Call Me Queen

Call Me Queen
Di serang?


__ADS_3

Malam ini Chacha tengah bergelut dengan bumbu untuk membuat rujak. Setelah memetik mangga langsung dari pohonnya, Chacha memilih pulang untuk mandi. Alhasil sekarang ini mereka berkumpul lagi, melanjutkan kegiatan yang tertunda.


"Yang ini punya Karin" Chacha menyerahkan dua mangkuk bumbu rujak pada mereka.


"Kenapa dibedain? " tanya Elang.


"Icip sendiri deh" jawab Chacha.


"Sini mangganya yang udah dikupas, mau dicuci dulu" pinta Chacha pada mereka yang mengupas buah mangga.


"Gila sih gue masih gak nyangka Chacha manjat pohon mangga" Kinos menggelengkan kepala.


"Apalagi lo, gue aja kaget liatnya"


"Itu belom seberapa mah. Dia juga pernah manjat pohon kelapa" ucapan Chiara membuat yang lain melotot.


"Dia itu cewek apa gimana sih"


"Lo gak percaya kalo gue cewek tulen, Nos? "


"Eh... "


"Nih potong-potong" Chacha menyerahkan buah mangga yang sudah ia cuci pada Nena.


"Sejak kapan lo buka butik, Cha? " tanya Karin sambil menyuapkan potongan mangga ke mulutnya.


"Beberapa tahun yang lalu"


"Kok kita gak tau? "


"Asisten gue yang urus"


"Desain lo sendiri yang dijual atau gimana? "


"Sebagian iya sebagian juga ada beberapa desainer yang ikut andil"


"Nama butik lo apa? "


"Oh ya, Rin. Bisa lo jadi model gaun gue yang terbaru? " Chacha mengabaikan pertanyaan Fanny dan malah bertanya pada Karin.


"Kapan dan dalam acara apa? "


"Tiga bulan lagi, fashion show doang sih kayaknya. Gue belum cek lagi"


"Dimana? "


"Paris"


"Kenapa gak pake Angel aja, dia kan model? " tanya Putra.


"Iya Cha, Karin kan aktris bukan model" Angel yang mendengar itu menampilkan senyum mengejek pada Karin. Itupun tak luput dari perhatian Levy.


"Gue yang punya baju, terserah gue mau dikasih ke siapa kan" ucap Chacha dingin.


"Iya sih" Putra dan Kinos menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Jadi gimana, Rin? "

__ADS_1


"Gue liat jadwal gue dulu ya"


"Kalo iya nanti asisten gue yang urus"


"Loh kok"


"Bulan depan gue pelatihan tertutup, kemungkinan jadwal di Paris sama pertemuan gue di Manhattan bertabrakan. Jadi, gue nyuruh asisten gue"


"Gue ngikut aja deh"


"Gue kedalam sebentar" Levy beranjak dengan terburu-buru meninggalkan tanda tanya di benak sahabatnya.


"Gue udah bawain gaun yang bakal kalian pakai nanti pas acaranya Mutia, juga atasan batik buat kalian"


"Lo serius, Cha? "


"Gue serius Kinos, karena gue yakin kalian gak akan tau kalau ada acara nikahan disini"


"Tau kita kok, cuma kita tak berniat bergabung karena kita takut ganggu" jawab Putra.


"Tapi karena kalian memilih bergabung maka kita juga akan bergabung" tambah Putra.


Ting...


Satu notifikasi masuk terpampang dilayar ponsel Chacha. Dengan segera dirinya membuka pesan itu. Setelah beberapa detik Chacha mengernyitkan alisnya.


"Ada apa? " Chiara bertanya karena melihat raut wajah Chacha yang tiba-tiba berubah.


"Sejak kapan kita memiliki masalah dengan mereka" Chacha menunjukkan satu lambang kelompok mafia pada Chiara.


"Kita tak pernah menyinggung mereka"


"Kenapa? " tanya Karin penasaran.


"Kita kedatangan tamu sayang" Chacha tersenyum tipis.


"Wah kebetulan nih, lama gak olahraga" semangat Nena. Membuat ketiga laki-laki disitu mengernyit bingung.


"Fany, Zeze, Nena pastikan disini aman, Karin naik ke atap pantau semuanya. Ambil senjata lo di mobil gue"


"Siap" yang lain malah bengong mendengar intruksi Chacha.


"Jangan lupa pakai peredamnya Karin"


"Siap Queen"


"Bertindak setelah gue dan Chiara bergerak" Karin hanya mengangguk dan melangkah kan kakinya menuju mobil Chacha.


"Target lo arah jam 3, Chia" Chiara hanya mengangguk dirinya sedang berpura-pura bermain game di ponselnya. Namun matanya melirik tajam pada sekitarnya.


