Call Me Queen

Call Me Queen
Sekolah


__ADS_3

Hari ini adalah dimana hari pertama kali sekolah kembali pada aktivitasnya setelah libur cukup panjang. Tak luput dengan gadis cantik yang satu ini yang sudah siap dengan segala perlengkapan sekolahnya.


Tak tak tak


"Morning Bang"


"Morning dek. Yakin mau sekolah dek?"


"Yakin bang. Masak adek kalah sama berita gituan sih"


"Abang cuma khawatir, Queen"


"Adek paham kok, Bang"


"Bawa mobil sendiri atau diantar?"


"Dianter sama Pak Edo Bang, males nyetir Chacha"


"Ya sudah Abang berangkat duluan ya ada meeting pagi ini"


"Abang gak sarapan?"


"Sarapan di kantor dek"


"Hati-hati ya Bang"


"Iya bawel"


Setelah mencium kening sang adik Rey langsung berlalu meninggalkan mansion Chacha. Memang sejak Chacha keluar dari kediaman Effendy Rey sering bolak-balik untuk tinggal di mansion dan kediaman Effendy.


"Mbak ida, Chacha berangkat" seru Chacha pada kepala pelayan setelah menyelesaikan sarapannya seorang diri.

__ADS_1


Chacha berlalu dari meja makan langsung menuju pintu depan karena pasti Pak Edo sudah menunggu untuk mengantarnya ke sekolah.


"Langsung berangkat sekarang, non"


"Mampir ke apartemen bentar ya pak" jawab Chacha setelah melihat jam dipergelangan tangannya.


"Baik non"


Diperjalanan Chacha disibukkan dengan mengecek email-email masuk di laptopnya. Ya, karena setiap mobil pribadi Chacha akan selalu ada laptop untuk dirinya bekerja.


"Langsung ke sekolah pak" ucap Chacha pada Pak Edo.


"Baik non" jawab Pak Edo.


Keadaan kembali hening sama seperti sebelumnya karena Chacha kembali fokus pada laptopnya.


"Sudah sampai non" Chacha mengangguk menjawab perkataan Pak Edo. "Pak tolong antarkan flashdisk ini pada Kak Shaldon. Pastikan Kak Shaldon langsung yang menerima ya" ucap Chacha sambil menyerahkan sebuah flashdisk pada Pak Edo.


"Baik non" jawab Pak Edo.


Setelah melihat mobilnya mulai menjauh dari halaman sekolah Chacha baru melangkahkan kakinya menuju kelasnya.


Bisik-bisik setiap koridor dari para siswa dan siswi selalu Chacha dengarkan dia hanya tersenyum tipis menanggapi ejekan mereka. Setelah sampai didepan mading Chacha langsung mengecek dikelas berapa sekarang dia akan masuk.


"Gila kita ngumpul lagi" suara cempreng nan khas menggelegar didepan papan mading mengagetkan beberapa siswa yang kebetulan lewat. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si petakilan Karin.


"Pecah gendang telinga gue lama-lama Karin kalau temenan sama lo terus" gerutu Nena yang berada didekat Karin. Sedangkan Karin, jangan ditanya lagi anak itu hanya nyengir kuda.


"Gimana masih sekelas?" seru Chacha dari belakang mereka.


Mereka berempat menoleh serempak ke belakang dan adegan berikutnya kalian pasti tau lah teletubbies sedang berpelukan.

__ADS_1


"Gue kira lo gak bakalan masuk Cha" ucap Fany.


"Masuk lah gue, udah trending masak gak masuk kasian netizen dong yang udah gatel pengen komentar" jawab Chacha santai


"Nih anak emang udah geser kali otaknya ya" timpal Zeze.


"Eh tapi liat deh bener kata Chacha murid-murid pada bisik-bisik semua" bisik Karin pada lainnya.


"Bodoh amat ya" jawab Chacha.


"Kelas aja yuk. Pengen nyakar orang bawaannya gue disini" ajak Nena.


Disepanjang perjalanan menuju kelas tak sedikit siswa yang terang-terangan mengejek Chacha langsung. Chacha hanya merespon dengan senyum tipis sangat tipis. Dia kembali pada sikap dinginnya lagi.


"Gak malu apa ya udah diusir masih masuk disekolah ini?"


"Sok sih"


"Kena karma kan lo"


"Orang miskin pada ngumpul"


"Tadi naik mobil mewah dapet dari mana neng?"


"Ngej***ng kali"


Setiap ejekan hanya Chacha anggap angin lalu. Belum saatnya dirinya membuka identitas yang sebenarnya.


"Cha lo siap masuk kelas?" tanya Fany.


"Emang kenapa?"

__ADS_1


"Pasti lo jadi bahan bullyan si mak lampir itu" jawab Karin.


"Hehehe let's start the game" jawab Chacha sambil menunjukkan smirknya.


__ADS_2