Takdir Gintani

Takdir Gintani
Keputusan Argha


__ADS_3

Selepas magrib, Heru kembali lagi ke rumah sakit. Dia tidak tahu siapa yang harus dia hubungi untuk memberitahukan kabar wanita itu. Di dalam tasnya hanya tertinggal dompet yang berisikan KTP dan ATM. Handphone yang dia temukan pun, tidak bisa dia nyalakan. Mungkin ini amanah Tuhan untukku, batin Heru.


Wanita itu memang bukan siapa-siapa Heru. Namun, entah kenapa kaki Heru terasa ringan saat ingin menjenguk dan menjaga wanita itu. Seperti malam ini, setelah singgah di mini market untuk membeli camilan, Heru pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Malam, Pak. Mau jaga istrinya, ya?" ucap salah seorang cleaning service yang sedang membersihkan lantai di lobi rumah sakit.


Heru tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia pergi menaiki lift.


"Uuh ... ganteng banget ... udah ganteng, setia lagi ngurusin istrinya. Aah co cweet ..." ucap cleaning service itu.


"Mau dong suami kek dia. Kira-kira, masih ada stok nggak, ya," timpal cleaning service yang satu lagi.


Mereka pun tertawa saat membicarakan ayah muda itu. Ya, seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya. Sikap kepahlawanan Heru terhadap anaknya kemarin, telah menjadi topik utama dalam pembahasan para warga rumah sakit.


Krieet....


Heru membuka pintu kamar ruang VVIP. Perlahan, dia memasuki ruangan itu. Heru menyimpan plastik camilan di dalam kulkas kecil. Setelah itu dia mendekati Gintani dan duduk di kursi dekat ranjang.


"Hai, apa kabar?" sapa Heru. "Apa kamu tahu, tadi sebelum datang kemari, aku mengunjungi anakmu. Alhamdulillah, dia baik-baik saja meskipun masih dirawat di dalam inkubator. Putrimu sangat kuat, dan aku yakin kekuatan itu dia dapatkan darimu. Mungkin, hari ini kamu masih belum mau bangun. Tidurlah, aku akan selalu menjagamu di sini," ucap Heru seraya menyibakkan helaian rambut Gintani yang menghalangi keningnya.


Gintani terpaku mendengar ucapan laki-laki itu. Putri? Apa aku melahirkan seorang anak perempuan? Seperti apa wajahnya? Apa dia mirip denganku? Ya Tuhan ... kenapa aku tidak bisa menggerakkan mataku?


"Maafkan aku karena sudah bersikap lancang padamu," ucap Heru sambil menyeka kening Gintani. Sejurus kemudian, dia mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


"Apa kamu tahu apa yang aku bawa?" tanya Heru sambil menunjukkan buku di depan wajah Gintani.


"Ini buku tentang parenting awal. Buku yang mulai sekarang wajib aku baca. Seandainya kamu sudah bangun, aku berniat memberikan buku ini padamu. Tapi berhubung kamu masih ingin tidur, biar aku saja yang membacanya. Aku akan menjaga putrimu sampai kamu bangun. Tidak usah khawatir, aku akan belajar untuk menjadi ayah yang baik agar putrimu tidak kesepian karena ibunya belum bangun, hehehe ...."


Heru terkekeh, meskipun ada rasa sakit di hatinya. Entah kenapa hatinya begitu sakit melihat wanita itu terbaring lemah tak berdaya.

__ADS_1


"Tidurlah, aku akan membaca buku ini di sofa itu," Heru menunjuk sebuah sofa di dekat dinding kamar.


Dokter bilang, jika pasien koma masih bisa mendengarkan kita berbicara, karena itu Heru selalu berusaha berkomunikasi untuk merangsang Gintani supaya cepat sadar.


🍀🍀🍀


Beberapa hari telah berlalu. Namun, semangat hidup seolah hilang dalam diri Argha. Sudah hampir seminggu dia mengurung diri di kamarnya. Keluar hanya untuk mandi dan makan. Selebihnya, dia gunakan untuk mengenang masa kecil di dalam kamarnya.


Ada rasa khawatir dalam diri Aki Surya dan Nin Ifah tentang kediaman Argha. Namun, mereka tidak ingin mengganggunya. Mereka paham betul tentang sifat Argha yang pendiam dan temperamental.


