
Meskipun terlambat, Argha dan Gintani tetap memutuskan untuk menghadiri acara yang diadakan ayahnya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, pikir mereka. Lagipula, ini adalah kesempatan besar bagi Argha untuk mengembangkan sayap perusahaannya.
Tiba di sana. Suasana pesta sudah semakin ramai saja. Meskipun acara sambutan demi sambutan telah terlewati, namun para tamu undangan semakin banyak berdatangan. Terutama kolega-kolega Tuan Jaya yang berasal dari dalam kota.
Para pengusaha yang datang, sebagian besar memiliki niat yang terselubung. Mereka berharap, jika mereka bisa menjalin kerja sama dengan dua perusahaan raksasa milik Amijaya Group dan AH Corp. Terlebih lagi, mereka mengetahui jika sang pewaris dari AH Corp, merupakan seorang pemuda yang masih single. Banyak di antara mereka yang membawa putri-putrinya dengan harapan, mungkin saja sang pewaris akan tertarik kepada putri mereka.
Disambut oleh ratusan pasang mata, pasangan muda yang telah melewati pesta lokalnya, kini berjalan bergandengan menuju ballroom. Sang pria tampak gagah mengenakan setelan jas berwarna dark brown. Sedangkan sang wanita tampak anggun mengenakan gaun pesta berwarna senada namun terkesan glamor dan elegant. Senyum indah mengembang di bibir manis pasangan itu. Sesekali, mereka saling menatap penuh makna. Mereka pun menganggukkan kepalanya untuk menjawab sapaan para pengusaha yang lainnya. Argha tersenyum sinis melihat anak-anak gadis berkeliaran di pesta itu. Cih...! Usaha yang menjijikkan! batin Argha
Argha mengapit tangan Gintani mendekati meja VIP yang tengah diduduki oleh dua keluarga yang telah membina persahabatan jauh sebelum dirinya lahir. Kedatangan mereka disambut hangat oleh sahabat ayahnya yang berasal dari Amerika itu.
"Hello boy! How are you?" sapa Tuan Hanzel seraya berdiri dan memeluk Argha.
"Baik, Om! Bagaimana kabar Om sendiri?" Argha balik bertanya.
"Like you see, boy!" jawab Tuan Hanzel sedikit membentangkan kedua tangannya.
"Apa kabar, Gin!" Tuan Hanzel menyapa Gintani yang tengah berdiri di samping suaminya.
"Alhamdulillah, Gintan baik Om!" jawab Gintani, menampilkan senyum manis yang selalu dihiasi oleh kedua lesung pipit di pipi kiri kanannya.
Seorang pemuda yang sedari tadi memperhatikan kedatangan mereka, tampak tersenyum tipis melihat senyum yang menghiasi gadis berhijab itu. Sungguh senyum yang sangat meneduhkan mata yang melihatnya, batin pemuda itu.
"Sudah selesai, pesta lokalnya?" tanya Tuan Jaya, sinis.
"Papah, ih! Kek yang nggak pernah muda saja!" tukas Nyonya Rosma seraya menepuk pelan lengan suaminya.
"Apa kabar, Gin?" Nyonya Rosma berdiri dan menghampiri menantunya. Dia memeluk Gintani seraya melayangkan ciuman di pipi kiri dan kanannya. Siapa pun yang melihatnya, tentu akan merasa iri akan sikap Nyonya Rosma yang terlihat sangat menyayangi sang menantu. Namun di balik semua itu, Nyonya Rosma tetaplah Nyonya Rosma. Seorang wanita paruh baya yang memiliki dua kepribadian yang berbeda di hadapan anak dan menantunya.
"Gintan baik, Mah," jawab Gintani dengan semua keluguannya. Ah... Gintani yang malang..., pikir author
"Ayo, silakan duduk, Nak!" ujar Nyonya Rosma mempersilakan pasangan muda itu untuk duduk dan bergabung bersama mereka.
__ADS_1
Argha menarik kursi untuk istrinya, setelah Gintani duduk, Argha pun menarik kursi untuk dirinya sendiri.
"Oh iya, Ar! Apa kau masih ingat Richard?" tanya Tuan Jaya.
