
Tiba di ruang makan, semua anggota keluarga tengah berkumpul untuk makan malam.
"Loh, Gintani mana, Ar?" tanya Tuan Jaya.
"Sepertinya, dia kurang enak badan, Pa," jawab Argha.
"Kok, Papa nggak tahu. Hmm, mungkin karena seharian ini belum ketemu juga, ya? Tapi, tadi siang, saat Papa pulang untuk makan siang, Papa lihat Gintani baik-baik saja. Memangnya dia sakit apa, Ar?" tanya Tuan Jaya yang penasaran mendengar kabar tiba-tiba menantunya sakit.
"Sakit hati, kali, Pa," jawab Nadhifa seenaknya.
Bola mata Argha langsung membulat sempurna mendengar jawaban konyol adiknya. Dia tahu apa maksud adiknya berkata seperti itu. Argha pun memelototi adiknya sebagai isyarat agar sang adik menutup mulut.
Melihat ekspresi wajah Argha, Nadhifa hanya memutarkan kedua bola matanya karena merasa jengah.
"Ada apa ini, kenapa bahasa tubuh kalian berbeda sekali? Apa ada yang kalian sembunyikan dari Papa?" tanya Tuan Jaya penasaran.
"Eh, nggak kok, Pa," jawab Argha.
"Ya, sudah, Pa. Ayo kita makan! Nanti setelah makan, kita jenguk Gintani ke kamarnya. Boleh, kan, Ar?" tanya Nyonya Rosma.
"Iya," jawab Argha singkat.
Beberapa menit berlalu. Selepas makan, Tuan Jaya dan istrinya pergi ke kamar Gintani. Begitu tiba di sana, tampak Gintani tengah terlelap. Akhirnya, Tuan Jaya dan Nyonya Rosma mengurungkan niatnya untuk mendekati Gintani.
Sementara itu, Argha memasuki kamar dan menguncinya. Melihat wajah istri yang sangat kelelahan, Argha pun memutuskan untuk tidak membangunkan Gintani. Meski sebenarnya hati Argha masih risau melihat diamnya sang istri.
Argha duduk di samping Gintani. Tangannya membelai lembut rambut Gintani. "Aku tahu kamu marah, Gin. Aku tahu kamu kecewa. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Ilona sahabatku, aku mengenal dia jauh sebelum aku mengenalmu. Dan Ilona, dia sebatang kara hidup di dunia ini. Aku mohon, mengertilah! Aku hanya ingin membantunya di masa-masa sulitnya dia," gumam Argha.
🍀🍀🍀
Kediaman Jessica Amanda.
"Bagaimana keadaan, beliau, Dok?" tanya Jessica setelah melihat dokter Richard telah selesai memeriksa Umi Kulsum.
"Dia baik-baik saja. Hanya saja, tekanan darahnya cukup rendah. Mungkin dia kelelahan dan merasa shock juga mendengar kabar meninggalnya mommy," jawab dokter Richard.
"Jadi, kamu mengenal anak muda ini, Nak?" tanya ustadz Hasan kepada Jessica.
"Eh, iya Abi. Dia adalah dokter yang menangani teman Jessi dulu. Oh iya, Dok. Kenalkan, ini Abi Hasan, suaminya Umi Kulsum," ucap Jessica.
"Umi Kulsum?" tanya dokter Richard, mengerutkan keningnya.
"Ah, iya. Aunty-mu. Dia adalah istriku, dan sejak kami menikah, beliau mengganti namanya menjadi Umi Kulsum," jawab ustadz Hasan.
__ADS_1
"Jadi, anda suaminya aunty? My Uncle?" ujar dokter Richard.
Ustadz Hasan mengangguk.
Dokter Richard menghampiri ustadz Hasan. Dia mencium punggung tangan kanan ustadz Hasan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua. Ustadz hasan pun merangkul keponakan istrinya itu.
"Kak Jeli...Kak jeli...," gumam Umi Kulsum.
Ustadz Hasan dan dokter Richard segera mengurai pelukan saat mereka mendengar igauan Umi Kulsum. Mereka segera mendekati Umi Kulsum.
"Mi...Umi," ucap ustadz Hasan menggoyang pelan bahu istrinya.
Perlahan, mata Umi Kulsum mulai terbuka. Cahaya lampu yang menyilaukan matanya membuat Umi Kulsum mengerjapkan mata untuk beberapa saat.
"Di-di mana Umi?" tanya Umi Kulsum pada suaminya.
"Kita berada di rumahnya Nak Jessica," jawab ustadz Hasan.
Umi Kulsum mengalihkan pandangannya melihat Jessica. Binar kerinduan kembali tergambar jelas di matanya. Beberapa detik kemudian, dia mengalihkan tatapannya ke arah dokter Richard. Senyumnya mengembang saat melihat dia. "Kalian berdua, kemarilah!" pinta Umi Kulsum kepada Jessica dan dokter Richard.
Kedua orang yang dipanggil itu mendekat. Umi Kulsum membelai lembut rambut Jessica. "Anak yang cantik," puji Umi Kulsum kepada Jessica.
"Terima kasih, Umi," jawab Jessica tersipu malu.
Sejurus kemudian, dokter Richard dan Jessica saling berpandangan. Mereka tidak mengerti maksud ucapan Umi Kulsum.
