Call Me Queen

Call Me Queen
Ketenangan


__ADS_3

"Mandi dulu sayang" Perintah Levy saat melihat Chacha sudah tengkurap di atas kasurnya.


"Bentar lagi, masih capek ini" Rengeknya.


"Sini" Levy menepuk pahanya tanda agar Chacha meletakkan kepalanya di sana, dengan senang hati Chacha menuruti kemauan suaminya.


"Kenapa tadi gak kabari Mas dulu? "


Ini yang Chacha suka dari Levy, begitu sabar dan lembut menghadapi dirinya. Sangat bertolak belakang dengan sikap Levy jika tak bersamanya.


"Katanya kamu tadi meeting, aku gak mau ganggu. Ditemenin kesini aja aku udah untung loh, Mas"


"Nggak gitu juga sayang. Kamu itu istri aku, ada hal apapun tolong diskusikan atau paling tidak kabari aku. Aku ini suami kamu, boleh bertindak sendiri. Tapi aku harus tau, nanti kesannya aku malah gak perhatiin kamu"


"Maaf, janji gak gitu lagi" Lirih Chacha.


"Hei, kok sedih. Aku nggak marah, cuma lain kali inget aja kalo udah punya suami ya" Chacha hanya mengangguk.


"Kamu mandi dulu gih, aku keluar bentar. Anak buah ku pasti udah nungguin"


"Segitu khawatir nya ya Mas. Sampai panggil anak buah kamu? " Goda Chacha.


"Jangan ditanya lagi. Awas kalau lain kali buat aku jantungan lagi, yakin atau nggak kamu bakal aku kurung di rumah"


"Takut ah"


"Mana ada orang takut gini sih" Karena gemas melihat tingkah Chacha, tanpa sadar dirinya menarik pipi Chacha sedikit keras.


"Sakit Mas ih"


"Ah maaf maaf" Rengekan Chacha membuat Levy sadar. Benar saja pipi chubby milik istrinya memerah sekarang.


Cup...


Cup...


Levy mengecup dua kali pipi Chacha yang ia tarik tadi. Perlakuan Levy membuat semburat merah terlihat.


"Dah sembuh" Kata Levy.


Chacha hanya menenggelamkan kepalanya di perut Levy karena malu. Levy hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah Chacha.


"Sana mandi dulu, aku keluar bentar"


Chacha bangkit dari rebahannya menuju kamar mandi. Melihat punggung istrinya menghilang dibalik pintu kamar mandi. Levy langsung bergegas keluar untuk menemui anak buahnya.


Saat melintasi ruang tamu, Levy bisa melihat sahabatnya masih berkumpul dengan Alexsa dan Michelle. Entah apa yang mereka bicarakan Levy tak peduli.


Sampai diluar Levy melihat anak buahnya berjejer rapi, Levy memberi perintah terakhir untuk mereka lalu berbalik lagi masuk ke dalam.


"Na, di dapur ada apa? " Tanya Levy saat melihat Nena baru keluar dari arah dapur.


"Banyak. Ada wajan, panci, gelas, termos, sendok, piring... "

__ADS_1


"Bukan itu Nena" Ujar Levy malas.


"Lah lo kan nanyanya di dapur ada apa? Gue sebutin malah salah. Aneh lo"


"Maksudnya ada makanan apa? "


"Nah gitu kek, kalo nanya tuh yang lengkap" Levy menghela napas pelan.


"Nah sekarang jawab, di dapur ada makanan apa? "


"Kagak tau, gue cuma ambil air doang nih" Nena langsung meninggalkan Levy yang mematung di tempatnya.


Untung sahabat, kalo nggak gue pites tuh anak. Batin Levy.


Sedangkan Nena hanya bisa terkikik geli saat melihat ekspresi kesal yang Levy tunjukkan. Lainnya yang melihat itu hanya bingung.


"Kenapa lo? " Tanya Zeze.


"Kesambet nih anak" Kata Kinos.


"Sialan lo, nggak ya. Gue habis ngerjain pak bos"


"Wah hal langka ini. Berhasil tapi? " Tanya Putra penasaran.


"Berhasil dong" Bangganya.


"Emang lo apain tuh manusia es? "


"Jarang sekali pak bos kita kerjain"


"Emang bisa tuh anak dikerjain, ingat terakhir kita kerjain kita kena masalah"


Mereka pernah berniat mengusili Levy saat Chacha masih di luar negeri. Dengan membuat berita ini itu tentang Chacha dan menyampaikan pada Levy, bukannya kaget malah mendapat kemurkaan dari Levy. Kemurkaan yang berujung dengan Levy menyentil sedikit usaha mereka. Sedikit yang Levy lakukan sudah membuat mereka kalang kabut.


