Takdir Gintani

Takdir Gintani
Bersekutu


__ADS_3

"Apa yang terjadi padanya, Nak?" tanya Tuan Jaya setelah dokter Richard keluar dari ruang pemeriksaan.


"Maaf, Ayah...apa sebelumnya, Gintani pernah mengalami kejadian yang menyebabkan kepalanya terluka?" tanya dokter Richard.


"Apa maksudmu, Nak?" Tuan Jaya malah balik bertanya.


"Aku menduga jika kepala Gintani memiliki trauma yang cukup hebat, sehingga menyebabkan sebagian memorinya hilang," jawab dokter Richard.


"Apa itu artinya, Gintani mengalami amnesia?" tanya Tuan Jaya lagi.


"Entahlah, Ayah. Yang aku tahu, ada bekas cedera yang cukup parah di tulang tengkorak bagian belakang. Dan aku rasa, itu cedera yang sudah bertahun-tahun terjadi. Karena itu, aku menyarankan Gintani untuk menjaga diri agar tidak mengalami benturan seperti kecelakaan kemarin," jawab dokter Richard.


"Jujur, Ayah tidak tahu apa yang pernah terjadi pada Gintani. Setahu Ayah, dia hanya pernah mengalami kecelakaan yang kemarin itu. Tapi entahlah, nanti Ayah coba tanyakan kepada kakeknya. Mungkin saja ada sesuatu hal yang memang tidak kita ketahui. Apa cederanya cukup parah, Nak?" tanya Tuan Jaya


"Aku rasa begitu, Yah. Aku khawatir dia sedang mengalami trauma berkepanjangan yang membuat sebagian ingatannya hilang. Dan dengan memaksa mengingatnya kembali, itu akan mengakibatkan kondisi ingatannya semakin melemah. Aku sarankan, setelah mereka pulih, izinkan mereka untuk berlibur ke tempat yang akan membuat mereka merasa lebih rileks lagi, Yah."


"Ide yang bagus, Nak. Sekarang kita pikirkan dulu kesehatan mereka. Apa Ayah sudah boleh menjenguk menantu Ayah?"


"Ah, ya! Tentu saja, silakan!" Dokter Richard membuka lebar pintu ruang pemeriksaan agar Tuan Jaya bisa masuk dan menemui Gintani.


Tiba di ruang pemeriksaan, Tuan Jaya melihat menantunya tengah duduk bersandar. Tatapan matanya terlihat kosong.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Tuan Jaya seraya menggeser kursi dan mendudukinya.


"Gintan baik-baik saja, Pa," jawab Gintani.


"Syukurlah! Kenapa kamu sampai tidak sadarkan diri, Nak? Apa kamu sudah sarapan?"


"Gintan sudah sarapan, Pa."


"Terus, kenapa kamu bisa seperti ini? Apa kepalamu masih terasa sakit?"


"Sedikit, Pa."


"Gin, Papa boleh tanya sesuatu?"


Gintani mengangguk.


"Apa sebelumnya, kamu sering mengalami sakit kepala seperti itu?"


"Tidak, Pa. Ini yang kedua kalinya Gintan merasakan sakit kepala seperti ini."


"Kedua?"


"Iya, Pa. Sebelumnya Gintan pernah seperti ini pada saat Mas Argha meminta Gintan untuk memasak makanan kesukaannya. Entahlah, tiba-tiba saja bayangan-bayangan anak kecil melintas dalam pikiran Gintan."


"Apa kau tahu siapa mereka?"


Kembali Gintani menggelengkan kepalanya.


"Semakin Gintan berusaha mengingatnya, semakin sakit kepala Gintan, Pa."

__ADS_1


"Ya sudah, tidak perlu dipikirkan. Istirahatlah!"


"Pa, apa Mas Argha sudah sadar?"


"Belum, Nak."


"Apa Gintan boleh menunggui Mas Argha di ruangannya?"


"Tapi, Nak! Kamu sendiri sedang tidak sehat. Sebaiknya tidak usah memaksakan diri. Lagipula, sudah ada perawat yang akan menjaga Argha."


"Gintan baik-baik saja, Pa. Gintan mau merawat Mas Argha. Gintan mau, begitu Mas Argha bangun, Gintanlah orang pertama yang akan dia lihat. Gintan mohon, Pa!"


"Baiklah, Papa akan suruh perawat untuk membawa kursi roda kemari. Jadi kamu nggak perlu kelelahan berjalan."


Gintani mengangguk. Tuan Jaya pun keluar untuk memanggil perawat.


🍀🍀🍀


Karena kedatangan teman lama, Celine memutuskan untuk meminta izin pulang lebih cepat. Dia masih rindu akan sahabatnya yang telah belasan tahun berpisah.


Siang ini, Celine berencana untuk makan siang bersama Ilona sambil jalan-jalan ke mall. Mereka rindu pada masa-masa remaja dulu. Saat mereka sering menghabiskan waktu bersama.


"Kamu sudah sampai mana?" tanya Celine dalam chatnya.


Ting!


Tak lama kemudian, sebuah notifikasi pesan whatsapp masuk.


Celine tersenyum membaca jawaban pesan dari sahabatnya.


"Langsung masuk saja, aku sedang berada di butik Archana." Celine membalas pesan Ilona.


