Call Me Queen

Call Me Queen
Cerita Audy


__ADS_3

Bu Ratu langsung pergi meninggalkan mansion itu tanpa mengatakan apa-apa lagi.


"Ceraikan anak ku" Tuan Ibra berucap pelan.


"Tapi, pa"


"Tak ada tapi, Gun. Kamu sendiri yang berbuat salah kamu juga yang harus tanggung"


"Tapi, aku gak bisa lepas Ratu gitu aja"


"Jangan serakah, kalau kamu gak lepas Ratu kamu harus tinggalin ja*ang itu"


"Tapi, kak. Dia lagi sakit"


"Hubungannya sama aku apa? " sinis Ratih.


Audy yang sejak tadi terdiam dengan pandangan kosong, kini mulai melangkahkan kakinya pelan. Suaminya hanya menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Chacha yang melihat Audy berjalan sendiri masuk ke dalam kamar, mengikutinya dari belakang. Hingga sampai didalam kamar dirinya melihat Audy terduduk dilantai dan terisak disana. Chacha menghampiri dan duduk di sebelahnya.


Lima belas menit berlalu tapi mereka masih diam. Chacha sengaja diam membiarkan Audy menenangkan dirinya sebelum memulai berbicara.


"Lo tau Audy, gue gak pernah membenci lo" Audy kaget saat mendengar apa yang Chacha ucapkan.


"Gue tahu semuanya Audy, gue tahu. Ngeliat lo begitu sayang sama bunda, itu alasan gue gak kasih tau lo dari awal. Tapi kelakuan lo yang ngelunjak buat gue marah" Chacha diam lagi.


Keduanya kembali hening.


"Maafin gue Audy, gak ada maksud gue ngerusak acara bahagia lo. Tapi gue cuma mau kasih pelajaran sama lo, kalau gak semua orang ada dibawah lo. Ada kalanya lo diatas dan ada kalanya juga lo dibawah. Hidup itu layaknya roda yang berputar Audy, kadang kita diatas kadang kita dibawah" Audy melihat kearah Chacha yang masih menatap lurus kedepan.


"Gue sadar dalam hal ini lo emang gak salah. Jika boleh memilih lo gak mungkin mau lahir dari rahim seorang simpanan kan. Gue tahu perasaan lo, itu kenapa gue biarin lo main-main seenaknya. Tapi lo kelewat batas"


"Bagaimanapun lo kakak gue Audy, dalam diri kita sama-sama mengalir darah keluarga Effendy. Gue gak bales lo lebih dari ini. Tolong jangan buat bertindak diluar batas"


"Berubah lah, Kak" lirih Chacha. Audy spontan menoleh lagi ke arah Chacha. Air matanya lolos begitu saja.


"Apa gue pantas ada di keluarga ini? "


"Lo harus bisa memantaskan diri disini. Perjuangan lo akan dimulai, lo harus bisa menghadapi dua keluarga sekaligus, memantaskan diri dalam dua keluarga sekaligus. Ingat lo udah nikah"


"Maafin gue" Audy memeluk Chacha erat. Menumpahkan seluruh sesak di dadanya dipelukan sang adik. Audy menangis sejadi-jadinya.


Mereka berdua tak sadar jika semua keluarga sedang memperhatikan dari jarak aman.


"Bisa lo jujur sekarang? "


"Jujur soal apa? " tanya Audy begitu polos. Dia bertekad untuk berubah kali ini. Dirinya lelah.


"Ck, gue tampol nih"


"Yang sopan gue kakak lo"

__ADS_1


"Dih sombong" cibir Chacha.


Yang lain hanya bisa meringis melihat sikap Chacha kepada Audy. Mereka tak percaya dengan Chacha yang mudah memaafkan apa yang Audy lakukan padanya. Bahkan dengan segala rasa sabarnya dia membiarkan Audy berbuat sesukanya.


"Katakan Audy, kenapa lo bersikap seperti itu? "


"Kakak"


"Ck, jelasin kenapa sih, dari dulu juga gak pernah manggil kakak"


"Kalo lo gak panggil kakak, berarti lo belum maafin gue"


"Gak usah alay, cepet jelasin"


"Gue dapet surat ancaman" kalimat itu membuat Chacha menaikkan sebelah alisnya.


"Sejak kapan? "


"Saat gue mulai nyiksa lo" jawab Audy sambil tertunduk. Mengenang dimana dirinya begitu tega menyakiti Chacha kecil yang menggemaskan dulu.


