
"Chip? "
Chacha mengernyit bingung saat menemukan sebuah chip di badan mobil box milik butiknya itu. Sengaja diletakkan atau bagaimana, banyak pemikiran yang muncul dalam otaknya kali ini. Apa hubungan chip ini dengan orang-orang yang mengejarnya tadi?
"Kenapa? " Chiara heran melihat Chacha yang terdiam dengan tangan menggenggam sesuatu.
"Gak papa kita bahas di rumah nanti. Gue mau lihat orang-orang butik dulu" Chacha langsung pergi meninggalkan mereka berlima menuju rumah bu kades.
"Kayaknya kita harus perketat penjagaan disini" seru Nena pada lainnya mereka masih ada disekitaran mobil box. Menjauh dari keramaian.
"Kita diskusikan dulu sama, Chacha" tambah Fany karena dirinya tau bagaimana karakter Chacha.
"Emmm. Kalo Chacha bilang iya, kita langsung hubungi lainnya buat penjagaan disini"
"Jika warga bertanya bagaimana? "
"Artis kita ada disini, jadi anggap saja penjagaan untuknya"
"Nah betul itu"
"Ayo kembali ke lainnya sebelum mereka curiga" interupsi Chiara. Mereka berjalan mendekati kerumunan disekitar Pandu.
Demi menghilangkan ketegangan warga, mereka mulai menjelaskan bahwa tadi hanya pelaku orang yang tidak suka pada Karin. Alasan itu yang mudah diterima mengingat karier Karin yang melejit pesat. Apalagi melihat Karin yang begitu kacau, mereka pasti mengira jika Karin sedang ketakutan.
"Chiara"
"Apa Pandu? "
"Kenapa pake diperban segala sih"
"Diobatin untung, banyak protes pula"
"Kan bisa pake plester aja"
"Ya ampun Pandu, sini deh biar gue tambah luka lo" sinis Chiara.
"Lagian kenapa sih, Pan? " tanya Elang. Mereka sudah berkenalan dengan Pandu dan menurut mereka Pandu cukup asik untuk dijadikan teman.
"Nanti ganteng gue ilang ketutupan perban" seloroh Pandu membuat yang lain tertawa.
"Gak usah narsis untung kagak bonyok parah" Chiara menyentil hidung Pandu membuat yang lain makin tertawa melihat ekspresi Pandu.
"Sakit Chiara"
"Makanya jangan berulah"
"Iya iya"
"Eh Pan, tapi kok bisa lo babak belur gini? " tanya Putra yang sejak tadi penasaran melihat tubuh Pandu yang memar sana memar sini.
"Ya baku hantam lah coy. Masa iya babak belur karena gue warnain" kali ini bukan menyentil hidung Pandu, melainkan luka di pelipis yang terbalut perban yang Chiara sentil.
"Biar otak lo langsung balik, Pan" sinis Chiara.
"Gue berantem buat tolongin Queen"
"Hah Queen kenapa? " tanya Elang khawatir.
Pandu mulai menceritakan apa yang ia lihat dan yang terjadi beberapa saat tadi. Hingga bagaimana mereka membuat Chacha pingsan, bagaimana dirinya tak bisa berkutik untuk menolong Chacha. Hingga Levy datang dan dirinya pingsan. Namun, Pandu tak memberitahukan tentang pernikahan Chacha. Dirinya masih sayang pada nyawanya.
"Ayo balik besok pagi kita harus kesini lagi" seru Chacha yang baru keluar dari dalam.
__ADS_1
"Ya udah ayo balik"
"Kalian udah mau balik? " tanya Levy yang terlihat segar, mungkin baru selesai mandi.
"Iya, Lev. Besok pagi kita kesini lagi"
"Pan, mobil lo mana? " tanya Chiara tiba-tiba.
"Ya ampun jangan bilang mobil gue ketinggalan"
"Lo gimana sih, Pan"
"Lupa Chiara, jangan ngomel mulu kenapa sih"
"Kesel gue"
"Lo PMS? "
"Pandu sialan" teriak Chiara, yang lain hanya tertawa melihat keduanya.
"Gak usah debat. Besok pagi kita jemput. Sekalian besok juga turunin barangnya. Gue capek mau istirahat" Chacha berlalu meninggalkan mereka.
Levy yang melihat Chacha berlalu begitu saja tanpa berpamitan menjadi kesal sendiri. Bahkan Chacha tak menoleh barang sebentar saja pada dirinya. Levy yang kesal tak memperdulikan Angel yang mendekat untuk menanyakan sesuatu.
"Kak Levy kenapa sih? " Angel kesal sendiri melihat Levy yang mulai mengacuhkannya.
"Apa Kak Levy tau sesuatu? Tapi itu gak mungkin. Gue kan main cantik" Angel menerka-nerka apa yang terjadi pada Levy. Dirinya juga kesal karena Levy tiba-tiba dingin.
Paginya dikediaman milik Chacha semua orang sudah bangun dari tidurnya. Meskipun mereka hanya tertidur sebentar namun mereka bangun pagi seperti mana biasanya.
"Ayo sarapan udah dibuatin sama Mak Nem tadi" seru Chiara melihat lainnya keluar dari kamar yang mereka tempati satu per satu.
