Takdir Gintani

Takdir Gintani
Bermain Hujan


__ADS_3

Celine menghentakkan kaki begitu melihat pemandangan yang membuat hatinya terbakar. Dengan wajah memerah, dia menghampiri meja VVIP itu. Celine menarik tangan Gintani dengan kasar.


Plakk.....!!


Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi mulus Gintani.


"Dasar wanita murahan! Berani-beraninya kamu bermain api di belakang suamimu sendiri, hah! Kelakuan kamu dari dulu sama saja. Senang bermain gila sama om-om!" cehcar Celine. Kedua tangan Celine terangkat hendak menarik hijab yang dikenakan Gintani.


"Tunggu! Apa yang Anda lakukan?"


Tuan Hanzel berdiri, dia segera menghampiri Gintani yang tengah memegangi pipinya.


"Kamu juga! Dasar tua bangka tidak tahu malu! Berani kamu mengajak kencan istri orang, hah? Apa kamu tidak tahu, dia itu menantunya siapa?" Ibu Shella ikut-ikutan melabrak Tuan Hanzel.


"Ah sudahlah, Mah! Nggak perlu menyalahkan bandot tua itu! Kalau cewek murahan ini nggak kegatelan, nggak mungkin bandot tua itu datang padanya," tuduh Celine semakin gencar menyudutkan Gintani.


"Ada apa ini?"


Tiba-tiba, suara bariton seorang pria paruh baya terdengar dari arah belakang ibu dan anak itu. Seketika, mereka membalikkan badan. Ibu Shella dan Celine tersenyum melihat kedatangan Tuan Jaya.


"Lihatlah kelakuan menantu anda, Tuan! Dia berani bermain gila di belakang suaminya sendiri. Dasar cewek murahan, cewek ganjen, kegatelan!!" maki Ibu Shella, berapi-api


"Jaga ucapanmu, Nyonya!" tegur Tuan Jaya. "Sebaiknya Anda diam, jika memang Anda tidak mengetahui duduk persoalannya dengan baik!" Tuan Jaya merasa geram terhadap tingkah laku ibu dan anak yang tidak tahu diri itu.


"Loh...! Ini buktinya apa, Tuan! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka sedang ngobrol sambil berpegangan tangan. Apalagi kalau bukan selingkuh namanya!" ujar Ibu Shella.


"Sekuriti!" teriak Tuan Jaya memanggil penjaga keamanan.


Tak lama kemudian, seorang penjaga keamanan resto telah berdiri di hadapan mereka.


"Tolong bawa mereka pergi dari sini!" Tuan Jaya memberikan perintah kepada penjaga keamanan tersebut.


"Siap, Tuan!" jawab si penjaga keamanan. Dia meminta Ibu Shella dan Celine untuk segera pergi dari resto.


"Tunggu! Kamu tidak bisa mengusir kami begitu saja!" teriak Ibu Shella yang tidak terima dirinya diperlakukan seperti itu.


"Jangan membantah, Nyonya! Ayo, ikut!" ucap penjaga keamanan itu seraya menarik tangan Ibu Shella.


"Hei! Jangan kasar terhadap Mamah saya! Atau akan saya adukan kamu pada manager restoran ini karena telah memperlakukan costumer dengan buruk!" ancam Celine.


"Silakan adukan Nona, saya tidak takut! Lagipula, bagaimana mungkin saya melawan perintah atasan saya sendiri. Asal Nona tahu, Tuan Jaya adalah pemilik restoran ini. Jadi sudah kewajiban saya untuk mengikuti perintah beliau!" ucap penjaga keamanan itu penuh penekanan.


Dengan wajah kesal, ibu dan anak itu pun melangkah keluar dari restoran seraya terus menggerutu.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Tuan Jaya menghampiri Gintani.


"Nggak apa-apa, Pah!" jawab Gintani. "Pah, Gintan pamit pulang dulu," lanjutnya.


"Biar Om Jamal yang antar!"

__ADS_1


"Tidak usah Pah, Gintan bisa pulang sendiri. Assalamu'alaikum...!"


"Wa'alaikumsalam."


πŸ€πŸ€πŸ€


Tiba di apartemen, Gintani segera mendaratkan bokongnya di atas sofa. Dia menyandarkan punggungnya, matanya terpejam mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Hati Gintani benar-benar sakit mendengar tuduhan tak berdasar dari sepupunya. Tanpa terasa, bulir air mata telah menggenang di kedua sudut mata Gintani.


Tes...


Tes...


Tes...


Bunyi tetesan air hujan di balkon samping, membuat Gintani mengalihkan pandangannya. Senyum tipis terbit di bibirnya saat melihat air hujan turun membasahi bebatuan berwarna putih gading itu. Gintani mengayunkan langkahnya menuju ruang makan. Dia menggeser pintu kaca yang membatasi antara balkon samping dengan ruang makan. Gintani mengulurkan tangan untuk menikmati sentuhan air hujan yang jatuh berlarian.