"Itu lo kan belum bisa baca. Lu mah kebanyakan bohong"


"Dengerin gue dulu sumpret, belum selesai main potong aja"


"Dih dih ngatain, sekate-kate banget"


"Waktu itu gue minta bacain sama pak satpam di depan. Terus pak satpam juga jelasin maksud surat itu. Pak satpam juga nyaranin gue lakuin karena dia sering lihat beberapa orang ngikuti bunda"


"Kok gue gak tau? "


"Lo masih kecil mana tau"


"Gue pikir surat itu udah sampek situ aja, karena keputusan lo buat ikut nenek ke luar negeri buat gue lega, tapi siapa sangka kalau gue dapet surat ancaman lagi. Gue harus ngikutin apa yang dia mau. Kali ini malah lo juga yang akan diincar gak cuma bunda. Gue dilema, gue takut kalian kenapa-napa"


"Puncaknya saat lo balik lima bulan lalu, disurat itu tertulis kalau gue harus lenyapin lo, tapi gue abaikan. Makanya akhir-akhir ini gue sering diteror" Audy nyengir saat Chacha menatap tajam pada dirinya.


"Kenapa lo gak kasih tau siapapun? "


"Gue takut lo kenapa-napa" cicit Audy.


"Ck, goblok di pupuk. Lo lupa siapa gue"


"Kan gue cuma takut"


"Lo simpen semua suratnya? " Audy mengangguk.


"Good. Nanti gue ambil surat itu semua" mereka hening kembali.


"Audy, gue mau lo berubah, jadi diri lo sendiri"


"Gue juga maunya gitu, tapi gue takut"

__ADS_1


"Apa yang lo takutkan. Berhenti juga bermain ditempat sialan itu Audy"


"Gue juga terpaksa kesana"


"Hah? "


"Gue liat ada orang yang nyulik lo waktu itu, gue halangi tapi malah gue yang dibawa. Terus.. terus... "


"Gak usah dilanjutin gue tau, gue bakal beresin ini. Lo tenang aja"


"Tapi gue takut"


"Ada gue ih, penakut banget sih. Masuk hotel sendirian berani, gini doang takut"


"Beda sotoy"


"Gue harap lo berhenti, Audy. Kalo lo masih sayang nyawa lo"


"Gue udah coba, tapi gue malah dibawa paksa" lirihnya.


"Ck, bener-bener bikin gue kesel deh. Seng siji sek durung mari, metu maneh masalah anyar"


"Hah? "


"Diem deh lu. Pokoknya mulai sekarang lo harus diem dirumah dulu sampek gue selesaikan semuanya. Lo bisa tinggal dikamar ini sementara waktu"


"Gue kan udah nikah, gimana kalau... "


"Biar gue yang ngomong sama ipar gue. Terima beres aja pokoknya"


"Berhenti juga minum minuman keras Audy. Kalo nggak gue racun lo. Jangan pernah masuk club malam lagi atau gue iket lo di club sekalian biar gak pulang"


"Sadis amat"


"Ini belum seberapa. Lo tanya sahabat gue, pernah gue kasih racun apa nggak mereka pas nyoba nyicip alkohol"


"Tapi kok mereka masih hidup? "


"Ya kali gue bunuh mereka. Khusus buat lo, kalo lo minum lagi langsung gue kirim ke liang lahat"


"Ya ampun jahat banget"


"Lega? " tanya Chacha menatap tepat dimata Audy. Audy mengangguk dan tersenyum, dirinya memeluk Chacha erat.


Chacha selama ini memang selalu memperhatikan Audy dalam diamnya, bahkan dirinya juga memasang kamera kecil dikamar Audy. Jadi dia tau seperti apa sifat Audy. Dimana dia sering melihat Audy menangis diam-diam. Tak luput pula kadang dia melihat bekas memar ditubuh Audy. Maka dari itu kenapa Chacha begitu memaksa Audy untuk mengeluarkan semuanya, jika dengan kasar tak berhasil. Maka dia akan menyentuhnya secara lembut, dan terbukti bukan. Audy kembali ke wajah aslinya, wanita hangat dan ceria. Dan sedikit konyol.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bonus hari ini😘 buat kalian yang selalu stay.


Maapkeun kalau tidak sesuai ekspektasi kalian, tapi ini udah jalannya🤣

__ADS_1


Gue jadi ikutan somplak gara-gara baca Chat story semalem haish🤣


__ADS_2