Call Me Queen

Call Me Queen
Kejedot Barbel


__ADS_3

Setelah memastikan Chacha dan Levy mendapatkan perawatan, Chiara langsung berangkat saat itu juga untuk menjemput si kembar. Sesuai titah terakhir sang ratu jika dirinya rindu akan kehadiran si kembar, karena keberadaan tiga bocah itu sedang berada di negeri orang. Satu minggu yang lalu Bastian sengaja menculik ketiga cucunya itu. Bahkan membuat para oma dan opanya berdebat karena ingin menyusul ke Paris.


Chacha dan Levy sengaja diletakkan di ruangan yang sama. Alasan mereka simple, selain mereka berdua sah sebagai pasangan suami istri. Mereka juga dengan mudah menjaga keduanya sebelum anggota keluarganya datang. Sebenarnya maksud tersembunyinya adalah mereka takut Angel berbuat nekat pada Levy saat mereka berkumpul di ruangan Chacha.


Ide itu juga disetujui oleh Charles selaku dokter pribadi Chacha. Bisa dipastikan Charles mengomel panjang saat mendapati Chacha dibawa dalam keadaan tak sadarkan diri ke hadapannya. Apalagi saat kode milik Chacha berubah warna, membuat seluruh ketua tim bergerak serempak menuju rumah sakit. Itu juga membuat heboh sekitar karena penjagaan yang tiba-tiba begitu ketat.


Dan satu hal yang mereka lupakan adalah para juru kamera. Saking paniknya mereka lupa jika sejak tadi melakukan proses syuting, bisa dipastikan jika berita Chacha dan Levy akan menjadi trending topik saat ini.


Bahkan asumsi masyarakat beragam mendapatkan berita tersebut. Ada yang mendukung dua keturunan sultan itu untuk bersatu, ada pula yang menghujat mengatakan jika Chacha perebut, karena menginginkan seorang Levy yang notabene nya dekat dengan Angel. Hanya dalam kurun 1 jam saja berita mereka berdua sudah meledak di pemberitaan.


"Lo masih ngapain disini, Angel? " Tanya Karin dengan nada mengejek saat melihat Angel duduk di sofa.


"Ya kalo nanti Kak Levy nyariin Angel gimana? Kalian juga kan yang repot"


"Jaga nada bicara lo sama istri gue" Elang berkata dengan nada yang begitu dingin. Angel langsung bungkam dibuatnya.


"Kok gue gak yakin ya Levy nyariin lo" Terlalu lama bergaul dengan Karin, rupanya Zeze tertular sifat tengil si mami petakilan itu.


"Kita gak ada yang tahu, lagian Kak Levy juga gak inget kan sama sahabat kalian. Dia malah lebih inget sama Angel"


"Kenapa lo gak ngomong gitu tadi sih, waktu masih ada Chiara tuh lo ngomong gitu. Biar keliatan damage nya" Nena dengan santai mengatakan itu pada Angel, dia juga menikmati perubahan wajah Angel yang tiba-tiba menampilkan raut ketakutan.


"Panggil dokter, Levy kayaknya udah sadar deh" Ucap Putra yang memang duduk di dekat ranjang Levy.


Semuanya sontak menoleh ke arah Putra, sedangkan Pandu sendiri langsung melesat keluar. Memanggil ketua tim elit bagian obat dan perawatan itu.


Mereka bisa melihat jika kelopak mata Levy terbuka secara perlahan. Tampak Levy seperti menyesuaikan cahaya yang menyapa indera penglihatannya.

__ADS_1


"Akhirnya lo sadar juga" Ucap Elang saat melihat mata Levy yang terbuka sempurna.


"Gue dimana? " Levy tampak memegang kepalanya.


"Rumah sakit"


"Gue kenapa? "


"Kejedot barbel" Jawab Karin asal.


"Hah? " Levy cengo mendengar jawaban yang Karin lontarkan. "Dia ngapain disini? " Tanya Levy saat matanya menelisik seluruh ruangan dan pandangannya tak sengaja menangkap sosok Angel yang tengah duduk menatapnya.


"Lo kan lagi deket sama dia" Jawab Fany, sedangkan yang lain menunggu jawaban apa yang akan Levy lontarkan.


"Jangan buat perkara kalian, bisa digoreng gue sama bini. Lagi mana bidadari gue? " Tanya Levy yang masih tak menyadari jika Chacha terbaring di ranjang sebelahnya.