Alexsa dan Michelle hanya menjadi pendengar setia. Alexsa kira dirinya sudah begitu dekat dengan Levy dan mengetahui segalanya, tapi sampai disini dirinya sadar. Kalau sebenarnya dirinya tak tahu apa-apa tentang Levy. Apalagi ditambah kehadiran Chacha, membuat Alexsa sadar diri jika ingin merebut Levy. Bukan hanya tak dibukakan pintu oleh Levy, pasti sahabatnya ini akan menjadi pagar kokoh agar hubungan keduanya tak rusak.


"Levy mana? " Tanya Chacha dengan tampilan yang segar.


Mereka kaget melihat Chacha yang tiba-tiba muncul.


"Di dapur"


"Ngapain pula malem-malem gini mainan di dapur tuh suami" Gerutu Chacha pelan, namun tak ayal dirinya masih melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Mas ngapain? " Tanya Chacha saat melihat Levy sedang memotong sosis.


"Buat makanan apa aja, kamu belum makan kan? " Jawabnya setelah menoleh kearah Chacha sekilas.


Chacha berjalan mendekat, memeluk suaminya dari belakang. Menyandarkan wajahnya pada punggung kokoh milik prianya ini.


Levy hanya bisa tersenyum, dirinya sadar Chacha hanya manja kepada dirinya. Levy menghentikan aktivitasnya dan mengelus tangan istrinya.


"Kenapa? "

__ADS_1


"Kok manis sih, Mas? "


"Ish, kamu ini. Sudah ayo aku masak dulu, setelah itu makan"


"Kamu sendiri udah makan belum? "


"Ya belum sih, tapi itu gampang, yang penting kamu dulu makan"


Chacha melerai pelukannya.


"Aku yang masak biar kita makan bareng. Kamu duduk aja di sana"


Chacha langsung menerobos tempat di depan Levy, dan mengambil alih pekerjaan Levy. Melihat itu Levy hanya bisa menggeleng, bukannya berpindah dan menuruti perintah istrinya. Levy malah melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.


"Duduk Mas. Biar cepet ih"


"Gak mau, mau kayak gini aja"


"Aku susah gerak Mas" Rengeknya.


"Ya udah aku bantuin aja. Kita masak bareng biar makin cepet"


"Masak beneran ini loh ya"


Levy hanya tergelak mendengar peringatan istrinya. Pasalnya Levy pernah membantu istrinya membuat cake, namun salahkan dirinya karena susah menahan diri untuk tak menggoda istri mungilnya. Alhasil tepung berserakan di mana-mana karena mereka malah asik mainan tepung melupakan tujuan awal membuat cake.


"Iya sayang iya"


"Ya udah tolong ambilin pasta di lemari atas. Kita masak pasta aja. Aku panasin air dulu" Levy hanya mengangguk saja.


Mereka berdua melakukan tahap demi tahap, tak lupa juga Levy masih asik menggoda Chacha yang sedang serius memasak. Kadang Levy akan dengan sengaja mengecup pipi Chacha, membuat si empu merona malu.


"Mas udah ih, gak kelar-kelar aku masaknya"


Levy hanya diam tak menanggapi istrinya itu. Levy masih terus saja menggoda Chacha. Hingga saat Chacha mengacungkan spatula ke arahnya baru dirinya diam dan sedikit menjauh dari jangkauannya. Tapi percayalah, Levy masih tertarik untuk menggoda Chacha.


"Mas mau dibuatkan minum apa? "


"Aku aja yang buat minumnya"


Levy langsung beranjak, jika tetap memperhatikan istrinya. Levy tak yakin untuk tak menggodanya. Entahlah Levy juga bingung, kenapa jika berdekatan dengan Chacha ada saja upahnya membuat istrinya ini kesal.


Selesai dengan acara memasaknya, Chacha langsung membawa hasilnya ke meja makan, sedangkan Levy membawa minuman yang ia buat ke meja makan. Chacha tak memanggil lainnya karena dirinya hanya membuat dua porsi pasta. Untuk dirinya dan Levy. Sebenarnya Chacha lelah, namun perutnya meronta minta diisi, juga kebetulan suaminya itu belum makan. Jadi sekalian menurutnya.


Chacha menyukai ketenangan seperti ini. Dirinya berharap kedepannya tak ada lagi gencatan senjata yang terjadi. Chacha benar-benar ingin menjalani kehidupan yang normal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


halo readers ku tercinta, makasih udah stay di cerita ini.


jangan lupa mampir di janda kembang author. 💕


see you next chapter all😘

__ADS_1


__ADS_2