Chacha memejamkan matanya. Menajamkan semua inderanya malam ini. Yang lain hanya terdiam menahan nafas. Entah kenapa suasananya terasa mencekam sesaat setelah Chacha mengeluarkan aura pemimpinnya untuk mengintruksi Karin dan lainnya.


"Sekarang" setelah Chacha mengeluarkan perintah nya Chiara langsung berlari dengan cepat. Bahkan dapat mereka lihat Chiara melompati pagar dengan mudahnya. Mereka masih shock dengan apa yang mereka lihat.


Apalagi melihat Karin yang keluar dari mobil Chacha dengan membawa senjata api dan langsung naik ke atap tanpa kesusahan. Padahal tanpa alat bantu. Hanya berpegangan pada apa saja yang menurutnya bisa membantu.


Chacha jangan ditanya dirinya masih memejamkan matanya. Merasakan bisikan yang alam berikan padanya. Memfokuskan konsentrasinya pada satu titik. Dia menampilkan senyum termanis nya saat ini. Berjalan dengan pelan menuju mobilnya. Mengambil senjata yang sama dengan dipakai Karin. Lalu membidiknya ke arah berlawanan dengan dirinya. Hingga beberapa detik berikutnya terdengar seperti benda jatuh cukup keras. Fany langsung menghampiri suara tersebut dan memeriksanya.

__ADS_1


Diatas Karin sedang fokus mengawasi Chiara yang saling mengejar dengan tersangka utama. Karin disini hanya berperan sebagai pelindung mana kalau Chiara mendapat kesulitan. Namun, dirinya tak menyangka bahwa Chiara begitu mahir dalam bela diri. Bahkan tak butuh waktu lama menbekuknya.


"Loh mereka siapa, Nak? " tanya Umi kaget melihat dua orang yang digeret paksa oleh Fany dan Chiara. terlebih salah satu dari mereka mengalami luka tembak.


"Bawa mereka ke tempat biasa, Chia" seru Chacha.


"Siap Queen"


"Ada apa? " tanya Levy yang baru keluar. Mereka masih shock seakan tak mendengar perkataan Levy. Hingga Levy menepuk pundak Kinos.


"Gue gak tau, cuma Chacha habis nembak orang terus Chiara juga habis mukul orang" jelas Kinos dengan wajah bodohnya.


"Maaf, target mereka gue" Chacha berjalan menghampiri Angel. Hanya Angel yang terlihat biasa saja dari tadi.


"Kalau kau ada masalah denganku, maka cari aku nona. Jangan libatkan banyak nyawa hanya karena cemburu butamu. Jika kau ingin berperang melawan ku maka cari aku nona. Aku siap meladeni mu sampai kau puas. Jika kau cemburu karena aku adalah mantan dari tunanganmu, bicarakan baik-baik. Kau cukup dewasa untuk menilai sesuatu, Nona Angel Narendra"


"Maksud Kak Chacha apa? " tanya Angel dengan nada gugup.


"Jangan berpura-pura polos didepanku, aku sedang malas bermain peran"


"Tapi... "


"Hentikan Angel jangan menjawab lagi, lo bisa bangun sisi lain Chacha" sergah Elang. Dirinya tau bagaimana jika Chacha akan mengamuk tapi diawali dengan perilaku yang manis. Semuanya akan berakhir tidak baik.


"Maksud kejadian ini apa dan apa hubungannya dengan Angel? " Levy mulai angkat bicara.


"Gue yang jawab atau lo" Chacha mulai bisa menguasai emosinya.


"Angel juga gak ngerti kenapa Kak Chacha seakan nuduh Angel adalah bagian dari orang yang kakak tangkap"


"Cih masih pura-pura" sinis Chacha.


"Cha" Levy dengan lembut menyebut namanya. Membuat Chacha menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Gue tau lo kesel, gue tau lo... " omongan Levy terpotong saat ponsel Chacha bergetar sejak tadi.


"Apa pan? "


".... "


"Lo diserang? "


"... "


"Gue susul sekarang. Apapun yang terjadi jangan biarkan orang butik turun dari mobil. Lo bisa gue andelin kan"


Chacha berlari menuju mobilnya dengan tergesa lalu meninggalkan halaman rumah bu kades dengan kecepatan tinggi. Membuat sahabatnya bingung. Apa lagi ini? Diserang? Siapa?


"Chacha gak bawa senjata apapun? " tanya Karin karena mereka melihat satu senjata lagi tergeletak manis diteras.


"Loh" ujar mereka bersamaan.


"Gue susul"


"Susul kemana kita aja gak tau kemana tujuan dia"


"Tunggu Fany sama Chiara balik, Fany bisa lacak kemana Chacha pergi"

__ADS_1


"Lev lo kan juga bisa"


"Ini lagi dilakuin" Levy yang sejak tadi mengutak-atik ponselnya. Mencari titik dimana Chacha berada saat ini


__ADS_2