Takdir Gintani

Takdir Gintani
Drama Malam Ini


__ADS_3

Tiba di halaman rumah Putri, tampak Mina berjalan mondar-mandir penuh kecemasan


"Uteng!" teriak Putri begitu turun dari mobil Argha.


"Astaghfirullah Non Putri ... Non dari mana saja? Apa Non Putri tidak tahu jika kami semua mencemaskan Non Putri? tanya Mina.


"Maaf Uteng, Putri ketiduran di rumah Om Baik. Oh iya, ngomong-ngomong di mana mama?" tanya Putri.


"Mama dan papa Non Putri sedang mencari Non Putri, Uteng sendiri tidak tahu mereka mencari Non ke mana?" jawab Mina.


"Maaf, semua ini salah saya," ucap Argha.


"Nggak, ini bukan salah Om. Ini salah Putri yang ikut Om tanpa izin dulu ke mama," bela Putri.


"Ya sudah, tidak apa-apa ... yang penting Non Putri sudah pulang," sela Mina.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Argha.


Saat Argha hendak memasuki mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil sedan memasuki halaman rumah Putri. Argha pun mengurungkan niatnya. Dia ingin melihat bagaimana wajah teman masa kecilnya dulu. Apa dia akan mengingatku? pikir Argha.


Mobil sedan itu melaju melewati mobilnya Argha begitu saja. Suasana malam terlihat gelap, karena itu Argha sulit mengenali orang yang berada dalam mobil sedan itu. Begitu juga dengan Gintani dan Heru. Mereka pun tidak melihat Argha karena pikirannya terlalu kacau oleh hilangnya Putri.


Heru memarkirkan mobilnya di depan teras rumah.


"Papa, Mama!" teriak Putri menyambut kedatangan orang tuanya. Putri menghambur ke dalam pelukan Gintani.


Gintani memeluk dan menciumi Putri. sejurus kemudian dia menggendong Putri.


"Putri ketemu di mana, Min?" tanya Heru.


"Anu Tuan, itu Mas-nya yang mengantarkan Non Putri pulang," jawab Mina.


"Mas?" tanya Heru mengerutkan keningnya.


"Iya Tuan. Itu, Mas-nya!" Mina menunjuk ke arah Argha yang hendak memasuki mobilnya.


"Tunggu!" teriak Heru. "Terima kasih sudah mengantarkan Putri pulang. Kalau boleh tahu, siapa Anda?" tanya Heru.


Mendapati pertanyaan dari papanya Putri, Argha membalikkan badannya.


Deg!


Jantung Argha seakan berhenti berdetak saat melihat mantan istrinya tengah menggendong Putri.


Begitu juga dengan Gintani. Untuk sejenak, Gintani terpaku menatap wajah yang tidak pernah bisa hilang dari ingatannya. Namun, sejurus kemudian, amarah Gintani memuncak melihat mantan suaminya berdiri di hadapannya.


"Itu Om Baik, Ma. Tadi Putri main ke rumahnya Om Baik, dan Putri ketiduran di sana," ucap Putri mengenalkan Argha kepada ibunya.


Hati Gintani meradang mendengar jika Putri menghilang karena pergi ke rumah laki-laki itu. "Mina, tolong bawa Putri ke dalam!" pinta Gintani kepada pengasuh anaknya.


"Ya, Nya," jawab Mina.

__ADS_1


Mina menghampiri Gintani dan segera mengambil alih Putri dari pangkuan Gintani.


Gintani melangkahkan kakinya menghampiri Argha.


"Gin," panggil Argha dengan bibir bergertar. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Terkejut, senang dan haru, dia rasakan dalam satu waktu di malam ini.


Plak!


Namun, tiba-tiba Gintani menampar Argha begitu kerasnya.


"Lancang sekali Anda membawa anak saya tanpa seizin saya," ucap Gintani geram. Gemeletuk giginya terdengar sangat jelas karena menahan amarah.


"Tunggu, Gin. Mas bisa menjelaskan semuanya," ucap Argha, membela diri.


"Saya tidak butuh penjelasan Anda. Berani Anda menyentuh anak saya seujung kuku pun, saya tidak akan pernah diam. Paham Anda! Sekarang Anda pergi dari sini, pergi!" teriak Gintani.


Mendengar teriakan mamanya yang begitu keras hingga terdengar ke dalam rumah, Putri pun meronta.


"Lepaskan Putri, Uteng! Putri mau keluar," rengek puttri.


"Jangan Non, nanti mama bisa marah sama Uteng. Lebih baik, kita masuk ke kamar Non saja, ya. Biar Uteng bantu Non cuci kaki, cuci tangan, setelah itu Uteng bacain dongeng, mau ya!" bujuk Mina.


"Nggak mau! Putri mau keluar. Lepas!" teriak Putri.


