
"Langsung lakukan transfusi saat darahnya sudah siap" Perintah Chacha lagi.
"Tuan Lenardi hanya mampu mendonorkan satu kantong darah saja nona" Beritahu anak buah yang kebetulan melakukan pengambilan darah pada Lenardi.
"Hubungi rumah sakit untuk mengantarkan darah dengan golongan darahnya, saya mau itu ada sebelum disini habis"
"Baik nona"
Chacha menyelesaikan operasi besarnya dengan apik. Kini raut lelah nampak jelas di wajah cantiknya. Wajahnya semakin pucat. Semua yang ada di dalam ruangan operasi menatap khawatir pada Chacha yang tampak begitu pucat.
Charles bisa melihat jika nafas Chacha mulai tersendat namun pemimpinnya itu tampak dengan apik mengendalikan dirinya. Chacha masih bisa memerintahkan semuanya untuk mengantarkan Levy pada ruangan khusus pasca operasi itu.
Namun Charles menangkap satu hal yang aneh, Chacha tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya saat memerintah. Dia di tempat terakhirnya, tidak bergerak sedikitpun. Matanya terlihat berat sekali, namun sebisa mungkin dirinya paksa untuk terbuka lebar.
Chacha masih mengawasi semua anak buahnya yang bekerja. Bola matanya mengikuti tubuh suaminya yang di dorong keluar dari ruang operasi. Chacha sudah menyelamatkan semuanya, sekarang hanya bergantung pada bagaimana keinginan Levy untuk sembuh.
"Queen, are you okay? " Tanya Charles lagi saat melihat Chacha begitu sayu.
Anak buahnya yang tersisa juga menatap khawatir pada Chacha. Chacha hanya menampakkan senyum tipisnya sebelum benar-benar menutup matanya karena terasa begitu berat.
Brugh...
"Queen"
Charles dan lainnya berteriak dan bergerak bersamaan saat melihat tubuh Chacha yang mulai jatuh ke lantai. Mereka shock saat melihat bekas darah di lantai ketika Charles mengangkat tubuhnya.
Charles sudah menduga ini akan terjadi. Chacha terluka namun dia masih menutupinya untuk melakukan operasi pada suaminya. Dengan cepat Charles mengangkat tubuh ramping itu ke atas ranjang pesakitan yang ada di ruangan itu. Dengan cepat dirinya menggunting hoodie yang tengah menempel di tubuh Chacha.
Charles menahan napas saat melihat tubuh bagian Chacha penuh dengan darah. Tangan Charles sedikit bergetar melihat pemandangan didepannya kini. Chacha tampak begitu damai dengan mata tertutupnya, bahkan senyum tipisnya masih tersungging di bibirnya.
Brakk..
__ADS_1
Dobrakan pintu yang begitu keras membuat otak Charles sadar untuk melakukan tindakan pada Chacha.
"Tinggalkan ruangan ini, Queen harus mendapatkan tindakan. Kita akan melakukan operasi yang kedua, hubungi bank darah untuk mengirimkan darah Queen kesini. Hubungi asisten ku untuk menjemputnya langsung" Perintah Charles dengan anda seriusnya.
"Baik dokter"
...****************...
Sedangkan di luar ruang operasi seluruh anggota tiga keluarga besar tampak berkumpul di sana. Mereka duduk di sofa yang memang dia sediakan. Menunggu Lenardi yang sedang melakukan pengambilan darah, hingga akhirnya selesai dan bergabung dengan yang lainnya.
Mereka kompak berdiri saat tubuh Levy di dorong keluar oleh anak buah Charles. Namun, belum sempat mereka melangkahkan kakinya mengikuti tubuh Levy yang terbaring. Teriakan memanggil nama Chacha terdengar dari arah dalam, membuat Pandu langsung mendobrak pintu itu.
Sebagian mengikuti Levy yang di dorong ke ruang perawatan, sedangkan sebagian lagi menunggu di tempat semula. Wajah mereka langsung berubah khawatir kembali saat mengetahui Chacha harus mendapatkan operasi.
Tuan dan Nyonya besar Izhaka menunduk dalam. Bastian, juga sedang terbaring mendapatkan tindakan karena luka tembak. Reyhan, dia juga sedang berjuang melawan rasa sakitnya di atas ranjang pesakitan akibat luka tembak. Levy, berhasil melewati masa kritisnya setelah menjadi tameng hidup untuk istrinya. Sedangkan sekarang kebanggaan mereka, berlian mereka, sekali lagi membuat hidupnya dalam bahaya demi kebahagiaan keluarganya.
