Takdir Gintani

Takdir Gintani
Tuntutan Ilona


__ADS_3

Bram dan Argha mengulang ucapan dokter itu.


"Tapi Dok, apa itu sindrom couvade?" tanya Argha semakin penasaran.


"Sindrom couvade, atau biasa disebut juga dengan kehamilan simpatik. Di mana ketika istri sedang mengandung, sang suami mengalami gejala-gejala ngidam seperti wanita yang tengah hamil." Dokter itu kembali menerangkan kemungkinan yang terjadi pada diri Argha.


Argha dan Bram hanya bisa kembali saling pandang mendengar penjelasan dokter itu.


"Ini, saya resepkan beberapa vitamin dan obat pereda mual untuk Anda. Tidak usah khawatir, untuk beberapa kasus, ini memamg lazim terjadi pada suami yang istrinya tengah mengandung. Mungkin efek dari rasa cinta yang begitu mendalam, hehehe. Baiklah Tuan Argha, silakan obatnya Anda tebus di apotek," ucap dokter sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi resep obat untuk Argha.


"Ba-Baiklah, Dok," jawab Argha terbata. Meskipun dia tidak mengerti, tapi dia tetap menerima resep tersebut.


Setelah berpamitan, Bram kembali memapah argha keluar dari ruang pemeriksaan.


"Apa kamu percaya apa yang dikatakan dokter tadi?" tanya Argha kepada Bram, saat mereka sedang menunggu obat di apotek.


Bram hanya mengedikan kedua bahunya. Namun, sedetik kemudian dia membuka ponselnya dan mencari tahu tentang apa itu sindrom couvade.


Setelah menemukan topik yang dicarinya, Bram mulai membaca artikel itu dengan seksama. Tiba-tiba, "Bos, apa mungkin Gintani sedang hamil?"


Raut wajah Argha seketika berubah menjadi kecut.


Pletak!


"Aww, sakit Bos!"


Argha menyentil kening Bram dengan sangat kuat. Membuat Bram memekik pelan karena kesakitan.


"Itu hukuman bagi orang yang menyebutkan nama wanita itu di hadapanku," jawab Argha acuh tak acuh menanggapi mimik kesakitan di wajah Bram.


"Tapi nggak harus disentil juga kali. Keterlaluan banget lo, sama sahabat sendiri," gerutu Bram sambil mengusap-usap keningnya yang mulai berdenyut. Bram pun merengut kesal.


"Udah ah, nggak usah cengeng. Noh, ambil obatnya, nama gue dah dipanggil tuh!" perintah Argha.


Masih dengan memasang muka cemberut, Bram melengos meninggalkan Argha. Dia pergi untuk mengambil obat milik bosnya.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Hari demi hari terus berlalu. Kehamilan Gintani sudah semakin terlihat. Usianya kini sudah memasuki bulan ketujuh. Ada rasa haru ketika dia merasakan gerakan-gerakan kecil di perutnya.


Seperti sore ini, Gintani tampak duduk bersandar di teras depan rumahnya. Sesekali dia mengusap-usap perutnya hingga timbul gerakan-gerakan kecil dari sang buah hati.


"Alhamdulillah, kamu aktif banget sih, Dek. Mau jadi apa kalau sudah besar? Kok senengnya nendang-nendang perut mama terus. Kamu mau jadi pemain bola, ya," ucap Gintani.


Gerakan itu kembali muncul, bahkan terlihat sangat jelas di balik daster yang dikenakan Gintani.


"Wah-wah-wah ... sepertinya Adik nendang lagi, nih," ucap Bik Susan yang tengah membawa jus dan camilan untuk Gintani.


"Hehehe, iya Bik. Dedek aktif banget," jawab Gintani kembali mengelus-elus perutnya.


"Alhamdulillah, Itu tandanya, Dedek sehat, ya?" jawab Bik Dusan ikut mengelus-elus perut Gintani. Bik Susan terkejut saat merasakan tendangan sang jabang bayi. "Wah, dia nendang lagi, Neng," pekik abik Susan.


Gintani mengangguk sambil tersenyum. Dia mengusap-usap perutnya sambil bershalawat. Lantunan shalawat yang begitu damai.


Bik Susan tampak menitikkan air matanya melihat Gintani. Hatinya terasa sesak melihat Gintani yang harus berpisah di saat tengah berbadan dua.


