
Sekitar pukul 10 lewat, Bram dan Bagas tiba di Kalimantan. Mereka kemudian mampir terlebih dahulu ke rumah Jaka yang tak lain adalah kakak angkatnya Bagas.
"Kenalkan Kak, ini Bram. Dia asistennya tuan Argha. Dia juga yang akan mempresentasikan desain pabrik yang akan kita bangun di sini." Bagas memperkenalkan Bram kepada Jaka.
Jaka mengulurkan tangannya. "Senang bertemu dengan Anda. Saya Jaka, kakak angkatnya Bagas," ucap Jaka.
"Dan, apa kamu tahu Bram? Selain kakak angkat, beliau juga mandor proyek yang akan kita jalani bersama," timpal Bagas.
"Benarkah? Waah, senang bertemu dengan Anda. Saya Bramantyo Ahmad Jalaluddin, tapi biasa dipanggil Bram. Saya asisten pribadinya tuan Argha. Atas nama tuan Argha, saya ingin meminta maaf karena beliau tidak bisa hadir," ucap Bram sambil mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan sang mandor.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kita sangat paham kalau saat ini beliau sedang banyak masalah," jawab Bagas.
Setelah berbincang-bincang sejenak, mereka pun mulai mendiskusikan tentang desain pabrik yang telah digambar Argha beberapa minggu ke belakang.
Dengan lugas, Bram menerangkan desain bangunan itu secara terperinci. Bagas dan Jaka hanya bisa manggut-manggut mencoba memahami penjelasan dari Bram. Satu setengah jam berlalu, hingga akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke tempat pembangunan pabrik.
🍀🍀🍀
"Coba tebak Tante, kabar apa yang aku bawa untuk Tante?" ucap Ilona saat bertemu dengan nyonya Rosma di sebuah kafe.
"Duh Ilona ... hari sudah siang, dan cuaca sedang panas-panasnya, jadi Tante tidak punya waktu untuk main tebak-tebakan sama kamu," jawab nyonya Rosma, ketus.
"Ish, Tante. Ini kabar baik, loh. Bulan depan, aku dan kak Argha akan menikah ..." kata Ilona dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Benarkah?" Nyonya Rosma cukup terkejut mendengar kabar itu. "Tapi, kenapa Argha tidak membicarakannya terlebih dahulu dengan papanya?" lanjut nyonya Rosma
"Apa itu penting, Tante?" Ilona merengut mendengar ucapan ibu tirinya Argha.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan, tidak penting juga," jawab nyonya Ilona. "Jadi, kapan kita akan melakukan persiapan untuk pernikahan kalian?" lanjut nyonya Rosma.
"Kalau bisa, secepatnya Tante," jawab Ilona.
"Baiklah, Tante akan tanya papanya Argha dulu. Akan Tante kabari jika sudah mendapatkan izin dari dia," kata nyonya Rosma.
Seketika senyum Ilona mengembang saat mendapatkan lampu hijau dari nyonya Rosma.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Di sebuah apartemen mewah.
Argha segera membersihkan badannya begitu tiba di apartemen. Setelah mengisi perutnya, dia kemudian pergi ke kantor.
Tiba di kantor, dia segera memasuki ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah dia tinggalkan seminggu yang lalu. Namun, tanpa sepengetahuannya, Nadhifa datang menghampiri Argha.
"Kakak dari mana saja, sih?" tanya Nadhifa dengan kesalnya.
"Sorry, Fa. Kakak ada urusan," jawab Argha sambil membuka laptopnya.
"Seminggu lebih, loh, Kakak meninggalkan kantor ini. Begitu datang, hanya bilang ada urusan? Hei ... hallo...?? Di mana tanggung jawab Kakak sebagai leader?" gerutu Nadhifa semakin kesal.
"Oke, Nadhifa Putri Adisastra, adikku yang paling cantik. Maafkan kakakmu yang paling ganteng sedunia ini karena sudah mengabaikan kalian. Tapi Kakak memang ada urusan penting, Fa. Serius? Sekarang biarkan Kakak kamu ini memperbaiki kesalahannya, oke?" bujuk Argha.
"Huh, dasar 'kang ngeles!" Nadhifa melengos dengan sangat kesal.
🍀🍀🍀
Sementara itu di lain tempat.
