya di leher Gintani. "Tidak Gin... kita tidak akan bertengkar lagi untuk mengecap rasa manis itu," jawab Argha. "Kamu tahu, kenapa?" tanya Argha lagi.


Gintani hanya menggelengkan kepalanya.


"Karena kita akan selalu menyelesaikannya di atas ranjang...."


Bersambung....


Jangan lupa, berikan kritik dan sarannya ya kak...


Ditunggu juga like, vote dan komennya..

__ADS_1


Makasih... 🙏🤗


__ADS_2