Ting!


Kembali ponsel Celine berbunyi sebagai tanda pesan masuk. Celine membukanya. Senyumnya semakin mengembang membaca pesan jawaban dari Ilona. Setelah menutup ponselnya. Dia kembali fokus memilih pakaian yang akan dibelinya. Tak lama berselang, Ilona muncul di hadapannya.


"Sorry, dah lama nunggu, ya?" tanya Ilona.


"Nggak juga. Aku sendiri bari 10 menitan, lah sampai," jawab Celine.


"Tadi, jalanan macet. Jadi, agak telat," ucap Ilona.


"Ya, di depan rumah memang sedang ada perbaikan gorong-gorong, makanya agak sedikit macet," ucap Celine.


"Ya, kamu benar. Eh, gimana belanjanya? Sudah beres?" tanya Ilona


"Nih, aku sudah pilihkan beberapa potong pakaian buat kamu. Cobalah!" perintah Celine seraya menyerahkan beberapa pakaian yang sedari tadi dia pegang.


Ilona mengambil pakaian-pakaian tersebut. Setelah itu, dia kemudian pergi ke ruang ganti untuk mencobanya. Beberapa menit kemudian, dia kembali dan menunjukkan pakaian yg dikenakannya.


Celine tersenyum seraya menggabungkan ujung jari telunjuk sama jempol membentuk bulatan. Pertanda dia setuju dengan apa yang dikenakan Ilona.

__ADS_1


Berulang kali Ilona melakukan hal yamg sama. Dan berulang kali juga Celine mengangguk setuju dengan pilihan Ilona. Hingga setelah merasa puas memilih pakaian. Mereka akhirnya pergi ke kassa untuk membayar belanjaannya.


Selesai berbelanja, mereka memutuskan untuk makan siang di food court lantai atas. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari, karena itu cacing-cacing di perut mereka sudah merajuk menagih jatah makannya.


Tiba di food court, mereka pun mulai memesan makanan favorit masing-masing. Sambil menunggu makanan, mereka mulai berbincang.


"Cel, tadi pagi, aku lihat foto sepupu kamu. Kenapa kamu nggak pernah cerita soal dia sama aku?" tanya Ilona memulai perbincangan.


"Hhh...." Celine menghela napasnya. "Itu karena aku tidak pernah menyukai keberadaan dia," jawab Celine terlihat kesal.


"Ya, tadi tante Shella sudah menceritakan semuanya. Apa sampai sekarang, kamu masih membencinya?"


Celine mengaduk-aduk minumannya dengan kasar.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah melupakan kebencianku pada anak panti itu. Terlebih lagi sekarang, aku benar-benar kesal saat kakek memutuskan untuk menjodohkan dia terlebih dahulu. Padahal aku adalah cucu tertua di keluarga Wirahadikusuma. Aku semakin membencinya karena dia selalu mendapatkan apa yang aku mau."


"Apa itu artinya, kamu mencintai suami dia?"


"Uhuk... Uhuk...!"


Celine yang sedang menyeruput minumannya langsung tersedak mendengar pertanyaan Ilona.


"Argha? Ha... Ha.. Ha..., kamu becanda, Tik! Yang benar saja, apa di dunia ini tidak ada pria lain lagi sampai aku harus menyukai cowok arrogant itu?


"Lalu? Kenapa kamu bilang dia selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan?"


"Hhh, aku tidak suka dilangkahi, Tik. Dan si Gintani itu selalu selangkah lebih maju daripada aku. Aku berharap, aku bisa lebih dulu menikah. Bagaimanapun juga, aku adalah kakak. Tapi kakek justru malah menjodohkan dia. Aku benar-benar kesal dengan semua keberuntungan anak itu, huh!" dengus Ilona kesal.


"Apa kamu tahu, jika aku memiliki kebencian yang sama terhadap gadis itu."


Celine mengerutkan keningnya. "Apa kamu mengenal Gintani?" tanya Celine.


Ilona mengangguk. "Aku kembali untuk menemui kekasihku. Tapi sayangnya, seseorang telah mengambil dia dariku."


"Aku tidak mengerti, Tik. Bisa kamu jelaskan lebih terperinci lagi?"


"Kamu masih ingat tentang Kak Argha yang pernah aku ceritakan?" tanya Ilona.


"Pengeran bertopengmu? Bagaimana aku bisa melupakan dia? Bukankah nama itu yg selalu kamu bahas? Meskipun kamu tidak pernah mau menunjukkan orangnya padaku, jawab Celine.


"Ya, dia adalah Argha yang sama yang telah menikah dengan sepupumu."


"Apa?? Benarkah? Ke-kenapa bisa seperti ini?"


Ilona hanya menggedikkan kedua bahunya.


"Tapi aku tidak akan menyerah, Cel! Aku tidak akan membiarkan apa yang sudah menjadi milikku, harus hilang begitu saja. Karena itu, maukah kamu bersekutu denganku untuk menghancurkan mereka? Kamu bisa membalaskan kebencian kamu, dan aku bisa mendapatkan kembali kekasih hatiku."


Celine hanya tersenyum tipis mendengar penawaran sahabatnya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya, ya... 🙏🤗


__ADS_2