Call Me Queen

Call Me Queen
Pa.. Pa... Ma.. Ma..


__ADS_3

Satu minggu berlalu, kondisi Chacha tidak menampakkan perubahan apapun. Sedangkan Levy berhasil membuka matanya di hari keempat dirinya tertidur. Si kembar juga ditetapkan di ruangan bersama sang mama, Chacha sudah dipindahkan dari ruang rawatnya.


Si kembar terpaksa menggunakan susu formula karena tidak memungkinkan untuk ASI. Chacha masih begitu damai dalam tidurnya. Levy menatap sendu ke arah istrinya, sejak mengetahui jika sang istri lebih mementingkan dirinya dibanding nyawanya sendiri membuat perasaan Levy tak karuan. Pikirannya berkecamuk, suami macam apa dia yang hanya menyusahkan istrinya.


Para sahabat Chacha kehilangan wajah asli mereka. Kini yang terlihat hanya wajah datar dan kilatan dingin di wajah cantik mereka. Bahkan mereka tidak beranjak dari kamar Chacha kecuali mandi.


"Pa.. Pa"


Atensi semua orang menatap balita mungil yang sedang menatap Levy dengan mata bulatnya itu. Mereka menatap takjub bayi cantik berumur 8 bulan itu.


Levy menatap putri kecilnya dengan begitu dalam, begitupun Baby Al yang membalas tatapan papanya dengan lekat. Levy melebarkan tangannya, membuat Baby Al yang sudah belajar berjalan di umur 8 bulan itu melangkah perlahan.


"Anak pintar Papa" Ucap Levy saat Baby Al berada dalam rengkuhannya.


"Ini kata pertama yang dia ucapkan selain berceloteh tak jelas" Ucap Bu Ratu takjub melihat cucunya mampu memanggil papa pada Levy.


Yang lain hanya tersenyum, namun tidak bisa menunjukkan raut kesedihan saat melihat Chacha yang masih terpejam. Harusnya mereka melihat raut bahagia dan bangga saat mendengar Baby Al mengucapkan kata papa pada Levy.


"Cinta pertama anak gadis adalah sosok papanya" Tambah Lena.


"Dan cinta pertama anak laki-laki adalah mamanya, dia akan meletakkan urusan mamanya diatas segalanya" Tambah Ratih yang menatap Levy mengelus pelan rambut Baby Al.


Sejak sadar Levy tidak langsung melepaskan semua yang menempel di tubuhnya. Hanya menyisakan perban yang membalut lukanya saja. Dia sama keras kepalanya dengan sang istri.

__ADS_1


Tanpa mereka sadar jika dua jagoan Chacha mendekat ke arah ranjang tempat Chacha dibaringkan. Dua pasang mata polos itu menatap wajah teduh sang mama yang sedang tertidur. Mereka berdua meraih tangan Chacha yang bisa mereka gapai.


"Ma... Ma"


"Ma... Ma"


Setelah cukup kaget dengan Baby Al yang memanggil papa, kini mereka kembali di kagetkan dengan dua jagoan tampan yang memanggil mama. Bahkan mereka memanggil sambil memegang tangan Chacha, keduanya tampak seperti berusaha membangunkan sang mama yang sedang terpejam.


Levy bangkit dari duduknya sambil menggendong Baby Al, menghampiri dua jagoannya di samping ranjang Chacha. Levy duduk dan merengkuh ketiganya dalam pelukannya. Bu Ratu, Ratih dan Lena memalingkan wajahnya agar tidak terlihat jika sedang menangis melihat pemandangan di depannya. Dimana Levy yang berusaha tegar di hadapan anak-anaknya.


"Mama sedang istirahat, mama lelah habis bermain. Sekarang giliran tuan dan nona kecil papa yang tidur, ya" Mereka tampak mengangguk lucu, meskipun tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Levy, tapi mereka tetap mengangguk.


"Mbak, siapkan susu untuk si kembar" Pinta Levy pada pengasuh anak-anaknya.


Lalu Levy menaikkan satu per satu tubuh anaknya dan dibaringkan di samping tubuh sang mama. Chacha sengaja di tidurkan agak menepi karena si kembar juga tidur di ranjang yang sama dengan dirinya. Baby Atha tepat di samping Chacha, lalu di sampingannya ada si montok, terakhir Baby Akmal yang tidur di samping sang papa.


Levy menatap ketiga buah cintanya bersama Chacha itu dengan intens, dia mengelus kepala Baby Akmal lembut. Karena kedua anaknya sudah mulai terlelap, sedangkan si sulung masih membuka matanya.