🍀🍀🍀


Ilona tampak gelisah duduk di sofa ruang kerja Tuan Jaya. Keputusannya sudah bulat, hari ini di hadapan Tuan Jaya, dia akan menuntut pertanggungjawaban Argha atas malam yang telah mereka lalui bersama. Ilona merasa, dia sudah cukup bersabar dalam memberikan waktu untuk Argha mempertanggungjawabkan semuanya. Namun, sepertinya Argha tidak terlalu mempedulikan hal itu. Terbukti, Argha selalu menghindari Ilona saat dia membicarakan tentang hubungan yang serius.


"Katakan! Apa tujuanmu datang menemui aku?" tanya Tuan Jaya, tegas.


"Sebelumnya, saya minta maaf jika sudah mengganggu waktu Om. Saya datang ke sini untuk meminta bantuan Om. Tolong saya, om ... tolong bicaralah dengan kak Argha. Saya sudah cukup lama menunggu, tapi kak Argha tidak pernah memberikan kepastian kepada saya. Jujur, saya malu setiap kali om Hendra menanyakan kapan kak Argha akan menikahi saya," ucap Ilona.


"Jadi, apa yang ingin kamu tuntut dari anak saya?" tanya Tuan Jaya, langsung pada intinya.


"Pernikahan!" jawab Ilona lantang. "Tentunya sebuah pernikahan, Om. Kak Argha tidak bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja. Dia sudah menodai saya, dan dia harus bertanggung jawab," ucap Ilona. Dia mulai terisak pelan di ruangan itu.


Tuan Jaya menghela napasnya. Beberapa detik kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Argha. Begitu ponsel tersambung, dengan tegas Tuan Jaya memerintahkan anaknya untuk pulang.


🍀🍀🍀


Sementara itu, di kantor APA Architecture, Argha terlihat sangat kesal sekali setelah menerima telepon dari sang ayah. Dengan sekuat tenaga, dia melempar ponselnya ke arah pintu.


"Wuiss!" Terdengar teriakan seseorang saat benda pipih itu melayang melewati pintu dan hampir mengenai kepalanya.

__ADS_1


Bram melangkah memasuki ruangan Argha.


"Kenapa sih, Bos? Perasaan uring-uringan mulu dari kemarin," ucap Bram sambil mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Argha.


"Bokap nyuruh gue ke rumahnya sekarang," jawab Argha, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Ribet amat ... kalau disuruh pulang, ya tinggal pulang, lah, Bos!" jawab Bram.


"Gue punya firasat, pasti sesuatu yang buruk akan terjadi," jawab Argha menerawang, menatap langit-langit ruang kerjanya.


"Jangan suudzon dulu, kali aja beliau kangen sama lo. Sudah tiga bulan lebih lo tinggalin rumah itu, Ar. Dan lo sama sekali belum mengunjungi bokap lo," jawab Bram.


"Gue nggak yakin, Bram. Pasti ada sesuatu yang terjadi di rumah itu. Dan sesuatu itu berhubungan sama gue," jawab Argha penuh keyakinan.


"Ya sudah ... daripada menduga-duga tak jelas, lebih baik sekarang lo temui bokap lo," saran Bram.


"Tapi, lo temenin gue, ya?" pinta Argha.


"Ish, kek anak kecil aja lo, Ar," ucap Bram.


"Please??"


"Nggak bisa, lah, Ar ... itu 'kan urusan keluarga lo, bukan keluarga gue. Jadi, ya lo datang aja sendiri." Bram menolak.


"Bukannya sebentar lagi lo bakalan jadi bagian dari keluarga gue juga, 'kan?" bujuk argha.


"Sebentar lagi, itu artinya belum Ar. Masih sebentar lagi ya, Ar. Belum jadi bagian," ledek Bram.


Seketika Argha menekuk wajahnya.


"Ya sudah, mulai sekarang ... jangan harap lo bisa jadi bagian dari keluarga Amijaya. Karena gue nggak akan pernah sudi punya adik ipar seperti lo," ancam Argha. Dia lalu bangkit dari kursinya dan berlalu keluar dari ruangan.


"Ah, elo mah bisanya cuma ngancam doang!" teriak Bram dengan kesalnya.


Akhirnya, mau tidak mau Bram mengikuti Argha keluar dari kantor bosnya.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya 🤗🙏


__ADS_2