Call Me Queen

Call Me Queen
Penyesalan


__ADS_3

Melihat wajah terkejut Audy membuat Chacha tersenyum puas kali ini. Tapi Chacha tetap bungkam kali ini.


"Well, karena disini sudah jelas berita itu hanya berita hoax. Kalian para media yang mengeluarkan berita yang mendukung mencoreng nama baik saya. Saya sudah sampaikan ucapan salam perkenalan dari saya untuk kalian. Semoga terkesan. Terimakasih sudah hadir dalam acara kali ini"


Semua orang masih dalam mode terkejutnya, apalagi para wartawan. Mereka dibuat bingung dengan perkataan Chacha, mereka mengakui jika selama ini membuat berita tanpa menyelidiki kebenarannya.


Para tamu dan para wartawan sudah digiring untuk meninggalkan pesta yang kacau itu. Kini hanya tersisa keluarga besar Izhaka dan Effendy. Jangan lupakan keluarga Pandey yang merupakan besan disini. Mereka masih betah dengan kebungkamannya, berita ini terlalu mengejutkan.


Setelah kepergian lara tamu, Ayah Gun menatap Chacha dengan pandangan yang sulit diartikan. Tatapan yang menyiratkan penyesalan. Bu Ratu terdiam menatap bungsunya yang berdiri tegak dengan wajah dinginnya. Siapa yang menyangka dirinya bisa turut andil dalam menyakiti anak yang selama ini ia jaga. Sekalipun ayahnya tak menganggapnya ada, namun dirinya tetap bangga akan pencapaian bungsunya itu, hingga berita buruk menerpa keluarganya, bahkan tak habis pikir. Emosi menelan kesadaran mereka untuk melihat masalah yang ada dengan sudut pandang lainnya.


"Tuan Gunawan aku atau anda yang memberi tahu kan? "


"Apa maksud mu? "


"Identitas Audy"


"Dia putriku"


"Baiklah dia putrimu dan ya selesaikan dulu urusanmu dengan keluarga mertuamu nona, aku akan kembali lagi setelah ini" Chacha berjalan menjauhi mereka.


Mereka masih terdiam di ruang keluarga di mansion itu. Audy duduk gemetar saat melihat kilatan amarah di mata Kevin. Namun, Kevin tetap diam tak mau membuka suaranya. Keadaan hening, mereka semua sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing. Para sahabat Chacha juga hadir di situ, namun mereka malah asik dengan ponsel mereka sendiri. Mereka tak membubarkan diri karena mendapat kode dari Chacha agar tak meninggalkan mansion tanpa seijinnya.


Di dalam kamar, Chacha langsung masuk ke kamar mandi. Menghidupkan shower dan berdiri dibawahnya. Tatapan matanya kosong, namun pikirannya sedang berkecamuk. Dadanya sesak, batinnya bergejolak. Tanpa perintah air matanya luruh begitu saja. Chacha menangis dalam diam. Namun batinnya berteriak.


"Kenapa Ayah, kenapa. Apa salah ku padamu, apa salahku. Kenapa kau begitu membenciku, apa kesalahan yang ku perbuat" badannya merosot ke lantai.


Disini lah tempatnya berbagi kesedihan. Ditemani dinginnya air yang mengguyur tubuhnya Chacha mengeluarkan seluruh keluh kesahnya. Setiap kali teringat akan perlakuan kedua orang tuanya, disinilah tempat Chacha berakhir. Menangis karena terpuruk.


"Kenapa, aku anak kandung mu ayah, aku anak kandung mu. Tapi kenapa kau berbeda saat bersamaku. Kenapa" teriak Chacha dibawah kucuran air yang terus mengalir.

__ADS_1


"Apa salah ku padamu, ayah. Apa aku harus mati dulu agar kau bisa melihat keberadaan ku" lirihnya.


"Bunda, aku putri mu bukan? Bukankah dulu kau begitu menyayangi ku, tapi kenapa berubah bunda" Chacha semakin terisak saat mengingat bundanya.


"Kemana bunda ku yang begitu lembut padaku. Kemana bunda ku yang begitu hangat padaku"


"Bunda, Chacha rindu bunda, hiks... hiks... "


Chacha terus menangis sendirian, dirinya bahkan tak peduli dengan matanya yang akan sembab karena terlalu lama menangis. Dirinya bahkan membiarkan tubuhnya yang kedinginan karena guyuran air. Tujuan Chacha hanya satu, menenangkan pikirannya. Bukankah dirinya harus tetap tampil kuat di depan, tak masalah rapuh dibelakang. Yang terpenting tak ada yang melihat sosok rapuhnya.