"Aku... tentu saja aku masih mengingatnya, Pah," jawab Argha, datar.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakan dia, Pah. Ribuan kali aku mencoba melupakan orang itu, ribuan kali juga aku merasakan sakit karena harus teringat peristiwa mengenaskan itu, batin Argha.
Argha menatap tajam pria yang tengah duduk di samping adiknya. Tak ada yang berubah dari pria yang sangat dibencinya. Mungkin hanya perawakannya saja yang semakin tinggi.
"Apa kabar, Ar?" tanya Richard seraya mengulurkan tangannya.
"Baik," jawab Argha tanpa berniat menyambut uluran tangan pria itu.
Richard paham dengan sikap Argha. Dia pun menarik tangannya kembali.
"Nak Richard, kenalkan... ini menantu Om, namanya Gintani!" Tuan Jaya memperkenalkan Gintani kepada anak sahabatnya.
"Hallo, namaku Richard. Senang bertemu denganmu."
Richard kembali menarik tangannya. Dia sangat terkesan dengan Gintani yang sepertinya enggan untuk bersentuhan dengan pria yang bukan muhrimnya.
Percakapan ringan pun terjadi di meja VIP itu. Argha sungguh merasa tidak nyaman berada di antara dua keluarga ini. Terlebih lagi, dia harus duduk satu meja dengan orang yang paling dibencinya. Bahkan Argha terlihat geram, saat tanpa sengaja dia mendapati Richard yang tengah mencuri pandang terhadap Gintani.
Tiba-tiba, lagu Perfect miliknya Ed Sheeran terdengar mengalun merdu di ruangan itu. Satu persatu, para tamu undangan mengajak pasangannya untuk turun ke lantai dansa. Begitu juga dengan Argha. Dia langsung mengapit lengan istrinya untuk memasuki lantai dansa.
"Mas, aku tidak dansa!" bisik Gintani saat mereka melangkah menuju lantai dansa.
"Tenanglah ! Aku akan mengajarimu!" jawab Argha setengah berbisik pula.
Tiba di lantai dansa, mereka saling berhadapan. Kedua tangan Argha meraih tangan istrinya dan meletakkannya di kedua pundak Argha. Sedangkan tangannya memegang erat pinggang Gintani. Mereka pun mulai bergerak pelan mengikuti alunan lagu yang semakin syahdu.
__ADS_1
Netra mereka beradu untuk mengungkapkan rasa yang sedang bergemuruh di hatinya. Sepertinya, manik-manik cinta telah teruntai indah dalam sanubari mereka. Perlahan namun pasti, kening Argha mulai menempel di kening Gintani. Hembusan napas beraroma mint mulai tercium di indra penciuman masing-masing. Mereka saling melempar senyum mengingat setiap momen yang membuat mereka semakin dekat.
"Gin, aku tahu aku bukanlah pria yang sempurna. But, i will be learn to be your perfect man. So, will you be my perfect wife?"
Gintani tersipu malu mendengar ucapan Argha. Sejurus kemudian, dia pun menganggukkan kepalanya.
Argha tersenyum lebar. Dia lalu menarik pinggang Gintani semakin erat. Sementara, Gintani mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Argha. Hingga tanpa sadar, tubuh mereka mulai tak berjarak. Pasangan muda itu terhanyut dalam lagu yang membuat perasaan mereka semakin menyatu.
Drrt... Drrt... Drrt...
Getaran ponsel di saku dalam jasnya, membuat Argha menghentikan dansanya. "Aku terima telpon dulu ya, Gin!" pamit Argha.
Gintani mengangguk.
Suasana bising di ruangan itu memaksa Argha untuk keluar dari lantai dansa. Dia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ballroom hotel.
Netra Argha fokus menatap layar ponsel yang menampilkan nama asistennya. "Ish, ngapain cowok brengsek ini nelpon gua?" gerutu Argha kesal karena urusan tadi pagi masih belum selesai dengan Bram. Tiba-tiba...
Brugh...!!
Praakk...!
"Eh... Ma.. Maaf...!"
"Tidak apa-apa!"
" Permisi...!"
Argha mengambil ponselnya yang sempat terjatuh. Namun netranya terkunci pada benda berwarna putih yang tergeletak di lantai. Argha meraih benda tersebut .
"Nona, tunggu! Barangmu terja_ !"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa