
Levy sampai di kampung halaman orang tua angkatnya cukup siang. Harusnya dia subuh sudah sampai, namun ditengah perjalanan kepalanya berdenyut hebat, membuat dia berhenti sejenak untuk menetralkan rasa sakitnya. Belum lagi luka akibat kecelakaan yang dialaminya tetap mengeluarkan darah meskipun dengan cara apapun Levy menghentikannya. Ditambah kondisinya yang belum terisi apapun sejak pagi, komplit sudah beban Levy kali ini.
Levy memarkirkan mobilnya di depan rumah orang tua angkatnya, namun dirinya tak segera turun. Mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap darah yang masih keluar meskipun sudah semalaman luka itu ada. Setelah dirasa cukup bersih Levy keluar dari mobilnya. Namun, keningnya berkerut. Kenapa rumahnya sepi sekali?
"Mas Levy toh ini? "
"Ah iya Pak saya Levy, Abah sama Umi kemana pak, kok rumah sepi? " tanya nya pada orang yang biasa memberi makan ternak Abah dibelakang rumahnya.
"Oh Pak Kades sudah di rumah Mbak Mutia Mas. Tadi pagi berangkat" jelasnya.
"Acaranya masih besok kan? "
"Iya, Mas. Tapi bapak sama ibu kesana lebih awal, mau bantu Mbak Muti beres-beres" Levy mengangguk saja, dirinya lebih memilih menyusul ke rumah Mutia.
"Besok mama sama papa saya akan datang, tolong nanti diantar ke rumah Mutia ya pak"
"Oh siap siap, Mas. Nanti bapak antar"
"Makasih pak, saya langsung ke rumah Mutia"
"Monggo Mas"
Setelah berpamitan Levy langsung masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan rumah itu dan menelusuri jalanan desa dengan mobilnya. Sesekali Levy akan memejamkan matanya, mengurai rasa sakit yang kian menghantam kepalanya. Namun, Levy berusaha tetap pada kesadarannya. Sedikit lagi sampai, kata-kata itu selalu ia ulang untuk menjaga kesadarannya.
Benar saja, selang lima belas menit menelusuri jalanan desa, kini Levy sudah sampai di rumah Mutia. Rumah hadiah pernikahan dari Chacha, istrinya. Mengingat istrinya, Levy kembali lesu.
Kamu dimana, sayang?. Batinnya lagi-lagi bertanya.
Levy turun dari mobilnya, melangkah pelan ke arah pintu yang terbuka. Kesadarannya mulai hilang perlahan, namun tiba-tiba langkahnya terhenti dirinya mematung melihat siapa yang menyambutnya di depan pintu rumah Mutia.
...****************...
"Nduk"
__ADS_1
"Ya Umi? "
"Boleh Umi tanya sesuatu? "
"Tanyakan lah Umi"
"Kamu ada masalah dengan suami mu? "
Chacha diam tak menjawab, jujur saja dirinya bingung dia marah pada Levy karena apa. Mungkin dirinya sedang kesal saja pada Levy bukan marah. Namun tak bisa dipungkiri emosinya naik turun tanpa bisa dikendalikan. Kerap kali dia menangis karena merindukan suaminya itu, tapi enggan menghubungi untuk memberitahu keberadaannya.
"Bicarakan baik-baik, nduk. Kamu boleh marah, tapi jika ingin menghindar pikirkan baik buruknya dulu. Bisa saja suamimu, orang tua dan teman-teman mu khawatir akan dirimu"
Ya ampun kenapa gue lakuin hal bodoh kayak gini sih, ini bukan lo banget, Cha. Batinnya bermonolog.
"Umi sudah lihat berita tentang suami kamu, kembalilah nduk. Kamu istri sahnya bukan? Jangan kalah dengan saingan kamu. Percaya apapun yang sudah terjadi, itu sudah ditakdirkan. Kamu hanya perlu menghadapi dan jalani sesuai keinginan kamu, selebihnya biar tangan takdir yang bekerja"
"Iya Umi"
Hingga suara mobil menghentikan perbincangan mereka berdua. Mereka pikir itu tamu dari suami Mutia, jadi Bu Kades menyuruh Chacha untuk menemuinya. Sedang dirinya akan memanggil anak menantunya di kamar.
