
Argha terkejut mendengar ucapan Kakek Wira. Apa maksudnya, kenapa aku tidak bisa memutuskan hubungan ini? batin Argha.
"Kenapa? Saya punya alasan yang sangat kuat untuk menggugat cerai cucu Anda, apa Anda tahu itu?" ucap Argha dengan sinisnya.
"Kamu tidak bisa menceraikan Gintani dalam keadaan Gintani sedang berβ"
"Cukup!"
Tiba-tiba seorang wanita muda datang ke ruangan Argha. Dia datang bersama seorang ibu paruh baya, yang tak lain adalah Nyonya Rosma.
"Ilona, Mama?" gumam Argha yang merasa terkejut melihat kedatangan kedua perempuan itu.
"Jangan pernah mempengaruhi Kak Argha, Pak Tua!" teriak Ilona.
"Astaghfirullah hal adzim! Saya ini sudah tua, Nak. Untuk apa saya mempengaruhi Nak Argha. Saya tegaskan jika saat ini Nak Argha tidak bisa menceraikan cucu saya, dia harus berβ"
"Cukup Tuan Wira! Sebaiknya Anda pergi dari ruangan ini. Apa Anda tidak sadar, semakin Anda mendesak anak saya, maka akan semakin sakit Anda mendengar kenyataan jika anak saya sudah tidak menginginkan wanita kotor itu lagi dalam hidupnya," ucap Nyonya Rosma.
"Ya Tuhan ... apa yang Anda pikirkan Nyonya? Tolong jaga ucapan Anda, cucu saya tidak sehina itu!" ucap Kakek Wira.
"Oh, jadi Anda tidak tahu jika cucu Anda telah berselingkuh? Asal Anda tahu, cucu kesayangan Anda itu seorang perempuan murahan. Dia berani bermain gila di belakang suaminya. Dan Argha, putra saya dan suami saya telah memergoki dia tidur dengan laki-laki lain, paham Anda!" sarkas Nyonya Rosma.
"Astaghfirullah!" Kakek Wira memegang dada sebelah kirinya yang terasa sakit. Jadi, seperti inikah permasalahan yang sedang dihadapi cucuku? Kenapa Gintani tidak memberitahukan semua ini padaku? batin Kakek Wira.
Ya, Kakek Wira hanya mengetahui tuduhan jika cucunya telah berselingkuh. Dia tidak tahu jika Argha dan Tuan Jaya telah memergoki Gintani tidur dengan laki-laki lain. Tapi tentu saja, sebagai orang tuanya, Kakek Wira tidak mempercayai hal itu begitu saja. Dia merasa yakin bahwa ada yang tidak beres dengan semua tuduhan yang dilontarkan keluarga Argha terhadap cucunya.
Brugh!
Tiba-tiba, Kakek Wira menjatuhkan dirinya di hadapan Argha. Dia berlutut dan mulai memohon kepada cucu menantunya.
"Tolong Nak Argha, Kakek yakin jika Gintani tidak serendah itu. Kakek mohon, jangan hukum dia dengan cara seperti ini!" pinta Kakek Wira seraya mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Cukup Pak Tua, jangan pernah pengaruhi Kak Argha dengan permohonan busukmu itu!" ucap Ilona menarik lengan keriput Kakek Wira.
"Sekuriti! Sekuriti!" Nyonya Rosma berteriak-teriak memanggil penjaga keamanan.
Tiba-tiba, seorang penjaga keamanan datang ke ruang kerja Argha.
"Anda memanggil saya, Nyonya?" tanya penjaga keamanan itu.
"Bawa laki-laki tua itu!" perintah Nyonya Rosma.
Penjaga keamanan itu memegang tangan Kakek Wira, sejurus kemudian dia menariknya.
__ADS_1
Kakek Wira meronta, "Tunggu! Lepaskan aku! Nak Argha, Kakek mohon ... tolong percayalah pada Kakek! Gintani tidak mungkin bersalah!" ucap Kakek Wira.
Kakek Wira berhasil melepaskan diri dari cengkeraman penjaga keamanan itu, sejurus kemudian dia kembali berlutut dan memohon kepada Argha. Namun,...
"Ayo, Kakak ... kita pergi dari sini!" Ilona menarik tangan Argha dan mengajaknya pergi.
Bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, Argha pun pergi meninggalkan Kakek Wira yang masih berlutut di ruangan Argha.
Kakek wira bergeming. Dia benar-benar tidak menyangka dengan sikap yang akan dia terima dari cucu menantunya. Awalnya dia sangat optimis jika Argha akan berubah pikiran setelah mendengar kabar kehamilan Gintani. Namun ternyata, pikirannya melenceng jauh. Jangankan berubah pikiran, memberikan kesempatan untuk berbicara pun tidak.