"Kapan gue bilang dia sugar baby? Sugar baby pala lo peang, gue yang bobol dia untuk pertama kalinya"


"Anjir, dedek ternodai" Karin langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Ternodai dari mananya, lupa lo kalo udah punya buntut satu? " Zeze mendelik mendengar ucapan Karin.


"Kalau dia sugar baby, ya berarti gue sugar daddynya dong" Levy tergelak mendengar ucapannya sendiri.


"Angel mending lo balik deh, mumpung seluruh keluarga besar dua orang ini kumpul. Yakin lo bisa nahan malu disini? " Ucap Fany dengan begitu santainya.


Kali tidak ada toleransi lagi untuk Angel, mereka bisa saja berbuat lebih. Namun, sepertinya sang sahabat ingin bermain dengan Angel. Apalagi saat mereka mendapat kabar jika Angel pindah ke agensi yang Chacha dirikan. Bukankah itu salah satu kode yang Chacha berikan jika dia tak melepaskan Angel begitu saja.

__ADS_1


"Tapi Kak Levy? "


"Balik sono, sesak nafas gue satu ruangan sama lo" Ucap Levy dengan begitu dingin. Para sahabatnya langsung tertawa keras mendengar ucapan Levy.


Angel yang sudah kepalang malu, langsung keluar begitu saja. Bahkan Angel sampai membanting pintu ruangan pribadi Chacha itu. Bukannya kaget, mereka malah semakin tertawa kencang melihat reaksi Angel yang membanting pintu.


Setelah kepergian Angel, Levy mulai memejamkan matanya lagi. Mengingat semua kejadian terakhir yang dia alami. Tanpa terasa air matanya menetes saat mengingat ucapan sang istri pada Chiara saat di gym tadi. Bagaimana lelahnya sang istri itu, Levy benar-benar merasa bersalah, namun itu diluar kuasanya untuk tidak mengingatnya.


Jika saja dirinya tak menyaksikan dan mendengar sendiri bagaimana rapuhnya sang istri, mungkin hingga detik ini Levy akan tetap melupakan sang istri. Jika saja Levy tak melawan rasa sakitnya, mungkin Levy akan tetap melupakan ketiga buah cintanya. Selain adegan panasnya bersama Chacha yang kerap kali menyapa dirinya, hingga Levy dibuat sadar ketika bayangan dirinya menikahi Chacha membuat seluruh ingatannya seakan ditarik kembali pada tempatnya.


"Lev? " Para sahabatnya tersentak kaget saat melihat Levy yang terisak.


"Dimana istri gue" Levy bangkit dari posisi terbaring menjadi duduk.


Mereka hanya menunjuk ke arah Chacha terbaring dengan damainya. Selang infus yang terpasang dipunggung tangan sebelah kanan, belum lagi alat bantu pernafasan yang terpasang di hidungnya.


Dengan cepat Levy turun dari ranjangnya dan mendekat ke arah Chacha. Meskipun sempat terjatuh yang membuat para sahabatnya berteriak karena kaget, Levy langsung bangkit dan berhasil mendekat ke arah sang istri.


Bisa dilihat jika Chacha terpejam dengan damai, meskipun wajahnya pucat. Namun tak bisa disembunyikan jika Chacha hanya terlihat seperti orang yang tertidur pulas.


"Cinta" Levy meraba pipi sang istri dengan tangan bergetar. Tangisnya semakin pecah saat melihat wajah pucat sang istri.


Bertepatan dengan Levy yang menangis, saat itu pula seluruh keluarganya masuk ke dalam ruangan itu. Menyaksikan bagaimana tangis Levy pecah saat melihat kondisi sang istri.


"Maafin Mas, cinta. Sungguh maafin Mas. Maaf, jika Mas malah jadi beban buat kamu. Padahal Mas tahu, beban kamu begitu banyak. Maaf cinta maaf, sekali lagi maaf" Levy mencium kening sang istri berulang kali, seiring dengan kata 'maaf ' yang terus terucap dari bibir nya.


"Kamu boleh hukum Mas setelah ini. Mas mohon bangun cinta, bukankah istri Levy wanita yang kuat. Kuatlah untuk kita" Bisik Levy diakhir kalimatnya.

__ADS_1


Levy menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Tempat yang paling Levy sukai. Dirinya masih menangis, merutuki seluruh kebodohannya. Levy akui dirinya ceroboh saat melawan musuh sang istri. Dia sadar jika ada musuh yang akan menyerangnya dari belakang, yang tak dia sadari jika musuh malah menyerang bagian kepalanya. Dan sialnya lagi, akibat keteledorannya itu. Dirinya malah melupakan sang istri tercinta.


__ADS_2