"Tumbuhlah menjadi laki-laki yang kuat dan bijaksana nak. Papa harap sikap berani mama, menurun seutuhnya pada mu. Lindungi adik-adik mu saat papa dan mama tidak bersama kalian. Jadilah kakak yang hangat dan perhatian, namun ajarkan juga ketegasan dan kedisiplinan pada adik-adik mu. Jaga si cantik dengan baik karena dia yang lebih sering berada dalam bahaya. Maafkan papa jika menitipkan beban berat ini di pundak mu, nak"


Semua orang terdiam mendengar perkataan Levy pada anaknya, bahkan mereka bisa melihat jika Baby Akmal tampak menatap Levy dengan mata bulatnya saat sang papa memberikan petuahnya. Mungkin hari ini Babu Akmal tidak mengerti apa yang diucapkan Levy. Namun, percayalah dia salah satu jenius yang Chacha lahirkan. Hatinya mampu merasakan apa yang sedang papa nya rasakan.


Brak...

__ADS_1


Mereka kaget saat melihat pintu di dobrak paksa dan menampilkan anak buah King yang terengah-engah.


"Maaf Tuan, di luar terjadi penyerangan" Lapor nya dengan cepat.


King langsung bangkit dari duduknya, mata elangnya memancarkan kilatan membunuh yang begitu kental. Dia melangkahkan kakinya dengan pasti.


Cukup adik mu yang berkorban, kini giliran mu. Batin King dengan mantap.


Tidak hanya King, para sahabat Chacha juga sudah bersiap. Karin bahkan langsung mengalungkan senjatanya pada lehernya. Sejenak dia mencium puncak kepala anaknya begitu lama. Air matanya menetes saat harus meninggalkan putranya. Karin diperbolehkan tidak bertugas, namun hutang budinya pada Chacha membuat rasa royalnya pada Chacha mengalahkan segalanya.


"Kami akan keluar, lebih baik kalian berjaga di depan kamar ini saja. Bahaya jika musuh sampai melesak masuk ke kamar ini" Ucap Karin dengan tatapan kosongnya.


"Apapun yang terjadi tolong jangan biarkan musuh masuk ke dalam kamar ini" Pintar Nena.


Yang lain hanya mengangguk dan membiarkan para sahabat Chacha menjalankan tugasnya. Mereka dengan patuh keluar dan berjaga didepan kamar Chacha. Meninggalkan Levy yang masih berusaha membuat putranya tertidur.


Si kembar, Karin dan Nena melangkahkan kakinya keluar dengan mantap. Sedangkan pasangan mereka ditugaskan menjaga kamar Chacha, kecuali Pandu yang tidak ada kabar sejak penyerangan terakhir. Begitu juga dengan Chiara yang menghilang bak ditelan bumi.


Karin dan lainnya sampai di depan anak buahnya yang bertugas kali ini. Death Rose dan Black Rose bersatu bukan untuk memenangkan perang ini, namun sebisa mungkin melindungi sang ratu yang tengah terpejam.


Tuan besar dan Nyonya besar Izhaka juga tampak di sana. Mereka akan ikut turun dalam pertempuran kali ini, musuh yang dihadapi berbeda dengan yang kemarin. Kali ini mereka lebih licik dan licin dari kemarin.


Karin menoleh ke arah atas, tampak helikopter yang biasa dirinya pakai mendekat ke arahnya. Tanpa berpikir panjang dia langsung menggapai tali yang menjuntai ke bawah. Karin kembali memegang kendali di udara dalam perang ini. Fany dan Zeze langsung membawa pasukannya ke depan, karena si kembar menjadi penyerang utama. Nena bertahan dibelakang, dia akan menambahkan sedikit demi sedikit pasukannya untuk menekan musuhnya.

__ADS_1


King sendiri langsung memimpin anak buahnya untuk membasmi para musuh yang muncul terang-terangan. Mereka mengabaikan musuh yang masih bersembunyi. Musuh kali ini lebih banyak dari biasanya. Tanpa perintah dari Chacha langsung anak buahnya tidak bisa turun secara langsung, karena kode senjata yang mereka gunakan hanya bisa diakses oleh Chacha. Mereka tidak bisa menggunakan senjatanya secara asal.


Jika dilihat penyerangan kali ini berat sebelah, bagaimana tidak mereka bertempur tanpa pemimpin dan strategi. Layaknya anak ayam yang kehilangan induknya, mereka hanya fokus pada apa yang ada didepannya.


__ADS_2