"Sudahlah, umi. Istirahatlah!" ucap ustadz Hasan memecah kecanggungan di antara mereka.
"Tapi Abi...."
Ustadz Hasan menggelengkan kepalanya. "Kalian tunggulah di luar. Biar Abi yang merawat Umi." Ustadz Hasan memberikan perintah untuk muda mudi itu.
Tanpa menolak, akhirnya Jessica dan dokter Richard meninggalkan mereka.
"Kenapa Abi menghentikan niat Umi," protes Umi Kulsum yang ternyata ingin menjodohkan putrinya dengan keponakannya.
Ustadz Hasan menggelengkan kepalanya. "Belum waktunya, Umi. Biarkan apa yang memang harus terjadi, mengalir seperti air. Jangan terlalu memaksakan kehendak. Kalau toh mereka berjodoh, Abi yakin, mereka pasti akan dipertemukan dalam ikatan yang diridhoi. Sekarang, fokuslah pada kesehatanmu. Jangan lupakan Husni juga. Umi nggak mau, kan, Husni kembali ke negara ini hanya karena mendengar uminya sakit?"
"Ish, Abi. Kenapa harus bawa-bawa Husni?"
"Ya makanya, turuti kata-kata Abi. Istirahatlah!" ucap ustadz Hasan seraya menyelimuti tubuh istrinya.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Gintani mengerjapkan mata saat sinar matahari memasuki celah jendela kamarnya.
"Astaghfirullah hal adzim, sudah siang," pekiknya tatkala melihat jam beker di atas nakasnya.
Gintani bergegas turun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Semalaman Gintani tidak bisa tidur nyenyak. Rasa sakit di kepalanya kembali menyerang. Saat dia terjaga dan hendak membangunkan suaminya, Gintani melihat Argha tidur lelap sekali. Akhirnya Gintani mengurungkan niatnya. Menjelang subuh, matanya baru bisa terpejam.
Saat dia keluar dari mushola, tampak Argha sedang berdiri di depan kaca sambil menyisir rambutnya.
"Sudah bangun, Yang?" tanya unfaedah Argha.
Gintani diam. Tangannya sibuk membereskan ranjang bekas tidurnya semalam.
"Gin, tolong jangan bersikap seperti ini! Kamu bukan anak kecil lagi. Usiamu sudah cukup dewasa untuk merajuk," ucap Argha.
Gintani menghela napasnya, dia kemudian duduk di tepi ranjang. "Aku sedang tidak merajuk, Mas," jawabnya
"Lalu?"
"Lalu, apa?"
"Kenapa kamu mendiamkan aku sejak kemarin?"
"Aku rasa, kamu mengerti dengan apa yang aku lakukan, Mas."
"Gin, bagaimana aku bisa mengerti jika kamu tidak pernah bicara. Aku mohon, bicaralah! Aku tidak ingin ada jarak di antara kita."
"Lalu kenapa kamu harus membuat jarak itu, Mas. Tidak usah berlagak pilon di hadapanku. Aku sendiri sudah terlalu muak dengan semua sandiwaramu. Aku diam karena aku lelah. Aku tidak ingin bicara, karena aku tahu arah pembicaraanmu akan melebar ke mana-mana. Jadi stop bertanya kenapa aku diam?" ucap Gintani dengan nada penuh emosi.
Argha mendekati Gintani dan berjongkok di hadapannya.
"Biar Mas jelaskan. Beberapa hari yang lalu, Mas bertemu dengan Ilona. Dan asal kamu tahu, Gin. Saat ini Ilona sedang sakit. Dia terkena kanker ovarium stadium akhir. Kemarin, Mas hanya mengantarkan dia untuk chek-up, karena di kota ini dia tidak punya siapa-siapa lagi. Mas mohon, mengertilah! Apa yang Mas lakukan pada Ilona, itu hanyalah sebatas rasa kemanusiaan saja," ucap Argha.
Gintani begitu terkejut mendengar Ilona mengidap penyakit seganas itu. Tapi, bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Argha tetaplah salah. Tidak seharusnya dia menyembunyikan hal ini darinya. Gintani pun hanya bisa diam.
"Gin, Mas tahu Mas salah karena tidak memberitahukan ini sebelumnya. Tapi, Mas takut kamu salah paham. Mas takut kamu menuduh Mas memiliki perasaan pada Ilona. Mas bersumpah, Gin. Mas tidak punya rasa yang lebih untuknya. Mas hanya menganggap dia sahabat. Entah itu dulu, sekarang, atau di masa yang akan datang sekalipun," ucap Argha.
"Seharusnya, Mas jujur dari awal. Apa Mas pikir, aku istri yang egois, yang akan membatasi pergaulan suaminya?" Kali ini, nada bicara Gintani kembali melemah.
"Mas tahu Mas salah. Mas minta maaf, ya?" ucap argha seraya mencium punggung tangan Gintani.
Gintani mengangguk, meskipun di hatinya masih terselip keraguan. Tapi tidak, aku tidak boleh berburuk sangka dulu. Mungkin memang benar apa yang Mas Argha katakan. Ya Tuhan, tolong jaga ikatan pernikahan kami.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya, yaaa 🤗🙏