Senyum Gintani semakin lebar saat melihat tetesan air hujan bertambah deras. "Sudah lama aku tidak bermain hujan," gumam Gintani. Dia pun mulai melangkahkan kaki keluar dan membiarkan air hujan mengguyur tubuhnya.


Dengan mata terpejam, Gintani menengadahkan wajahnya. Menikmati tetesan air hujan di wajahnya.


"I love the rain...!!" teriak Gintani.


Gintani memutar tubuhnya, dia mulai bersenandung kecil menyanyikan sebuah lagu masa kecil.


🎢Tik... Tik... Tik....


Airnya turun tidak terkira


Cobalah tengok, dahan dan ranting


Pohon dan kebun basah semua.🎢


Gintani terus menyanyikan lagu masa kecilnya berkali-kali. Tangannya melambai-lambai ke kanan dan ke kiri. Dia terlihat sangat senang memainkan air yang semakin membasahi tubuh.


πŸ€πŸ€πŸ€


Sementara itu di tempat yang berbeda, di kantor APA Architecture.


Argha semakin gelisah melihat tetesan air hujan yang turun ke bumi. Pikirannya kembali melayang kepada Gintani. Meskipun hujan kali ini tidak disertai petir, namun tetap saja Argha merasa cemas. Terlebih lagi, langit mulai terlihat gelap akibat hujan yang semakin deras.


Argha menghela napasnya. Dia kemudian membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja kerja. Argha memasukkan berkas itu ke dalam tas kantornya.


Sebaiknya, aku lanjutkan pekerjaan ini di apartemen saja. Aku benar-benar cemas memikirkan keadaan Gintani. Melihat cuaca seperti ini, tidak menutup kemungkinan jika nanti malam akan terjadi hujan petir lagi, batin Argha.


"Fa...! Kemarilah!" Argha memanggil Nadhifa melalui sebuah alat yang bernama intercom.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


"Masuk...!"


Ceklek...


Pintu terbuka, tampak sesosok gadis cantik memasuki ruang kerja Argha.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Nadhifa, sopan.


"Sudahlah..., tidak usah terlalu formal seperti ini!" jawab Argha. "Oh iya, Kakak mau pulang... kamu tolong bereskan meja Kakak, ya!" pinta Argha.


Nadhifa melirik jam tangannya. "Ini masih jam 15.10, belum waktunya pulang, Kak!"


"Iya Kakak tahu, tapi ... perasaan Kakak nggak enak, Dek...."


Nadhifa mengernyitkan dahinya.


"Kak Gintan takut petir. Adek lihat hujannya deras banget, kan? Kakak cemas jika tiba-tiba saja nanti terjadi hujan petir," jawab Argha mengutarakan alasannya.


"Oh, ya sudah! Nanti Fa bereskan ruangan Kakak."


"Makasih ya, Dek!" jawab Argha. "Oh iya, Dek! Kalau hujannya masih deras, kamu pulang diantar Bram saja, ya! Kakak khawatir kalau kamu bawa mobil sendiri," titah Argha.


"Iya, Kakak nggak usah khawatir. Sudah buruan sana pulang! Keburu hujannya bertambah deras," jawab Nadhifa.


"Ya sudah... makasih ya, Dek!"


Argha mengecup pucuk kepala adiknya. Setelah itu, dia pergi meninggalkan ruang kerjanya yang masih berantakan. Perasaan Argha benar-benar kacau. Apalagi hujan di luar gedung, terlihat semakin deras.


Argha melajukan mobilnya perlahan. Jarak pandangnya benar-benar terhalang oleh kucuran air hujan yang mengenai kaca depan mobilnya. Perjalanan yang harusnya ditempuh selama 25 menit, kini harus dia tempuh selama dua kali lipat dari waktu normal.


Pukul 16.00 Argha tiba di apartemen. "Gin..!" panggil Argha.


Namun Argha tak mendengar jawaban istrinya.


"Gin... ! Gintan..!" Argha kembali memanggil istrinya.


Masih tetap tak terdengar jawaban. Tiba-tiba, Argha teringat akan Gintani yang tengah meringkuk di sudut ruangan kamar. "Jangan-jangan..."


Argha melempar tas kerjanya di atas sofa. Dia hendak berlari ke kamarnya. Namun, saat dia melewati ruang keluarga, sayup-sayup dia mendengar suara perempuan yang tengah bersenandung.


Argha melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Matanya membulat sempurna melihat istrinya tengah berputar-putar dengan tangan merentang seraya menengadahkan wajahnya di balkon samping. Senyum lebar terukir sempurna di bibir mungil wanita itu. Ditambah lagi kedua lesung pipitnya yang tergambar jelas, membuat senyum itu semakin manis.


Dia istriku, dia istri kecilku. Dan aku ingin memilikinya seutuhnya. Saat ini dan selamanya...


"Gin....!!!"


Bersambung....


Menyempatkan up di sela-sela tugas negara..

__ADS_1


Mohon maaf jika othor terlambat up, semoga tidak mengecewakan readers semua...


Love you all.... πŸ˜˜πŸ€—πŸ™


__ADS_2