Takdir Gintani

Takdir Gintani
Hamil


__ADS_3

Argha dan Tuan Jaya terhenyak mendengar ucapan Nyonya Rosma. Mereka menatap Nyonya Rosma dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan Mama?" tanya Nyonya Rosma tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Tentu saja salah, Ma. Itu bukan solusi yang baik," jawab Tuan Jaya.


"Ayolah, Papa ... jangan terlalu munafik. Bukankah secara tidak langsung Argha telah menceraikan Gintani? Ingat Pa, Argha telah mengembalikan Gintani kepada walinya. Itu artinya, Argha telah menjatuhkan talak satu untuk wanita itu," ucap Nyonya Rosma penuh penekanan.


Argha hanya menundukkan wajahnya. Apa yang dikatakan ibu sambungnya memanglah benar. Secara hukum agama, dia sudah menjatuhkan talak untuk istrinya.


"Saat ini, perpisahan mereka hanya butuh legalitas saja, agar Argha bisa melanjutkan hidupnya," lanjut Nyonya Rosma.


"Sudah-sudah! Sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Tuan Jaya sambil menarik tangan istrinya. Mereka pun keluar dari kamarnya Argha.


Argha mengangkat wajahnya, dia memandangi foto pernikahannya dengan Gintani.


"Kenapa, Gin? Kenapa nasib pernikahan kita seperti ini? Apa salahku padamu terlalu besar, sampai-sampai kamu tega berselingkuh di belakangku?" tanya Argha bermonolog.


Prang!


Argha melempar foto pernikahannya dengan vas bunga, hingga kaca yang membingkai foto tersebut hancur berantakan.


"Shitt! Brengsek! Dasar wanita murahan...." Argha terus meracau mengumpat Gintani.


🍀🍀🍀


"Apaan sih, Bik? Gintan baik-baik aja, kok! Gintan cuma masuk angin saja, nggak perlu diperiksa bidan segala, ah!" Gintani menolak ajakan Bik Susan yang hendak membawanya ke bidan Entin.


"Eh, ari si Eneng. Biar tahu pasti gitu Neng, penyebab muntah-muntahnya karena apa. Soalnya Bibik lihat, itu seperti gejala orang hamil, Neng," jawab Bik Susan.


"Iya, Nak. Tidak ada salahnya kamu memeriksakan diri. Toh, ini semua demi kebaikan kamu juga," ucap Kakek Wira.


"Baiklah, Gintan siap-siap dulu ya, Bik!" ucap Gintani.


"Ya, sudah. Bibik tunggu di depan, ya!" jawab Bik Susan.


Bik Susan dan Kakek Wira keluar dari kamar Gintani.


"Ingat ya, San. Tolong tanyakan sedetail mungkin pada bidan itu. Jika memang benar Gintan hamil, kita harus menjaga kehamilan Gintani. Mengingat ini adalah kehamilan pertamanya dia," ucap Kakek Wira.


"Siap, pak!" jawab Bik Susan mengangkat tangannya seperti orang yang sedang menghormat pada bendera.


Kakek Wira hanya tersenyum tipis melihat tingkah konyol sang asisten rumah tangga.


Tak lama kemudian, Gintani telah berdiri di belakang mereka, "Ayo Bik!" ajak Gintani kepada Bik Susan.


"Tah, atuh kitu. Hayu lah!" jawab Bik Susan.


Beruntungnya, tempat praktik bidan Entin tidak jauh dari rumah Gintani. Jadi dalam hitungan menit, Gintani dan Bik Susan sudah sampai di rumah bidan Entin.

__ADS_1


"Mari, silakan masuk!" kata bidan Entin begitu membukakan pintu.


"Permisi, Bu Bidan. Ini mau periksa kehamilan," ucap Bik Susan, tanpa berbasa-basi.


"Oh, boleh. Siapa yang hamil? Susan?" tanya bidan Entin.


"Ish, Bu Bidan mah, saya mah sudah tua atuh, masak bisa hamil lagi." Bik Susan menjawab pertanyaan bidan Entin dengan sedikit menggerutu.


"Hee, siapa bilang kamu sudah tua, San. Masih bisa kok, untuk satu momongan lagi," gurau bidan Entin.


"Ah, Bu Bidan bisa saja," jawab Bik Susan, tersipu malu.


"Ayo, silakan duduk!" Bidan Entin mempersilakan kedua tamunya duduk.


Gintani dan Bik Susan menarik kursi di depan meja bidan Entin, kemudian mendudukinya.


"Sudah berapa minggu kehamilannya, Neng?" tanya bidan Entin.


"Saya sendiri tidak yakin kalau saya sedang hamil, Dok," jawab Gintani.


"Kapan menstruasi terakhir?" tanya bidan Entin lagi.


"Saya tidak ingat, Dok," jawab Gintani.