"Kenapa harus Nisha terus yang mendapat luka. Kenapa bukan kita yang sudah tua ini? " Lirih Tuan Ibra.
"Papa" Ratih langsung memeluk ayahnya untuk menenangkan.
"Bagaimana keadaan, Chacha? " Tanya King dengan nada khawatirnya.
Semua orang menunduk, mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing.
"Bunda? " Bu Ratu hanya menggeleng dengan air mata yang terus mengalir. King langsung merengkuh sang bunda dalam dekapannya.
"Siapa yang menangani Chacha di dalam? " Tanya King lagi.
"Dokter Charles" Jawab Pandu singkat. King hanya mengangguk.
Sedangkan yang lain langsung menatap Pandu dengan tatapan tidak percaya. Pikiran mereka berkecamuk, bagaimana dokter hebat yang selama ini menyembunyikan diri itu bisa melakukan operasi pada Chacha.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, bahkan mereka tidak sadar jika matahari sudah mulai menampakan sinarnya. Mereka juga tidak sadar jika satu malam penuh tidak tidur dan melewatkan jam makan malam. Mereka masih dilanda cemas saat asisten Charles datang membawa kantong darah milik Chacha.
Karena selama ini Chacha rutin melakukan donor darah. Mengingat darahnya termasuk langka, hanya keturunan Izhaka saja yang memiliki garis darah sama seperti miliknya, dan itupun tidak semuanya. Tidak heran jika dia memiliki stok darah untuk dirinya sendiri.
Hingga akhirnya tubuh Chacha di dorong keluar dengan ditemani alat penunjang kehidupan yang menempel di tubuhnya. Bu Ratu langsung pingsan saat melihat tubuh Chacha yang seperti mayat hidup. Mereka semua serempak menangis melihat kondisi Chacha yang masih kritis. Apalagi saat melihat senyum tipis yang masih tersungging dengan mata terpejam itu, seolah-olah dirinya sudah tahu jika hal ini akan terjadi.
"Operasi berjalan dengan lancar, namun keadaannya terus menurun. Aku berinisiatif mendekatkan dia dengan suaminya, agar dia tidak merasa sendirian. Setelah pemeriksaan lanjutan, kalian bisa bawa si kembar ke kamar mereka, itu bisa membantu pemulihan nantinya" Jelas Charles menatap semuanya yang menangis.
"Chiara kumpulkan semua ketua tim obat. Kita adakan rapat 15 menit dari sekarang. Urgent" Ucap Charles yang langsung diangguki oleh Chiara.
Charles langsung memimpin anak buahnya yang mendorong tubuh Chacha menuju ruangannya. Satu ruangan dengan Levy yang masih setia memejamkan matanya juga.
Kasur mereka diletakkan berdampingan. Dengan sama-sama alat bantu pernapasan di hidung mereka. Bedanya Chacha dibantu oleh alat penunjang kehidupan lainnya karena keadaannya yang benar-benar kritis. Charles langsung mengecek semua alat yang menempel pada tubuh Chacha berfungsi sebagaimana mestinya sebelum dia meninggalkan sang ratu.
"Panggil doker Nisa untuk bertugas menjaga, Queen. Aku akan rapat dengan mereka terlebih dahulu" Titah Charles pada anak buahnya.
Charles langsung memberi kode mata pada Chiara dan Pandu untuk mengikutinya.
"Sebaiknya kalian bersihkan diri terlebih dahulu, lihat si kembar dan yang lain di kediaman utama" Perintah Tuan Ibra tanpa mengalihkan pandangannya dari cucu kesayangannya itu.
Mereka langsung membubarkan diri menuju kediaman utama milik Chacha. Menengok si kembar dan lainnya.
"Bagaimana keadaan Ratu, Nial? " Tanya Tuan Ibra pada King.
"Bunda terlalu shock, Kek. Sedang dirawat di kamar sebelah, ditemani oleh Ayah"
"Perang belum berakhir, Nial"
"Maksud Kakek? "
"Musuh sesungguhnya dari keluarga Izhaka baru saja menampakkan dirinya kembali. Atasi masalah ini sebelum adik mu" King tidak bergerak, dia cukup kaget mendengar penuturan sekaligus perintah dari kakeknya itu.
__ADS_1
"Berarti... "
"Yang tadi musuh nenek mu. Kali ini ada musuh keluarga Izhaka dari jaman kakek buyut mu, dendam turunan. Bersiaplah, mereka akan memanfaatkan kesempatan ini pastinya"