Call Me Queen

Call Me Queen
Hareudang


__ADS_3

Mati gue. Batinnya berteriak.


"Kenapa, cinta? " Bisik Levy tepat dibalik telinga Chacha, hingga Chacha dapat merasakan hangatnya nafas Levy. Jangan lupakan tangannya yang memeluk tubuhnya lembut.


Chacha menormalkan degup jantungnya. Ini bencana, pikirnya. Posisi dan keadaan dirinya yang hanya memakai handuk bisa-bisa membuat Levy berpikiran liar tentang dirinya.


Ya ampun. Gue jamin bakal digempur habis-habisan malam ini. Batinnya bersedih.


Selama melahirkan Levy tak begitu menuntut haknya di ranjang pada Chacha. Dia hanya meminta jika ada kesempatan, bisa dihitung oleh jari berapa kali mereka berhubungan badan dalam seminggu. Levy mampu menekan keinginannya untuk menguasai istrinya sepenuhnya saat melihat anak-anaknya begitu menempel pada sang mama setiap malam. Bahkan dengan senang hati Levy akan ikut bergabung menempel pada istrinya seperti anak-anaknya.


"Cinta" Panggil Levy lagi saat Chacha tak kunjung menjawab panggilannya. Tampak Levy menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Tidak melakukan apapun, hanya memejamkan matanya.


"Si cantik sudah tidur? " Tanya Chacha akhirnya bersuara.


Levy mengangguk kecil, masih dalam posisi yang sama. Bahkan Chacha menghentikan aktivitasnya mencari pakaian yang akan dia gunakan.


"Mas? "


"Hmmm"


"Aku mau ganti baju dulu, kamu geser dikit dong" Pinta Chacha, sungguh dia gugup bukan main.


Udah kayak penganten baru aja lo, Cha. Batinnya kembali bersuara.


Tak dipungkiri Levy memang mampu membuat dirinya gugup setiap kali mereka akan berhubungan. Levy, laki-laki pendiam dan kaku diluar itu akan berubah menjadi budak cinta yang begitu memujanya ketika berada di dalam kamar. Levy akan menggodanya dengan begitu romantis dan erotis. Membuat Chacha kerap kali menahan nafasnya karena perlakuan suaminya itu.


"Ngapain ganti baju, kalau sebentar lagi bakalan polos, hmm? " Bisik Levy lembut, sembari mengendus dalam ceruk leher istrinya.


Chacha memejamkan matanya saat Levy mulai mencium lehernya pelan. Ini yang Chacha suka, sekalipun Levy terbakar gairah untuk ber cinta. Namun, dirinya tak lupa untuk tetap memperlakukan Chacha dengan begitu lembut. Levy selalu melakukan foreplay terlebih dahulu sebelum memasuki hidangan utama.

__ADS_1


"Emhhh" Lenguh Chacha saat Levy mulai menggerakkan lidah nakalnya disekitar lehernya. Bahkan tangannya tidak tinggal diam.


Secepat kilat Levy membalik tubuh sang istri untuk menghadap dirinya. Levy segera menyambar bibir yang menjadi candu untuknya itu. Melum*atnya pelan, penuh kelembutan. Namun semakin lama, Levy memasukkan sedikit demi sedikit gairahnya untuk memancing hasrat sang istri.


Rupanya umpan berhasil, ciuman mereka yang awalnya lembut kini berubah menjadi panas. Levy menahan tengkuk istrinya dengan tangan sebelah kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk meremas pinggang ramping milik Chacha.


Chacha melotot kaget saat Levy mengangkat tubuhnya tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Chacha didudukkan di salah satu baris lemari yang cukup tinggi. Ciuman Levy turun ke arah leher Chacha kembali, Chacha hanya bisa meremas rambut belakang suaminya. Memejamkan matanya saat suaminya sampai di dua buah bukit kembar yang kini menjadi milik ketiga buah hatinya itu.


Gerakan Levy berlanjut turun menuju perut rata milik istrinya. Perut yang sedikit berbentuk kotak-kotak itu karena rutinnya sang istri berolahraga. Chacha begitu pintar merawat tubuhnya meskipun telah melahirkan. Levy mencium bekas operasi yang menjadi tanda bahwa istrinya telah memberikan dirinya keturunan. Bekas itu sudah pudar, jangan tanya kenapa. Yang pasti karena obat yang Chacha racik bukanlah main-main.


Hingga Levy menaikkan kaki sebelah kiri Chacha ke atas bahunya membuat Chacha menggigit bibir bawahnya. Pemandangan itu tak lepas dari pengamatan Levy. Istrinya begitu menggoda dengan ekspresi itu.


Sedetik kemudian Chacha meracau tak jelas seraya memejamkan matanya kala Levy menenggelamkan kepalanya diantara pahanya.


"Mas" Teriak Chacha begitu menggoda ditelinga Levy. Levy semakin menjadi saat paha sang istri menjepit kepalanya.