Di lantai bawah, Audy dibawa sedikit menjauh dari keluarganya. Untuk membicarakan masalah kedepannya dengan kepala dingin. Ayah mertuanya tak ingin mengambil keputusan dengan keadaan emosi, karena dirinya tak ingin ada penyesalan di akhir.


"Gunawan" suara berat sang ayah menarik kesadarannya yang sejak tadi entah kemana.


"Ya pa? "


"Aku hanya, membela putriku, Pa"


"Lalu siapa Chacha bagimu? "


"Dia juga putriku"


"Dia putrimu, darah daging mu, Gunawan. Papa tak menyangka kamu akan bersikap seperti ini"


"Tapi, Pa dia sudah kelewat batas dengan memfitnah Audy"


"Papa tak tau apa yang anak itu bicarakan padamu, sekarang papa tanya kejadian ini tak jauh beda dengan apa yang menimpa Chacha. Kenapa sikap kamu berbeda? " semua orang menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Ayah Gun.


"Itu... "

__ADS_1


"Cukup, Gun. Aku akan mengurus hak asuh Chacha, dia akan menjadi putriku. Putri keluarga Anderson. Satu-satunya putri di generasi ketiga keluarga Izhaka" ucap Ratih lantang.


"Tapi dia putri ku, Kak" lirih Bu Ratu.


"Tak ada seorang ibu yang membedakan kasih sayangnya, Ratu. Jika dia memang putrimu, kemana kamu saat dirinya berulang kali disakiti oleh ayahnya sendiri" dingin Nyonya Besar Izhaka. "Kali ini mama setuju, biarkan Chacha menjadi putri keluarga Anderson"


"Tapi dia cucuku, keturunan keluarga Effendy" bantah besannya.


"Dia akan tetap menjadi cucu kalian, namun bukan lagi sebagai anak Gunawan dan Ratu, tapi dia akan merubah segalanya dan menjadi putri dari pasangan Richard Anderson dan Ratih Izhaka" ucap Nyonya Besar Izhaka mutlak.


"Tidak, Ma. Dia putriku sampai kapanpun dia akan menjadi putriku" teriak Bu Ratu. Hancur sudah harapannya kali ini jika dirinya dipisahkan dengan putri bungsunya itu.


"Lalu apa selama ini kamu mencerminkan sikap seorang ibu, Ratu" Ratih juga berteriak. Untuk menyadarkan pikiran adiknya yang menyimpang, Ratih tak segan untuk mendisiplinkan adiknya ini.


"Aku... "


"Apa Ratu. Meskipun anakmu berbuat salah, kamu tak bisa langsung menghakiminya. Kalian seharusnya mencari tahu kebenarannya. Kalian harusnya melindunginya. Apa ada sikap kalian yang seperti itu" Bu Ratu terdiam kali ini.


"Aku akan mengurus semuanya besok. Aku harap kalian tidak menghalangi jalanku" sinis Ratih kali ini. Habis sudah kesabarannya untuk menghadapi adiknya kali ini.


"Jangan bawa putriku, biarkan kita menebus kesalahan kita dulu kak, aku mohon. Kita akan berubah kak. Biarkan aku memanjakan putri ku lagi kak. Aku mohon" Bu Ratu bahkan sampai berlutut di depan kakaknya.


"Berulang kali dia memberi kesempatan pada kalian di rumah ini bukan. Dia hanya berharap kalian mendekati dan merangkulnya hangat. Dia bahkan tak membenci kalian meskipun sikap kalian tak menunjukkan bahwa kalian adalah orang tuanya"


"Mama mertua, tolong bujuk kakak ipar agar tak membawa putri kecilku" kali ini Ayah Gun langsung berlutut dihadapan Nyonya Besar Izhaka. Rasa bersalah benar-benar menghantam dirinya. Menyadari semua sikapnya membuat dirinya malu, karena amarah gadis kecilnya harus menerima semuanya. Padahal dirinya tak tau apa-apa, dan pasrah saja menghadapi sikapnya selama ini.


"Mama" semua orang menoleh ke arah pintu. Tampak pria seumuran Ayah Gun berjalan dengan penuh karisma ke arah mereka. Meskipun usianya tak muda lagi, tapi ketampanannya tak luntur dari wajahnya. Badannya tetap tegap, aura mengintimidasi miliknya sangat kentara. Tatapan matanya tajam, namun tatapannya melembut menanyakan keberadaan seseorang.


"Mama dimana tuan putriku? "

__ADS_1


__ADS_2