Putri terus meronta-ronta hingga Mina kewalahan. Putri turun dari pangkuan Mina, dia segera berlari ke luar untuk menemui ibunya.


"Gin, Mas mohon. Mas tidak bermaksud membuat kamu khawatir. Mas hanya membawa Putri ke–"


"Cukup! Saya tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi. Silakan Anda pergi dari sini. Pergi kataku!" Gintani kembali berteriak.


"Masuk Putri!" kata Gintani membentak anaknya.


"Tolong jangan bentak Putri, Gin. Dia masih terlalu kecil. Aku yang salah, dan untuk itu aku minta maaf, aku tidak tahu kalau Putri anakmu. Aku–"


"Lalu, jika dia bukan anakku, sikapmu membawa lari anak orang bisa dibenarkan, hah? Kamu tidak tahu, karena dari dulu pun kamu tidak pernah mau tahu. Kamu kerap bertindak sesuka hatimu sendiri, dan itu sudah menjadi kebiasaanmu dari dulu. Kamu ... kamu memang tidak pernah mengerti perasaan orang lain. Aku hampir gila karena mencari Putri, apa kamu tah itu?! Kamu brengsek! Kamu benar-benar brengsek! Tidak cukupkah kamu membuat aku menderita seperti ini, hah? Belum puas kamu membuat aku selalu gelisah, belum puas, Argha!"


Gintani semakin menggila. Bertemu dengan laki-laki itu hanya membuat emosinya menjadi labil.


Argha mencoba mendekati Gintani, tapi tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan mendorong Argha Hingga terjungkal.


"Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh Gintani lagi!"


"Alex!" gumam Heru dan Argha berbarengan.


Shitt! Jadi, selama ini dia tahu di mana Gintani berada, batin Argha


Argha bangkit, kemudian menghampiri Alex. "Dasar brengsek, jadi selama ini kamu yang sudah menyembunyikan Gintani, hah?" teriak Argha.


"Pergilah Tan, bawa anakmu ke dalam!" perintah Alex kepada Gintani.


"Tapi, Bang ..."

__ADS_1


"Heru! Bawa Gintani dan Putri ke dalam!" Kali ini Alex memberikan perintah kepada Heru.


Heru mendekati Gintani dan Putri yang sedang memeluk pinggang ibunya. "Ayo, Gin! ajak Heru.


Gintani menurut, dia kemudian menggendong Putri dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, Alex kembali mendekati Argha. Dia kemudian meraih kerah baju Argha.


"Enyah kamu dari sini, Ar! Kalau sampai aku melihat kamu mengganggu Gintani lagi, aku tidak akan ragu-ragu untuk menghabisi kamu," ucap Alex sambil mendorong tubuh Argha.


"Cih, jadi selama ini kamu yang menyembunyikan Gintani!" Argha kembali menuduh Alex.


"Terserah kamu mau bilang apa. Tapi yang jelas, aku tidak akan membiarkan kamu mendekati Gintani lagi. Sekarang, pergilah dari sini sebelum aku menghabisi kamu!" Alex mengancam Argha.


Argha mendengus kesal. "Oke, aku akan pergi dari sini. Tapi, jangan kamu kira aku pergi karena takut padamu. Aku pasti kembali Al. Kamu lihat saja, aku pasti akan kembali untuk anak dan istriku!" ucap Argha sambil berlalu meninggalkan Alex.


.


.


.


"Ish!"


Setelah Argha pergi, Alex meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Dia pun mulai mengatur napas untuk menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan. Setelah menguasai emosinya, Alex pun memasuki rumah Gintani.


"Gimana, Bang?" tanya Gintani begitu melihat Alex datang menghampiri mereka.


"Dia sudah pergi," jawab Alex.


"Ada apa ini? Heru menatap Gintani dan Alex bergantian.


"Gin, bawa Putri ke kamarnya. Temani dia tidur," ucap Alex.


Gintani mengangguk. Dia kembali menggendong Putri dan membawanya ke kamar.


"Lex, bisakah kamu jelaskan padaku apa yang terjadi? Siapa laki-laki itu? Apa dia mantan suaminya Gintani?" tanya Heru, beruntun.


Alex mengangguk.


Heru cukup terkejut melihat jawaban Alex. Dia kemudian tersenyum kecut. Takdir ternyata telah mempertemukan ayah dan anak itu tanpa sengaja, batin Heru.


.


.


.


Sementara itu, di dalam kamar. Gintani memejamkan matanya. Drama malam ini bukan hanya membuat fisiknya lelah. Tapi juga membuat pikiran dan hatinya ikut lelah. Ditambah lagi dengan sikap Putri yang sepertinya tidak terima melihat Gintani memarahi Argha.


Putri ngambek dan malah minta Gintani keluar dari kamarnya. Ya Tuhan, ujian apalagi yang menimpa hamba kali ini, batin Gintani meremas dadanya yang mulai terasa sesak.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗


__ADS_2