"Sejak kapan lo bangun, Chi? "
"Jatuhnya kita bukan liburan ini"
"Hahahaha sabar, bukannya lo yang ngajak kesini"
"Ya tapi kan gue kira gak gini"
"Lo nyesel bantuin Abah sama Umi" Levy tiba-tiba berbicara membuat mereka kaget.
"Eh udah kayak jailangkung aja lo Lev"
"Ayo sarapan bareng"
"Gue kesini mau jemput lo buat sarapan di rumah"
"Ini lagi mau sarapan. Lo aja yang gabung disini. Eh ada Angel sini gabung sarapan" Angel hanya mengangguk mengiyakan dan duduk di samping Levy.
"Tuan rumah mana? " tanya Levy pasalnya hanya Chacha yang tak ada di sana.
"Tidur kali, soalnya semalem bilang pusing gitu. Gak tau lagi deh semalem Chiara juga ngompres dia, apa demam ya? "
"Chi, Chacha kenapa? " tanya Karin khawatir.
"Gak papa cuma semalem minta kompres bagian tengkuknya"
"Emang kenapa? "
"Gak tau merah gitu. Chacha juga gak jelasin. Habis itu dia tidur katanya pusing" jawab Chiara seadanya.
__ADS_1
"Semalem dia ada makan gak? " tanya Levy membuat yang lain heran dengan perubahan sikapnya.
"Langsung masuk kamar"
"Tunjukin kamarnya biar gue bangunin" mereka hanya mengangguk patuh.
Karin berdiri untuk mengantarkan Levy. Karena Levy memang tak tahu tata letak ruangan di rumah ini, berbeda dengan mereka yang sudah berlalu lalang beberapa hari.
"Kenapa harus kakak yang bangunin, yang lain kan bisa" Angel mulai angkat suara.
"Kita bangunin pun dia gak bakal bangun kecuali pawangnya" ucapan Kinos disambut tawa yang lainnya.
"Maksudnya? "
"Chacha itu kalo tidur dan bangun bukan karena keinginannya dia gak bakal bangun meskipun dibangunin. Kecuali Levy yang bangunin dia bakal bangun"
"Dih caper amat" sinis Angel. Chiara langsung melemparkan sendoknya ke piring Angel.
"Jangan berulah" Angel hanya bisa menahan amarahnya saat ini.
"Masuk aja gak dikunci kok" ucap Karin setelah sampai didepan pintu kamar Chacha.
"Gue masuk, lo mau ikut" Karin hanya menggeleng menjawab ajakan Levy. Dirinya masih lapar dan akan meneruskan sarapannya.
"Gue mau lanjut sarapan" Levy hanya mengangguk.
Levy membuka handle pintu kamar Chacha. Setelah membukanya dirinya mendapati seorang gadis sedang terlelap dibawah selimutnya. Ya gadis karena Levy belum meminta haknya. Levy hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat istrinya begitu lelapnya, bahkan tak terusik dengan sinar matahari yang menyusup lewat korden kamarnya. Levy menutup kembali pintu kamar Chacha dan berjalan menuju sisi ranjang.
"Hei bangun" dengan lembut Levy membangunkan Chacha, seperti biasa Chacha tak akan merespon.
"Sayang bangun" tetap tak ada respon hingga beberapa kali tetap tak ada respon, hingga ide jahil muncul dibenaknya.
Cup...
"Enghh" Chacha langsung bergumam ntah apa membuat Levy tersenyum jahil, kemudian mengecup kembali bibir Chacha membuat Chacha langsung melotot seketika.
"Ish aku kira siapa tau gak" Bukannya bangun Chacha malah memindahkan kepalanya ke pangkuan Levy.
"Ayo bangun, sarapan" Levy mengelus lembut kepala Chacha.
"Males, pengen tidur"
"Ya udah yang bener tidurnya aku temenin"
"Nanti ditanya yang lain aku jawab apa, By"
"Ya jawab aja aku suami kamu, beres kan"
"Enak banget ya ngomongnya"
"Makanya ayo bangun, mandi terus sarapan sayang"
"Iya iya ini mau mandi. Kamu tunggu diluar" dengan terpaksa Chacha harus bangun dari tidurnya. Namun langkahnya terhenti ketika Levy menari tangannya.
"Apa? " tanyanya dengan muka cemberut membuat Levy terkekeh sendiri. Dengan sekali hentak Chacha langsung terduduk dipangkuan Levy.
"Jangan cemberut terus, kalo emang capek ya udah tidur, tapi sarapan dulu ya" Levy berbicara sambil mengelus lembut punggung Chacha.
"Gak papa aku mandi dulu. Kamu tunggu diluar aja, mau cek barang dalam box yang semalem soalnya" Levy hanya mengangguk namun sepersekian detik kemudian dirinya menyambar bibir Chacha. Chacha yang kaget dengan serang tiba-tiba Levy hanya mampu membulat kan bola matanya. Chacha hanya diam tak membalas apa yang Levy lakukan. Levy menghentikan aksinya saat Chacha tetap diam tak membalas.
"Ini yang pertama? " Levy bertanya sembari menaikkan sebelah alisnya. Dengan malu Chacha mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Levy. Jangan ditanya Levy saat ini, wajahnya seperti orang menang lotre.
__ADS_1
"Mandi lah, aku tunggu dibawah" Chacha hanya mengangguk, langsung berlari ke arah kamar mandi.