"No... No.. Mas" Chacha semakin tak karuan, Levy tersenyum dibawah sana.


"Lev ah, " Tubuh Chacha bagai tersengat aliran listrik tingkat tinggi. Bersamaan dengan itu juga dibawah sana tumpah membuat senyum Levy terbit sempurna. Bahkan tanpa rasa jijik Levy membersihkan ulahnya dengan lidahnya.


Chacha masih memejamkan matanya menikmati sisa pelepasan pertamanya. Hingga Levy berdiri dihadapannya menatap dirinya dengan tatapan menggoda.


Chacha menampilkan senyum miringnya membuat Levy menaikkan sebelah alisnya. Jika disangka Chacha tidak memiliki sisi liar, maka Levy salah besar. Jika selama ini Levy yang selalu memimpin permainan. Kini tidak lagi, sang singa tidur sudah Levy senggol tanpa sengaja. Saatnya eksekusi.


Chacha dengan perlahan membuka kaos yang melekat ditubuh atletis suaminya itu. Levy hanya diam melihat apa yang akan dilakukan istrinya. Dengan gerakan abstrak dia menyentuh dada Levy dengan jemari lentiknya.


Hap...


Chacha melompat turun dari tempatnya duduk saat ini. Itu membuat tubuhnya berada tepat di depan tubuh Levy. Chacha menyentuh perut sixpack suaminya dengan gerakan pelan, Levy memejamkan matanya saat aliran listrik mulai terasa hanya karena sentuhan sang istri.

__ADS_1


Dalam sekali gerakan Chacha membuat tubuh Levy polos seperti dirinya. Levy dibuat menganga tak percaya karena kelakuan nakal istrinya. Tampak Chacha mendorong tubuh sang suami menuju sofa yang ada diruangan itu. Langsung menghempaskan tubuh itu begitu saja tanpa memikirkan keterkejutan pemilik tubuh.


Chacha tampak berjongkok di depan sang suami yang sudah melotot horor. Chacha hanya menampilkan senyum miring miliknya. Bukan untuk menakuti musuh kali ini. Tapi menggoda iblis berwajah malaikat didepannya ini.


Tanpa ragu Chacha menenggelamkan wajahnya diantara kedua paha Levy. Tanpa aba-aba Levy mendongak seraya memejamkan matanya. Istrinya begitu nakal kali ini, dan Levy tidak mengantisipasi hal ini akan terjadi. Sungguh diluar dugaan.


"Yang,, ah" Suara serak Levy membuat gerakan Chacha semakin liar dibawah sana.


"Baby, No" Pekik Levy saat gerakan Chacha tak terkendali.


Namun, ketika hampir berada di puncak Levy langsung menghentikan Chacha. Memegang kedua bahu sang istri untuk membawanya berdiri. Levy memepetkan tubuh Chacha menghadap ke arah dinding. Tangannya dia kunci dengan tangan besarnya diatas kepala sang istri.


"Ini akan menjadi malam yang begitu panas, cinta" Bisik Levy begitu menggoda Chacha.


Setelah membisikkan kata-kata godaannya Levy langsung melakukan penyatuan dengan istrinya. Tampak Levy menghentikan aktivitasnya saat Chacha mencengkram tangannya begitu erat.


"Sakit? " Tanya Levy sambil menjilat daun telinga istrinya. Tampak Chacha mengangguk dengan pelan.


Harus Levy akui, berulang kali mereka melakukan penyatuan dengan panas ataupun dikejar waktu. Levy selalu merasa jika istrinya sangat sempit saat miliknya masuk. Levy benar-benar merasa jika istrinya selalu menjadi gadis setiap waktu.


"Tahanlah sebentar, cinta. Ini akan nikmat sebentar lagi"


Levy melanjutkan aktivitasnya. Benar saja tak lama kemudian dirinya mendengar racauan istrinya. Tak kalah dengan sang istri, Levy juga kerap kali meracau karena merasa milik sang istri begitu menjepit nya.


"Mas" Chacha seakan memberi kode pada sang suami jika hampir mengalami pelepasan.


"Bersama sayang" Levy mempercepat gerakannya, hingga Chacha merasakan rahimnya menghangat tanda sang suami mendapat pelepasan nya.


Levy tampak mengatur nafasnya dengan menundukkan kepalanya di bahu kecil miliknya. Chacha juga tampak menempelkan keningnya pada tembok di depannya.

__ADS_1


"Ini belum selesai cinta, kali Mas bakal buat kamu benar-benar terbang begitu tinggi" Ucap Levy kembali menggoda istrinya sambil menggigit pelan bahu Chacha.


Chacha hanya tersenyum saat mendengar perkataan Levy yang mengatakan permainan panas ini belum selesai. Chacha sudah bisa menebak jika dirinya akan dibuat remuk oleh suaminya. Meskipun dibuat remuk berkali-kali, pada kenyataannya Chacha begitu menikmati permainan panas ini.


__ADS_2