Alex merasa heran karena akhir-akhir ini Heru sering berada di luar kantor. Heru bahkan mempercayakan urusan kantor sepenuhnya kepada dirinya. Meskipun dihinggapi rasa penasaran yang tak terkira, tetapi Alex bukan tipikal orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Bagi Alex, jika orang itu tidak ingin bercerita, itu artinya dia tidak ingin berbagi dengan dirinya.
"Are you okay?" tanya Alex.
"Emh ... sure, i'm okay," jawab Heru terkejut mendengar pertanyaan Alex.
"Kamu kenapa sih, Her? Dari tadi aku perhatikan, kok gelisah banget. Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Alex.
"Mm ... sebenarnya ... aku, sudahlah, lupakan saja!" ucap Heru.
"Jika ada masalah, kamu bisa berbagi denganku, Her," kata Alex lagi.
"Tidak ... tidak ada masalah, kok." Heru mencoba menutupi kegugupannya. "Ngomong-ngomong, aku duluan ya, Lex? Aku ada janji dengan seseorang," ucap Heru.
"Oke," jawab Alex.
Setelah pamit. Heru kemudian pulang ke rumahnya. Tiba di rumah, Heru langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia mulai menyiapkan makan malamnya yang hendak dia bawa ke rumah sakit sebagai bekal.
__ADS_1
Sambil bersenandung kecil, Heru mulai mengolah bahan makanan tersebut. Kali ini, dia akan membuat sayur sop yang penuh dengan berbagai macam jenis sayuran. Dia berharap jika wanita itu akan membuka mata dan mencicipi masakannya.
Selesai memasak, Heru pun memindahkan makanan itu ke dalam kotak-kotak kecil yang akan dia bawa ke rumah sakit. Setelah itu, Heru kembali ke kamarnya untuk membawa kunci mobil. Di menit berikutnya, dia pun mengeluarkan mobilnya dan pergi ke rumah sakit untuk menjaga Gintani.
Seperti biasa, sebelum pergi ke ruangan Gintani, Heru terlebih dahulu menjenguk si kecil. Sudah dua kali Heru diperkenankan masuk ke ruangan bayi. Mungkin karena kondisi si kecil juga sudah cukup stabil, meskipun belum ada kenaikan berat badan yang signifikan.
"Hallo bidadari kecil, apa kabarmu, Nak?" sapa Heru kepada bayi yang sedang tertidur lelap itu. "Papa harap, hari ini kamu baik-baik saja dan tidak menyusahkan tante suster," lanjutnya sambil melirik ke arah para suster yang menjaga bayinya. Heru sengaja memanggil dirinya papa agar para suster itu tidak curiga kalau dia sebenarnya tak ada hubungan apa pun dengan wanita itu.
"Tidak kok, Pak. Dedek kecil nggak pernah rewel dan menyusahkan kami," jawab salah seorang perawat.
"Hmm, syukurlah," ucap Heru.
"Oh ya, Pak ... ngomong-ngomong, akan diberi nama siapa Dedek bayi lucu ini?" tanya perawat itu lagi.
Heru tampak berpikir sejenak. Namun, sejurus kemudian dia berkata. "Nanti, nunggu ibunya bangun dulu. Baru kami beri nama," ucap Heru.
Kedua perawat itu hanya saling pandang. Sesaat kemudian mereka kembali mengalihkan pandangannya ke arah Heru yang kembali mengajak putrinya berbicara.
"Sstt ...." perawat satu memberi tanda kepada perawat dua yang segera meliriknya.
"Ada apa?" tanya perawat kedua sambil berbisik juga.
"Aku rasa, dia sangat mencintai istrinya. Karena itu dia menunggu istrinya sadar untuk memberikan nama kepada putrinya. Sungguh pria yang sangat luar biasa," ucap perawat pertama.
Perawat kedua setuju. Mereka pun tertawa bersama, memuji kesetiaan Heru. Dan contoh ayah teladan bagi anaknya.
🍀🍀🍀
Di Kalimantan.
"Bagaimana menurutmu tentang lokasi proyek baru kita?" tanya Bagas kepada Bram.
"Saya rasa, tempatnya cukup strategis, Tuan. Lokasinya jauh dari rumah warga, karena itu tidak akan menimbulkan polusi suara bagi masyarakat sekitar," jawab Bram.
"Aku setuju denganmu. Istirahatlah, besok kita akan mulai pembangunannya," perintah Bagas.
Bram mengangguk. Setelah itu, dia pun pamit undur diri untuk beristirahat di kamarnya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