
"Kau mau diantar kemana, Baby?" tanya Kevin lembut.
"Apartemen, di Jalan XXX" jawab Chacha.
"Baiklah" Kevin tak bertanya lagi ketika melihat wajah lelah Chacha. Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sengaja agar Chacha dapat beristirahat sejenak. Karena setahu Kevin Chacha akan langsung bekerja setelah ini. Kevin tak tahu kalau kekasihnya adalah anak pengusaha sukses karena selama ini Chacha menyembunyikan identitasnya begitu rapat. Ia tak ingin mencapai sesuatu karena embel-embel nama keluarganya, dia ingin mencapai semuanya dengan jerih payahnya sendiri.
"Baby...." tepukan lembut di pipinya membuat Chacha membuka matanya perlahan.
"Oh sorry, aku ketiduran ya" ucap Chacha.
"No problem, Babe. Aku tahu kau lelah" jawabnya.
"Kita sudah sampai?" Kevin mengangguk. Chacha lantas turun dari mobil Kevin.
"Langsung istirahat ya sayang" ucap Kevin dari dalam mobil.
Chacha mengangguk. "Take care and see you" ucapnya.
Kevin melajukan mobilnya meninggalkan Chacha yang berdiri menatap kepergiannya. Setelah mobil Kevin tak terlihat Chacha mulai melangkahkan kakinya memasuki loby apartemennya. Saat di loby ia seperti melihat siluet wanita yang ia kenal. Namun, ia tak yakin. Lalu dia masuk ke dalam lift langsung menuju lantai delapan.
Keluar dari lift ia langsung menuju pintu miliknya. Namun, ia heran dengan pintu apartemennya tak tertutup rapat. Siapa yang masuk? Atau dia salah masuk? Chacha menoleh ke kiri dan kanan ia tak salah lantai. Dengan berbekal keyakinan ia dorong pintu tersebut hingga terbuka lebar.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah seorang wanita cantik sedang duduk di sofa ruang tamunya. Di samping sofa terdapat satu koper berukuran besar.
"Kak Shaldon?" suara Chacha mengalihkan fokus wanita yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Nona Queen" kagetnya langsung berdiri.
"Panggil aku Queen tanpa embel-embel nona saat kita di luar kantor. Dan, untuk kepulangan kakak yang mendadak ini kita bahas nanti, aku lelah ingin istirahat" ucapnya seraya menaiki tangga menuju lantai dua.
Di tengah tangga ia menoleh. "Jika kakak ingin istirahat, buka saja pintu warna putih itu" tunjuknya pada pintu berwarna putih. Wanita yang dipanggil Shaldon itu mengangguk. Setelah melihat nonanya menghilang di balik pintu ia sendiri berbalik menuju pintu putih yang di baliknya adalah sebuah kamar untuknya beristirahat.
Sorenya di kamar bernuansa putih dan emas itu seorang gadis masih terlelap di alam mimpinya. Hingga dering ponsel menembus mimpi indahnya.
"Halo" ucapnya dengan mata terpejam.
"Kamu dimana, Put?" tanya seseorang diseberang sana.
"Di apartemen" jawabnya.
"Apartemen? Sejak kapan kamu punya apartemen, Put?" Mata Chacha terbuka sempurna. Ia melihat ID pemanggil di ponselnya. Mampus. Satu kata yang terlintas di otaknya. Sekarang dia harus mencari alasan.
__ADS_1
"Eh, Bunda" Ya diseberang telepon adalah Bu Ratu yang khawatir akan anak gadisnya yang belum sampai di rumah.
"Jawab pertanyaan Bunda, Put. Kamu di apartemen siapa? Kenapa waktu Abang jemput kamu tidak ada di sekolah?" Chacha menepuk jidatnya sendiri. Ia lupa kalau pagi tadi minta dijemput abangnya.
"Chacha lagi di apartemen Abang, Bun" jawabnya.
"Sejak kapan Abang mu punya apartemen?"