Bidan entin tersenyum. "Begini saja, ini alat tes kehamilan, silakan Neng cek urine dulu ya, nanti hasilnya bawa kemari," perintah bidan Entin.


"Apa saya bisa tes sekarang?" tanya Gintani.


"Siap, laksanakan, Bu! Hayu atuh, Neng. Bik Susan antar ke kamar mandi," ajak Bik Susan.


Gintani pun pergi mengikuti Bik Susan. Tiba di kamar mandi, Gintani segera melakukan tes urine. Beberapa detik kemudian, tanpak dua garis merah muncul dalam alat tes kehamilan tersebut.


Jantung Gintani berdegup kencang. Entah dia harus merasa senang atau justru sedih melihat kenyataan yang ada. Namun hatinya begitu terluka saat menyadari jika dia harus hamil di saat hubungannya dengan sang suami di ambang kehancuran.


"Sudah selesai belum, Neng?" tanya Bik Susan sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya, Sebentar lagi, Bik," jawab Gintani.


Gintani segera menyeka air matanya yang tanpa permisi jatuh begitu saja di pipinya.


Tidak, aku tidak boleh lemah. Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan umatNya, aku pasti bisa melewati semua ujian ini, gumam Gintani dalam hati.


"Ayo, Bik!" ajak Gintani sesaat setelah membuka pintu.


"Bagaimana Neng, hasilnya?" tanya Bik Susan, penasaran.


"Idih, kepo," jawab Gintani yang dibalas dengan gerutuan pelan Bik Susan.


Gintani menyerahkan hasil testpack-nya kepada bidan Entin. Ibu bidan tersenyum melihat dua garis merah tergambar jelas pada benda pipih nan panjang itu.

__ADS_1


"Silakan tidur, Neng! Kembali bidan Entin memberikan perintah kepada Gintani.


Gintani menurut. Sejurus kemudian, bidan Entin meraba perut Gintani. Dia juga mulai memeriksa keadaan Gintani dengan menggunakan stetoskop.


"Sudah, Neng!" ucap bidan Entin.


Gintani bangun dan kembali duduk berhadapan dengan bidan Entin.


"Selamat ya, Neng. Memang benar, saat ini Neng sedang mengandung. Perkiraan saya, mungkin janinnya baru berusia sekitar 8 atau 9 minggu. Tapi untuk lebih jelasnya, Neng bisa melakukan USG di rumah sakit SMC. Minta antar Susan saja, susan tahu, kok, tempatnya. Apa ada keluhan yang lain?" tanya bidan Entin.


"Tidak Dok, hanya pusing dan badan terasa lemas saja," jawab Gintani.


"Morning sickness," jawab bidan Entin.


"Itu apa ya, Bu?" tanya Bik Susan, penasaran.


"Seperti muntah-muntah di pagi hari, tapi hanya cairan saja yang keluar." Bidan Entin menjelaskan.


"Oh iya, kemarin Neng Gintani seperti itu, Bu. Bahkan dia tidak mau makan sama sekali," ucap Bik Susan.


"Oh, begitu ya. Muntahnya sering tidak?" tanya bidan Entin.


"Ngga Dok, hanya sesekali saja," jawab Gintani.


"Hmm, baiklah. Saya beri vitamin saja, dan obat penghilang rasa mual. Sebaiknya konsumsi susu hamil dengan rasa buah-buahan, biar tambah segar dan tidak enek," saran bidan Entin.


"Baik, Dok!" jawab Gintani.


"Nah, ini obat dan vitaminnya. Susunya bisa dibeli di apotek depan. Ingat, trisemester pertama, harus ekstra dijaga kandungannya. Tidak boleh bekerja terlalu berat, dan tidak boleh terlalu banyak pikiran, apalagi sampai stress. Itu tidak baik buat tumbuh kembang anaknya." Kembali bidan Entin memberikan nasihat.


"Baik, Dok. Kalau begitu, saya ucapkan terimakasih, Dok," ucap Gintani.


"Sama-sama. Semoga sehat terus ibu sama calon debaynya," ucap bidan Entin.


"Aamiin." Bik Susan dan Gintani menjawab dengan serempak.


Selesai diperiksa, Gintani pun kembali pulang. Dia sudah tidak sabar ingin segera memberitahu kakeknya tentang berita baik ini.


"Assalamu'alaikum, Kakek, Gintani pulang!" teriak Gintani.


"Wa'alaikumsalam, iya Nak. Kakek sedang berada di dapur," jawab sang kakek dari dalam rumah.


Gintani berlari kecil menuju dapur. Tiba-tiba dia memeluk erat Kakek Wira dari arah belakang. "Tebak Kakek! Kabar apa yang Gintani bawa untuk kakek," ucap Gintani.


"Kabar apa, Sayang?" tanya Kakek Wira.


"Sebentar lagi, nama Kakek akan berubah menjadi kakek buyut...."


Prang!

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🍀


__ADS_2