Chacha melihat pria yang dirindukan nya beberapa hari terakhir ini. Air matanya bahkan sudah siap untuk jatuh saat melihat prianya berdiri di hadapannya. Tampaknya dia juga mematung ditempatnya, mungkin kaget saat melihat dirinya berdiri disini. Dia tampak tersenyum tipis, Chacha membalasnya dengan senyum manisnya. Namun, senyum itu tak lama terbit di bibir ranumnya.
Brugh...
"Mas" teriak Chacha berlari kearah Levy yang jatuh begitu saja dihalaman rumah Mutia.
Chacha menghampiri tubuh Levy yang terbaring di tanah begitu saja. Memangku kepalanya di atas pahanya, menepuk berkali-kali pipi Levy untuk mengembalikan kesadarannya.
"Mas bangun hiks... Jangan buat aku takut" air mata mengalir begitu saja dari netranya.
"Abah, Umi" Chacha berteriak kencang di halaman rumah memanggil orang tua angkat Levy.
Teriakan Chacha membuat semua orang yang ada di dalam berlari keluar karena kaget. Mereka takut terjadi apa-apa pada Chacha, sontak saja langsung berlari ke arah halaman.
__ADS_1
"Levy" Bu Kades kaget langsung menghampiri anak angkatnya itu.
"Tolong Abah tolong Mas Levy" pinta Chacha sambil terisak.
"Abah ayo kita angkat" ujar suami Mutia menyadarkan kesadaran Pak Kades.
Pak Kades dan menantunya mengangkat Levy ke dalam rumah. Levy dibaringkan di kamar tamu di rumah Mutia. Chacha menatap pilu melihat keadaan suaminya. Tubuhnya yang sedikit kurus, lingkar hitam dibawah mata, rambut yang acak-acakan dan yang paling Chacha tidak sukai, bulu halus yang tumbuh di wajah sang suami.
Saat Chacha meneliti setiap inci wajah suaminya, dia menemukan bekas darah mengering. Chacha langsung memeriksa keadaan Levy. Benar saja, ada luka menganga di pelipis suaminya itu.
"Tolong ambilkan kotak obat"
Chacha langsung membuka pakaian atas yang Levy gunakan, guna memeriksa apakah ada luka yang lain. Sedangkan Bu Kades masih terus membubuhkan minyak angin di hidung Levy.
Tak lama Teo datang dengan membawa kotak obat yang Chacha butuhkan. Dengan telaten Chacha membersihkan luka dan membalut nya perlahan.
"Abah bisa Chacha minta tolong? "
"Apa nduk? "
"Bisa tolong suruh petugas puskesmas kesini, tapi bawa infus dan lainnya. Gak usah obat, infus aja. Mas Levy mau Chacha infus, dia kayaknya kekurangan cairan" jelas Chacha
"Sebentar Abah telfon dulu ya" Chacha mengangguk saja.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya petugas puskesmas datang dengan membawa apa yang Chacha minta. Chacha lantas mengambilnya dan langsung memasangkan pada Levy. Petugas puskesmas bengong dibuatnya, karena mereka pikir Pak Kades memintanya untuk memasangkan pada putra sulungnya, tapi siapa yang akan menyangka jika menantu Pak Kades juga seorang dokter.
Setelah semuanya selesai, mereka meninggalkan Levy di kamar tamu hanya bersama Chacha. Karena Levy masih tak sadarkan diri, jadi mereka membiarkan Chacha merawatnya sekaligus membiarkan Chacha melepas rindunya pada suami yang ia tinggalkan itu.
"Bangun? " Chacha menoel pipi suaminya.
"Mas bangun" sudah kesekian kalinya Chacha mencoba membangunkan, namun masih belum ada respon.
"Maafin aku, aku juga gak tau kenapa bisa kayak gini. Aku gak marah sama kamu, cuma kesel aja. Maaf Mas, kalau aku kayak anak kecil, hiks... " Chacha masuk ke dalam pelukan suaminya yang masih setia memejamkan matanya.
__ADS_1
Cukup lama dalam posisi seperti itu, Chacha merasa lelah terus menerus menangis sejak tadi.
"Dedek kangen papa kan, ya. Kita bobok bareng papa ya nak" ucap Chacha sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.