"Chacha juga gak tahu, Bun" ucapnya malas. "Ya udah Chacha siap-siap mau pulang"
"Hati-hati ingat langsung pulang" ucap Bu Ratu.
Bukannya mandi dan siap-siap Chacha malah menutup matanya kembali.
"Aduh, bisa ngamuk Abang ini" ia teringat akan abangnya dan langsung menghubunginya.
"Halo, Queen" ucap Rey tak sabar.
"Halo abang"
"Oh God, Queen. Kamu bikin abang khawatir tau"
"Abang maafin asal kamu baik-baik saja"
"I am fine" ucap Chacha membuat Rey bernapas lega diujung sana.
"Kamu dimana abang jemput sekarang"
"Di apartemen"
"Tunggu jangan kemana-mana abang otw ke sana sekarang" ucapnya langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Chacha langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket. Karena saking lelahnya ia bahkan tertidur tanpa mengganti pakaiannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian Chacha turun karena perutnya mulai berteriak meminta haknya. Mengingat ia hanya sarapan dengan roti tadi pagi. Dai melihat jam lewat ponselnya, ini sudah sore artinya dia melewatkan jam makan siangnya. Untung tak pingsan, ucapnya dalam hati.
"Kak Shaldon masak apa?" ucapnya setelah sampai di dapur.
"Ini aja," tunjuknya pada meja makan yang sudah tersusun rapi beberapa hidangan yang siap meluncur manis ke perut.
"Kakak kapan belanja, seingat ku tak ada bahan makanan di kulkas?" tanya Chacha.
__ADS_1
"Tadi Queen, saat kamu tidur" jawabnya sambil menyiapkan peralatan makan.
"Gak istirahat?"
"Sudah cukup istirahat di pesawat" jawabnya.
"Selalu saja," ucap Chacha sambil mencebikkan bibirnya.
Shaldon hanya tersenyum melihat tingkah atasannya. Shaldon Gianina adalah sekretaris sekaligus asisten pribadi Chacha. Shaldon bekerja pada gadis cantik ini sejak dia memutuskan untuk membangun perusahaannya sendiri saat itu. Menjadi tangan kanan Chacha dia harus ekstra sabar mengahadapi sikap labil gadis yang satu ini. Tapi dilain sisi ia kagum dengan pencapaian yang Chacha raih di usia yang bisa dikatakan masih belia. Shaldon tahu semua rahasia yang ditutupi Chacha selama ini dari keluarganya. Ia bisa saja berkhianat. Namun, dia juga harus siap jika kapan saja timah panas akan bersarang manis di kepalanya.
"Kau sudah kelas tiga sekarang, Queen?" tanya Shaldon di sela-sela makannya.
"Minggu depan baru pembagian rapor" jawabnya
"Kau berniat mengambil alih perusahaan mu sendiri kali ini?"
"No, aku akan kuliah dulu, biarkan Sasa menjalankan tugasnya seperti biasa"
"Kau akan kuliah dimana?"
"Indonesia"
"Bukankah kau ingin kuliah di Inggris, Queen?"
"Tidak lagi, Kevin sudah di sini jadi aku akan kuliah disini saja" jawabnya mantap.
"Kalau begitu cabang perusahaan disini kau saja yang memimpin dengan identitas tetap di rahasiakan" ucap Shaldon.
"Baiklah aku setuju, sampai tahap mana cabang kita disini?" tanya Chacha.
Ting nong.... Ting nong....
Bel berbunyi saat Shaldon hendak menjawab pertanyaan Chacha.
"Biar aku saja, Queen, kau lanjutkan saja makan mu" ucap Shaldon langsung berdiri untuk membuka pintu.
Chacha mulai heran kenapa Shaldon lama sekali hanya membuka pintu. Karena penasaran ia menghabiskan makanannya dengan cepat dan langsung menuju ruang tamu.
Jika Chacha kira ada tamu penting nyatanya salah. Yang ia lihat adalah sepasang kekasih yang sedang melepas rindu.
"Kalian saling kenal?" suara Chacha menginterupsi dua anak manusia itu untuk melepas pelukannnya.
__ADS_1