Pagi ini, Argha menyalakan ponselnya yang sudah berhari-hari dia matikan. Dan saat ponsel itu telah menyala, ratusan chat dan ribuan miscall datang di ponselnya. Argha tak berniat membacanya satu per satu karena itu akan memakan waktu. Argha hanya membaca chat dari asistennya saja.


Bos, lo di mana?


Bos, lo kenapa nggak ngabarin gue?


Dan begitu banyak pertanyaan-pertanyaan unfaedah Bram yang menanyakan dirinya. Hingga di akhir chat, Argha membaca dan sedikit mengernyitkan keningnya.


Bos, sudah seminggu lo pergi nggak ada kabar. Gue minta maaf sebelumnya, tapi ini harus gue lakukan. Tuan Bagas meminta lo sendiri yang terjun untuk mengawasi pembangunan cabang pabrik yang berada di Kalimantan. Lo ingat, 'kan, kalau Tuan Bagas berencana untuk membuat anak cabang di sana? Dan Tuan Bagas mempercayakan desain pabrik itu kepada kita. Jadi untuk beberapa minggu, gue pergi ke ke Kalimantan mewakili lo. Gue harus ketemu mandor proyek dan menjelaskan desain kita pada mereka. Hari ini gue sama Tuan Bagas pergi ke Kalimantan. Sorry kalo gue lancang pergi tanpa izin dari lo.


Argha menepuk jidatnya. "Ya Tuhan ... kenapa aku sampai melupakan hal itu" gumam Argha.


Argha segera pergi ke kamar mandi. Rencananya, hari ini juga dia akan kembali ke Jakarta.


Setelah berpamitan kepada kakek dan neneknya, Argha pun melajukan mobilnya. Di dalam perjalanan, tiba-tiba teleponnya berdering. Argha coba mengabaikannya tapi telepon itu terus berbunyi. Hingga tanpa melihat nama si pemanggil, Argha mengangkat teleponnya.


"Ya, hallo."


"Kakak! Akhirnya kakak angkat telepon aku juga. Kakak ke mana saja? Kenapa sulit sekali untuk dihubungi? Apa kakak tahu, aku sudah hampir gila mencari kakak ke sana kemari. Apa kakak baik-baik saja? Kakak sehat, 'kan?" cerocos Ilona di ujung telepon.

__ADS_1


"Iya, Kakak baik-baik saja, Na. Ada apa kamu telepon Kakak?" tanya Argha dengan nada malas.


"Ish, kakak ... aku tuh khawatir sama kakak. Sudah satu minggu lebih kakak menghilang tanpa kabar. Aku tanyakan ke Bram dan Nadhifa, tapi tak ada satu pun dari mereka yang memberi tahu keberadaan kakak. Apa kakak sengaja ingin menghindari aku?" tanya Ilona lagi.


Argha menghela napasnya.


"Sudahlah, Na. Kakak sedang banyak urusan. Kakak tutup teleponnya, ya!"


"Tunggu kakak! Aku cuma ingin bertanya. Bagaimana dengan hubungan kita? Harus berapa lama lagi aku menunggu jawaban dari kakak. Apa kakak tahu jika om Hendra selalu memojokkan aku? Tolong kak ... aku tuh malu sama om Hendra. Jadi please, nikahin aku, kak."


"Baiklah, bulan depan kita akan menikah. Sekarang sudah selesai, 'kan masalahnya? Jadi tolong tutup teleponnya karena Kakak sedang nyetir!"


"Benarkah? Apa kakak serius? Aku nggak salah dengar, 'kan?"


"Iya-iya"


"Ya, sudah ... aku tutup teleponnya ya, kak. I love you!"


Argha melemparkan ponselnya ke dashboard sesaat setelah Ilona menutup sambungannya.


"Ish, apa yang sebenarnya aku lakukan?" gumam Argha.


Argha menepikan kendaraannya. Sejenak dia keluar untuk menghirup udara segar pedesaan. Gagalnya bertemu Na kecil, membuat Argha mengambil sebuah keputusan yang entah benar atau salah. Namun, satu yang pasti. Nalurinya mengatakan jika dia harus menikahi Ilona untuk memperbaiki kesalahannya.


Semoga ini jalan yang terbaik yang aku pilih. Aku memang tidak mencintainya, tapi aku akan belajar menerima dia sebagai takdirku.


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2