Kakek Wira merasa kecewa karena tidak bisa memberitahukan kabar kehamilan Gintani kepada Argha. Dengan lutut yang terasa lemas, Kakek Wira bangkit dan pergi dari kantor Argha.
πππ
"Sebenarnya kakek pergi ke mana sih, Bik?" tanya Gintani saat Bik Susan datang ke rumahnya untuk menyiapkan makan siang.
"Tadi, pamitnya mau pergi ke rumah ustadz Hasan, Neng," jawab Bik Susan.
Gintani mengernyitkan keningnya, "Ustadz Hasan, ngapain Bik?" tanya Gintani lagi.
"Katanya sih, untuk urusan pendirian pondok pesantren, Neng," jawab Bik Susan.
"Memangnya kakek mau mendirikan pondok pesantren, Bik?" tanya Gintani.
"Kok, kakek nggak bilang-bilang sama Gintan ya, Bik?" tanya Gintani.
"Hehehe, mungkin kakek Wira mau bikin kejutan buat, Neng," jawab Bik Susan, asal.
"Hmm, mungkin ... tapi sudah jam segini kenapa kakek belum pulang?" tanya Gintani.
"Mungkin sedang banyak yang harus diurusi, Neng. Bikin pesantren, 'kan rumit, harus ngurus-ngurus akta yayasan juga," jawab Bik Susan.
"Waah, Nik Susan pintar, ya. Tahu banyak tentang aturan mendirikan lembaga pendidikan," puji Gintani.
"Ah, Neng bisa saja." Bik Susan tersipu malu mendengar pujian sang majikan kepadanya.
πππ
Menjelang magrib, Kakek Wira tiba di rumahnya. Rasa lelah benar-benar menyerang tubuhnya. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Kakek Wira tidak habis pikir dengan sikap Argha yang bisa berubah dalam waktu sekejap. Sepertinya Argha sudah enggan mendengar kabar apa pun lagi tentang Gintani.
"Aargh!"
Kakek Wira kembali memegang dada sebelah kirinya. Sepanjang perjalanan pulang dari kota metropolitan, rasa sakit memang menyerang dadanya. Namun Kakek Wira mencoba untuk tidak menghiraukan rasa sakit itu.
__ADS_1
Tok-tok-tok!
Kakek Wira mengetuk pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum!" ucap Kakek Wira.
"Wa'alaikumsalam, sebentar!" Gintani setengah berlari menghampiri pintu depan. Dia kemudian membuka pintu rumahnya.
Brugh!
"Kakek!" pekik Gintani. Dia sangat terkejut saat melihat kakeknya jatuh tepat di hadapannya.
"Bik...! Bik Susan, Mang rakib... Tolong...!" Gintani berteriak memanggil orang-orang terdekat kakeknya.
Tak lama kemudian, Mang Rakib datang tergopoh-gopoh dari arah dapur
"Astaghfirullah, kenapa ini Neng?" tanya Mang Rakib.
"Gintan nggak tahu, Mang. Saat Gintan buka pintu, kakek tiba-tiba jatuh," jawab Gintani.
"Ya Allah ... Hup!" Mang Rakib langsung mengangkat tubuh renta Kakek Wira. Dia kemudian membawa Kakek Wira ke kamarnya. "Tolong jagain dulu kakeknya, Neng. Mamang panggil dulu dokter Iwan."
Gintani mengangguk.
Mang Rakib berlari ke luar. Di luar dia berpapasan dengan istrinya. "San, tolong jagain bapak, Akang mau menjemput dokter Iwan dulu."
"Dokter Iwan? Memangnya bapak kenapa?" tanya Bik Susan.
"Akang tidak tahu, tapi kata Neng Gintan, bapak tiba-tiba jatuh di depan pintu," jawab Mang Rakib.
"Astaghfirullah! Ya sudah, cepat Akang panggil dokter Iwan, biar Susan jaga bapak dan neng Gintani."
Mang Rakib mengangguk dia kemudian mengeluarkan motornya. Sejurus kemudian, dia pun melajukan motornya untuk menjemput dokter Iwan.
Setelah suaminya pergi, Bik Susan segera masuk rumah. Dia menghampiri Gintani yang tengah memegang tangan kakeknya.
"Bagaimana keadaannya, Neng?" tanya Bik Susan.
Gintani menoleh, "Ta-Tangannya dingin sekali, Bik."
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya ya π€π
__ADS_1